How To Marry You ?

How To Marry You ?
Sepuluh



21 +


Liburan semester satu telah usai, pelajar kembali ke aktivitasnya masing-masing.


Begitupun dengan Alex dan Sandra, aktivitas keduanya masih sama.


Les usai pulang sekolah hingga sore dari Senin sampai Jum'at, Sabtu Minggu libur.


Terkadang Sandra masih sering berkunjung ke rumah Vina untuk merecoki Tante Yuli yang sedang membuat kue, membantu seadanya ataupun mencicipinya.


Pernah beberapa kali, Natasha juga ikut serta.


Vina dan Toni tak menaruh curiga sedikitpun dengan pertemanan antara Sandra dan Natasha,


Mungkin Vina dan Toni berfikir jika wajar mereka dekat karena keduanya adalah teman di tempat les.


Meskipun Toni tau jika Natasha adalah salah satu sahabat Alex, tapi nyatanya, setiap kali keempatnya berkumpul tak pernah ada nama Alex disebut dalam obrolan mereka.


Pernah mereka berempat menonton bioskop disalah satu mall ibu kota lalu berburu barang diskon seperti lip teen atau baju kekinian.


Natasha tentu senang, ini kali pertama ia bisa akrab dengan perempuan tanpa direcoki oleh kelima laki-laki menyebalkan.


Hari liburnya lebih berwarna.


Terkadang mereka juga belajar bersama saat weekend, tentunya di rumah Vina.


Yang banyak camilan dan masakan buatan Tante Yuli yang rasanya enak sekali.


Mengapa begitu?


Ibu dari Natasha adalah wanita karir yang saat weekend masih bekerja, maklum profesi sebagai salah satu bidan di rumah sakit, membuatnya jarang dirumahnya saat tanggal merah.


Ibu Sri Mulyani tidak berbakat dalam memasak, beliau juga jarang di rumah, entah mengikuti Wijayanto bekerja.


Sedangkan Toni, ibunya harus selalu berada di rumah sakit karena sakit yang dideritanya.


Alhasil rumah Vina yang menjadi tempat berkumpul mereka berempat.


Hari terakhir ujian praktek, Alex mengirimkan pesan singkat, memintanya untuk bertemu sepulang sekolah, kebetulan les sedang libur sore nanti.


Sandra menyanggupinya, gadis itu meminta Alex untuk menunggunya di tempat biasa.


Saat Vina mengajaknya pulang, Sandra mengatakan akan mampir terlebih dulu ke suatu tempat.


Dan disinilah Sandra sekarang, di rumah Alex, pacarnya mengajaknya untuk menonton film bersama,


Alex mengatakan jika papanya akan keluar kota selama seminggu, begitu juga dengan orang tua Sandra.


"Sa, kamu nggak mau ganti baju dulu? Kan nggak enak kalau pakai seragam,"ujar Alex sambil membawakan minuman dan camilan dari dapur.


Sandra mengangguk setuju,


"pakai kaos sama celana pendek aja ya sa,"ucap Alex sambil menyodorkan kaos polos berwarna biru tua dengan celana pendek senada.


Sandra menerimanya, "ya udah kamu keluar sana, aku mau ganti baju,"


"aku pengen lihat nggak boleh emang?"


"malu Alex,"


"oke, aku keluar tapi cium dulu,"pintanya.


Sandra memutar bola matanya malas, tapi tetap memenuhi permintaan pacarnya.


Keduanya berciuman, entah mengapa sore itu Alex begitu bergairah pada gadis itu.


Sandra yang terbuai, tak menyadari jika Alex membuka satu persatu kancing seragamnya, lalu melepaskannya, hingga menyisakan tank top berwarna merah muda dengan bra senada.


Alex mulai menyentuh dan merem*s dada kekasihnya, tanpa melepas tautan bibir mereka.


Entah setan mana yang sedang menggoda keduanya, mereka terbuai dengan hal yang seharusnya tak boleh dilakukan.


Sandra telah berbaring di kasur hanya mengenakan kain segitiga yang menutupi bagian bawahnya, dadanya naik turun mengatur nafasnya.


Gadis itu menatap kekasihnya sayu, Alex sedang melepas kain terakhir yang menutupi tubuhnya.


Hingga sesuatu yang sedari tadi terkurung, menjadi bebas berdiri mengacung.


"Aku akan melakukannya dengan lembut, kamu boleh jambak atau cakar aku, tapi aku minta jangan teriak, kamu mengerti?"


Seperti terhipnotis, Sandra mengangguk setuju.


Alex membebaskan kain segitiga yang menutupi liang surgawi milik kekasihnya,


Sesuai fantasinya, bersih mulus dan ditumbuhi sedikit ibulu-bulu halus, Alex menelan ludahnya, jakunnya bergerak naik turun, rasanya ingin segera merasakannya.


Usaha pertamanya untuk menembusnya gagal, sulit sekali dahinya sampai berkeringat.


Hingga percobaan ketiga, karena tak sabar, Alex memaksa masuk hingga Sandra menjerit kesakitan, tapi Alex dengan sigap membungkam mulut mantan gadis itu dengan bibirnya.


Air mata mengalir dari sudut mata kekasihnya.


Alex mendesis, dibawah sana miliknya seolah tengah dicengkeram, rasanya hangat, sebuah rasa yang baru pertama kali ia rasakan, sesuatu yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.


Alex mulai melakukannya dengan lembut, tak ingin menyakiti wanita yang dicintainya, cukup tadi ia membuat Sandra mengeluarkan air mata.


Dalam hati Alex berjanji, hanya Sandra yang akan menjadi pelabuhan terakhirnya kelak,


Hanya dari rahim Sandra keturunan Soejono akan lahir.


Hanya Sandra yang akan memiliki hatinya sepenuhnya, tak peduli berbagai wanita yang akan ditemuinya nanti dimasa depan.


Alex tak peduli dengan jurang pemisah antara keduanya, baginya cukup bersama dengan wanita ini.


Dirinya sadar, jika kakaknya yang seorang calon biarawati dan ayahnya yang taat beribadah pasti akan menentangnya, namun ia tak peduli, toh ini hidupnya, biar dirinya sendiri yang menentukan.


Adrenalinnya terpacu untuk mempercepat gerakannya, ia mencium kembali bibir kekasihnya,


Sepasang kekasih itu bermandikan keringat padahal diluar baru saja turun hujan.


"Lex, aku mau pipis,"ucap Sandra setelah terlebih dahulu melepaskan tautan bibir mereka,


Alex berbisik, "keluarkan sayang, aku juga sama,"


Mereka kembali berciuman, Alex semakin mempercepat geraknya, dan keduanya mencapai puncaknya secara bersamaan.


Mereka saling bertatapan sambil terus berusaha mengatur nafasnya,


Alex melepas tautan dibawah sana dan berbaring disebelah Sandra, ia mengambil tangan kekasihnya dan menciumnya.


"Aku mencintaimu Sasa,"


Sandra menoleh dan tersenyum ,"aku juga mencintaimu Alex,"


Alex menggendong kekasihnya untuk membersihkan diri di kamar mandi, ia tau, Sandra akan sulit berjalan karena ulahnya.


Keduanya mandi bersama, hanya mandi tak lebih.


"kamu menginap disini dulu,"pinta Alex.


Sadar akan kondisinya Sandra menyetujuinya, tak ada pilihan lain, bagian intinya sedikit perih dan cara jalannya pasti tak normal.


Selama dua hari Sandra di rumah Alex, banyak yang dilakukan keduanya, memasak bersama, membersihkan rumah, mencuci, seolah mereka sedang simulasi berumah tangga di masa depan.


Meskipun masih takut, tapi Sandra sudah dikenalkan dengan Gufi, anjing keluarga Alex yang berwarna hitam.


Mungkin bagi kedua sejoli ini, adalah masa dimana kehidupan terbahagia bagi mereka,


Saling mengisi, memberi perhatian, Alex yang sudah lama ditinggal mati mamanya, begitu manja pada Sandra yang bersifat lemah lembut.


Sementara Alex bagi Sandra adalah teman mengobrol yang menyenangkan, di rumahnya sendiri ia jarang berbicara dengan ayahnya, maksudnya berbicara dari hati ke hati.


Ayahnya sibuk mencari uang, sedangkan ibunya selalu mendampingi ayahnya.


Sehingga Sandra yang merupakan anak satu-satunya menjadi kesepian.


Selama dua hari itu, Alex tak memintanya lagi, ia tau bagian bawah kekasihnya masih perih karena ulahnya.


Jiwa muda yang membuat keduanya tak berfikir jauh ke depan, bagi mereka saling mencintai sudah lebih dari cukup.


Tak peduli dengan jurang yang menganga diantara kedua.