
Pagi berikutnya, Sandra mengendarai motor untuk mengantarkan putranya bersekolah, sedangkan Alex berangkat pagi-pagi ke rumah Benedict, katanya ada pembicaraan penting mengenai salah satu pembangunan properti.
Sudah lama Sandra tak menggunakan motornya untuk pergi jauh, kendaraan yang dibelinya dari Rena secara mencicil saat baru bekerja sebagai staf admin.
Seperti janjinya kemarin, sarapan kali ini ia akan bertemu dengan Ferdiansyah, karena tak ingin menimbulkan gosip, Sandra menelpon mantan suaminya untuk sarapan di luar kantor.
Keduanya bertemu di warung nasi uduk tak jauh dari kosan Ferdiansyah,
Sesampainya di sana, lelaki itu sudah menunggunya, "aku udah pesankan buat kamu, nggak apa-apakan?"
Sandra hanya mengangguk, lalu duduk bersebelahan dengan mantan suaminya itu,
Keduanya mulai memakan sarapannya masing-masing,
"Apa kamu baru mengantar Xander?"tanya Ferdiansyah membuka obrolan, dan Sandra hanya berdehem.
Tak ada obrolan lagi diantara mereka, keduanya fokus dengan sarapan masing-masing, hingga makanan tandas.
"Sandra, gimana kalau kita rujuk? Kamu tenang aja, aku udah berobat kok,"ungkap Ferdiansyah tiba-tiba.
Sandra baru saja meminum teh tawar hangat, menjadi tersedak begitu mendengar ucapan dari mantan suaminya.
Ferdiansyah menepuk punggung mantan istrinya, "baru aku ngomong gitu, kamu udah keselek,"
Sandra mengelap mulut dengan tisu, ia menatap tajam lelaki disampingnya, "nggak usah kepedean,"ungkapnya.
"Gini Sandra, aku udah mulai kerja, kamu sebagai staf di gedung itu, tentu tau bukan gaji seorang marketing? aku janji akan memberikan lima puluh persen gaji aku untuk kamu, dari situ kamu bisa memasukan Xander ke SMP yang bagus, sementara sisanya buat aku dan ibu, aku janji nggak akan selingkuh, atau melakukan kekerasan sama Xander dan kamu, tentu kamu ingat bukan terakhir kita tinggal di apartemen, aku bersikap baik,"
Ferdiansyah menghela nafas, "Sandra, musibah kemarin aku anggap sebagai hukuman karena aku menyia-nyiakan kamu, aku harusnya bersyukur karena memiliki istri seperti kamu, selain karena cantik, kamu juga melayani suami dengan baik, meski nyatanya, aku tidak pernah bisa memuaskan kamu, tapi kamu tenang aja, aku udah berkonsultasi ke ahlinya, aku yakin jika kita rujuk lagi, kita akan memberikan adik yang lucu untuk Xander,"
Sandra ingat diawal pernikahan, Ferdiansyah sangat baik padanya, perhatian, pengertian dan begitu mencintai dirinya, walau tak bisa memuaskan dalam urusan ranjang, hingga lelaki itu mengetahui fakta jika Xander yang sewaktu itu dikenal sebagai adiknya, nyatanya adalah anak yang dilahirkan Sandra.
Memang saat itu ia sempat mengecap manisnya mahligai pernikahan, meskipun ia tak mencintai lelaki itu,
Sandra menghela nafas, "mas, jujur aku sudah bahagia dengan hidupku yang sekarang, aku bekerja untuk Xander, kamu tau bukan kebahagiaan putraku adalah tujuan hidupku,"
"Tapi aku kan bisa jadi ayah yang baik untuk Xander, bahkan terakhir kami cukup akrab kan?"
"sayangnya ayah kandungnya lebih baik dari kamu dan aku mencintainya," ucap Sandra dalam hati, "mas, kamu bisa cari wanita lain yang lebih baik dari aku, kamu lelaki baik, hanya saat itu salah bergaul, aku harap kita akan terus begini, kita bisa berteman sebagai orang sekampung,"
"nggak ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan Sandra,"
"Ada kok, bahkan hingga sekarang aku memiliki sahabat laki-laki sedari SMA, kami bertemu dan berkumpul seperti masa muda dulu, dan masing-masing dari mereka juga sudah punya pasangan, jadi aku minta kamu jadi salah satu dari mereka, lalu jika kamu atau Elina memerlukan bantuan, jangan segan bilang sama aku,"ungkap Sandra sambil berdiri, berniat beranjak dari sana,
Ferdiansyah menahan tangan mantan istrinya, "Sandra... Aku minta maaf atas segala keburukan yang aku lakukan di masa lalu,"ucapnya sembari menghela nafas, "aku terima keputusan kamu,"
Sandra mengangguk, wanita itu tersenyum, dan Ferdiansyah mengelus kepala mantan istrinya lembut.
Lelaki itu juga mengatakan, jika dirinya telah membayar pesanan keduanya.
Keduanya berangkat ke kantor bersama dengan menaiki motor milik Sandra,
Motor memasuki parkiran dibelakang gedung, saat keduanya baru saja berjalan bersama untuk masuk ke gedung, mereka bertemu dengan salah satu orang kepercayaan Alex,
Namun tawa Sandra terhenti, begitu pandangannya bertemu dengan Choki yang baru saja keluar dari rumah dua lantai dibelakang gedung.
Lelaki berbadan kekar itu menatap tajam dirinya, seolah memberi peringatan,
Sebagai salah satu orang kepercayaan Alex, Choki jelas tau siapa lelaki yang tengah bersama kekasih bosnya.
Merasa tak enak, Sandra meminta ijin pada Ferdiansyah untuk mendahului langkahnya, namun sepertinya mantan suaminya itu masih belum puas bercerita, sehingga tangannya ditahan,
"bareng aja Sandra, kan sama-sama naik ke atas ini, oh ya kamu mau kopi nggak? Aku pesankan ya!"tawar Ferdiansyah.
Sandra semakin tak enak, apalagi Choki yang berdiri tepat di belakang Ferdiansyah, masih menatapnya tajam.
"Nggak usah mas, aku mau langsung kerja aja, ada berkas yang harus selesai sebelum pak Alex datang,"tolak Sandra berusaha memberi alasan.
Namun sepertinya Ferdiansyah masih ingin bersama mantan istrinya, lelaki itu berjalan bersisian, hingga mereka memasuki lift,
Sebagai orang kepercayaan Alex, Choki tak akan membiarkan bosnya patah hati kembali gara-gara ditinggalkan Sandra.
Lelaki berbadan kekar itu berdiri tepat di belakang mantan pasangan suami istri itu,
Sandra benar-benar tak nyaman dengan situasi ini, apalagi sedari memasuki lift, Ferdiansyah tak henti-hentinya menceritakan begitu harmonisnya rumah tangga mereka saat tahun pertama pernikahan keduanya.
Bunyi lift berdenging di lantai empat, dimana tempat Ferdiansyah bekerja, "Sandra, kalau boleh, bisakah nanti aku aja yang jemput Xander, aku kangen sama dia,"ucapnya sambil menahan pintu lift, seolah tak peduli dengan keberadaan lelaki berbadan kekar yang berdiri tepat dibelakangnya.
Sandra jelas gugup, apa lagi tadi Choki sempat berdehem, "Xander udah pindah sekolah,"sahutnya.
Terlihat raut kecewa di wajah Ferdiansyah, "Ya udah deh, aku kerja dulu, yang semangat kerjanya,"ujarnya,
Namun tindakan mantan suaminya, membuat Sandra melotot kaget, bagaimana tidak, Ferdiansyah bahkan mencium keningnya mesra, Kejadian itu begitu cepat, sehingga Sandra tak sempat memberontak.
Pintu lift tertutup dan Choki mengumpat cukup keras, membuat Sandra terkejut,
"Gila Lo ya mbak, bisa-bisanya Lo jalan sama mantan! Kalau Abang tau gimana?"
"Ya jangan sampai tau,"sahut Sandra berusaha tenang,
"lagian kok bisa itu orang masih sehat aja, perasaan udah patah sana sini,"gerutu Choki.
Sandra yang sudah tau jika musibah yang menimpa Ferdiansyah adalah ulah lelaki kekar dibelakangnya hanya bisa diam tak berkomentar.
"pokoknya mbak, kalau sampai gue lihat lagi Lo sama dia, gue bakal bikin keadaannya lebih parah dibanding kemarin,"ancam Choki.
Lift berdenting, dan terbuka tepat di lantai enam, Choki masih mengikuti kekasih dari bosnya.
"Mbak, gue bakal melakukan apapun supaya Abang nggak terpuruk lagi, gue nggak peduli kalau harus buat kaki Lo patah, agar Lo nggak pergi kemana-mana,"
Sandra meletakan Sling bag miliknya diatas meja kerjanya, ia menghela nafas kasar, "gue tau Choki, jadi buang pikiran negatif Lo soal gue, dan jangan berbuat apapun, mas Ferdi murni mau kerja disini buat menghidupi keluarganya, dia Bahkan nggak tau, kalau gue kerja disini lagi,"
Mendengar ucapan kekasih bosnya, Choki kembali menuju lift, lelaki itu hendak ke lantai delapan untuk berolahraga.