How To Marry You ?

How To Marry You ?
sembilan



Sandra bergabung dengan Benedict dan gengnya berlibur di Villa milik Fernando.


Mereka menaiki mobil milik lelaki blasteran itu, dengan umi Fatimah ibu dari Fernando yang mengemudikannya.


Ini pertama kalinya bagi Sandra pergi keluar kota tanpa orang tuanya.


Villa yang didominasi kayu itu memiliki kamar terpisah-pisah, ada juga yang dikhususkan untuk keluarga atau rombongan dengan banyak kamar.


Para remaja itu menempati villa dengan tiga kamar tidur, ruang tamu dan dapur, serta kamar mandi ada dimasing-masing kamar.


Sandra satu kamar dengan Natasha, sedangkan para lelaki menempati kamar sisanya.


"lo udah sering Sha ikut mereka liburan?"tanya Sandra pada Natasha saat keduanya ada di kamar.


"kalau gue bilang, sejak kelas satu SMA, hidup gue selalu direcoki oleh mereka, termasuk waktu liburan kayak gini, biarpun males, tetep aja ujung-ujungnya gue harus ikut mereka, Oscar yang biasanya yang minta ke bonyok gue,"keluh Natasha.


Sandra tertawa, "nikmatin aja sha, lagian liburan gratis ini, modal baju di ransel doang kan?"


"Ya iya sih, mereka gantian kasih jajan ke gue, biar gue nggak ngeluh, tapi tetep aja Sa, gue itu pengen punya temen cewek,"


"emang Lo nggak anggap gue temen?"


"Ya Lo temen gue emang, maksudnya itu, gue pengen punya temen yang bisa gue ajak belanja lip teen, baju dan sepatu diskonan, kalau gue bareng Lo, adanya Alex ngintilin, sama aja,"


"setau gue yang lain pada punya cewek masing-masing kan? kenapa nggak Lo coba akrab sama mereka?"Tanya Sandra penasaran.


"ya Lo bayangin aja Sasa, Citra pacarnya Rama itu sebelas dua belas sama Lusi mantan ceweknya Ben, mainnya di club', Oscar jomblo, Nando ceweknya nggak jelas yang mana, Alex doang yang ceweknya masuk akal, nyambung, dan asik,"


"Ya udah gini aja, sepulang liburan kita jalan-jalan ke mall sama si Vina, kalau sama dia gue jamin, Alex nggak mungkin gangguin kita,"


"serius Sa?"tanya Natasha antusias.


Sandra mengangguk, sambil menunjukan jempolnya.


Natasha berteriak kegirangan,


Pintu kamar terbuka ada Oscar dan Alex yang masuk ke dalam kamar,


"ada apaan sha? seru banget,"tanya Oscar.


Alex menghampiri Sandra dan duduk di sampingnya sambil menyandarkan kepalanya ke bahu kekasihnya.


"nggak ada apa-apa, kita lagi ngobrolin acara yang kemarin kita tonton bareng di rumah Sasa,"jawab Natasha berbohong.


Malamnya mereka membakar jagung dan ikan yang ditangkap di Empang tak jauh dari villa.


Bagian bakar membakar, adalah tugas laki-laki kecuali Fernando, kata Natasha, lelaki blasteran itu paling malas kalau memasak dan bersih-bersih.


Sementara Natasha dan Sandra menyiapkan daun pisang untuk alas makan, beserta nasi, lalapan dan sambal juga minuman.


Ikan bakar matang, mereka mulai makan bersama diselingi obrolan random.


Selesai mengisi perut mereka dengan makan besar, selanjutnya adalah menonton film dari Compact disc yang dibawa Alex dari rumahnya sambil mengemil jagung bakar.


Sandra dan Natasha ikut menonton, tapi saat ditengah-tengah film, ada adegan yang tak layak mereka tonton.


Sandra yang baru pertama kali melihatnya, terkejut lalu berteriak, "matiin nggak, geli banget si sumpah, siapa yang punya nih film,"ujarnya sambil mengambil remote untuk mematikannya.


Dan penonton pun kecewa.


Sandra berdiri sambil berkacak pinggang pada kelima lelaki itu, sedangkan Natasha menahan tawanya.


"Ayo ngaku siapa yang bawa nih film, yang begitu ditonton, mau jadi apa kalian?"


Keempat lelaki itu kompak menunjuk Alex, Sandra menggelengkan kepalanya.


"Mending Lo Sasa baru pertama kali nonton kayak gini, hampir tiap Minggu gue dicekoki tontonan kayak gini,"Natasha memanaskan suasana.


"Alex itu bandarnya video porn* Sa,"tambah Nando dengan senyum jahil.


"eh mantan perjaka, jangan kompor, Lo tuh sebelas dua belas sama gue, bedanya gue belum pernah praktek,"Alex membela diri, "Sa, itu punya papa aku, nggak sengaja ambil pas anak-anak minta bawain film,"ujarnya berusaha meyakinkan pacarnya.


"Terserah, Yuk sha kita maskeran aja, dari pada ngumpul sama cowok-cowok pikiran ngeres, entar kita diapa-apain lagi,"ajak Sandra pada Natasha.


"Dih kita nggak nafsu kali sama Asha,"sahut kelimanya kompak.


Sandra yang sudah berjalan menuju kamar berbalik sambil berkacak pinggang, "Gila Lo semua, kalau ngomong nggak disaring, gue sumpahin bakal susah dapat cewek baik-baik,"


Setelah mengatakan hal itu, terdengar petir cukup keras.


Mereka saling pandang,


"eh.. jangan dong, sumpahnya Sasa disambut petir,"seru Ben khawatir.


"kata nyokap gue kalau kayak gitu, kita harus minta maaf biar nggak kejadian,"celetuk Rama.


Ben menghampiri kedua gadis itu lalu meminta maaf dengan tulus, diikuti Rama, Nando, Oscar dan terakhir Alex.


"yah Lex bakalan nikah paling belakang kayaknya nih,"cetus Natasha.


"Jangan dong sha, gue kan nggak mau jadi bujang lapuk, kalau nanti gue belum nikah, elo yang nemenin gue sampai nikah,"pinta lelaki itu.


"Terserah, Yuk sa, kita maskeran,"ajak Natasha pada Sandra.


Dini hari, Sandra terbangun, ia haus, sementara gelas di kamar kosong, mungkin Natasha menghabiskannya.


Selesai mengisi gelasnya, ia dikejutkan dengan Alex yang tiba-tiba ada dihadapannya,


"ngagetin aja sih Lex,"


"Kamu ngapain keluar kamar?"tanya lelaki yang mengenakan celana training dan jaket berwarna hitam.


Sandra menunjukan gelas ditangannya, "aku haus, kamu belum tidur?"


"aku kebangun barusan,"


"oh, kalau gitu aku ke kamar dulu ya, kamu juga lanjut tidur,"ujar Sandra sambil berlalu dari hadapan pacarnya.


Alex menahan lengan gadisnya, "temenin aku Sa,"pintanya.


"Ya nggak bisa lah, nggak enak sama Asha, lagian mau tidur dimana? semua kamar penuh,"


Alex menggeleng, "Nando tidur di sofa sama Oscar,"tunjuknya ke arah ruang tamu yang gelap.


Sandra ingat, ada dua sofa panjang di sana.


"Nggak enak sama Asha,"tolaknya secara halus.


Terus ditolak, Alex memeluk pacarnya, "aku pengen peluk kamu, nanti sebelum subuh, kamu bisa pindah ke kamar Asha,"


Tau watak keras kepala lelaki itu, Sandra terpaksa menuruti.


Keduanya masuk ke kamar di dekat dapur,


Alex mematikan lampu kamar, gelap namun masih ada sedikit cahaya dari celah bawah pintu, lampu dapur memang sengaja dinyalakan.


"kenapa matikan lampunya? entar nabrak, aku kan bawa gelas,"


Alex mengambil alih gelas yang sedari tadi dipegang Sandra, lalu meletakkannya di kabinet dekat pintu,


Lelaki itu menuntun kekasihnya menuju ranjang, keduanya berbaring sambil berhadapan.


"Sa, kamu tau nggak, ini kali pertama aku jatuh cinta?"


"iya lalu?"


"Aku ingin selamanya bareng kamu sa, aku ingin kamu cinta pertama dan terakhir aku,"


Sandra tertawa pelan, "Lex, kita masih terlalu muda, seharusnya masing-masing fokus dengan cita-citanya, perjalanan kita masih jauh, bisa saja suatu saat kamu bertemu gadis yang lebih dari aku, lalu kamu jatuh cinta sama dia,"


Alex mencium kening kekasihnya lembut, "Sasa, aku nggak bakal mau nikah kalau nggak sama kamu,"


"Iya deh biar cepat, sekarang mending kita tidur, nggak usah mikir yang berat-berat, nanti pusing,"


"aku serius Sasa,"


Sepertinya Sandra harus segera menyadarkan kekasihnya tentang perbedaan diantara keduanya, mengingat watak keras kepala dari lelaki itu.


"Alex, maaf sebelumnya, aku minta kamu tarik kembali ucapan kamu,"pintanya.


"apa alasannya? kamu nggak yakin sama aku? kamu meragukan aku Sasa?"tanya Alex bertubi-tubi.


"bukan itu Alex, dengar aku, untuk bersatu sampai menikah sepertinya sulit,"jawab Sandra menggantung.


"apa karena perbedaan keyakinan?"tanya Alex lagi,


Sandra terdiam, ia tau jika dijawab, lelaki itu akan semakin bersi kukuh dengan pendapatnya.


"kalau kamu khawatir soal itu, kita bisa menikah di luar negeri, di sana legal kok, jadi itu nggak masalah,"cetus Alex melontarkan pendapatnya.


Benar sesuai dugaannya, tanpa ia menjawab pun, Alex masih tetap kekeh dengan pendapatnya.


"oke aku setuju, tapi nanti, kita sama-sama meraih cita-cita dulu, setelah kita punya penghasilan sendiri, kita akan menikah, gimana?"tentu saja ucapan yang dilontarkan Sandra berbeda dengan hati dan pikirannya,


Mustahil baginya menikah berbeda keyakinan, orang-orang disekitarnya akan menentang keras.


"Aku pegang kata-kata kamu sa, kamu harus penuhi janji, ketika kita sama-sama sukses, kita akan menikah,"


Sandra mengiyakan, "tidur yuk, aku ngantuk,"


"Sa, kita udah beberapa bulan pacaran, apa boleh aku mencium bibir kamu?"pintanya.


Sandra menghela nafas, sejujurnya jantungnya mendadak berdetak lebih kencang mendengar permintaan kekasihnya.


Belum sempat memberi jawaban, Alex sudah terlebih dahulu mencium bibirnya,


Sandra terkejut, ia terdiam lalu menegang,


Alex masih mencium bibirnya, melum*tnya, "nafas Sasa,"bisiknya melepas sejenak tautan itu.


"bales sa,"pintanya lagi.


Alex kembali menciumnya, sesuai permintaan lelaki itu, Sandra mulai membalas ciuman itu, meski masih kaku karena ini kali pertama keduanya berciuman.


Mereka berciuman cukup lama, hingga Sandra terlebih dahulu mundur dan meminta kekasihnya untuk tidur.


Sebelum subuh, Sandra Kembali ke kamar yang ditempatinya bersama Natasha.