How To Marry You ?

How To Marry You ?
seratus sembilan



Keesokan paginya, Sandra berangkat bersama Alex, semalam lelaki itu pulang ke rumah dan merealisasikan hukuman karena ulahnya sebagai sekretaris yang mengijinkan orang asing naik ke lantai enam.


Seharusnya jika mengikuti prosedur, Sandra harus menanyakan pada atasannya terlebih dahulu, akan menerima tamu atau tidak.


Alhasil pagi ini badannya pegal-pegal, karena semalam Alex menggempurnya habis-habisan.


Niat hati ingin agar lelaki itu berpaling darinya, malah ia yang susah sendiri, bahkan sebelum tadi memasuki ruangannya, Alex sempat berbisik, "bagaimana hukuman dariku sayang? nikmat bukan? Lakukan lagi dan dengan senang hati aku akan menghukum kamu,"


Benar-benar sialan, lagi-lagi Sandra melakukan dosa lagi, ia merasa bersalah.


"Kenapa Lo mbak? Manyun gitu,"Tanya Robert yang menghampirinya.


Malas menjawab Sandra hanya mengangkat bahunya.


"makanya jangan aneh-aneh mbak, gue tau itu akal-akalan Lo buat lepas dari Abang kan? Semalam Jonas cerita sama gue,"


Sandra tak lagi terkejut dengan mulut ember mantan rekannya, bahkan dulu dengan bodohnya, Jonas mengakui pernah menciumnya pada Alex, alhasil lelaki itu dihajar oleh Abang sepupunya sendiri.


"mbak, gue banyak dengar dari Choki sama Jonas tentang betapa tergila-gila nya Abang sama lo, saran gue, Lo duduk diem nggak usah banyak tingkah,"saran lelaki berusia dua puluh empat tahun itu.


Sandra menatap sinis rekannya, entah mengapa ia kesal dengan lelaki muda itu, "nih, Lo bacain jadwal bos, perut gue mules,"pintanya sambil menyodorkan tablet yang terdapat jadwal atasan mereka.


"dih nggak profesional Lo mbak,"ejek Robert.


Sandra memutar bola matanya malas, dua rekan sekertaris tidak ada yang beres, yang satu iseng selalu menggodanya, sedang yang ini kurang ajar padanya, "berisik Lo Roro, masuk gih, gue mau ke toilet,"


Tentu saja itu hanya alasan Sandra, pergi ke toilet, wanita itu justru turun ke lobby untuk membeli kopi, ia ingat janjinya akan mentraktir kopi Gita dan Arumi.


Ia sudah mengirimi pesan pada kedua gadis itu, jika dirinya sedang membeli kopi didekat lobby.


Saat menunggu lift hendak naik ke lantai dimana keduanya rekannya berada, tak sengaja ia bertemu dengan mantan suaminya.


Sebagai orang sekampung, tentu wajar jika saling menyapa, begitu juga Sandra yang menyapa Ferdiansyah terlebih dahulu.


Kebetulan hanya ada mereka berdua, "lama nggak ketemu, aku dengar kamu sempat pindah ke rumah sakit atas permintaan bos besar ya?"tanya Ferdiansyah.


"Ya gitu deh mas, tapi tetap aja balik kesini, tukeran sama Jonas,"jawab Sandra.


Lift terbuka, beberapa karyawan keluar berganti mereka masuk kedalam kotak besi itu,


"entar kalau nggak dinas luar, makan siang bareng ya! udah lama kan kita nggak makan bareng, ada yang mau aku omongin,"


Sandra mengangguk, lift berhenti tepat di lantai tiga, ia ijin undur diri terlebih dahulu untuk mengantarkan kopi untuk Gita dan Arumi.


Tak banyak obrolan dengan rekannya, karena mereka tengah sibuk, mengingat waktu mendekati akhir tahun.


Sandra kembali naik ke lantai enam, namun sayangnya baru saja duduk, telpon paralel berbunyi, siapa lagi kalau bukan atasan sekaligus kekasihnya yang memintanya masuk ke ruangan.


"Maaf pak bisa saya bantu,"tanya Sandra formal begitu masuk ke ruangan setelah sebelumnya mengetuk pintu.


Alex menyuruh Robert keluar usai memberikan laporannya, tak lupa mengunci pintu melalui remote yang ada di mejanya.


Lelaki itu berdiri dan menghampiri sekretaris sekaligus kekasihnya, ia memeluk wanita itu erat, "baru sebentar nggak lihat kamu, aku udah kangen banget,"bisiknya.


Sandra mau tak mau membalas pelukan itu, "semalam kan udah,"


"Sa, mungkin beberapa hari ini aku bakal sibuk banget, jadi kebersamaan kita jadi berkurang, tapi tenang aja, setelah semua selesai, libur akhir tahun kita habiskan waktu bersama, kamu ingat bukan kita akan mengunjungi Itali? kemarin aku udah bilang sama Ben, dan dia ijinkan aku, bahkan dia nyuruh aku pakai jet pribadinya,"jelas Alex masih betah memeluk kekasihnya.


Sandra melepaskan pelukan itu, "jadi itu serius? Aku pikir kayak waktu itu, nggak jadi,"


Alex membelai lembut rambut kekasihnya, lalu mencium kening wanita yang sangat dicintainya, "kali ini kita benar-benar akan pergi, maka dari itu aku minta pengertian kamu, mungkin beberapa hari ini aku jarang ada waktu, aku harus menyelesaikan semua pekerjaan sebelum kita liburan,"


Sandra mengangguk setuju, sepertinya rencana untuk lepas dari lelaki ini ditunda terlebih dahulu.


Keduanya saling berciuman, hampir saja, Alex melewati batas, lelaki itu meremas bok**"g kekasihnya,


Sandra yang tadinya memejamkan mata, menikmati kegiatan itu, mendadak membuka matanya lebar-lebar, ia tau jika sudah begini, Alex tak akan mau berhenti, ia mendorong lelaki itu.


"ini jam kerja, aku tau kamu nggak akan mau berhenti, jadi lebih baik aku keluar, tolong buka pintunya,"pinta wanita itu, dan Alex menurutinya, meski tak rela.


Sesuai kesepakatan tadi pagi, makan siang kali ini, Sandra bersama Ferdiansyah, tapi bukan hanya mereka berdua, ada Gita dan Arumi bergabung, Mereka makan siang di kantin.


Rumor tentang hubungan antara sekertaris dan salah satu staf marketing terjawab sudah, dengan kebersamaan mereka setelah kejadian hampir dua bulan yang lalu, dimana Sandra dipermalukan oleh mantan mertuanya.


Gita dan Arumi tak banyak berkomentar, kedua gadis itu fokus menikmati makan siangnya, meskipun mereka mendengar bisik-bisik disekitar.


Hingga makan siang usai mereka berempat menuju ke lantai dimana mereka biasa menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim.


Ferdiansyah bertindak sebagai imam dan ketiga wanita itu,


Masih ada sisa waktu hingga jam istirahat habis, Ferdiansyah meminta bicara berdua pada Sandra.


Mantan pasangan suami istri itu memutuskan berbicara di lantai delapan sambil menikmati pemandangan kota.


"Sebelumnya aku minta maaf, tentang kejadian sewaktu itu, ini kali pertama aku menjelaskan ke kamu, aku nggak pernah sekalipun meminta ibu melakukan hal itu,"ucap Ferdiansyah membuka pembicaraan.


"Nggak apa-apa mas, aku ngerti kok, ya gara-gara itu aku langsung dipindah ke rumah sakit, untungnya aku nggak nyampe di pecat, bisa repot kan, tau sendiri aku harus biayain Xander,"sahut Sandra, bermaksud agar mantan suaminya merasa bersalah.


"Oh ya, libur akhir tahun kamu mau kemana?"tanya lelaki itu.


"aku diajak sama temen buat jalan-jalan gratis ke luar negeri,"jawab Sandra jujur, maksudnya teman tidur.


"wah temen kamu baik banget ya, emang teman kamu yang mana?"tanya Ferdiansyah penasaran.


"temen aku ditempat les dulu, dia dokter di rumah sakit,"


Obrolan mereka terhenti, ketika nama Sandra dipanggil, itu Choki bersama salah satu bodyguard.


"ngapain Lo disini mbak?"tanya Choki melihat sinis ke arah lelaki yang duduk bersebelahan dengan sandra.


"ini lagi ngobrol sama temen, kenapa Ki? kamu nggak ikut bos dinas luar?"tanya Sandra balik, ia berusaha tetap tenang,


"jam makan siang udah mau abis, mending Lo turun mbak,"bukannya menjawab, lelaki berbadan kekar itu malah memerintah Sandra.


Tau tentang temperamen orang kepercayaan Alex itu, Sandra memilih beranjak dari sana, ia tak ingin membahayakan mantan suaminya.


Alex yang sedang sibuk-sibuknya dan jarang berada di kantor, membuat Sandra lebih banyak menghabiskan waktu makan siang bersama Ferdiansyah meskipun ada Gita dan Arumi bersama mereka, tapi tetap saja hal itu menimbulkan rumor.


Karena sejak kejadian Inah menimbulkan keributan, hampir semua pekerja tau, jika Ferdiansyah dan Sandra adalah mantan pasangan suami istri, sehingga kedekatan kembali keduanya, memicu gosip jika keduanya akan kembali rujuk.


Bahkan penghuni lantai enam yang jarang berinteraksi dengan staf yang lain karena lebih banyak yang berkerja diluar sampai mendengarnya.


Hermawan yang dulu mengurusi perceraian Sandra sampai menegurnya, tentu wanita itu membantah gosip itu.


Sudah seminggu lebih gosip itu beredar, Alex baru mendengarnya saat lelaki itu membeli kopi bersama Rama dan Robert usai ketiganya dari rumah Benedict.


Mendengar hal itu, Alex mengepalkan tangannya, baru sebentar saja sudah seperti ini, kesal sekali rasanya.


Ketiganya masuk ke lift berwarna gold menuju lantai enam, Rama yang mulai menyadari kemarahan sahabatnya menepuk pelan pundaknya, "sabar Lex, ngomong baik-baik dan jangan emosi,"sarannya.


Sesampainya di ruang sekertaris, Sandra sedang berbicara dengan beberapa staf marketing yang memang akan mengadakan rapat bersama.


Alex yang melihat betapa akrabnya mantan suami istri itu, mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras, ia cemburu, ia tak terima miliknya didekati, hampir saja ia menghampiri keduanya, beruntung Rama dan Robert menahannya.


"Santai bang, jangan kebawa emosi,"ucap Robert pelan.


"Lo maju, karir Lo bakal hancur, pake otak kalau mau ngasih mereka pelajaran,"pesan Rama.


Alex menarik nafas dan menghembuskan perlahan, ia berusaha mati-matian menekan amarahnya.


Berhasil mengendalikan diri, Alex menghampiri mereka, mempersilahkan masuk ke ruangannya untuk memulai Rapat terakhirnya, menjelang akhir tahun.