How To Marry You ?

How To Marry You ?
tiga puluh empat



Alex meminta Jonas untuk menurunkannya diparkiran bawah tanah gedung, ia ingin merahasiakan tentang keberadaan putranya, akan cukup merepotkan untuk Sandra.


Begitu turun dari mobil, mata bocah itu berbinar melihat berbagai jenis mobil yang terparkir di sana,


Beberapa mobil sport berwarna hitam, merah juga kuning, belum lagi SUV mewah dan beberapa motor sport, "itu semua punya siapa papa? Apa ini showroom mobil seperti tempat kerja ayah yang dulu?"tanyanya.


"kenapa memangnya? apa kamu ingin menaiki salah satunya?"


"Apa boleh?"tanya Xander terlihat berharap.


"tentu saja, yang kuning itu punya papa, kapan-kapan kita bisa mencobanya,"tunjuk Alex ke salah satu mobil sport yang terparkir.


"Xander mau,"ujarnya antusias.


Dua orang dewasa dan satu bocah itu menaiki lift berwarna gold yang membawanya ke lantai enam.


Sandra sedang sibuk bekerja di mejanya ketika seorang bocah memanggilnya,


Xander menghampiri mamanya, tak lupa mencium punggung tangan wanita yang telah melahirkannya.


Sandra menanyakan kenapa begitu lama, namun Xander menceritakan dengan antusias apa yang dilakukannya dengan papanya.


Melihat interaksi antara Sandra dan Xander, Jonas menjadi bingung, hal itu disadari oleh Alex,


"ikut gue sebentar,"bisiknya.


Jonas mengikuti sepupunya menuju ruang kerja.


"San, aku mau ngomongin kerjaan sama Jonas didalam, Xander biar disini dulu sebentar, tapi kalau mau tidur siang, bawa ke atas aja,"pesannya pada kekasihnya.


Sandra mengangguk menyetujui usulan lelaki itu.


Alex mengunci ruangan miliknya dengan remote yang ada di mejanya.


"Jadi tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi bang, kenapa bisa Xander manggil Abang papa, dan mbak Sandra mama, gue berhak tau sebagai sepupu lo,"tutur Jonas yang duduk berhadapan dengan Alex.


"Sandra itu Sasa, cinta sekaligus pacar pertama gue, lo ingat bukan?"ungkap Alex memulai bercerita.


"Yang bikin Lo patah hati sampai depresi, jadi Sasa itu mbak Sandra, pantesan staf admin biasa bisa langsung naik posisi jadi sekertaris, tapi bang, bukanya mbak Sandra udah nikah ya! Lo yakin Xander itu anak kandung lo?"


"Sandra baru nikah empat tahun ini, sementara Xander dua bulan lagi umurnya sepuluh tahun, kalau menurut perhitungan gue itu beneran anak gue, Lo pernah gue ceritain soal hubungan gue sama Sasa kan!"


"Terus kenapa mbak Sandra nggak minta pertanggung jawaban abang?"


"Menurut Lo dengan perbedaan keyakinan diantara gue sama dia, apa bisa semudah itu bersatu, lo ngerti maksud gue kan!"


Jonas mengangguk, "kalau seandainya pakde Soejono masih hidup, pasti seneng banget kalau tau udah punya cucu, mana udah gede lagi,"ujarnya mengingat mendiang papa dari Alex.


"Itu yang bikin gue marah banget sama Sandra, padahal dia tau banget keinginan bokap gue, lo ingat bukan, gue pernah cerita kalau misal gue punya anak, hanya dari rahim Sasa,"


"Jangan bilang yang kemarin Lo minta selidiki itu suaminya mbak Sandra, lalu apa tindakan lo selanjutnya?"


"Gimanapun caranya, gue harus buat Sandra pisah sama suaminya, gue nggak rela banget bagi-bagi sama orang brengsek itu,"


"itu jelas bang, gue juga bakal dukung lo, masalahnya gimana caranya?"


"Jo, sejak kapan Lo mendadak bego? Itu tugas lo sama Chiko buat cari bukti biar Sandra bisa ngajuin gugatan cerai, satu lagi, semalam Xander cerita, beberapa kali pernah dipukuli sama Si Ferdi, gimana caranya lo berdua harus dapat buktinya, entah cctv atau pengakuan tetangga,"


Jonas mengangguk, "apa Kak Maria sudah tau soal Xander?"tanyanya.


"Rencananya Minggu besok gue mau ngenalin Xander,"


"Apapun itu gue dukung lo bang,"


Setelahnya mereka kembali membicarakan perihal pekerjaan, sehingga kembali ke mode bos dan sekertaris.


Setelah Jonas keluar dari ruangan Alex, Sandra mengajak Xander menuju lantai tujuh, bocah itu katanya mengantuk, ingin tidur siang.


Tak lupa Sandra mengirimi pesan pada Alex bahwa dirinya akan membawa Xander untuk tidur siang di kamar milik lelaki itu.


"mama, memang papa orang kaya ya! Punya kantor, mobil sport dan rumah, beda banget sama kita,"ujar bocah itu duduk di sofa yang katanya nyaman.


"coba kamu sendiri yang tanya ke papa,"sahut Sandra.


"Terus kalau aku tinggal sama papa, gimana dengan ngaji aku?"


"Ya pindah, mungkin di dekat rumah papa ada TPA, nanti coba mama cari tau, apa Xander yakin mau tinggal di rumah papa? atau mau tinggal di apartemen ayah?"tanya Sandra.


"Enakan di rumah papa, aku punya kamar sendiri, semalam papa tawari aku, apa kamar yang aku tempati mau di kasih gambar-gambar atau nggak, aku bilang aja nggak perlu, bisa punya kamar aja, aku udah bersyukur banget,"


Sandra memeluk putranya, "maafkan mama ya, kemarin-kemarin nggak bisa kasih kehidupan yang layak buat Xander,"


"nggak apa-apa mama, yang penting Xander bisa terus sama mama,"


Sandra meminta putranya untuk mandi sebelum tidur siang,


Lagi-lagi bocah itu dibuat kagum dengan kamar mandi yang ada di sana,


Xander meminta ijin berendam di bathtub sambil memainkan busa sabun,


Sandra tak keberatan, namun mengingatkan putranya untuk tidak berendam terlalu lama.


Sambil menunggu putranya berendam Sandra menyiapkan baju ganti yang sudah ada didalam tas bocah itu.


Tak lama Alex datang, menayangkan keberadaan putranya,


"Xander lagi mandi, seneng banget dia, ini pertama kali mandi sambil main busa,"tutur Sandra.


Alex membuka sedikit pintu kamar mandi, terlihat putranya sedang meniupkan busa sabun.


"Alex, nanti sepulang kerja aku mampir ke apartemen, aku mau ambil baju dan motor, aku butuh itu semua," ujar Sandra.


"Aku bisa belikan kamu dan Xander baju baru,"


Sandra menggeleng, "iya aku tau, tapi ada yang penting di sana,"


"oke, tapi aku antar,"


"Alex, aku perlu waktu sendiri, malamnya aku akan pulang ke rumah kamu,"


"kalau ada apa-apa kamu harus hubungi aku, "


Sandra mengangguk,


Alex meminta putranya untuk mengakhiri acara berendamnya, ia beralasan tidak ingin putranya masuk angin.


Xander menurut dan segera membilas tubuhnya dibawah guyuran shower.


Alex membantu putranya mengeringkan rambut, juga merapikannya.


lelaki yang sedari tadi telah melepas jas miliknya, mengajak putranya untuk tidur di ranjang miliknya, sementara Sandra kembali bekerja dilantai bawah.


Hal yang membuat Alex merasa bahagia sepeninggal papanya,


Ia bisa bertemu dengan anak kandungnya yang selama ini tak ia ketahui.


Tinggal membereskan urusan Sandra dengan Ferdiansyah, bagaimanapun caranya kedua orang itu harus berpisah.


Alex tak peduli jika nantinya ia dicap sebagai perebut istri orang,


Toh sudah ada anak diantara dirinya dan Sandra.


Meskipun nantinya ia belum tau apakah Sandra mau menikah dengannya atau tidak, apalagi dengan perbedaan diantara keduanya.


Sejujurnya sedari dulu, ia tak peduli dengan perbedaan itu, baginya asal saling mencintai dan nyaman satu sama lain, itu tak masalah baginya.


Bukankah menikah hanya dituliskan diatas kertas saja?