How To Marry You ?

How To Marry You ?
Lima puluh lima



Sejak perdebatan keduanya malam itu, Alex semakin dingin dengan Sandra, tak ada rayuan konyol ataupun pelukan serta ciuman yang biasa diberikan lelaki itu padanya,


Bahkan saat keduanya berperan sebagai atasan dan bawahan dari pagi hingga sore,


Jika sedang ada sidang atau dinas luar maka Jonas yang akan mendampingi Alex.


Lelaki itu juga tak memperbolehkannya menjemput putranya di sekolah, akan ada Choki, yang akan menjemputnya.


Jika jam kerja usai dan kembali pulang ke rumah, Alex akan berperan sebagai kekasih yang perhatian dan begitu mencintainya, sehingga Xander tak menyadari jika sedang ada konflik berat yang dihadapi kedua orangtuanya.


Setelah putranya tertidur, Alex kembali ke mode dinginnya, lelaki itu seolah tak menganggap keberadaannya.


Sejak saat itu keduanya tak lagi tidur bersama apalagi sampai bercinta, menyapa saja tidak.


Hal itu terjadi selama hampir seminggu, Sandra mulai merasa kesal sendiri, lelaki itu benar-benar berubah drastis.


Seumur-umur dirinya berhubungan dengan Alex, baru kali ini ia mendapatkan perlakuan seperti ini.


Malam itu, Sandra sengaja menunggu Alex tepat didepan pintu kamar putranya, cukup lama ia berada di sana, kakinya sampai pegal terus berdiri.


Hingga handle bergerak dan pintu terbuka, Alex terlihat sedikit terkejut ketika melihatnya, namun hanya sesaat, setelahnya mode dinginnya kembali.


Lelaki itu berjalan melewatinya begitu saja, seolah tak menganggapnya ada,


Kesal tentu saja, siapa yang tidak kesal diperlakukan dingin selama hampir seminggu.


Selama itu pula, Alex akan tidur di kamar Maria atau di sofa ruang keluarga, jika lelaki itu memasuki kamar, dia hanya mengambil baju ganti saja.


Sandra mengikuti langkah kekasihnya, hingga saat lelaki itu hampir menutup kamar Maria, ia menahannya, "aku mau bicara sekarang,"


Alex menatapnya dingin, tak ada tatapan cinta di mata itu,


Sandra tau dirinya memang salah, tidak bercerita dengan kekasihnya secara jujur, ia malah menutupinya, belum lagi gugatan cerai ditunda hingga waktu yang tak dapat dipastikan.


Seharusnya Alex terus bersikap baik dan memaafkannya, karena lelaki itupun tau, jika dirinya sama sekali tak mencintai Ferdiansyah.


Segala yang dilakukan kemarin hanya karena rasa kemanusiaan dan balas Budi, setidaknya Ferdiansyah pernah menjadi ayah yang baik untuk Xander walaupun hanya sesaat.


"Aku ngantuk, besok aku harus bangun pagi,"sahut Alex.


Sandra menatap tajam kekasihnya, rasa kesalnya sudah sampai batasnya, "sampai kapan kamu bersikap dingin sama aku? Harusnya kamu ngertiin posisi aku,"


Alex memainkan lidahnya didalam mulutnya, lelaki itu terlihat malas menghadapi dirinya, Sandra benar-benar paham maksud dari sikap kekasihnya.


"kamu denger nggak, aku capek, mau tidur, jadi minggir,"usir Alex padanya.


Sandra menghela nafas, ini kali pertama ia mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari lelaki yang dicintainya.


"kamu ingin aku menghilang sama seperti sebelas tahun yang lalu bukan? Oke jika itu mau kamu, akan aku turuti, tolong jaga Xander dengan baik,"setelah mengatakannya, Sandra bergegas meninggalkan kekasihnya.


Alex berdiri termangu mendengar ucapan dari wanitanya, jantungnya berdetak lebih cepat berbagai pikiran buruk melintas di kepalanya.


Bagaimana jika kali ini wanita itu akan benar-benar menghilang lagi?


Apa dirinya akan baik-baik saja?


Meskipun terlihat kuat, Alex adalah sosok yang rapuh, ia akan sangat sensitif jika itu menyangkut Sasa-nya.


Ucapannya tempo hari hanya ancaman belaka, tak mungkin ia melepaskan wanita yang dinantinya selama ini.


Wanita yang membuatnya depresi saat ditinggalkan begitu saja,


Apa kali ini ia tidak akan terpuruk seperti sebelas tahun yang lalu? Sepertinya tidak, sejak bertemu kembali, rasa cintanya untuk Sasa-nya semakin besar.


Apalagi sekarang sudah ada buah cinta mereka, apa ia sanggup?


Dulu ada Soejono yang menenangkannya, saat ia menangis meraung-raung tak terima ditinggalkan begitu saja, lalu sekarang?


Namun ia mendapati kamar itu kosong, Sasa-nya tak lagi di sana, bahkan koper berwarna hijau milik wanita itu tak lagi berada di tempatnya.


Kenapa wanita itu cepat sekali menghilang, bukankah tadi ia hanya melamun sesaat?


Alex mengumpat, ia mengambil ponselnya, untuk menghubungi wanitanya, namun sayangnya, ponsel dengan softcase berwarna hijau tua itu ada di atas ranjang, sepertinya Sasa-nya sengaja meninggalkannya.


Untuk meluapkan amarahnya Alex mencengkram kuat ponsel miliknya, ia memaki lalu melukai dirinya sendiri, kebiasaan lamanya sepertinya kambuh.


Tak ada yang menenangkannya, Alex terus menerus membenturkan kepalanya ke dinding, belum lagi makian yang ditujukan pada dirinya sendiri.


Hingga beberapa saat kepala belakangnya mulai terluka dan mengeluarkan darah segar, bukannya berhenti, lelaki terus menyakiti dirinya sendiri, dan dering ponsel membuatnya tersadar.


Salah satu sahabatnya menghubunginya,


"halo Lex sorry ganggu malem-malem, gue minta tolong bisa Lo kirim surat ijin pembangunan cluster yang di Tangerang, sekarang juga, Lo kirim via email, nggak sengaja ke hapus,"


Bukannya menanggapi perkataan sahabatnya, Alex malah menangis, "Ram, Gue kehilangan dia lagi, dia pergi lagi ninggalin gue, kenapa gue bego benget sih,..."makian yang ditujukan pada dirinya sendiri.


Dari seberang sana, terdengar umpatan dari sahabatnya, "Alex, Lo di rumah kan, gue minta Lo tenang ya, tolong jangan lakukan apapun, gue sebentar lagi kesana, jangan tutup telponnya, Lo harus tetap tenang, atur nafas, semua akan baik-baik aja, Sasa nggak akan kemana-mana,"


Dalam keadaan seperti itu, Alex tak mungkin bisa mendengar dengan baik, ia akan terus menyakiti dirinya sendiri,


Seolah mati rasa, ia terus membenturkan kepalanya dan memaki dirinya sendiri,


Telepon masih tersambung, Rama semakin panik, dan meminta sahabatnya untuk mengatur nafasnya, tapi semua itu sia-sia.


Hingga mencapai batasnya, Alex tumbang, sebelum matanya benar-benar tertutup, terlihat bayangan putranya yang datang menghampirinya.


Xander yang tengah tertidur, terkejut mendengar suara teriakan juga makian, bocah itu bangkit lalu mengikuti arah sumber suara,


Semakin dekat dengan kamar tidur kedua orangtuanya, Xander bisa mendengar suara getaran dinding, seolah ada sesuatu yang dipukulkan ke tembok itu.


Ada sedikit keraguan pada bocah itu, namun karena khawatir jika ibunya mengalami hal seperti dulu saat masih tinggal dengan Ferdiansyah, Xander memberanikan diri membuka handle pintu.


Matanya melebar, ketika mendapati papanya telah terbaring dilantai, bocah itu menghampiri Alex dan mendapati kepala belakang papanya terluka juga mengalirkan darah segar.


Xander memangku kepala papanya dan berusaha membangunkannya,


Sambungan telpon yang masih tersambung disadari oleh bocah itu, ia mengambil alih ponsel milik papanya, tertera id Rama di sana.


"om, papa Alex nggak bangun, tolongin papa,"ujarnya sambil menangis.


"dek, bentar lagi om datang, kamu jaga papa ya!,"


Xander terus berusaha memanggil papanya, namun lelaki dewasa itu tak kunjung membuka matanya.


Tak lama, Seorang lelaki dewasa datang, yang mengaku sahabat dari papanya,


Rama mengambil alih, ia memangku kepala Alex, lalu meminta Xander mengambil kotak P3K, bocah itu bergegas keluar dari kamar.


Tak lama Xander datang membawa yang diminta oleh Rama.


Lelaki dewasa itu berusaha menghentikan darah yang mengalir dari kepala belakang Alex.


Setelah darah bisa dihentikan, Rama menghubungi salah satu dokter langganan Alex, dengan ponsel milik sahabatnya.


Dokter datang sekitar lima belas menit kemudian, keduanya berusaha mengangkat Alex agar bisa dibaringkan diatas ranjang.


Dokter mulai memeriksa luka di kepala belakang pasiennya, ada sedikit sobekan di sana, namun tidak perlu sampai dijahit.


Dokter juga memberikan infusan untuk pasiennya, tak lupa suntikan, entah apa.


Rama berusaha menenangkan Xander yang sedari tadi menangis memanggil papanya.