How To Marry You ?

How To Marry You ?
Sembilan belas



21+


"Alex, kenapa kamu?"ujar Sandra tak percaya, ia menutup mulut dengan kedua tangannya seraya menggelengkan kepalanya, bagaimana mungkin, di ibukota yang luas ini, ia bisa bertemu dengan lelaki itu.


"Yes, it's me babe, kaget ya! kita bisa ketemu lagi setelah sekian lama,"sahut Alex sambil menopang dagu dengan kedua tangannya.


Sandra berharap ini mimpi, tangannya mengepal, sengaja sedikit menekan kuku tangannya, terasa sakit, berarti ini nyata, ia tidak salah lihat, lelaki yang sedang duduk di kursi kebesarannya adalah ayah dari putranya.


Kenapa ia tidak menyadari? bodoh sekali dirinya, padahal ia sering kali menemukan nama itu tertera dilaporan yang ia kerjakan, Alex soejono adalah nama cinta pertama.


"Apa kabar Sasa sayang? Ternyata kamu banyak berubah ya! Semakin cantik dan seksi,"tutur Alex namun dengan tatapan tajam penuh amarah.


Sandra terdiam tak menanggapi ucapan pacarnya dulu sekaligus bos tempatnya bekerja, ia menunduk, ia takut, namun harus bersikap tenang.


Ada kekhawatiran dalam dirinya, jika lelaki itu tau, keberadaan Xander, ia takut jika putranya diambil dari sisinya.


Hanya Xander alasan dirinya hidup hingga sekarang, setelah kedua orangtuanya meninggal dalam waktu berdekatan.


Sandra sebatang kara, dirinya anak tunggal, hanya ada beberapa sepupu yang tinggal di kota Semarang.


Sandra menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan, ia harus tenang, ia harus fokus, ia tak boleh panik, saat ini ia menempatkan diri sebagai seorang staf administrasi yang sedang menuntut keadilan dari bosnya.


Ia menyebut nama putranya dalam hati, ia harus kuat demi masa depan,


"Maaf pak, kedatangan saya kemari, karena ingin mengajukan protes tentang pemotongan gaji, sepanjang saya bekerja, baru kali ini saya terlambat, saya juga selalu datang paling pagi, jadi saya mohon kebijakan bapak, untuk tidak memotong gaji saya hingga lima puluh persen,"pintanya.


Alex menyeringai, sepertinya wanita itu ingin bertindak profesional,


"Tapi itu sudah aturannya, ibu Sandra Wijayanto, terlambat meeting penting, potong gaji lima puluh persen,"


Sandra yang tadinya menunduk langsung mendongakkan kepalanya, ia menatap mata bosnya,


"pak, saya mohon, setidaknya jangan lima puluh persen, itu terlalu besar, dan tidak bisa menutupi kebutuhan saya selama satu bulan, saya mohon kebijaksanaan bapak, saya janji akan bekerja lebih giat dari sebelumnya, kalau perlu saya akan lembur setiap hari tapi saya mohon jangan lima puluh persen,"


Alex bangkit dari kursi kebesarannya, ia berjalan menuju dimana Sasa-nya berdiri.


Keduanya berhadapan, Sandra sampai mendongak, seingatnya dulu saat menjalin kasih, tingginya sebatas telinga lelaki itu, tapi sekarang ia hanya sebatas dagu, belum lagi badan kekar dibalik setelan formal yang dikenakan.


Alex menunduk tepat di samping telinga Wanita dengan potongan rambut sebahu, "sudah cukup main-mainnya Sasa,"bisiknya.


Sandra mengernyit bingung dengan ucapan lelaki itu, tapi sepertinya lebih baik, ia segera pergi dari ruangan itu.


"Maaf pak, sepertinya saya harus kembali ke ruangan, tidak enak dengan yang lain jika terlalu lama saya di ruangan anda,"setelah mengatakannya, Sandra berjalan menuju pintu, namun alangkah terkejutnya ia, ketika mendapati, pintu terkunci.


"Pak bisa tolong bukakan pintu ini, saya mau keluar,"pintanya memohon.


Alex bersandar di meja kerjanya, ia menyunggingkan senyumannya, tak akan semudah itu ia melepaskan Sasa-nya.


"Ambil sendiri kalau mau,"ujarnya sambil melirik kantong celananya.


Sandra mengikuti arah pandang bosnya, sepertinya lelaki itu sengaja.


"Pak, jika anda seperti itu, saya akan mengadukan tindakan anda sebagai pelecehan ditempat kerja,"ujar Sandra berusaha tenang.


Alex tertawa, "Kamu lupa aku siapa Ibu Sandra Wijayanti? Hal itu bisa diajukan jika ada saksi yang kuat, menurut kamu, di kantor ini apa akan ada yang percaya ucapan kamu? Harusnya kamu pernah dengar rumor tentang aku yang di goda karyawati dan berujung pemecatan, atau apa kamu mau membongkar rahasia kamu sendiri bahwa dulunya kita adalah sepasang kekasih yang bahagia? memangnya kamu berani, apalagi dengan status kamu sekarang,"


Sandra tau betul apa yang dimaksud oleh lelaki itu, ia menghela nafas, ia tau lelaki itu mungkin butuh penjelasan tentang mengapa ia menghilang, apa ia harus menjelaskannya sekarang?


"Alex, ini masih jam kerja, bisa tidak kita bersikap profesional? Jika ada yang ingin kamu tanyakan, aku akan jawab, tapi nanti,"


"Kapan sa? Apa setelah ini kamu akan kembali lari dari aku? Apa tidak cukup sepuluh tahun Sa? Bahkan sekarang kamu sudah berkeluarga,"


"Kenapa kamu lakuin ini ke aku sa? Apa salah aku? Aku nunggu kamu, kenapa kamu sejahat itu sama aku?"


Entah mengapa, Alex yang tegas menjadi melankolis saat ini, image berwibawa yang melekat dirinya hilang seketika.


"iya akan aku jelaskan tidak dengan sekarang,"


"Sasa.."tatapan lelaki itu memelas.


Sandra menghembuskan nafasnya kasar, Alex tidak pernah berubah meskipun setelah sepuluh tahun berlalu, lelaki itu keras kepala dan mau menang sendiri, kalau sudah begini ia hanya bisa pasrah.


"boleh aku duduk, pegal dari tadi berdiri terus,"ucapnya.


Alex melirik sofa hitam panjang seolah mempersilahkan sasa-nya duduk.


"kamu nggak mau duduk juga?"


Alex menurut, ia duduk di sofa yang bersebrangan dengan Sandra,


"kamu mau tanya soal apa, nanti sebisa mungkin aku jawab,"


Alex diam, menatap Sasa-nya, rasanya ingin memeluknya dan melakukan hal yang menyenangkan, terlintas di pikirannya saat menatap sesuatu dibalik pakaian formal yang dikenakan wanita itu, sepertinya ukuran makin besar, ah.. Ia ingin meremasnya,


Brengsek sekali dirinya, ia menelan ludahnya, jakunnya naik turun, nafasnya mulai tak teratur, benar-benar gila.


Alex memukul sendiri kepalanya, bodoh sekali, sekarang bukan waktu yang tepat untuk itu, ia harus mendengarkan penjelasan Sasa-nya.


Melihat Alex memukul kepalanya, Sandra menjadi panik, ia bangkit dan menghampiri cinta pertamanya, ia duduk disebelah lelaki itu, dan memegang kedua tangan kekar itu.


"kamu apa-apaan sih? Apa kamu gila? Kenapa pukul kepala sendiri?"ujarnya tak habis pikir.


Alex yang sedang menekan gairahnya semakin tersiksa karena Sasa-nya malah mendekatinya, ia mengumpat didalam hati, miliknya semakin keras, mungkin jika Sasa-nya menunduk, wanita itu akan segera menyadarinya.


"Alex lihat aku, kamu nggak boleh menyakiti diri kamu sendiri, aku minta maaf sudah meninggalkan kamu, tapi aku punya alasan, aku mohon jangan membuatku semakin merasa bersalah,"ungkapnya sambil terisak,


Tanpa berpikir panjang, Sandra memeluk lelaki itu, sejujurnya ia sangat merindukan cinta pertamanya, ia terisak sambil meminta maaf karena menghilang tanpa pamit.


Alex tak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia balas memeluk Sasa-nya, sebenarnya ia sedikit tak peduli tentang alasan wanita itu meninggalkannya, toh sekarang wanita itu telah kembali, meskipun dengan status yang berbeda.


Tapi siapa peduli, Alex yakin wanita ini masih mencintainya, ia bisa merasakannya.


Sayangnya pikiran dua manusia itu berbeda, sang wanita merasa bersalah sedangkan sang lelaki memikirkan hal yang menyenangkan.


Alex bisa merasakan tonjolan dada yang semakin besar dibandingkan sepuluh tahun lalu, ingin rasanya ia merem*s dan menjil*tinya, pasti nikmat sekali.


Alex heran, mengapa di otaknya hanya muncul pikiran mesum ketika baru bertemu lagi dengan Sasa-nya, masa ia tidak benar-benar mencintai Sasa-nya, sepertinya itu tak mungkin, karena kalau dipikir-pikir meskipun ia berhadapan dengan jal*Ng seksi sekalipun gairahnya tidak mudah bangkit begitu saja.


Hanya Sasa-nya yang bisa membuat gairahnya bangkit tanpa melakukan apapun.


Sandra melepaskan pelukan itu, ia memegang kedua sisi wajah cinta pertamanya, "Alex aku minta maaf dan aku minta jangan sakiti diri kamu sendiri, jangan buat aku semakin bersalah pada kamu, aku mohon kamu mengerti,"


Alex menunduk, ia tak mungkin bisa menatap wajah itu, bisa-bisa ia langsung mencium bibir merah merekah yang selama sepuluh tahun ini hanya ada dalam fantasinya.


Namun sepertinya Sandra tak menyadarinya, ia malah memegang kembali sisi wajah itu, sehingga keduanya bertatapan.


Alex mengumpat dalam hati, ia sudah tak tahan, persetan dengan status wanita itu,


Alex mulai mencium bibir Sasa-nya secara rakus, bagai gayung bersambut, wanita itu membalasnya tak kalah panas.


Seperti dulu kedua sejoli itu tak memikirkan apapun jika sudah begini,


Segala sesuatu yang ada diluar sana, tentang status atau apapun.


Sepuluh tahun tidak bertemu, membuat keduanya larut, rasa cinta yang masih tersimpan rapih di hati masing-masing membuat keduanya terbuai.


Alex mulai mulai membuka Jas-nya dan melemparnya asal, begitu juga dengan Sandra, ia yang memang selama menikah tak terpenuhi kebutuhan biologisnya menjadi gelap mata, ia membuka blazernya sendiri.


Keduanya berciuman kembali, sambil saling membantu membuka kancing kemeja sialan yang entah mengapa menjadi sulit dibuka.


Perut kotak-kotak Alex membuat Sandra menelan ludahnya, bagaimana jika mereka saling berpelukan saat tak ada kain yang menghalanginya?


Membayangkannya saja membuat Sandra tak berpikir panjang, ia membuka sendiri tank top dan dalaman miliknya, ia memeluk dada kekar itu, nyaman.


Alex tak percaya, Sasa-nya yang sudah bersuami segampang itu menyodorkan diri.


Ia jelas sangat senang, hanya saja ada sedikit yang mengganjal dipikirannya, tapi siapa peduli.


Rasa rindu dan gairahnya mengalahkan logika kedua anak manusia itu.


Alex membantu melucuti kain yang tersisa, begitu juga dengan miliknya sendiri.


Sandra melebarkan matanya seingatnya dulu tak sebesar itu, apa bisa muat dimiliknya yang puasa selama sepuluh tahun, ditambah efek dijahit usai melahirkan.


Tapi demi merasakannya lagi, ia tak peduli, status boleh bersuami, tapi sekalipun milik suaminya tak pernah bisa memasukinya, hanya menyentuhnya saja sudah muntah.


Membayangkan hal itu, membuat Sandra kesal, dengan suara seraknya, ia meminta Alex untuk segera melakukan aksinya seperti dulu, rasanya gatal sekali.


Mendengar permintaan Sasa-nya, Alex tak membuang kesempatan itu, namun ia harus terkejut mendapati kenyataan ketika liang surgawi itu sulit ditembusnya,


Alex ingat betul ini seperti pertama kali melakukannya dulu, milik Sasa-nya sulit ditembus.


Tak sabar, dengan sedikit kasar menembus pertahanan itu,


Sandra menjerit kesakitan, wanita itu bahkan mencakar lengan kekarnya.


Alex meminta maaf karena menyakiti Sasa-nya, ia mencium bibir itu lagi, sambil memulai bergerak,


Miliknya rasanya dicengkeram, Alex heran, harusnya sebagai wanita bersuami, bagian inti itu longgar, tapi nyatanya, ia bagai mendapat jackpot, milik sasa-nya rasanya masih sempit seperti waktu pertama kali mereka melakukannya.


Setelah beberapa saat, "Alex, aku mau sampai,"ujar Sandra dengan suara parau.


"Bareng sa,"sahut Alex, ia mempercepat gerakannya, hingga keduanya mencapai puncaknya secara bersamaan.