How To Marry You ?

How To Marry You ?
dua puluh satu



Seminggu berlalu sejak kejadian diruang kerja milik bos di gedung kantor ini.


Sandra menjalani hidupnya seperti biasa, memang ada banyak pertanyaan dari rekan kerja satu lantai yang mengikuti meeting tempo hari, namun ia beralasan jika ternyata bos mereka adalah sahabat masa sekolah dulu, mereka saling bercerita hingga lupa waktu.


Sandra tidak mungkin mengakui secara jujur apa yang terjadi saat itu.


Sejak itu pula ia tak lagi mendengar kabar ataupun gosip tentang lelaki itu, mungkin sedang keluar kota pikirnya.


Sandra benar-benar menjalani hidupnya seperti sebelum bertemu lelaki itu.


Prioritasnya saat ini hanya putranya, ia harus fokus dengan masa depan buah hatinya.


Sebenarnya ada sedikit ketakutan saat lelaki itu mengusirnya dalam keadaan marah, bukan apa-apa, ia takut dipecat dari pekerjaan ini.


Tapi nyatanya sudah tujuh hari berlalu tak ada yang terjadi, ia masih bisa bekerja dan semalam, ia baru saja mendapatkan gaji bulanan, ia bersyukur gaji yang diterimanya utuh tak berkurang sedikitpun.


Rencananya besok, ia akan bersama putranya mengunjungi salah satu objek wisata di Jakarta timur, yang berisi kebudayaan dari ujung barat hingga timur negara ini.


Putranya yang memintanya, tentu sebagai ibu yang baik ia akan berusaha memenuhi permintaan putra semata wayangnya.


Lamunannya terganggu karena ulah rekan sebelahnya,


"Sa, udah denger gosip belum?"tanya Gita tiba-tiba.


Sandra melanjutkan mengetiknya setelah tadi melamun sejenak, ia melirik sekilas ke sebelah mejanya, "gosip apaan Gita?"


"Parah Lo, ngaku sahabat deketnya bos, kok sampai nggak denger sih, lo bohong ya soal dulu sahabatan sama si bos?"


Sandra hanya menaikan bahunya seolah tak peduli.


"Benar-benar lo ya Sasa, sahabat lo dirawat sampai nggak tau, kebangetan lo!"ujar Gita tak habis pikir.


"emang sahabat gue yang mana Gita?"tanyanya,


"Pak Alex siapa lagi, kemarin anak HRD sama sekertaris pada nengok, terus rencananya entar sore staf keuangan mau nengok juga, bahkan tadi pas jam istirahat kita udah pada patungan buat bawain buah tangan buat pak Alex,"jelas gadis itu.


"Oh, emang sakit apaan?"tanyanya.


"Katanya bos kecapean, sampai pingsan dua hari lalu,"jawab Gita, "Lo seriusan belum tau?"tanyanya tak percaya.


"Gue beneran nggak tau Gita, kemarin pas kami ngobrol, gue lupa nggak minta nomor hapenya,"


"Ya udah entar pulang kerja lo ikut, tapi beli sendiri buah tangannya,"


"kenapa gue nggak diajak patungan?"


"udah telat Sasa, mbak Celine udah pesan bunga, duit patungan juga udah dibayar, lagian lo kan sahabatnya, masa ia pelit bener buat nengok sahabat sendiri,"


"Ya udah entar gue bawain nasi ayam bakar aja yang murah meriah,"


"Sasa, bos lagi sakit, lo mau bawain kayak gitu, sahabat macam apa lo, gue nggak bisa bayangin jenis pertemanan lo dulu sama pak Alex,"


"Ya biasa aja Gi, makan bareng, nonton kaset CD, nginep di villa rame-rame, bakar jagung sama ikan, ya kurang lebih kayak gitulah,"ujarnya santai.


"serah Lo Sasa, pokoknya entar sore harus ikutan, gue sama staf yang lain naik mobilnya mbak Celine, lo naik motor aja, kita ketemu di sana,"


Sandra menunjukan jempolnya.


Sebenarnya ia malas, apalagi terakhir kali, lelaki itu mengusirnya dan mengatakan tak ingin melihatnya lagi.


Tapi siapa peduli, toh ia hanya seorang staf biasa yang ingin menjenguk atasannya di rumah sakit.


Sandra sudah mengirim pesan pada mbak Titi, jika dirinya akan pulang terlambat.


Sepulang kerja, Sandra mengendarai motornya menuju rumah sakit yang dikatakan oleh Gita.


Bingung hendak membawa apa, Sandra mampir ke toko buah terlebih dahulu.


Ia ingat dulu, Alex menyukai buah pir hijau, maka dari itu, ia membelikannya sebanyak dua kilo, tak lupa membelikan untuk putranya setengah kilo saja, bukanya tidak sayang putranya, tapi Sandra harus berhemat.


Tiba di rumah sakit, Ia baru membuka ponselnya, Gita mengatakan jika dia dan mbak Celine serta staf keuangan telah berada di ruang rawat bos mereka.


Sedang menunggu lift, namanya dipanggil,


Sandra menoleh, itu salah satu sahabatnya dulu, Natasha dengan jas putih khas dokter.


Keduanya saling berpelukan dan menanyakan kabar masing-masing, sayangnya, Natasha tak bisa berlama-lama berbicara dengannya, dikarenakan ada pasien yang harus segera dioperasi.


Sampai didepan ruang rawat yang diberitahukan oleh Gita, ia menghela nafas, ia harus bersikap tenang, dengan apa yang akan terjadi didalam nanti, mungkin diusir atau cacian dari lelaki itu.


Sandra mengetuk pintu terlebih dahulu, ia membukanya,


Semua orang yang ada didalam menatap ke arahnya, ia hanya tersenyum dan meminta maaf karena terlambat.


Pembicaraan yang tadi sempat terhenti karena kedatangannya, kembali dimulai, Sandra hanya berdiri diam diantara para staf keuangan lainnya.


"Mana katanya sahabat, kok liat lo datang, pak Alex biasa aja,"bisik Gita tiba-tiba.


"Lagi kesel kali sama gue,"bisik Sandra asal.


Bisa ia lihat pula, bagaimana Celine begitu perhatian pada Alex, wanita itu tak segan menyuapkan potongan buah Apel yang dikupasnya sendiri.


Tentu hal itu disambut senyum malu-malu staf keuangan lainnya, mungkin mereka berharap manajer keuangan yang berjodoh dengan pengacara muda itu.


Tak masalah buat Sandra, toh ia tau, keduanya satu keyakinan, walau ada sedikit yang mengganjal dihatinya, tapi hal itu ia tepis, prioritasnya hanyalah putra semata wayangnya.


Pintu diketuk, dokter dan perawat datang memeriksa pasiennya,


"Sasa bukan si?"tegur salah satu lelaki dengan Jas berwarna putih.


Yang di tegur tentu menoleh, itu juga salah satu sahabatnya, "hai Os, Apa kabar?"tanya Sandra.


Sandra menyalami Oscar terlebih dahulu dan lelaki itu bukan hanya menyalaminya, tapi juga memeluknya, "gue baik Sa, Lo kemana aja sih? Kita kangen banget sama lo, terutama ya itu,"


Sandra balas memeluknya, "gue juga baik, dan selamat ya, gue denger dari Rama lo mengelola rumah sakit ya, keren banget,"


Secara bersamaan keduanya melepaskan pelukannya,


"Sa, gue bagi nomer lo dong, entar kalau ada acara kumpul-kumpul, gue bisa kabari elo,"ucap Oscar sambil menyodorkan ponsel miliknya,


Sandra mengetikan beberapa digit nomornya, lalu memberikan kembali pada lelaki itu,


"Gue denger Lo udah nikah dan punya anak, curang lo nggak ngundang gue,"


"jauh dari sini Os,"


"Sa, gue mau ada operasi, duluan ya! jangan lupa angkat telpon gue,"ucap Oscar sementara Sandra hanya berdehem saja.


Semua interaksi kedua sahabat lama itu tak lepas dari perhatian staf keuangan juga pasien yang tengah berbaring dengan jarum infus menempel di punggung tangan kirinya.


Hari semakin sore, warna langit mulai berubah orange, staf keuangan hendak pamit undur diri, begitu juga dengan Celine, Sandra ikut serta seraya berbasa-basi mendoakan kesembuhan atasan mereka.