
Kesepakatan hanya seminggu sekali diawal, nyatanya tidak dipatuhi Alex, hampir setiap pagi ia akan meminta sekretaris sekaligus asistennya untuk melayaninya.
Sandra yang tak terpenuhi kebutuhan biologis dari suaminya selama bertahun-tahun tentu merasa senang.
Selain karena rasa cinta yang masih tertanam kuat di hati, juga hebatnya lelaki itu dalam memuaskannya, sehingga membuat Sandra semakin tak peduli dengan statusnya.
Suaminya sekarang juga jarang di rumah, katanya sering ada acara ditempat kerjanya, entah apa itu.
Sandra tidak terlalu mau ikut campur.
Sedari awal pernikahan, Sandra memang begitu, dirinya tak pernah bertanya berapa gaji suaminya, siapa saja teman-teman lelaki itu, yang ia tau hanya tempat kerjanya saja.
Sejak Sandra diangkat menjadi sekertaris selama tiga bulan ini, Ferdiansyah tak lagi memberinya nafkah materi.
Bahkan untuk uang listrik, air dan keamanan, semuanya dibayar sendiri oleh Ferdiansyah.
Lelaki itu juga sudah jarang memintanya untuk melayaninya, Sandra tak masalah dengan itu.
Keduanya juga jarang sekali berkomunikasi.
Pernikahan yang hambar hanya untuk status.
Orang tua dari Ferdiansyah juga berubah sejak tau jika Sandra pernah melahirkan, padahal dulu diawal pernikahan, ia adalah menantu kesayangan ibu mertua.
Namun sejak terbongkar rahasianya, mertuanya terang-terangan bersikap dingin padanya.
Sore itu sepulang kerja, ia tak mendapati putranya ada ditempat biasa bocah itu menunggunya.
Sandra menanyakan keberadaan putranya pada sekuriti yang berjaga, dan lelaki itu mengatakan, jika Xander diajak oleh Ferdiansyah.
Pikiran buruk mendadak menghantuinya, namun ia berusaha menepisnya.
Sandra segera bergegas menuju unit apartemen tempat tinggalnya.
Begitu membuka pintu ia mendapati Ferdiansyah tengah menghajar putranya, sambil memakinya.
Sandra berteriak lalu melindungi putranya dari amukan lelaki itu.
Dengan deraian air mata, Sandra menatap penuh kebencian lelaki yang menjadi suaminya,
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa putraku dipukuli? Apa salahnya?"tanya Sandra marah.
"Salahnya kenapa dia ada di dunia ini, harusnya dia tidak ada, kamu bohongi aku Sandra,"
"Aku nggak pernah berbohong mas, kamu nggak pernah bertanya sama aku, kalau kamu marah harusnya pukul aku bukan anakku,"
Setelahnya Ferdiansyah keluar entah kemana.
Sandra yang melihat putranya tak sadarkan diri, segera menggendongnya dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
Di depan ruang IGD, Sandra terus berdoa, agar putranya baik-baik saja.
Ia terus menangis sembari meminta maaf, ia merasa bersalah.
Tak lama dokter keluar, dan mengatakan jika putranya sudah sadarkan diri, namun harus di rawat semalam, karena akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Putranya telah dibawa ke ruang rawat, bukan kamar yang terbaik, Sandra belum mampu,
Xander di rawat satu ruangan berserta empat pasien anak-anak lainnya.
Malam itu Sandra terjaga, ia tak bisa tidur, putranya sesekali terbangun dan merintih, mungkin sakit dibeberapa bagian.
Sandra hanya bisa menangis dan minta maaf kepada bocah itu.
Pagi-pagi sekali, Sandra menghubungi Alex untuk ijin tidak masuk, ia beralasan sedang menjaga putranya yang sakit.
Ia juga mengirimi suaminya pesan memintanya untuk bertemu.
Saat jam makan siang, Ferdiansyah datang ke kamar rawat Xander.
Melihat kedatangan lelaki itu Xander ketakutan, tubuh bocah itu bahkan gemetaran.
Sandra berusaha menenangkannya dengan cara memeluknya.
Setelah tenang, putranya tertidur lelap.
"tolong jawab jujur pertanyaanku, kenapa kamu pukuli putraku?"tanya Sandra membuka pembicaraan.
Ferdiansyah diam tak menjawab.
Sandra menghela nafas, rasanya ia ingin membalas kelakuan lelaki yang ada disampingnya, tapi ia harus tetap tenang.
"aku tidak mau kamu menganiaya putraku lagi, aku tau kamu kecewa, tapi tolong jangan lampiaskan pada putraku, jadi setelah ini, mari bercerai, aku akan segera pindah dari apartemen kamu,"ungkapnya.
Ferdiansyah menoleh, lelaki itu menatapnya tajam, "kenapa disaat seperti ini kamu minta berpisah?"
Sandra tersenyum miris, "untuk apa mempertahankan pernikahan ini, dulu aku bertahan karena permintaan kedua orang tua ku, tapi sekarang mereka telah tiada jadi tidak ada alasan lagi untuk aku bertahan,"
Ferdiansyah bersimpuh dan meminta maaf juga berjanji tak akan mengulanginya lagi.
Sebagai istri yang baik, Akhirnya Sandra memberi suaminya kesempatan.
Keduanya kembali ke kamar rawat Xander, bocah itu masih tertidur, Sandra meminta suaminya untuk pulang saja.
Hanya sehari Xander dirawat di rumah sakit, dokter mengijinkannya pulang.
Sepulangnya Sandra dan putranya dari rumah sakit, ia mendapati suaminya berada di apartemen siang itu.
Barulah Sandra tau, jika lelaki itu baru dipecat dari pekerjaannya seminggu yang lalu, entah apa alasannya, ia tak tau juga tak bertanya.
Sejak hari itu, Ferdiansyah sedikit berubah, ia mulai memperlakukan putranya dengan baik, mengajaknya bermain dan mengajarinya Pr.
Sandra senang dengan perubahan itu.
Namun sebagai gantinya, Sandra lah yang menjadi tulang punggung keluarga.
Tak masalah, karena gaji plus bonus yang diberikan bosnya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sejak itu pula, selain mengantar jemput putranya ke sekolah, lelaki itu juga mengantar dan menjemput Sandra bekerja.
Tentu peran sebagai sekertaris plus-plus masih ia lakoni, hampir setiap pagi ia akan berhubungan intim dengan bosnya.
Sandra sadar sungguh murahan dirinya, malam melayani suaminya walau tak sampai akhir, pagi ia melayani bosnya hingga mencapai puncaknya.
Sejak suaminya menganggur, Sandra tak perlu repot-repot, harus bermacet-macetan untuk menjemput putranya di sekolah, sehingga saat jam makan siang ia bisa bersama bosnya.
Menemani menemui klien atau memuaskan hasrat atasannya itu.
Hingga suatu malam, saat hendak tidur, Ferdiansyah yang biasanya akan langsung terlelap, mengajaknya bicara.
"Bos kamu, masih singel atau udah menikah?"tanya Ferdiansyah.
"singel, kenapa emang? Tumben kamu mau tau tentang kerjaan aku?"tanya balik Sandra.
"Hanya ingin tanya saja, lalu boleh aku pinjam uang ke kamu, aku butuh buat kirim ibu, terus aku juga butuh pegangan untuk mencari pekerjaan baru,"ucap lelaki itu.
"Berapa?"
"tiga puluh juta,"
Sandra melongo, lalu memegang telinganya, sepertinya dirinya salah dengar, "coba ulang, mungkin aku salah dengar,"ucapnya.
"tiga puluh juta Sandra, buat ibu dua puluh juta, sisanya buat pegangan aku, selama mencari kerja, dan tentang Xander nggak usah khawatir, aku pasti akan menyempatkan diri buat jemput dia,"
"Tapi uang tabungan aku belum sampai segitu,"
"Gimana kalau kamu pinjam sama bos kamu, aku yakin pasti dikasih,"saran Ferdiansyah.
Sandra terdiam berfikir, bahkan jika dirinya meminta seluruh harta dari bosnya mungkin akan dikasih, ia tau betul, Alex begitu memujanya, bahkan ia pernah ditawari untuk memakai beberapa kartu milik lelaki itu.
Namun dirinya hanya mengambil satu kartu milik Alex, itupun untuk belanja kebutuhan lelaki itu atau biaya makan saat keduanya mengunjungi restoran, dan kartu itupun ia tinggal di laci meja kantor.
"aku coba tapi, aku nggak janji kalau sebanyak itu, kamu tau bukan aku baru beberapa bulan jadi sekertaris,"
"tolong diusahakan ya, aku nggak enak sama ibu, kamu tau bukan, aku punya kewajiban menafkahi ibu aku,"
Setelahnya Keduanya tidur dengan saling membelakangi.