
Sandra masih berada di ruang IGD, tadi ia sempat bertanya kepada perawat, apa penyebabnya hingga pingsan, dan perawat tersebut malah memintanya segera menghubungi suaminya.
Tentu dirinya bingung, apalagi statusnya yang seorang janda, Sandra sempat meminta untuk mengatakan padanya saja, namun perawat tak mau mengatakannya,
Alex tak kunjung menghubunginya, Sandra jadi kesal sendiri, tapi berusaha mengerti mau bagaimanapun pekerjaan lelaki itu pasti menumpuk dikarenakan harus absen berhari-hari.
Hingga Maghrib menjelang Alex baru datang sendiri, lelaki itu panik saat membaca pesan dari kekasihnya.
"kamu kenapa sa? Kenapa bisa sampai dibawa ke rumah sakit? Sebenernya apa yang terjadi? Maaf tadi ponselku tertinggal di kantor, seharian aku sibuk diluar,"tanya Alex sambil memegang tangan Sandra yang tidak diinfus.
"Aku nggak tau, perawat nggak mau kasih tau, katanya nunggu suami aku Dateng,"jawab Sandra.
Alex mengernyit bingung, "maksud kamu suami?"
Sandra mengangguk, "iya suami aku, menurut kamu siapa? Oh aku harusnya nggak menghubungi kamu ya, lupa aku! Kita kan nggak ada ikatan ya!"sindirnya, "kalau gitu aku hubungi mas Ferdi aja ya!"lanjutnya sambil mengambil ponsel lalu mengutak-atik nya.
Alex melebarkan matanya, lelaki itu merebut ponsel milik kekasihnya, "aku suami kamu sekarang,"tegasnya.
Sandra tersenyum sinis, "ngarang, mana buktinya kalau kita udah nikah?"tanyanya.
Alex menaruh ponsel milik Sandra di kantong celananya, ia tak akan rela jika wanitanya berhubungan dengan lelaki lain walau itu suami sekalipun.
"Sa, sebenarnya kamu kenapa sih? berdebatnya nanti aja, kalau kamu udah sembuh, sekarang aku mau ketemu dokter dulu,"
Setelah mengatakannya, Alex menemui perawat dan mengatakan jika dirinya adalah wali pasien bernama Sandra Wijayanti.
Seorang perawat mengantarkan lelaki tampan itu menuju ruangan dokter untuk mendengar penjelasan tentang kesehatan pasien yang tak lain adalah kekasihnya.
Alex menjabat tangan dokter yang bernama Emilia, dan memperkenalkan diri sebagai suami dari pasien bernama Sandra.
"Begini pak Alex, saya menyarankan agar nyonya Sandra dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, dan bed rest selama beberapa hari ini disini, saya juga sudah berkonsultasi dengan dokter kandungan,"jelas Dokter Emilia,
"apa istri saya hamil?"tanya Alex bingung.
"Bisa dibilang seperti itu, hanya saja, saya curiga hingga kehamilan lebih dari delapan minggu tapi detak jantung janin belum terdeteksi, maka dari itu saya menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, maka dari itu, lebih baik nyonya dirawat sementara disini,"
"tolong lakukan yang terbaik untuk istri saya dokter,"
Setelah menemui dokter, Alex dibimbing oleh perawat untuk mengurus administrasi agar Sandra bisa segera masuk ke ruang rawat.
Alex tak banyak bicara, saat menemui kekasihnya kembali, bahkan sampai di kamar rawat terbaik di rumah sakit ini.
Bisa saja Alex memindahkan Sandra ke rumah sakit dimana sahabatnya praktek, bagaimanapun dirinya adalah salah satu pemilik saham rumah sakit yang dikelola Oscar, tapi karena malas menghadapi pertanyaan dari teman-temannya lebih baik kekasihnya dirawat di rumah sakit ini.
"Kamu kenapa sih? Kenapa malah diamkan aku? terus kata dokter apa? aku sakit apa?"tanya Sandra.
Sebelum menjawab pertanyaan dari kekasihnya, Alex mencium dahi wanita itu lembut, lalu membisikan kata maaf ditelinga Sandra,
"Sa, kata dokter kamu hamil delapan Minggu, tapi detak jantung bayi belum terdeteksi, maka dari itu kamu harus dirawat sementara disini, mungkin besok ada dokter kandungan yang akan memeriksa kamu,"jelasnya panjang lebar.
Sandra menutup mulutnya tak percaya, bagiamana mungkin dirinya hamil, "tapi sebelum kamu pulang, aku keluar mens kok, memang nggak banyak, cuma kayak flek gitu,"
"Tapi sa, kamu mual-mual, masa kamu nggak sadar, kamu kan pernah hamil sebelumnya,"
"Kamu nyalahin aku? lagian kan aku udah bilang pakai pengaman karena aku belum KB, bisa-bisanya kamu nyalahin aku sekarang,"ucap Sandra kesal.
"Sa, aku nggak nyalahin kamu, aku seneng malah kalau kamu hamil, itu yang aku harapkan,"
"Tapi Alex, status kita masih belum sah, seharusnya aku nggak hamil dulu, apa kata orang nanti?"
"Ya kamu aku ajak nikah nggak mau, salah siapa coba,"
"Salah aku, jelas salah aku, kamu nggak salah, aku yang salah, kamu selalu benar, kamu lupa kita berbeda,"
"kita bisa menikah di luar negeri Sasa,"
"Sasa, maaf aku nggak bermaksud kayak gitu, sekarang bukan saatnya kita seperti ini, kita harus sama-sama, agar bisa lewati ini berdua, "
Sandra yang terlanjur kesal memilih tak menanggapi ucapan lelaki itu.
Alex menginap di rumah sakit untuk menemani Sandra, ia meminta Choki untuk menjaga dan mengurus Xander di rumah.
Bahkan hingga keesokan harinya, Sandra masih mendiamkannya, hanya jika wanita itu ada keperluan ke kamar mandi barulah meminta pertolongan padanya.
Alex harus absen kembali karena harus mengurusi kekasihnya yang sedang menjalani perawatan, ia sudah memberitahukan pada Rama juga Jonas.
Agak siangan, Sandra dibawa ke ruangan praktek dokter kandungan untuk dilakukan USG,
Menurut keterangan dokter, Janin yang dikandung Sandra tak berkembang, terlihat dilayar gumpalan didinding rahimnya.
Dokter menyarankan untuk melakukan kuret untuk membersihkan jaringan agar tak menimbulkan masalah dikemudian hari.
Alex sempat menanyakan penyebab bayinya tak berkembang, salah satu alasan yang membuat lelaki itu merasa bersalah adalah ketika dokter mengatakan jika salah satu pemicunya adalah Stres berat yang dialami sang ibu.
Alex teringat selama sebulan mendiamkan Sandra, tak menghubunginya dan tak menemuinya, mungkin itulah penyebabnya, lelaki itu menyesal.
Bahkan saat menandatangani persetujuan kuret, tangannya sampai bergetar, dalam hati ia meminta maaf pada calon bayinya yang tak sempat menghirup udara dunia,
Pandangan Alex kosong, saat menunggu tindakan kuret yang sedang dialami oleh Sandra.
Lelaki itu terdiam, rasa bersalah membuat dadanya semakin sesak, ia tau didalam sana, kekasihnya tengah bersedih,
Dalam hati Alex mencaci dirinya sendiri, seharusnya ia tak membuat kekasihnya stres, selama sebulan kemarin, tapi apa mau dikata, semua itu sudah terjadi,
Mereka kehilangan calon bayi itu, setelah ini entah apa yang akan Sandra lakukan padanya, ia hanya pasrah, tapi tetap berharap agar wanita itu tak meninggalkannya.
Lamunan Alex buyar, ketika salah satu perawat yang ia tau adalah petugas kamar VK, memanggilnya lalu menanyakan apa ada dari pihak keluarga yang memiliki golongan darah B+, karena pasien mendadak mengalami pendarahan hebat, karena stok golongan darah tersebut sedang kosong di rumah sakit ini.
Berusaha tetap tenang, Alex menghubungi Oscar, menanyakan stok darah untuk Sandra, dan meminta untuk segera mengantarkan ke rumah sakit dimana ia berada sekarang.
"Gue nggak mau tau Os, bawa semua stok golongan darah B+ kesini, secepatnya, dan nggak usah banyak tanya, ngerti Lo,"
Alex mengakhiri panggilannya tanpa mendengar ucapan diseberang sana.
Sekitar tiga puluh menit berlalu, Oscar datang bersama salah satu bawahannya membawa pesanan Alex, sehingga Sandra bisa mendapatkan transfusi darah.
Oscar masih duduk disebelahnya, Alex tau sahabatnya itu membutuhkan penjelasannya,
"Sandra hamil anak gue Os, tapi janinnya nggak berkembang, yang salah satu penyebabnya karena dia stres, dan itu karena gue, kenapa gue bego banget Os? Gue nyesel Os,"jelasnya.
"Bukannya Sandra masih terikat sama suaminya ya! Kenapa Lo nekad banget sih Lex?"
"lagi proses Os, dan gue nggak peduli statusnya dia,"
Oscar menghela nafas, "kenapa lo mesti memilih pilihan yang sulit sih Lex?"
"Gue cinta mati sama Sandra Os,"
"Tapi Lex, misal Sandra udah cerai sekalipun, emang kalian bisa nikah?"
"gara-gara itulah gue diemin dia sebulan, Sandra stress, sehingga bayi gue nggak berkembang, gue nyesel Os,"
"Lalu setelah ini, apa rencana Lo?"
"gue nggak tau Os, gue hanya bisa pasrah, tapi gue nggak mau ditinggalin lagi,"
Oscar menepuk pundak sahabatnya, "Lex kalau emang Lo serius cinta sama Sandra, salah satu dari kalian mesti ngalah soal agama yang kalian anut, agar bisa nikah, tapi kalau kalian masih tetap kekeh, saran gue, sudahi sampai disini, supaya kalian melanjutkan hidup dengan pasangan masing-masing,"
Alex terdiam mendengar saran sahabatnya, tapi untuk berpisah lagi dengan Sandra, itu tak mungkin, ia tak akan rela, apalagi sampai kekasihnya dimiliki oleh lelaki lain, lebih baik ia mati.