How To Marry You ?

How To Marry You ?
lima puluh satu



Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Sandra dan Xander berkunjung ke rumah sepupu Natasha yang akan menikah.


Sesampainya di sana, kedua orang tua sahabatnya sudah datang, Sandra menyalami juga memeluk ibu Suwarti dari Natasha.


Sandra yang merupakan sahabat perempuan satu-satunya untuk Natasha tentu sangat dikenal oleh wanita paruh baya itu, apalagi ia sering menginap di rumah mereka.


Soedrajat ayah dari Natasha juga melakukan hal yang serupa, lelaki paruh baya itu menganggap Sandra sebagai saudara bagi putri semata wayangnya.


Mereka sedikit terkejut ketika Sandra mengenalkan putranya, siapa yang tidak terkejut, bertahun-tahun tak terdengar kabar, begitu datang sudah membawa seorang anak yang beranjak remaja.


Namun mereka menghargai dan tak banyak bertanya tentang kehidupan yang dijalani Sandra beberapa tahun kebelakang.


Sesuai saran dari sahabatnya, Natasha membagi-bagikan uang untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya tidak nyaman, apalagi kalau bukan seputaran pasangan hidup.


Karena hingga usia mencapai dua puluh sembilan tahun, tak sekalipun gadis itu mengenalkan seorang lelaki pada keluarga besarnya.


Lupakan kelima lelaki yang menyebalkan itu, mereka hanya sebatas teman, tak ada niatan dari Natasha untuk menjalin hubungan dengan salah satu diantaranya.


Sedari dulu Gadis yang sekarang ini berprofesi sebagai dokter kandungan itu, membenci kelima lelaki itu bukan orangnya tapi kelakuannya.


Akad nikah dilaksanakan dikediaman sepupu dari Natasha, ada tangis kebahagiaan mengiringi jalannya acara sakral itu.


Sama seperti keduanya, sang mempelai perempuan juga anak semata wayang, sehingga diadakan resepsi sederhana, tak masalah yang terpenting adalah semua sanak saudara bisa berkumpul menghadiri hari bahagia itu.


Selesai akad nikah, pengantin berganti kostum dan riasan, untuk selanjutnya resepsi yang akan mengusung adat Jawa.


Sandra jadi teringat tentang pernikahannya dulu dengan Ferdiansyah, yang diadakan cukup meriah, sama konsepnya menggunakan adat Jawa, meskipun tak ada rasa cinta saat itu ia menikmati momen sakral itu.


Pernikahannya telah berakhir, sekali lagi sidang maka Hakim akan meresmikan perceraian ia dan Ferdiansyah.


Sejujurnya masalah hubungannya dengan Alex, ia tak banyak berharap akan sampai menikah, mengingat perbedaan keyakinan diantara keduanya.


Sandra tak ingin egois memaksakan kehendaknya agar kekasihnya mengikuti keyakinan yang dianutnya.


Begitu juga sebaliknya, Sampai matipun ia tak akan berpindah keyakinan yang ia dapat sejak lahir.


Meskipun hidup dalam kubangan dosa dan belum jadi umat yang taat, tapi ia tak akan keluar dari keyakinannya, hanya masalah waktu ia akan menjadi muslimah yang taat, menutup aurat, melaksanakan kewajibannya dan menghindari maksiat.


Sandra selalu berdoa, agar dirinya diberikan umur panjang untuk memperbaiki diri sebelum nantinya waktunya di dunia ini telah habis.


Meskipun ia tau tidak akan semudah itu bisa terlepas begitu saja dari Alex, tapi ia sedang mengumpulkan banyak uang untuk hidupnya nanti ketika terlepas dari lelaki itu.


Sandra pernah berfikir, jika nantinya Alex harus berumah tangga dengan wanita yang lebih baik darinya dan satu keyakinan dengan lelaki itu.


Tak mengapa sekarang dirinya sedikit serakah agar lelaki itu setidaknya bertanggung jawab pada putra keduanya.


Natasha datang mengejutkannya, "oy, ngapain ngelamun, ingat masa indah menikah bareng mas Ferdi ya?"ledeknya sembari memberikan puding cokelat.


Sandra mengambil piring kecil itu, lalu memberikan pada Xander yang duduk disebelahnya, "apaan si, gue lagi bayangin elo yang bakal duduk di kursi pelaminan itu,"dustanya.


"Lo ngeledek apa gimana? Cowok aja gue nggak punya, boro-boro mikir nikah,"sahut Natasha sedikit kesal, keluarga besarnya tak membahas masalah itu karena telah ia sogok, tapi malah sahabatnya sendiri yang menyindirnya.


"Ya kali aja, kan ucapan adalah doa,"ujar Sandra.


"gue itu masih nikmatin kesendirian, dengan menunda pernikahan, Lo liat gue sekarang, gue punya rumah, mobil, tabungan dan pekerjaan yang bagus,"ucap Natasha jumawa.


"iya deh, sahabat gue emang paling the best karirnya, masalahnya kalau kita mati siapa yang bakal warisi semua harta Lo?"


"dih kenapa jadi bahas mati, bikin bad mood si Sasa, lagian suatu saat gue bakal nikah kok,"


"Aamiin, gitu dong doain gue,"


Keduanya menyaksikan bagaimana prosesi adat pernikahan Jawa, Natasha yang sudah lama tak menyaksikannya, terlihat antusias, bahkan merekam setiap prosesi dengan kamera ponsel miliknya.


Usai segala prosesi selesai, anggota keluarga besar bergantian berfoto bersama mempelai,


Meskipun Sandra bukan bagian dari keluarga, tapi Suwarti mengajaknya turut serta dalam foto keluarga besar mereka.


Selanjutnya, keluarga dan tamu undangan menikmati hidangan yang tersedia, Sandra dan Xander mengambil soto Semarang yang terasa segar, sudah lama keduanya tidak menikmati salah satu makanan favorit mereka.


Agak siang, Sandra mengajak putranya berpamitan, ia akan mengunjungi salah satu sepupunya yang rumahnya tak jauh dari tempat tinggalnya dulu.


Karena terlilit hutang, mendiang ayahnya menjual rumah warisan neneknya tentu harus dibagi dengan para anak dari saudara kandung alias sepupu Sandra.


Itulah alasan dirinya menyusul Ferdiansyah ke ibukota, ia tak punya tempat tinggal tetap di kota asal kedua orangtuanya, tak mungkin dirinya merepotkan sepupunya terus.


Sandra mengunjungi rumah sepupunya yang bernama Siska, wanita itu adalah anak dari adik kandung mendiang ibunya.


Siska memiliki dua anak yang berumur enam dan tiga tahun, wanita itu lebih muda dua tahun dari Sandra.


Dulu saat masih tinggal disini, keduanya cukup dekat dan menceritakan apa saja rahasia keduanya.


Siska adalah satu-satunya sepupu yang dipercayainya, sehingga ia menceritakan tentang proses perceraiannya dengan Ferdiansyah, juga tentang pertemuannya dengan ayah dari putranya.


"berarti Alex Ndak tau, kalo kamu nganter Ferdi kesini?"tanya Siska.


Sandra menggeleng, "Alex lagi sibuk dengan pernikahan sahabat sekaligus bosnya,"


"jangan main api Sa, saran aku, selesaikan segera urusan kamu dengan Ferdi, lalu jika tidak memungkinkan kamu menikah dengan Alex mending akhiri saja,"saran ibu dua anak itu.


"nggak bisa semudah itu lepas dari Alex aku tau betul pekerjaannya seperti apa,"


"Ya udah nanti kita pikirkan sama-sama,"


Mereka saling bergantian menceritakan kehidupan masing-masing, hingga waktu tak terasa sudah berlalu.


Sandra berpamitan, tak lupa memberikan uang jajan kepada keponakannya.


Ia dan Xander baru tiba di rumah keluarga Ferdiansyah sebelum azan magrib berkumandang.


Sandra meminta maaf pada pasangan paruh baya, Karena terlambat pulang, ia terlalu asik mengobrol dengan sepupunya.


Malamnya saat Sandra menyuapi Ferdiansyah, lelaki itu membahas kembali tentang perceraian keduanya.


"Sandra, Apa tidak sebaiknya kita batalkan proses perceraian kita? aku berjanji tak akan selingkuh dan menyakiti kamu lagi,'


Sandra sebenarnya malas membahas hal itu, tapi ia harus menegaskan untuk masalah satu ini, "aku mau kita bercerai segera,"


"apa kamu sudah bertemu dengan papanya Xander? Sehingga kamu bersih kukuh untuk bercerai?"


"itu bukan urusan kamu,"jawab Sandra ketus.


"aku tau kamu pasti kecewa sama aku, selain miskin aku juga tidak bisa memuaskan kamu dalam hal ranjang, tapi setelah aku sembuh, aku janji akan bekerja dengan giat dan berobat ke dokter untuk menyembuhkan penyakitku, lalu nantinya kita akan memberikan Xander adik, bagaimana?"


Sandra memilih bangkit, "maaf tapi aku menolak, sudah ya, aku mau ke dapur dulu,"


Saat membuka pintu ia dikejutkan dengan keberadaan Inah yang berdiri tepat di depannya.