
Gugatan cerai sudah didaftarkan ke pengadilan agama oleh salah satu pengacara rekanan Alex.
Dengan melampirkan bukti kekerasan yang dilakukan oleh Ferdiansyah yang menyebabkan telapak tangan Sandra terluka, ada juga rekaman percakapan antara mantan pasangan itu, serta bukti lainnya yang dikumpulkan oleh orang suruhan Alex.
Sahabat Alex tidak banyak yang tau apa yang terjadi, mereka sibuk dengan kehidupan masing-masing.
Alex hanya menceritakan tentang hubungan diam-diam yang dijalaninya bersama Sandra dan belum menceritakan tentang siapa ayah kandung Xander.
Sesekali Alex datang bersama Sandra ke Cafe tempat Rama bekerja, atau Rama yang mengalah datang ke kantor untuk memeriksa laporan keuangan dari berbagai properti yang dimiliki Benedict di negara ini.
Pekerjaan Alex sebagai advokat hanya untuk sampingan saja, sementara pekerjaan utamanya adalah mengurus segala ijin tentang usaha properti milik Benedict bersama dengan tim yang ada di lantai enam.
Sementara Rama yang bertugas memeriksa hasil dari usaha-usaha itu.
Kos-kosan juga kontrakan yang tersebar di ibukota dan sekitarnya serta beberapa cluster perumahan dan usaha lainya yang berhubungan dengan property.
Bukan atas nama perusahaan, kebayangkan dari semua itu atas nama pribadi, biasanya atas nama Rama atau Alex, Mengingat Benedict adalah warga negara asing.
Rama dan Alex akan mencari tanah kosong atau rumah yang dijual untuk dibangun lalu disewakan atau dijual kembali setelah dibangun.
Alex dan timnya akan mengurus yang berhubungan dengan segala administrasinya sementara Rama yang mengelola keuangan, Benedict mendesign bangunannya sementara untuk kontraktor akan menggunakan jasa dari pihak lain yang memang sering bekerjasama.
Sebenarnya Benedict pernah mengatakan jika dirinya bukan mencari keuntungan dari usaha-usaha di negara asal ibu kandungnya, dia hanya ingin membuka lapangan pekerjaan dan menyewakan atau menjual tempat tinggal yang layak tapi murah.
Juga tentang usaha resort dan villa yang dikelola oleh Fernando, salah satu sahabatnya itu lebih banyak menghabiskan waktu di Bali.
Alex datang menjemput Benedict di bandara, sudah beberapa tahun, bos sekaligus sahabatnya baru menginjakkan kaki kembali di ibukota.
Beberapa kali Benedict ke negara ini, tapi tujuannya ke pulau Dewata.
"gue denger Sasa udah balik ya!"cetus Benedict saat perjalanan dari bandara.
"Ya gitu deh,"sahut Alex yang tengah mengemudi.
"tapi katanya udah nikah dan punya anak, terus lo gimana? kesel dong,"
"menurut Lo?"Alex melirik sinis pada sahabatnya yang duduk disebelah bangku kemudi.
"Patah hati nih yee, sia-sia Lo nunggu sepuluh tahun,"ejek Benedict sambil tertawa.
"nggak tuh biasa aja,"sahut Alex santai.
Benedict yang tadinya sedang melihat pemandangan sekitar, langsung menoleh pada sahabatnya, "jangan bilang Lo ada affair sama bini orang, jangan gila lo, dari dulu udah gue peringatkan ke Lo semua, terserah Lo pada berburu jal*Ng atau pacaran sama siapa aja, yang penting jangan selebritis, anak pejabat dan bini orang, Lo ingat kan!"
Alex menaikan bahunya seolah tak mempedulikan peringatan dari sahabat sekaligus bosnya.
"Lex, Lo tuh nggak jelek, bahkan dari SMA kita termasuk jajaran cowok ganteng, bukan hanya disekolah bahkan di setiap tempat yang kita datangi, sampai sekarang masih kan? Lo bisa pilih siapapun, tinggal tunjuk, tapi jangan bini orang, nyari penyakit aja Lo!"
"sumpah, Lo berisik banget Ben, Lo mau jadi emak gue apa gimana sih, udah lama nggak pulang, ngapa Lo jadi cerewet banget sih,"
Benedict mengumpat, "Lo nggak jauh beda ya sama Dodo, kebanyakan berburu selangkang*n sama dia, jadi makin kurang ajar lo berdua,"
Tapi entah mengapa, Alex ingin mendebat sahabat untuk masalah yang berhubungan dengan Sasa-nya.
"Lo bisa ngomong kayak gitu, karena belum pernah ngerasain yang namanya suka beneran sama cewek, gue kasih tau nih ya, dan ingat baik-baik, suatu saat Lo bakal jatuh cinta sama cewek, yang buat lo menghalalkan segala cara buat dapatin dia, dan otak cerdas Lo mendadak bego sebego- begonya, logika Lo nggak jalan alias tumpul, Lo gelisah padahal nggak ada apa-apa, kangen padahal baru berpisah lima menit yang lalu, uring-uringan nggak jelas padahal itu cewek biasa-biasa aja, dan yang lebih parah ya, adik lo bangun padahal nggak ada rangsangan apapun, itu cewek cuman diem nggak ngapa-ngapain,"jelasnya sambil melirik bagian bawah milik sahabatnya.
"*njing nggak bakal gue kayak gitu,"sangkal Benedict mendengar penjelasan sahabatnya.
Alex melirik sinis, diantara sahabatnya hanya dirinyalah yang baru merasakan semua hal yang dikatakannya, Rama yang sedari SMA berhubungan dengan Citra bahkan tak merasakan itu semua, sahabatnya yang satu itu hanya mengikuti alur kehidupan saja, Fernando juga sama, meskipun sudah menjalin hubungan bersama Cristy hampir satu tahun, Oscar dan Natasha sama sekali belum pernah menjalin hubungan dengan siapapun, begitu juga dengan Benedict yang baru berpacaran dengan Lusi, itu juga atas dasar balas dendam ke Arnold.
Hanya Alex yang merasakan itu semua sejak pertama kali bertemu Sasa dulu saat kegiatan pensi disekolah Wanita itu.
"Kalau ternyata Lo ngalamin kayak yang gue sebutin tadi dalam waktu dekat, Lo harus kasih gue bonus gede,"cetus Alex yang melihat Benedict sedang kesal.
"Emang bonus yang gue kasih kurang gede?"
"udah gede, masalahnya gue mau ngajak Sasa jalan-jalan ke eropa,"
"bini orang itu Alex, jangan gila Lo!"
"bodo amat, yang penting gue seneng-seneng,"
Benedict menggelengkan kepalanya melihat betapa gilanya Alex dalam mencintai wanita bernama Sasa.
"Iya gue kasih, kalau perlu pakai jet pribadi gue, tapi kalau dalam waktu dekat gue nggak ngalamin itu semua, Lo gue suruh jadi kuli di kapal pesiar,"
Alex menjulurkan tangan kanannya, sebagai tanda dimulainya kesempatan dengan bosnya.
Mobil sport berwarna hitam memasuki parkiran bawah tanah berjejer dengan mobil lainya.
"Lo, sementara tidur di lantai tujuh, kamar gue, apartemen yang Lo pesan lagi disiapin sama Rama,"
Benedict mengernyit bingung, "bukannya Lo tidur disitu setiap hari?"
"gue nempatin rumah bokap, jadi nggak masalah kalau Lo mau tinggal disitu,"
Keduanya berada di lift berwarna gold, "terus kunci dan STNK motor atau mobil entar gue kasih unjuk tempatnya, ngomong-ngomong Lo berapa lama disini?".
"dua Minggu mungkin,"jawab Benedict.
"Tante Anna tau Lo balik?"
Benedict menggeleng,
"bisa nggak Lo berdamai sama masa lalu? Mumpung beliau masih sehat, Lo bisa berbakti, jujur gue tuh iri sama kalian, masih bisa sayang-sayang nyokap, sementara gue? Boro-boro, malah sekarang gue yatim piatu, Maria di biara, cuman Jonas sama Tante Terry saudara deket yang ada disini,"
Benedict terdiam, tak menanggapi ucapan Alex.
Hingga Lift berhenti dan sampai di lantai tujuh, Alex melakukan room tour sejenak lalu meninggalkan Benedict untuk beristirahat, sementara dirinya bekerja.