How To Marry You ?

How To Marry You ?
Dua puluh tujuh



Sandra mengambil alih kemudi, ia tau jika Alex tak mungkin bisa menyetir dalam keadaan seperti ini.


Sepanjang perjalanan, lelaki itu hanya terdiam, tak berbicara sepatah katapun.


Hingga mobil memasuki parkiran rumah sakit, tanpa banyak bicara, Alex meninggalnya dan berlari menuju IGD.


Sandra segera mengikuti lelaki itu, didepan ruang IGD Alex berbicara dengan seorang berpenampilan Biarawati.


Sandra berdiri tak jauh dari kedua orang itu, ia bisa mendengar dengan jelas, jika Papa dari Alex terkena serangan jantung, entah apa penyebabnya.


Tak lama dokter keluar dari ruang IGD dan memanggil wali dari bapak Soejono,


Alex dan Biarawati itu menghampiri dokter dan menanyakan keadaan Bapak Soejono.


Dari yang Sandra dengar, jika pasien dinyatakan telah meninggal beberapa menit yang lalu.


Mendengar hal itu, Alex memeluk sang biarawati, keduanya menangis, sambil memanggil papa mereka.


Salah seorang suster meminta salah satu keluarga pasien untuk mengurus prosedur kepengurusan jenazah.


Melihat Alex yang masih sibuk menenangkan sang biarawati, membuat Sandra mengambil inisiatif untuk mewakili keluarga mengurus administrasi kepengurusan jenazah.


Saat sedang mengurus prosedur, ponsel Sandra berbunyi, itu dari Alex,


Lelaki itu memintanya agar jenazah papanya ditempatkan di rumah duka yang masih dalam area rumah sakit.


Merasa harus menemani bosnya hingga selesai, Sandra menghubungi Ferdiansyah, mengatakan bahwa dirinya tidak bisa pulang, karena harus menemani bosnya yang tengah berduka, tak lupa menitipkan putranya.


Ada rasa bersalah dalam diri Sandra, ia belum mengenalkan Xander pada Soejono yang notabenenya adalah kakeknya.


Dalam hati ia meminta maaf pada mendiang Soejono, Karena belum mengenalkan cucunya.


Sandra juga mendampingi Alex dan Maria nama biarawati yang tak lain adalah kakak kandung lelaki itu.


Banyak tamu yang hadir silih berganti di rumah duka, dari sore hingga malam, tak berhenti tamu yang datang menyampaikan ucapan bela sungkawa.


Termasuk para sahabat Alex yang tentu Sandra kenal, belum lagi para karyawan lelaki itu.


Beberapa karangan bunga juga berdatangan bertuliskan ucapan bela sungkawa.


Saat pembacaan doa yang dipimpin oleh pastor, Sandra menunggu diluar.


Keesokan harinya setelah melalui serangkaian prosedur upacara kematian sesuai agama yang dianut, jenazah di bawa ke pemakaman elit yang ada di Jawa Barat.


Sandra mengemudikan mobil Alex, yang ditumpangi oleh Maria dan keluarga yang datang semalam dari Jogja,


Sedangkan Alex turut serta didalam Ambulance bersama jenazah.


Ada juga para sahabat Alex dengan mobil yang berbeda mengiringi pengantaran jenazah itu.


Saat upacara pemakaman, Sandra bersama Sahabat-sahabatnya hanya melihat dari kejauhan.


"Lo dari semalam bareng Alex terus, anak Lo siapa jagain?"bisik Natasha.


"gue udah nitip ke mas Ferdi,"bisik Sandra.


Keduanya kembali terdiam sambil mengamati prosesi pemakaman.


"Lo setia banget dampingi temen gue,"ujar Fernando dengan suara pelan,


Sandra melirik lelaki blasteran itu kesal, "gue sekretarisnya Dodo,"


"sekretaris plus-plus,"


Sandra yang kesal, akhirnya mencubit lengan lelaki disebelahnya, hingga hampir saja Fernando mengumpat.


"sakit ogeb,"


"Sukurin, makanya jangan berisik,"sahut Sandra dengan senyum mengejek.


Rama yang ada disebelah melototi dan memberikan peringatan pada kedua orang yang berdiri bersebelahan.


Sedangkan Oscar dan Satria hanya menggelengkan kepalanya.


Prosesi pemakaman selesai, para pelayat kembali ke ibu kota.


Sandra kembali mengemudi dengan tambahan Alex sebagai penumpang.


Beberapa saudara bertanya, tentang dirinya, Sandra menjawab jika ia adalah sekertaris sekaligus asisten pribadi dari Alex.


Sesuai arahan dari Alex, Sandra mengantarkan hingga ke rumah keluarga lelaki itu.


Sebagai asisten, Sandra melayani bos dan keluarganya, menyediakan makanan yang ia pesan dari restoran tak jauh dari rumah itu.


Alex menjadi lebih pendiam, lelaki itu tak banyak bicara, hanya menjawab jika ditanya, begitu juga dengan Maria.


Saudara yang dari Jogja, tidak bisa berlama-lama di ibukota, dikarenakan tuntutan pekerjaan, hingga malamnya mereka pulang, dengan Sandra yang mengantarkannya ke stasiun.


Malam Harinya, Sandra masih berada di rumah itu.


Meskipun begitu, ia sempatkan mengirim pesan pada Ferdiansyah untuk menanyakan kabar Xander, Suaminya itu beberapa kali mengirimkan gambar ketika bocah itu sedang sarapan, berangkat dan pulang sekolah, makan siang, mengaji hingga menjelang tidur,


Selama tak ada dirinya, Ferdiansyah tidur bersama Xander di ruang tamu, katanya sambil menonton film kartun.


Sandra percaya saja dengan pesan yang dikirim suaminya tentang kegiatan putranya, ia merasa tenang, meninggalkan bocah itu.


Saat jam makan malam, meski harus dibujuk, Alex dan Maria mau makan meski sedikit, tak apa setidaknya ada asupan makanan yang masuk.


Usai makan malam, Maria mengajaknya berbicara dikamar wanita itu.


"boleh aku bertanya?"ucap Maria.


Sandra mengangguk, keduanya duduk diatas ranjang sambil berhadapan.


"Apa Alex sedang dekat dengan wanita?"tanyanya.


"Kenapa?"Tanya Sandra balik.


"Aku berharap sepeninggal papa, Alex menemukan jodohnya, supaya ada yang mengurusnya dan melanjutkan keturunan keluarga Soejono, kamu tau bukan adik papaku itu seorang perempuan, dan para sepupuku juga perempuan, tak ada yang bisa meneruskan nama Soejono jika Alex tak kunjung menikah dan memiliki anak,"jawab Maria.


Sandra bingung menanggapinya, tapi tak mungkin mengatakan jika sebenarnya ada Xander yang notabenenya anak biologis dari Alex.


Ia memilih mengangguk.


"Aku ingat, dulu sewaktu lulus SMA, Alex sempat depresi, aku tak sengaja dengar, jika penyebab depresinya karena persolan cinta, tapi aku tak enak jika harus banyak bertanya, apa kamu tau soal itu?"


Sandra menegang, ia tak bisa membayangkan jika Maria tau dirinyalah penyebab depresi Alex dulu.


"aku baru menjadi sekertaris Alex beberapa bulan ini, jadi aku tidak terlalu tau dengan wanita yang selama ini dekat dengannya,"ujarnya.


"Baiklah, aku akan tidur terlebih dahulu, tolong temani Alex dulu sebelum kamu tidur, sepertinya dia belum bisa menerima kepergian papa,"pinta Maria.


Sandra mengangguk lalu undur diri dari kamar wanita itu.


Ia mencari keberadaan Alex, di kamar tidak ada, teras belakang juga tidak ada, namun saat melintas kamar dari mendiang Soejono, Sandra mendengar suara Isak tangis dari dalam sana.


Meski sedikit merinding karena si empunya kamar telah berpulang, Sandra tetap memberanikan diri untuk mendekat.


Ia sedikit mengintip, di celah pintu yang tak tertutup rapat,


Sandra bisa melihat Alex yang sedang duduk sambil bersandar di head board ranjang sambil memeluk foto mendiang Soejono.


Ia memilih menunggu Alex di ruang tengah hingga lelaki itu puas melampiaskan kesedihannya.


Sama seperti dirinya dulu saat kedua orangtuanya pergi untuk selamanya dalam waktu saling berdekatan.


Dirinya sangat bersedih, namun Xander menguatkannya, hingga ia tak lama-lama larut dalam kesedihan.


Entah berapa lama Sandra duduk sofa ruang tengah, hingga Alex memanggil namanya.


"Kamu belum tidur?"tanya lelaki itu, terlihat sisa-sisa air mata di pipinya.


"aku nunggu kamu,"jawab Sandra.


Alex duduk disebelahnya lalu menyadarkan kepala di bahunya dan melingkarkan tangan besar lelaki itu ditubuhnya.


"Aku bahkan belum memenuhi permintaan papa, tapi papa keburu pergi, aku merasa bersalah,"


"Kalau boleh tau, apa permintaan papa kamu?"tanya Sandra menanggapi.


Alex tak lagi menyandarkan kepala di bahunya, Sandra bisa merasakan tatapan lelaki itu, "Papa minta cucu, kamu tau bukan Maria tak mungkin bisa memenuhi permintaan papa,"


Mendengar itu Sandra menegang,


Alex kembali bersandar, "maka dari itu, aku sengaja tidak pernah pakai pengaman ketika melakukannya sama kamu, aku berharap akan ada cucu untuk papa di rahim kamu, tapi nyatanya hingga papa pergi, aku belum bisa kasih kabar baik untuk beliau, aku merasa bersalah sa, padahal itu permintaan terakhir papa sama aku,"


Sandra berusaha untuk tetap tenang meskipun rasanya ingin sekali memberitahukan tentang keberadaan Xander, tapi ucapan itu tertahan di mulutnya.


Untuk mengurangi rasa bersalahnya, Sandra hanya bisa memeluk lelaki itu.