How To Marry You ?

How To Marry You ?
tujuh puluh dua



Pendarahan pasca kuret, membuat Sandra harus dirawat lagi di rumah sakit, dan Alex selalu berada di samping wanita itu, meskipun keduanya saling diam, hanya sebatas urusan kamar mandi salah satu dari mereka berbicara.


Xander masih dijaga Choki, walau sebenarnya Tante Terry sempat menawarkan diri untuk menjaga cucu keponakannya itu, namun dengan alasan tak mau merepotkan lagi, Sandra menolaknya secara halus.


Perempuan paruh baya itu datang malam hari bersama Jonas begitu dikabari oleh keponakannya mengenai kondisi Sandra.


Melihat kedatangan mantan rekan kerjanya, Sandra mendadak semakin kesal, ia hanya mau berbicara dengan Tante Terry yang terlihat begitu mengkhawatirkannya, bahkan saat Jonas menanyakan keadaannya, ia hanya berdehem.


Cukup lama kedua perempuan berbeda usia itu mengobrol, hingga waktu menunjukan pukul sembilan malam, Tante Terry ijin undur diri.


Alex mengantarkan adik kandung dari mendiang mamanya hingga lobby rumah sakit.


Perempuan paruh baya itu mengajaknya berbicara sebentar di lobby,


"Lex, apa kalian akan terus seperti ini? maaf bukannya Tante mau ikut campur mengenai hubungan kalian, tapi mungkin musibah yang menimpa kalian adalah teguran dari Tuhan, meskipun sudah ada Xander diantara kalian, tapi tetap saja kalian tidak boleh melakukan dosa terus menerus,"ucap Tante Terry panjang lebar.


Perempuan paruh baya itu menggenggam tangan keponakannya, "Lex, kalau Mama kamu masih hidup, beliau pasti sangat sedih melihat perilaku kamu yang seperti ini, Tante harap kalian membicarakan langkah kedepannya, andai tidak bisa bersatu, semoga kalian tetap menjadi orang tua yang terbaik untuk Xander,"


Setelah mengatakannya, Tante Terry berlalu bersama putranya, sementara Alex hanya diam melihat kepergian satu-satunya saudara dari pihak mendiang ibunya.


Alex kembali ke kamar rawat kekasihnya, wanita itu tengah memainkan ponselnya.


"Sa, aku minta maaf, karena keegoisan aku, kamu harus merasakan sakit lagi,"ucapnya membuka obrolan.


Alex duduk di kursi disebelah ranjang pasien, ia menggenggam tangan wanita yang paling dicintainya, lalu menunduk dan menciumnya.


Punggung lebar itu mulai bergetar, akhirnya air mata yang sedari semalam ditahannya akhirnya luruh sudah,


Kehilangan calon bayi yang begitu diharapkannya, juga teguran dari Tante dan salah satu sahabatnya membuat Alex tertekan.


Memang benar apa yang dikatakan Kedua orang dekatnya, sebagai lelaki ia harus memutuskan mau dibawa kemana hubungannya dengan kekasihnya.


Alex tak bisa membayangkan jika harus melepaskan wanita yang dicintainya lalu melihatnya bersanding dengan lelaki lain.


Dulu, saat ia bertemu kembali dengan Sandra yang mengaku sudah menikah, rasanya mau mati saja,


Tak peduli dengan status wanita itu, ia bahkan menggauli wanita yang bersuami, seolah tak peduli dengan resiko yang akan ditanggungnya.


Sejak pertama kali ia bertemu dengan kekasihnya saat masa sekolah, ia sudah bertekad akan menjadikan wanita itu pemilik hatinya selamanya, tanpa memikirkan yang lain.


Dari dulu hingga sekarang rasa cinta untuk Sandra tak pernah berubah, meskipun sempat berpisah lama dan banyak wanita yang ia temui, tapi hanya nama ibu dari putranya lah yang tertancap kuat dihatinya.


Bagaimana mungkin ia harus merelakan wanita itu?


Saking cintanya ia bahkan harus dirawat selama sebulan dibawah pengawasan dokter jiwa saat Sandra meninggalkannya dulu semasa keduanya baru lulus sekolah.


Lalu andai mereka harus berpisah, apa dia bisa menjalani harinya lagi?


Kemarin saat wanita itu meninggalkannya lagi, ada putranya yang menguatkannya, sementara sekarang jika ia memutuskan hubungan dengan Sandra, apa wanita itu akan memberikan putranya lagi seperti kemarin,, Alex rasa tidak,


Bisa saja ia mengurus tentang hak perwalian untuk putra semata wayang mereka, itu hal sangat mudah baginya, tapi ia sadar, hal itu akan semakin menyakiti wanita itu.


Sudah cukup karena keegoisannya, membuat calon bayi mereka tak bisa lahir, lalu saat tindakan kuret tadi siang, Sandra harus mengalami pendarahan yang ia tau pasti wanita itu sangat kesakitan.


Alex masih terisak, saat Sandra menepuk punggung lebar itu,


"kenapa kamu nangis? Aku yang kesakitan kok, aneh,"tanya Sandra heran.


Alex mengangkat kepalanya, lalu menatap wajah kekasihnya, ia bangkit dari duduknya, lalu memegang kedua sisi wajah wanita itu, ia mencium bibir yang masih terlihat pucat,


Alex terus ******* bibir itu, ia menikmati momen saat bibir dan lidah keduanya saling bertaut,


Air mata masih keluar dari sudut matanya, pikirannya mengatakan untuk tidak meninggalkan wanita itu, tapi hatinya mengatakan jika seharusnya ia berhenti.


Ciuman itu tak lagi manis, air matanya membuatnya terasa asin, apa ia bisa merelakan wanita ini?


Dua sisi dirinya mengatakan hal yang berbeda, mungkin seperti malaikat dan setan yang digambarkan dalam komik yang dulu pernah dibacanya.


Bibir dan lidah keduanya masih bertaut, saling mengecap, tak peduli lagi soal manis asin, mereka masih saling mencintai, dan tak mungkin mau berpisah.


Alex melepaskan dulu tautan itu, ia menempelkan dahinya pada dahi kekasihnya, ia menatap dalam mata itu, "Sa, aku minta maaf, aku egois, aku menyakiti kamu, dan aku memutuskan untuk tak melepaskan kamu, apapun yang terjadi, meskipun semua orang meminta aku untuk berhenti, tapi aku tak bisa, aku nggak mau kehilangan kamu lagi, aku mohon sa, aku mohon jangan tinggalkan aku, kalau kamu mau caci aku, silahkan... Kalau kamu mau pukul aku juga silahkan, semua itu akan aku terima asal kamu meninggalkan aku,"


Alex mencium bibir itu lagi, ia sudah mengambil keputusan, tak peduli apapun resikonya, ia akan tanggung, meski mungkin sebagian orang terdekatnya akan mencelanya, tapi siapa peduli, ia yang menjalani sendiri hidupnya.


Sandra melepaskan tautan keduanya, ia memegang kedua sisi wajah papa dari putranya, ia menatap mata itu lembut, "Lex, kamu tau bukan, aku benar-benar mencintai kamu, dari dulu hingga sekarang, kamu bisa merasakannya bukan? Meskipun aku sempat menikah, tapi hanya kamu yang ada di hatiku,"ucapnya lalu mengecup bibir dan memeluk tubuh kekar itu.


"Lex, tapi kita tidak bisa seperti ini terus, hubungan ini harus ada ujungnya, meskipun ada Xander, kita masih bisa jadi orang tua yang baik untuk putra kita,"lanjutnya.


Alex mencium mengambil tangan kekasihnya, lalu mencium telapak tangan itu lembut, ia tau maksud ucapan kekasihnya, tapi pikirannya menolak mentah-mentah, "lalu setelah kita tak lagi bersama, apa kamu akan melanjutkan pernikahan kamu dengan lelaki brengsek itu? Lalu bagaimana dengan aku?"


"Kamu bisa menjalin hubungan dengan wanita lain yang satu keyakinan sama kamu, lalu menikah, memiliki anak, kalian bisa membentuk keluarga bahagia,"jawab Sandra tapi tak menatap mata lawan bicara


Alex melepaskan tangannya, ia mundur beberapa langkah, lalu menatap wanita itu sinis, "jawab pertanyaan aku Sandra, apa kamu akan kembali pada lelaki brengsek itu?"


Sandra menggeleng, tak mungkin baginya kembali pada lelaki yang tak pernah dicintainya, "aku akan jalani sisa umur aku dengan putraku,"


Alex berdecak, "nggak usah munafik Sandra, memangnya kamu bisa menahan hasrat untuk tidak berhubungan intim dengan lelaki, bukankah wanita juga butuh menyalurkan hasratnya? aku nggak percaya, apa kamu sudah menemukan lelaki lain selain aku? apa Jonas?"


Sandra melebarkan matanya, ia tak menyangka Alex mengatakan hal itu,


"Aku tau, sepupu aku menyukai kamu, aku juga tau, dia pernah cium kamu di club' tempat mami,"Ucap Alex sambil mainkan lidah didalam mulutnya sendiri, "jangan kamu pikir aku tidak tau, tapi karena kamu marah dan bersikap dingin pada Jonas, aku maafkan kalian, kalau tidak mungkin aku sudah membuat sepupuku sekarat,"


"Tak ada laki-laki lain selain kamu Alex, hanya saja aku pikir memang saatnya kita berhenti, kita nggak mungkin begini terus, kita harus mencari kebahagiaan masing-masing,"


"Bahagiaku hanya sama kamu, dan jangan suruh aku mencari wanita lain selain kamu, aku udah pernah coba selama sepuluh tahun saat kamu menghilang, tapi tak ada satupun wanita yang bisa membuat kamu hilang dari pikiran aku,"


Selalu seperti ini, pembicaraan yang tak kunjung ada titik temu, sebenarnya hanya berputar-putar di satu tempat yang sama.


Perbedaan keyakinan yang membuat keduanya sulit bersatu, meskipun sebenarnya jika diluar negeri, mereka bisa meresmikan hubungan, tapi tentu Sandra menolaknya.


Alex mendekat, ia menatap tajam wanita yang duduk diatas ranjang rumah sakit, "Ingat Sandra, aku Alex tak akan melepaskan kamu apapun yang terjadi, persetan dengan perbedaan, aku tak peduli, sekali lagi aku tegaskan, kita akan selalu seperti ini, aku kekasih kamu, kamu kekasih aku, tak akan ada yang berubah, kecuali kamu mau kita menikah di luar negeri, sekarang kamu istirahat dan jangan pikirkan apapun, aku mau ngerjain kerjaan dulu,"


Alex mencium kening itu lembut, lalu berjalan menuju sofa yang terdapat laptop dan beberapa berkas yang tadi dibawa oleh Jonas.