How To Marry You ?

How To Marry You ?
enam puluh



Sandra mengemudikan mobil milik Natasha menuju kota kelahirannya, ia berencana menemui Ferdiansyah, guna memastikan keadaan lelaki itu.


Supaya ia bisa segera menyelesaikan urusan diantara mereka secepatnya.


Ia ingin jika suatu saat bertemu Alex lagi, ia sudah tak terikat dengan ferdiansyah,


Sehingga ia bisa menegakkan kepala dan menatap mata kekasihnya dengan percaya diri serta tak lagi membuat lelaki itu kecewa padanya.


Walau dirinya tak tau, akan bermuara kemana hubungan mereka, tentu karena perbedaan yang sulit disatukan.


Mungkin beberapa orang yang memiliki hubungan kasih diatas perbedaan seperti dirinya, akan berfikir cukup menikah diatas kertas, tapi tidak dengan dirinya.


Dalam keyakinannya, menikah dengan perbedaan seperti itu, tak sah, mereka sama saja berzina, mungkin terlihat di mata orang lain mereka suami istri, tapi bagaimana di hadapan sang pencipta?


Keyakinan yang dianut Sandra, percaya akan adanya kehidupan setelah kematian, dan nantinya akan ada pertanggung jawaban atas semua perbuatan yang dilakukan semasa hidup.


Sedari kecil ayah dan ibunya benar-benar menanamkan hal seperti itu, walau hingga saat ini, dirinya masih hidup dalam gelimang dosa, setidaknya Sandra berfikir agar nantinya ia akan berusaha memperbaikinya, semoga ia masih diberikan kesempatan untuk berubah ke arah yang lebih baik.


Sandra menghela nafas, ia masih dalam perjalanan menuju Semarang,


Harusnya saat sekolah dulu, ia mengabaikan Alex saja, dan menutup hatinya rapat-rapat, namun gejolak jiwa mudanya mengalahkan pemikirannya.


Katakanlah dirinya malah menyemburkan diri ke dalam api, dulu saat ia meninggalkan ibu kota, ia berfikir akan mengubur semua tentang laki-laki bernama Alex, namun dirinya lupa jika lelaki itu telah meninggalkan jejak padanya.


Alexander, bayi merah lucu yang lebih mirip dirinya dibanding papa biologisnya, walau begitu, sifat ramahnya, makanan kesukaannya sangat mirip dengan papanya, tak lupa senyum dan tawanya.


Bagaimana bisa ia mengubur tentang lelaki itu, bahkan ia sengaja menyematkan gabungan nama mereka.


Dulu saat memberikan nama itu, Sandra berfikir, jika tak mungkin ia bertemu lelaki itu lagi, dunia itu luas dan sepanjang pengetahuannya, Alex tak mungkin bisa bertandang ke kota tempatnya berada.


Mengingat Alex yang berasal dari suku Minahasa dan Jawa tepatnya Jogja, sangat kecil kemungkinan lelaki itu berkunjung ke kotanya.


Tapi nyatanya, bukan Alex yang menghampirinya, dirinya sendiri yang tak sengaja menjadi bawahan lelaki itu, seolah telah menyerahkan diri.


Bertahun-tahun bersembunyi tapi nyatanya ia malah yang menampakan dirinya.


Sandra menghela nafas lagi, sudah terlanjur, tak perlu disesali, ini sudah jalan hidupnya,


Ia harus segera menyelesaikan apa yang seharusnya selesai, tak perlu menundanya lagi.


Ia juga sudah menyiapkan bukti jika nantinya Inah mempersulitnya, ia harus lebih tegas kali ini.


Semalam ia meminta tolong pada Jonas tentang video dari rekaman cctv saat Ferdiansyah mendorong dirinya, juga tentang perselingkuhan yang dilakukan lelaki itu.


Satu lagi bukti rahasia yang dimilikinya, hanya dirinya dan tenaga medis yang menangani Ferdiansyah pasca kecelakaan, aib terbesar lelaki itu.


Tak peduli jika nantinya ia akan di cap wanita pembongkar aib suami, tapi hanya itulah yang akan membungkam mulut Inah.


Meski faktanya lelaki itu terbukti berselingkuh, entah apa yang dilakukan Ferdiansyah bersama selingkuhannya.


Memasuki kota kelahirannya, Sandra memilih mendatangi sepupunya, ia berniat beristirahat hingga besok pagi.


"Jadi kamu berniat mengakhiri pernikahan kamu dengan mas Ferdi sekarang?"tanya Siska setelah makan malam.


Sandra mengangguk, "Alex marah besar dan mengusir aku, lalu mengancam akan memperbaharui akta kelahiran Xander jadi atas nama dia, kalau begitu artinya, aku udah nggak berhak atas anakku sendiri,"jelasnya.


"Emang yang kayak gitu bisa dilakuin?"tanya Siska heran.


"Alex lebih menakutkan dari kelihatannya, aku ini sekretarisnya, aku jelas tau dia seperti apa, hal yang kayak gitu mudah buat Alex lakuin,"jawabnya.


"Apa perlu aku temenin besok?"tawar Siska.


"nggak usah, aku nggak mau ngerepotin kamu, biar aku selesaikan masalah ini sendiri,"


"oke kalau gitu, pokoknya jangan segan meminta bantuanku, bagaimanapun kita ini saudara,"


Sandra mengangguk lalu memeluk sepupunya erat.


Keesokan paginya setelah sarapan, Sandra bertolak menuju rumah keluarga Ferdiansyah, ia berharap hari ini akan berakhir sesuai apa yang diinginkannya.


Terlihat raut terkejut dari Elina melihat kedatangannya, karena sudah berhari-hari ia tak memberi kabar, sejak terakhir ia mengirimkan uang pada wanita itu.


"mbak kemana aja sih? Nomornya nggak aktif lagi,"tanya Elina.


Bukannya menjawab, Sandra berniat mengorek sedikit keadaan adik iparnya, "El, mas Ferdi apa kabar?"


"Udah mendingan mbak, gips-nya udah dilepas, tinggal pemulihannya aja, mudah-mudahan bulan depan udah bisa kerja lagi,"jawab Elina terlihat jujur.


"Lalu gimana pekerjaan mbak? apa mbak cuti supaya bisa menjenguk mas Ferdi?"


"Aku udah keluar,".


Terlihat raut terkejut di wajah wanita itu, "terus mbak kerja dimana sekarang?"tanya Elina bingung.


"aku nganggur, tapi tenang aja, tabunganku cukup untuk beberapa bulan, setidaknya sampai aku menemukan pekerjaan baru,"


Mereka tersenyum menyambut kedatangannya, Sandra menyalami Inah lalu mencium punggung tangan wanita paruh baya itu,


Dengan Ferdiansyah ia melakukan hal yang sama, meskipun rasanya tak Sudi, tapi ia terpaksa.


Inah menyuruh Elina menyiapkan minuman dan camilan untuk menantunya,


Sementara ketiganya duduk di ruang tamu.


Sandra sempat menanyakan keberadaan bapak, namun Inah mengaku, bapak sedang ada pekerjaan bersama temannya.


"kamu kenapa nggak bisa dihubungi? Ponsel kamu kenapa?"tanya Ferdiansyah.


"Aku resign dari kantor,"jawab Sandra.


Terlihat raut terkejut dari kedua orang itu,


"Kenapa bisa keluar? Apa kamu membuat masalah? Lalu bagaimana kamu menghidupi suami kamu?"


Sandra tersenyum sangat tipis mungkin kedua orang itu tak menyadarinya, itu bukan senyum kebahagiaan melainkan senyum miris, ia tau maksud Inah yang terlihat keberatan mengetahui fakta dirinya sudah tak memiliki pekerjaan.


Sandra meremas tangannya, rasanya ia kesal mendengarnya, kenapa seolah-olah dirinya yang berkewajiban memberi Ferdiansyah makan.


Teringat dulu, saat ia masih tinggal di apartemen, Ferdiansyah memberikan uang belanja hanya untuk biaya makannya, sementara Xander, tak mendapatkan jatah dari ayah tirinya, maka dari itu, Sandra bekerja di kantin milik mbak Titi.


Bisa-bisanya perempuan paruh baya itu, membebankan kewajiban nafkah pada dirinya.


"Aku lihat mas Ferdi sudah sembuh bukan, jadi maksud kedatanganku, adalah untuk melanjutkan gugatan cerai yang sempat tertunda,",ucapnya langsung pada intinya, ia tak ingin berlama di sana, rasanya sesak.


"Ferdi belum bisa bekerja, dia masih dalam masa pemulihan, bagaimana mungkin kamu mau menceraikannya, apa kamu nggak punya hati nurani?"


"justru karena aku mempunyai hati nurani, aku meminta cerai secara baik-baik , ujarnya membela diri.


Inah bangkit lalu mencengkram pergelangan tangan Sandra, "kamu lari dari tanggung jawab? ibu tau kamu berselingkuh dengan bos, makanya kamu berniat menceraikan Ferdi, supaya dapat lelaki yang lebih kaya begitu, tidak bisa, ibu tidak terima,"


Sandra menepis tangan Inah, ia berdiri lalu menatap tajam Ferdiansyah, "kamu cerita apa sama ibu? apa perlu aku bongkar kebusukan kamu dihadapan ibu?"


Ferdiansyah terdiam, lelaki itu bahkan menunduk,


Inah masih melontarkan kata-kata kasar untuk dirinya,


Sandra yang tak terima akhirnya angkat bicara, "tanyakan ke anak ibu, siapa yang sudah menjual istrinya sendiri ke bosnya? siapa yang melakukan kdrt? Siapa yang berselingkuh?"


Sandra menghembuskan nafasnya kasar, "mantan bos saya tidak menyentuh saya malam dimana anak kesayangan ibu menjual saya, kami hanya mengobrol bahkan ada anak saya di sana, beliau menghargai saya yang sedang menangis mengetahui fakta suami saya sendiri menjual saya, jika posisi ibu seperti saya, apa yang akan ibu lakukan?"


Inah tercengang dengan pengakuan menantunya.


"bukan hanya itu, seharunya ibu tanya ke anak kesayangan ibu, kenapa istrinya tak kunjung hamil?"


Sandra mengeluarkan surat berisi surat pernyataan kesediaan Ferdiansyah menyetujui perceraian mereka,


"tanda tangani ini, aku tidak akan menuntut hak apapun, harta gono-gini ataupun nafkah Iddah, aku hanya ingin terlepas dari hubungan toxic ini, aku hanya ingin hidup berdua dengan putraku,"


Ferdiansyah menandatangani surat pernyataan itu, lalu menyerahkannya pada Sandra tapi Inah tiba-tiba merebutnya.


"dengan kondisi Ferdi seperti ini kamu mau menceraikannya? Istri macam apa kamu, Ferdi pasti punya alasan kenapa melakukan itu, harusnya kamu mengerti,"


Sandra sudah menduga hal ini akan terjadi, ia paham watak Inah yang tak ingin putra kesayangannya di salahkan.


Kemarin sebelum berangkat ke kota ini, ia sempat meminjam uang cash pada Jonas sebesar lima puluh juta,


Sandra mengambil amplop cokelat yang sudah disiapkan, lalu memberikannya pada Inah, ia tau betul mantan mertuanya akan silau dengan uang,


"Serahkan surat itu, dan ibu akan menerima uang ini, anggap saja ini kompensasi karena saya tidak bisa merawat mas Ferdi, ini sisa tabungan saya yang terakhir, ibu tau bukan saya pengangguran,"


Inah menerima amplop itu, lalu membukanya, terlihat jelas mata yang berbinar-binar melihat uang didalam amplop cokelat itu.


Melihat hal itu, Sandra langsung merebut surat peryataan itu dengan mudahnya,


"Dengan ini, urusan aku dan mas Ferdi selesai, baik secara agama ataupun negara, ingat kamu pernah menjatuhkan talaq padaku, lalu sekarang ini jadi bukti dipersidangan terakhir, aku harap setelah ini kamu hidup dengan baik, salam untuk bapak,"Sandra menyalami tangan Ferdiansyah untuk terakhir kalinya.


Sandra beranjak, tanpa berpamitan pada Inah yang sedang sibuk menghitung uang.


Ketika akan membuka pintu mobil, Elina memanggilnya, mata mantan adik iparnya berkaca-kaca,


"Maafkan ibu sama mas ya mbak,"ujar Elina sambil memeluk dirinya.


Melihat Elina menangis, Sandra jadi ikut menangis, ia balas memeluk, "iya, mbak udah maafkan, sampaikan salam dan maaf mbak sama bapak ya! mbak harap kamu hidup dengan baik,"


Sandra melepaskan pelukan itu, lalu mengambil beberapa lembar uang merah, "ini buat jajan anak-anak ya! Selamat tinggal,"


Setelahnya Sandra membuka pintu mobil dan segera beranjak dari sana.


Ia mengambil tisu dan mengelap sudut matanya, lalu senyum mengembang menghiasi wajahnya, akhirnya ia bisa segera terlepas dari mantan suaminya, tinggal sekali sidang maka akta cerainya akan segera dimiliknya.