How To Marry You ?

How To Marry You ?
delapan puluh lima



Hawa panas menyeruak di kamar pribadi ruang kerja Alex, bukan karena air conditioner yang mati, melainkan sepasang manusia berbeda jenis sedang berperang peluh.


Rasa rindu membuat mereka larut dalam gairah yang sudah berhari-hari tak tersalurkan,


Kesibukan menjadi faktor utama sehingga kegiatan menyenangkan itu tak bisa dilakukan sering-sering.


Sandra Mengerang, ketika rasa itu menyerang sekujur tubuhnya, ia mendapatkan pelepasan pertamanya lalu ambruk di dada bidang kekasihnya.


Tak membuang waktu, Alex membalik keadaan, seolah tak peduli jika wanita dibawahnya masih berusaha mengatur nafas usai pelepasan,


Rasa nikmat mulai ia rasakan dipusat tubuh lelaki itu, ah.... rasanya ia ingin segera mencapai puncaknya, sudah lama ia tak melakukannya,


Alex mempercepat gerakannya, peluh semakin banyak bercucuran bercampur sisa aroma minyak wangi, menghasilkan aroma yang disukai wanita dibawahnya, Sandra pernah mengatakannya suatu ketika saat mereka bercinta.


"A...Lex... Aku mau sampai lagiiihhh....."Seru Sandra terdengar seperti erangan.


Mendengar hal itu, Alex semakin mempercepat gerakannya, hingga erangan panjang sembari memanggil nama kekasihnya menandakan jika ia mencapai puncaknya.


Keduanya masih terengah, Alex menatap kekasihnya penuh cinta, tanpa melepas tautan itu ia berguling, lalu duduk bersandar di kepala ranjang.


Sandra sempat protes, sesuatu mengganjal dibawah sana, juga cairan lengket yang dihasilkan dari kegiatan beberapa menit yang lalu, membuatnya tidak nyaman.


"Begini dulu Sa, sebentar aja!"pinta Alex sembari mengelus rambut milik kekasihnya yang basah karena peluh, cepolan milik wanita itu juga tak lagi rapih karena ulahnya.


Sandra bersandar dipundak lelaki itu, "Lex, aku mau jawab pertanyaan kamu yang tadi,"cetusnya.


"Nanti saja ya, kita baru berbaikan, aku nggak mau ribut lagi,"pinta Alex lagi.


Sandra menegakan tubuhnya, ia berhadapan dengan lelaki yang tengah memangkunya, dan bagian inti mereka masih bertaut, "aku nggak mau kamu dengar dari orang lain, aku akan jujur tentang semua tanpa aku tutupi sedikitpun,"


Dengan tatapan memohon, sekali lagi Alex meminta untuk tidak membahasnya saat ini, mungkin lelaki itu tak ingin merusak momen indah yang sudah berhari-hari tidak sempat mereka lakukan.


Tau betul watak kekasihnya, Sandra menepis tangan yang merengkuhnya lalu bangkit, tak malu tentang tubuh polosnya, ia berjalan menuju kamar mandi.


Saat berjalan tadi, sesuatu hangat nan lengket mengalir di antara pahanya, cairan yang dihasilkan dari dirinya dan lelaki itu dari kegiatan beberapa saat yang lalu.


Didalam kamar mandi ia berdiri dibawah guyuran shower, tak lupa membersihkan bagian intinya, berharap benih lelaki itu keluar dari bawah sana,


Bodohnya ia tak mengingatkan Alex untuk memakai pengaman, sementara hubungannya dengan lelaki itu belum jelas.


Tangan besar itu memeluknya dari belakang, kekasihnya meminta bergabung dengannya.


Sandra yang mengerti hanya bisa pasrah, tak mungkin bisa menolak, meskipun ini masih di jam kerja.


Keduanya melakukannya lagi dibawah guyuran shower, Alex menahan tubuh wanitanya didinding sambil terus menggempur pusat tubuh yang menjadi sumber kenikmatannya.


Hingga sesuatu yang membuat keduanya kompak mengeluarkan suara erangan panjang, pertanda sampainya mereka di puncak kenikmatan dunia


Setelahnya, Alex membantu mencuci rambut, serta menggosok tubuh wanitanya, jengkal demi jengkal tanpa terlewat, sebuah kegiatan yang biasa dilakukan ketika mengakhiri sesi bercinta mereka, jika memungkinkan.


Alex bahkan hafal dimana saja letak tahi lalat milik wanitanya, ia begitu memuja kekasihnya, bukan hanya soal hati tapi fisik yang menurutnya sempurna, sehingga ia tak ingin dan tak akan melepaskan wanita yang telah memberinya seorang putra.


Kepuasan dalam urusan ranjang juga jadi salah satu alasan dirinya semakin mencintai wanita itu, sedari awal ia membuka segel kekasihnya dulu rasanya tak berubah, selalu membangkitkan gairah dan membuatnya puas.


Selesai dengan ritual mandinya, Alex juga membantu kekasihnya mengeringkan rambut yang mulai memanjang setelah beberapa bulan lalu sempat dipotong sebahu.


Mau panjang ataupun pendek, bagi Alex, sasa-nya akan menjadi wanita tercantik dimatanya.


Memikirkannya saja, membuat hasratnya kembali bangkit, namun ia harus menekannya, tak mungkin bukan ia meniduri kekasihnya lagi, apalagi ini masih jam kerja.


Ada beberapa pekerjaan yang menanti di meja kerjanya, ia harus segera menyelesaikannya agar nanti malam, ia bisa memadu kasih kembali dengan Sasa-nya.


"Pokoknya nanti malam, aku minta kamu pulang, aku akan jelaskan semuanya, aku tak mau membiarkan masalah ini berlarut-larut,"pinta Sandra sembari memakai blazer hitam miliknya.


Alex menghela nafas, "aku juga maunya gitu, mudah-mudahan Ben nggak manggil aku ke rumahnya,"


Sebelum memulai bekerja keduanya berpelukan lagi, sayangnya Alex hendak mencium bibir kekasihnya, wanita itu malah menghindarinya.


Alex tersenyum melihat tingkah Sasa-nya yang menurutnya lucu.


Menjelang pukul lima sore, Sandra kembali masuk ke ruang kerjanya, Wanita itu hendak pamit padanya untuk pulang terlebih dahulu.


Alex meminta Sasa-nya mendekat, ia butuh men-charge tenaganya yang terkikis karena berkas menumpuk di meja kerjanya.


Keduanya berpelukan lalu berciuman, awalnya hanya sebuah ciuman biasa, nyatanya malah membangkitkan hasrat Alex, lelaki itu meremas dada dibalik blazer hitam yang dikenakan kekasihnya.


Sandra yang sadar akan berakhir seperti apa, mendorong kuat kekasihnya, "kamu tuh kebiasaan tau nggak,"ungkapnya kesal.


Seperti anak kecil yang kehilangan mainan favoritnya, Alex berdecak kesal,


"Selesaikan segera pekerjaan kamu, aku menunggu kamu di rumah, belum lama aku beli baju dinas berwarna merah,"bisik Sandra pelan.


Bibir yang tadinya manyun seketika tersenyum lebar, langsung terlintas didalam pikiran Alex, bagaimana seksinya wanita itu,


Sepeninggal kekasihnya, Alex memanggil Jonas dan Choki untuk membantunya, ia ingin segera menyelesaikan semua pekerjaannya.


Jonas terlebih dahulu masuk, sepupunya itu sempat protes, katanya ia ada janji dengan gebetan barunya, tapi harus ia batalkan karena perintah atasannya.


Tak lama Choki masuk disusul dibelakangnya Robert, satu lagi orang kepercayaannya yang baru pulang dari Amerika setelah mendapatkan pelatihan dari assisten Benedict.


pukul delapan malam, Rama datang membawakan makanan kiriman ibunya untuk Alex dan para asistennya juga mengambil beberapa berkas yang akan diserahkan pada Benedict untuk di periksa.


Sahabatnya juga mengajaknya menuju rumah bos besar mereka, namun Alex menolak dengan alasan ada janji penting.


Alex tersenyum tipis nyaris tak terlihat, ia teringat janjinya dengan wanita pujaannya.


"salam aja buat Ben, besok siang gue ke rumahnya,"


Rama mengangguk, mereka sempat makan bersama dan mengobrol sebentar membahas beberapa pekerjaan, juga tentang cerita Robert selama di negara asing itu.


Alex baru sampai rumah sekitar pukul sepuluh malam, sudah sepi, memang di jam segini, putranya pasti sudah tidur.


Setelah mencuci tangan di wastafel, Alex terlebih dahulu menuju kamar putranya, seharian ini ia sama sekali belum bertemu dengan bocah itu.


Tanpa mengetuk, Alex membuka pintu dan masuk mendekati putranya, terdengar suara nafas teratur dari bocah itu, ia membenarkan selimut lalu mencium kening buah cintanya.


Alex memilih mandi di kamar mandi dekat dapur, ia ingin ketika memasuki kamar, ia sudah dalam keadaan segar dan bersih.


Butuh sepuluh menit, hingga Alex keluar dari kamar mandi hanya melilitkan handuk di pinggangnya.


Alex membuka pintu kamar, Sandra sedang bersandar di kepala ranjang, dengan laptop diatas bantal yang dipangkunya, juga ada air phone hitam menempel di telinga wanita itu, pantas saja tak mendengar suara mobil parkir di carport.


"Hai, kayaknya lagi seru banget,"sapa Alex sambil mengambil bokser di lemarinya, lalu memakainya, tak lupa menyemprotkan parfum miliknya.


Sandra menutup laptopnya, lalu bangkit dan menyimpannya di kabinet, wanita itu berjalan mendekati kekasihnya.


Pelukan hangat Sasa-nya membuat Alex tersenyum senang, sepertinya kekasihnya merindukannya.


Alex berbalik lalu balas merengkuh tubuh wanita itu, "katanya mau pakai baju dinas, mana kok malah pakai piyama?"


"Aku udah pakai, tapi harus aku lapisi bukan, tak mungkin aku memakainya didepan putra kita, aku akan menunjukannya setelah kamu mendengarkan aku bercerita,"


Alex mengangguk dan menuntun kekasihnya menuju ranjang keduanya.


Mereka berbaring saling berhadapan, Sandra menghela nafas terlebih dulu, "apapun yang aku ceritakan, aku harap kamu dengarkan dulu sampai akhir, aku tidak mau ucapanku dipotong, kamu mengerti?"Alex mengangguk setuju,


Sandra mulai menceritakan awal mula ia bertemu dengan Ferdiansyah di lobby usai makan siang hari itu, tentang pembicaraan di kedai kopi, hingga meminta nomor barunya, juga tentang ajakan sarapan bersama keesokan harinya.


"Dia ngajak aku untuk rujuk,"


Alex mengernyit heran, hendak berniat bertanya, tapi Sandra mengingatkannya agar tak memotong ucapannya.


Sandra melanjutkan cerita tentang permintaan Ferdiansyah untuk turut serta menjemput Xander di sekolah, juga tentang makan siang bersama.


Selama seminggu, kebersamaan mereka bertiga, Sandra mengatakan jika Ferdiansyah benar-benar telah banyak berubah, tentunya ke arah yang lebih baik, lelaki itu semakin dekat dengan Xander.


Sandra juga mengatakan, jika semua yang dilakukan oleh Ferdiansyah adalah cara lelaki itu untuk memperbaiki citra buruk di masa lalu.


Terakhir tadi pagi sarapan, lagi-lagi Ferdiansyah mengajaknya untuk membangun kembali rumah tangga mereka.


Sandra menjanjikan jawabannya esok hari, ia meminta waktu untuk berfikir.


"Jadi menurut pendapat kamu, aku harus bagaimana?"tanya Sandra penuh harap.


Alex mengubah posisinya, ia berbaring terlentang memandang langit-langit kamarnya, ia tertawa tapi bukan tertawa karena senang, hanya menertawakan pertanyaan wanita disebelahnya.


Apa kepala kekasihnya baru-baru ini terbentur? Kenapa wanita itu mendadak bodoh?


Kalau pertanyaan itu ditujukan padanya, tentu ia akan menjawab agar wanita itu menolak mentah-mentah ajakan memperbaiki rumah tangga sialan itu, bagaimana mungkin ia akan mengiyakan, yang artinya ia akan kehilangan Sasa-nya lagi.


Alex melirik sekilas, wanita itu masih menatapnya penuh harap,


"Apa kamu mencintai suami kamu?"tanyanya berusaha tenang.


"itu pertanyaan yang jelas kamu tau jawabannya,"sahut Sandra.


Alex tersenyum miris, "coba jawab pertanyaan aku secara jelas, iya atau tidak, apa kamu mencintai suami kamu?"tanyanya lagi.


"Tentu saja tidak sekalipun, baik dulu hingga sekarang,"jawab Sandra jujur.


"Lalu apa maksud kamu nanya kayak gitu sama aku? kenapa kamu mendadak bodoh? Jelas aku akan menentang keras hal itu, aku nggak akan membiarkan kamu pergi lagi dari sisiku,"


Sandra bangkit dan duduk bersila menghadap kekasihnya, "tapi Lex sebagai seorang wanita, tentu aku akan tergiur dengan tawaran itu, ketika ada lelaki yang menawarkan pernikahan, apalagi dia sudah banyak berubah ke arah yang lebih baik,"


Alex ikut bangkit, keduanya saling berhadapan, "oke seandainya kamu kembali sama suami kamu? Lalu bagaimana dengan aku?"tanyanya menyelidik, "apa ini kode dari kamu supaya kita menikah?"tanyanya lagi.


"kamu tau kita tak mungkin bisa menikah,"jawab Sandra.


Rahang Alex mengeras, wanita dihadapannya meragukannya, sebagai seorang lelaki harga dirinya terluka, "bisa kalau itu mau kamu, pagi tadi aku memutuskan untuk mengikuti keyakinan kamu agar kita bisa menikah, tapi sepertinya keputusan aku salah, dari kata-kata kamu, aku sadar jika kamu tak ada keinginan untuk bersamaku selamanya,"


Sandra melebarkan matanya, ia terkejut mendengar pengakuan lelaki dihadapannya,


"oh aku lupa, kalau nggak salah dengar tadi kamu bilang lelaki brengsek itu meminta rujuk? Apa artinya kalian sudah resmi bercerai? dan kamu merahasiakannya dari aku? Apa alasannya? Coba jawab pertanyaanku dengan jelas,"


Sandra menunduk, ia memang sengaja merahasiakan fakta itu dari kekasihnya, "tak ada alasan, hanya ingin saja, toh tau tidaknya kamu tentang fakta itu, kita tetap tak bisa menikah bukan?"


"kan aku bilang kita akan menikah, aku akan mengalah, aku akan mengikuti keyakinan kamu, tapi sepertinya kamu meragukan usaha aku,"


"Sudahlah, selalu begini jika kita membicarakan pernikahan, kita akan berdebat,"


"kamu yang mulai Sandra,"


"iya aku yang mulai, harusnya dari awal kita nggak seperti ini, aku yang salah, harusnya aku menghilang lagi, dan harusnya kita nggak saling kenal,"


Setelah mengatakannya, Sandra bangkit mengambil bantal dan guling serta selimut, wanita itu berniat tidur di ruang tengah, tak mungkin dengan kondisi seperti sekarang ia bisa tidur satu ranjang dengan lelaki itu.