
Happy reading
Alex membantu calon istrinya masuk ke kursi belakang mobil, sementara Xander hanya diam menatap kedua orang tuanya dengan tatapan bingung, hingga Choki membunyikan klakson mengangetkan remaja itu.
Lelaki yang menjadi salah satu orang kepercayaan Alex, mulai mengemudikan mobil menuju Masjid dimana akan berlangsung acara akad nikah.
Xander yang semula duduk tenang, mendadak menoleh menatap kedua orangtuanya di jok belakang, "mama benar mau nikah sama papa? Bukannya kalian beda ya? Kok bisa?"tanyanya tak percaya.
"kita lihat aja nanti,"sela Alex.
"aku nggak nanya ke papa, aku nanya ke mama,"sahut Xander kesal, "ayo jawab mama,"pintanya.
Sandra hanya mengangguk sembari tersenyum.
"kok mama mau sih? Kan papa kayak ayah pernah selingkuh,"tanyanya.
"Alexander tidak usah mempengaruhi calon istri papa, lebih baik kamu diam dan lihat saja, tak usah banyak komentar,"ujar Alex berusaha menahan emosinya, semenjak putra semata wayangnya beranjak remaja, beberapa kali menentangnya.
Melihat kemungkinan akan terjadi perselisihan antara anak dan papanya, Sandra berusaha menengahi, ia menjelaskan pada putranya tentang keyakinan Alex yang berpindah tiga hari yang lalu.
Mendapatkan penjelasan dari wanita yang melahirkannya, Xander terdiam, remaja itu kembali menghadap ke depan, Choki yang berada dibalik kemudi hanya menggelengkan kepalanya.
Tak lama, mobil memasuki parkiran masjid, tidak terlalu ramai, hanya warga sekitar komplek dan beberapa saudara dari mbak Ninik.
Saudara Sandra tak ada yang hadir, mengingat hanya beberapa sepupu yang semuanya tinggal di Semarang, karena mendadak, ia hanya memberitahu Siska melalui panggilan telepon kemarin.
Alex menuntun calon istrinya menuju tempat diadakannya akad nikah diikuti Xander dan Choki.
Di sana sudah ada penghulu dari pihak KUA dan ustadz beserta pak RT juga wakilnya.
Penghulu menanyakan nama masing-masing mempelai sesuai yang tertera di buku nikah.
Dan yang bertidak sebagai saksi dari pihak Alex adalah Ustadz dan dari pihak Sandra adalah pak RT sementara yang bertidak sebagai wali nikah adalah penghulu, mengingat ayah kandung telah tiada dan tak memiliki saudara laki-laki.
Penghulu mulai mengucapkan kalimat akad hingga selesai, lalu Alex menyahut dengan satu tarikan nafas, "saya terima nikah dan kawinnya Sandra Wijayanti binti almarhum Wijayanto dengan maskawin tersebut tunai,"
"bagiamana para saksi?"tanya penghulu pada kedua saksi dan kedua saksi beserta yang hadir di sana kompak menyahuti dengan satu kata, "sah......"
Ada rasa kelegaan di hati kedua mempelai, penantian bertahun-tahun akhirnya bisa terwujud di Sabtu pagi diakhir bulan April.
Penghulu menyodorkan selembar kertas pada Alex untuk dibacakan, semacam janji jika mempelai laki-laki itu akan menjalankan kewajibannya sebagai suami dengan baik.
Setelahnya, Penghulu memimpin doa bersama dan diaminkan oleh seluruh orang yang hadir di sana.
Lalu usai menandatangani buku nikah berwarna merah dan hijau juga beberapa berkas, kedua mempelai itu berfoto memamerkan buku penanda keduanya sah menjadi pasangan suami istri secara agama dan negara.
Selanjutnya, orang-orang yang hadir memberikan selamat kepada kedua mempelai dan menikmati hidangan yang tersedia di ruangan sebelah kanan masjid.
Acara selesai sekitar pukul sebelas siang, Alex dan keluarga kecilnya beserta asistennya meninggalkan masjid untuk pulang.
Dalam perjalanan pulang hanya ada keheningan, tak ada yang bersuara satupun, hingga mobil terparkir di carport, dan Xander terlebih dahulu keluar dari mobil.
Sandra mengernyit heran, dalam hati ia bertanya, apa putranya tak setuju dengan pernikahannya dengan Alex?
"udah mbak, mungkin Xander masih kaget, coba entar gue kasih tau pelan-pelan,"ungkap Choki yang peka dengan sikap tuan kecilnya, bagaimanapun ia sering bersama dengan remaja itu, jika kedua orangtuanya sibuk bekerja.
Alex merangkul istrinya, "nggak usah dipikirin Sa, entar lama-lama juga dia terima, mungkin dia masih bingung,"ucapnya saat keduanya memasuki rumah.
Karena mendadak jadi tak ada pesta dan kamar pengantin yang menyambut kedua mempelai, seolah acara sakral berlalu begitu saja.
Berbeda sekali dengan pernikahan pertama Sandra dulu yang harus melalui rangkaian prosesi adat, dan dirinya yang berada di pelaminan dari siang hingga malam.
Alex membantu istrinya melepaskan aksesoris yang berada di kepala wanita itu setelah sebelumnya melepas jas dan dasi miliknya.
"Sa, kamu nggak pengen bulan madu?"tanyanya.
Sandra yang duduk di kursi meja rias menatap suaminya dari pantulan kaca, "buang-buang duit, toh ujung-ujungnya begituan juga,"sahutnya santai.
"duit aku masih banyak Sasa, jadi kalau sekadar bulan madu nggak akan buat aku miskin, kamu kan tau seberapa banyak uang aku,"
"oke kalau itu mau kamu,"sahut Alex yang sedang melepaskan penjepit rambut di kepala istrinya, "tapi Sa, aku lupa bilang, kalau tadi kamu cantik banget dengan penampilan seperti tadi, aku sampai terpesona, beda banget sama sehari-hari,"pujinya.
"terima kasih, tapi sedari dulu kamu tau bukan aku tidak terlalu suka dandan,".
Alex teringat saat remaja dulu, Sasa-nya hanya mengenakan bedak bayi dan pelembab bibir beraroma strawberry, lalu saat dewasa hanya make tipis ala aktris drama Korea.
"lalu apa kita akan merahasiakan pernikahan kita dari yang lain? Termasuk Asha,"
Sandra yang telah selesai membersihkan makeup, berbalik dan mendongak pada suaminya, "untuk saat ini lebih baik kita diam, andai ada yang bertanya berarti harus dijawab jujur,"
Perempuan itu bangkit dan mulai melepas kebaya yang melekat ditubuhnya, namun ia teringat sesuatu, "oh ya, sesuai ucapan kamu beberapa hari yang lalu, soal membantu membebaskan mas Ferdi, kamu nggak lupa kan?"tanyanya mengingatkan.
"memangnya harus dibebaskan Sa?"tanyanya.
"harus, mas Ferdi itu tulang punggung keluarga, Elina adik kandungnya sedang bermasalah dengan suaminya, sehingga dia harus menanggung ketiga keponakannya, belum lagi ibu dan bapak yang sudah tak bisa bekerja, kamu tega gitu?"
Alex menghela nafas, ia tak menyangka di hari pernikahannya, harus berdebat dengan istrinya karena lelaki brengsek itu, "Senin besok, aku sendiri yang akan menemui dia,"
"aku ikut,"pinta Sandra.
"kamu kan kerja, dan stop nggak usah bahas dia lagi, ini hari pernikahan kita, aku tidak ingin kita bahas masa lalu,"
Malas berdebat, usai membuka kebaya dan kain jarik, Sandra memilih masuk ke kamar mandi.
Hanya beberapa menit ia membersihkan diri sekadarnya, Sandra keluar dari kamar mandi, ia tak mendapati suaminya di kamar, entah kemana lelaki itu.
"Sa, kita makan siang diluar ya, aku udah reservasi dan Xander juga lagi siap-siap,"ucap Alex saat baru memasuki kamar.
Sandra yang hendak mengambil daster rumahan, menghentikan gerakannya, "kemana? Kaki lima atau resto?"
Alex menyebutkan salah satu restoran dengan menu ala Itali yang berada di ibukota bagian selatan
Mendengar itu Sandra menutup kembali pintu lemari, dan beralih menuju lemari yang satu lagi dimana ada beberapa koleksi dress-nya.
Alex sudah terlebih dahulu duduk di kursi kemudi saat Sandra masuk bersamaan dengan putranya.
Hanya ada beberapa obrolan seputar rencana ke depan yang akan keluarga kecil itu lakukan.
Tak ada kejadian berarti saat di restoran, ketiganya makan dengan tenang dan beberapa kali berbincang mengenai hidangan atau sekedar obrolan remeh temeh.
Usai dari restoran, Alex membelokan mobilnya menuju salah satu hotel mewah yang satu malamnya berharga fantastis.
Sandra sempat keberatan dengan biaya sewanya, namun Alex berdalih jika ini adalah perayaan hari bersejarah dalam hidupnya, hari yang ditunggu sejak dirinya masih berseragam putih abu-abu.
Seperti yang dipikirkan oleh Sandra, pasangan pengantin baru hanya berperang peluh didalam kamar, sungguh sebuah pemborosan.
"Lex, apa kita akan selalu di kamar ini? Apa kamu tidak ingin mencoba fasilitas di hotel ini, supaya tidak sia-sia uang yang sudah kamu keluarkan,"ujar Sandra saat keduanya baru saja mencapai puncaknya secara bersamaan.
"ini malam pertama pernikahan kita, jadi aku tidak akan menyia-nyiakan, lalu jika kamu ingin menikmati fasilitas disini, kita bisa memperpanjang masa inapnya,"
Sandra melotot lalu menggeleng, "tidak terima kasih, ini terakhir kamu mengeluarkan uang hanya untuk numpang berhubungan intim,"
Alex terkekeh melihat ekspresi istrinya, keduanya masih polos dibalik selimut, ia memeluk sasa-nya erat, "ini impian aku sa, belasan tahun aku nunggu momen ini, aku berhasil memiliki kamu seutuhnya, dan aku harap kita akan selalu bersama hingga maut memisahkan,"
Sandra membalas pelukan dari suami yang dicintainya, sejujurnya ia sangat bahagia saat ini, akhirnya tak ada was-was dalam hatinya ketika berhubungan intim dengan Alex, rasanya lega sekali, ia berharap hanya kebahagiaan yang menyelimutinya.
The end
nggak Ding, akan ada ektra part.
Cuma mau ingatkan, cerita ini berbeda dengan apa yang pernah aku ceritakan di dua cerita sebelumnya, Karena di dua cerita itu, Sandra dan Alex tidak menikah, keduanya hanya menjalani hubungan tanpa ikatan pernikahan,
Setelah dipikir-pikir, kok kasihan ya, kalau nggak happy ending,
Terima kasih buat yang udah dukung ya, walau masih sedikit, tapi nggak apa-apa.
mohon tunggu ekstra part-nya.