
Xander baru diperbolehkan pulang setelah seminggu dirawat di rumah sakit, selama itu pula Sandra selalu menjaga putranya sembari bekerja menggantikan Jonas, sementara pekerjaannya sendiri dihandle oleh Robert dibantu Choki.
Alex juga belum kembali dari Itali, kemungkinan lelaki itu akan berada di sana sekitar dua sampai tiga Minggu.
Meskipun sudah berada di rumah, Xander belum bisa masuk sekolah, dikarenakan masih dalam tahap pemulihan, dokter berpesan sekitar seminggu beristirahat di rumah, remaja itu baru bisa masuk sekolah seperti biasa.
Sandra hanya bisa menjaga putranya selama sehari di rumah, sehingga Mbak Ninik yang menjaga Xander dari pagi hingga sore.
Siang itu saat dirinya sedang makan siang bersama Natasha dan Oscar di cafetaria rumah sakit, ponselnya berdering, Elina menghubunginya.
Kepada kedua sahabatnya, Sandra ijin mengangkat telpon terlebih dahulu,
"ya El, ada apa?"tanya Sandra usai sebelumnya mengucapkan salam.
"mbak udah nggak kerja di kantor tempat mas Ferdi kerja ya? Eli kesana, kata resepsionis, mbak nggak ada, mbak dimana sekarang?" tanyanya dari seberang sana.
"iya mbak emang lagi nggak kerja di gedung itu, tapi di rumah sakit, mungkin dua Minggu lagi, mbak baru kesana, emang ada apa El?"tanya Sandra balik.
"pantesan mbak nggak tau,"gumam Elina, "mbak nggak tau kalau Abang ditangkap polisi?" tanyanya.
Sandra terkejut, tak menyangka mantan suaminya berurusan dengan polisi, "kok bisa? Emang mas Ferdi kenapa? terus udah berapa lama ditahan?"tanyanya.
"udah lima hari ini mbak, makanya Eli sama bapak lagi di Jakarta, bisa nggak mbak, kita ketemuan, aku jelasin semuanya,"
Sandra terdiam sejenak, ia berfikir, jika bertemu di jam kerja sepertinya tidak mungkin, pekerjaannya banyak, kalau pulang kerja, juga tidak mungkin, dikarenakan ia harus segera pulang menjaga Xander bergantian dengan mbak Ninik.
"em... El, gimana kalau ketemunya nanti malam aja, nanti mbak share lokasinya,"
"oke mbak,"
Sandra mengakhiri panggilannya dan melanjutkan makan siangnya.
Kedua sahabatnya terdiam menunggu penjelasannya, Sandra yang baru beberapa suap, langsung menghentikan makannya, ia tau kedua orang itu memerlukan penjelasannya.
Akhirnya ia menjelaskan siapa yang menelepon, lalu tentang apa yang tadi dibicarakannya.
"Terus Lo mau bantu bagaimana sa?"tanya Natasha.
"gue lihat dulu kasusnya, kalau berat ya nggak bisa, tapi masalahnya, kalau sampai mas Ferdi dipenjara, gimana sama keluarganya, bagaimanapun mas Ferdi tulang punggung keluarga, dia harus menanggung kedua orangtuanya, adik dan ketiga keponakannya,"jawab Sandra frustasi.
Walau Ferdiansyah dan Inah pernah menyakitinya, tapi tidak dengan bapak dan Elina berserta ketiga anaknya.
"Kenapa Lo yang pusing Sa? Mereka kan mantan keluarga Lo, setau gue bukannya mantan mertua Lo pernah mempermalukan Lo didepan Ben dan Rama beserta pekerja kantor, makanya Lo dipindahkan ke sini, harusnya diemin aja kali,"ujar Oscar heran.
"tapi Elina sama bapak itu baik banget sama gue Os, terus setahun pertama gue nikah sama mas Ferdi, dia itu jadi suami dan ayah yang baik buat gue sama Xander, seenggaknya gue harus ingat kebaikan mereka,"
"bukannya waktu Ferdi kecelakaan, lo udah ngeluarin duit yang banyak buat dia? bukannya gue ngajarin Lo pelit Sa, masalahnya entar jadi kebiasaan,"sela Natasha.
"gue bakal bantu sekadarnya aja kok, nggak full,"
"serah Lo deh Sandra,"sahut Natasha dan Oscar hampir bersamaan.
Malam harinya usai meminumkan obat pada putranya, Sandra mengirim pesan pada Elina, mengajaknya bertemu di warung tenda tak jauh dari kompleks tempat tinggalnya.
Sandra memilih menaiki motor maticnya, setidaknya lebih praktis dan cepat.
Sekitar lima belas menit kemudian, Elina datang, Sandra menawarkan mantan adik iparnya untuk memilih menu makanan yang tersedia di warung tenda itu.
Sembari menunggu pesanan dibuat, Sandra mulai bertanya, mengapa Ferdiansyah bisa berurusan dengan polisi, seingatnya beberapa hari sebelum Xander dirawat, ia masih makan siang bersama mantan suaminya dan dua rekannya di staf administrasi.
"Eli juga bingung mbak, kok mas Ferdi dengan bodohnya melakukan kesalahan yang sama,"
Sandra mengernyit bingung, "maksudnya apa? Kesalahan yang sama bagaimana?"tanyanya.
Elina mulai menceritakan, alasan mengapa dulu kakak kandungnya keluar dari pekerjaannya sebagai staf marketing di showroom mobil, Ferdiansyah dikejar-kejar penagih hutang, sehingga mantan atasannya memintanya untuk mengundurkan diri.
Lalu alasan lelaki itu berhutang adalah karena tertipu oleh investasi bodong juga terlibat dalam perjudian.
Karena alasan itu juga Ferdiansyah mulai berselingkuh, mencari perempuan kaya yang kesepian, untuk dikeruk hartanya agar bisa membayar hutang-hutangnya juga mengirimi keluarganya uang.
Obrolan mereka terhenti, saat pesanan keduanya datang, sebenarnya Sandra sudah makan, tapi untuk menghargai Elina, sehingga ia ikut memesan makanan.
Elina juga menceritakan tentang kondisi rumah tangganya yang ada diujung tanduk, suaminya meninggalkan dirinya dan ketiga anaknya, karena sudah tidak tahan hidup pas-pasan dan dirong-rong oleh ibunya.
Sudah jatuh tertimpa tangga, itulah gambaran kondisi keluarga Ferdiansyah.
"Lalu apa sekarang mas Ferdi juga terlibat judi?"tanya Sandra sembari menikmati makanannya.
"mas Ferdi bilang, dia hanya menemani teman lamanya ditempat judi, sama sekali tidak ikut, sialnya saat itu sedang ada razia polisi, sehingga mas Ferdi ikut tertangkap,"jawab Elina.
"lalu apa yang bisa mbak bantu?"tanya Sandra lagi.
Elina menghentikan makannya, wanita itu menunduk, hanya sejenak, lalu menatap mantan kakak iparnya, "mbak, bisa nggak kasih jaminan uang buat mas Ferdi supaya dibebaskan dari penjara, supaya tidak sampai sidang,"
"kira-kira berapa El?"tanya Sandra memastikan.
"sekitar sepuluh juta mbak, tapi mbak tenang aja, Eli ganti kok, karena dua bulan lagi Eli mau kerja jadi TKW ke luar negeri, nanti tiap bulan Eli cicil,"
"kalau kamu jadi TKW, yang jagain anak-anak siapa?"
"ada ibu sama bapak, mbak tau bukan sekarang ayahnya anak-anak udah nggak sama Eli, dan dia tidak mau kasih nafkah buat anak-anak,"
Sandra yang telah menyelesaikan makannya, mencuci tangannya dengan air kobokan yang tersedia, tak lupa mengeringkannya dengan tisu.
"El, mbak saranin, urungkan niat kamu buat jadi TKW, kasihan anak-anak,"sarannya.
"tapi mbak, anak-anak makin besar, mereka harus sekolah, nggak mungkin Eli mengandalkan mas Ferdi terus,"
Sandra menghela nafas, ia prihatin dengan nasib wanita beranak tiga itu, ia pernah juga mengalami masa sulit,
"El, mbak akan coba bantu kamu, bukankah kamu pintar memasak, bagaimana kalau kamu jualan makanan? dengan begitu kamu bisa menghasilkan uang dari rumah, dan mengenai uang jaminan mas Ferdi, tidak usah diganti, tapi ada syarat yang harus kakak kamu penuhi,"
"mbak, selama ini Eli dan keluarga udah banyak buat mbak menderita, Eli nggak enak nyusahin mbak terus,"
Sandra menggenggam kedua tangan mantan adik iparnya, "El, mengenai modal usaha anggap aja ini investasi dari mbak buat kamu, lalu untuk mas Ferdi, itu ucapan terima kasih karena dulu kakak kamu, sempat jadi suami dan ayah yang baik untuk mbak juga Xander, jadi nggak usah dipikirin ya!"
Mata Elina berkaca-kaca, ia terharu dengan kebaikan mantan kakak iparnya, ia berucap terima kasih.
Karena hari semakin malam, Sandra menawarkan diri untuk mengantar Elina menuju tempat kos Ferdiansyah.