
Seminggu berlalu semenjak berpulangnya Bapak Soejono, Alex baru mulai bekerja.
Lelaki itu menjadi lebih pendiam, tak banyak bicara, hanya menyangkut pekerjaan saja, Alex baru berbicara.
Sandra bisa mengerti, ia juga pernah merasakan hal yang sama, ketika kedua orangtuanya berpulang.
Jam makan siang ada jadwal pertemuan dengan salah satu klien di sebuah cafe.
Sandra yang mengemudikan mobil, sedangkan Alex duduk di jok belakang, tak masalah untuknya, ini memang pekerjaannya sebagai sekertaris sekaligus asisten pribadi.
Klien kali ini adalah salah satu pelanggan yang sudah beberapa kali menyerahkan urusan hukum pada Alex.
Sandra memesankan minum juga camilan untuk bos juga klien itu.
Setelahnya ia mendengarkan dan mencatat sekiranya ada yang penting.
Kesepakatan terjalin kembali, mereka berjabatan tangan.
"Setelah mendapatkan informasi, saya akan menghubungi bapak,"ucap Alex.
"saya mohon segera pak Alex,"sahut Edi, klien yang sedang mengajukan gugatan hukum karena salah satu rekannya menipunya.
Sepeninggal Edi, sekertaris dan bos kembali duduk, kebetulan kue yang tadi dipesan belum tersentuh sama sekali.
Hanya ada pembicaraan tentang urusan pekerjaan sambil menyantap kue di meja.
Hingga Sandra menghentikan kunyahannya, ia bangkit dan berjalan menuju seseorang yang dikenalnya.
Alex melihat ke mana arah sekretarisnya pergi.
Sandra menghampiri seorang lelaki yang dikenalnya sedang duduk bersama wanita di dekat jendela cafe tak jauh dari pintu masuk.
"Mas Ferdi ngapain disini?"tanya Sandra menyelidik, harusnya di jam segini suaminya menjemput putranya di sekolah.
Terlihat raut wajah panik Ferdiansyah melihat kedatangan istrinya.
"Aku lagi ngomongin kerjaan sama temen nih,"jawab lelaki itu terlihat gugup.
"Oh, terus Xander siapa yang jemput?"tanya Sandra lagi.
"tadi aku minta tolong pak Joko buat jemput,"Jawab Ferdiansyah, "Lalu kamu ngapain disini?"tanyanya balik.
"Aku abis dampingi bos aku ketemu klien,"jawab Sandra jujur.
Alex menghampiri sekretarisnya, "Apa ada masalah?"tanyanya berdiri disebelah Sandra.
"Maaf pak, saya menghampiri suami saya,"jawabnya tak enak, karena memikirkan putranya, Sandra seolah lupa jika dirinya sedang bersama bosnya.
Ferdiansyah berdiri dan mengajak Alex untuk berjabat tangan dan berkenalan.
Alex menanggapi sekenanya, sebenarnya ia kesal, ia cemburu karena nyatanya memang pujaan hatinya telah memiliki suami.
"Bolehkah saya minta kartu nama anda pak Alex?"pinta Ferdiansyah pada bos istrinya.
Alex mengambil satu kartu nama miliknya di dompet lalu memberikannya pada suami dari sekretarisnya.
Lelaki itu sedikit melirik ke wanita yang tadi duduk dengan Ferdiansyah, ia tersenyum tipis nyaris tak terlihat.
Sandra mempersilahkan bosnya untuk kembali ke meja, namun Alex menolak, lelaki itu meminta kembali ke kantor.
Dalam perjalanan menuju kantor, "siapa yang tadi bersama suami kamu?"tanya Alex dari bangku belakang.
Sandra yang sedang mengemudi melirik sekilas ke belakang melalui rear vision mirror, "itu salah satu teman suami saya, mungkin mereka sedang membicarakan tentang pekerjaan,"jawabnya.
"Kamu yakin itu? lalu apa pekerjaan suami kamu?"tanyanya mulai penasaran, biasanya Alex tak terlalu mau tau kehidupan orang, tapi sepertinya ini pengecualian.
"Suami saya sedang tidak berkerja pak,"jawab Sandra formal.
Alex menyunggingkan senyumannya, sepertinya ia harus menyelidiki sesuatu.
Sejujurnya Sandra sedikit bingung dengan perubahan sikap Alex, lelaki itu bertingkah layaknya atasan, berbicara formal dan kaku.
Tak ada senyum jahil dan mesum yang biasanya lelaki itu tujukan padanya, bahkan bicaranya mendadak formal.
Pikiran buruk sedikit terlintas, tapi ia mencoba menepis, mungkin mulai sekarang dirinya harus sadar diri jika nyatanya ia adalah wanita bersuami yang berkerja pada cinta pertamanya.
Meskipun sebelum kematian Soejono, Alex masih bersikap lembut dan mesum padanya.
Ada pertanyaan dibenak Sandra, apa lelaki itu marah, gara-gara dirinya memakai alat kontrasepsi?
Tapi harusnya lelaki itu sadar akan posisi dirinya yang sudah bersuami, tak mungkin bukan mengandung anak dari lelaki lain.
Ferdiansyah pasti akan curiga, karena kemungkinan lelaki itu memiliki anak, sepertinya nyaris mustahil jika penyakit yang diderita suaminya belum juga diobati.
Sudah tiga hari berlalu Alex bertingkah seperti itu, lelaki itu bahkan melarangnya naik ke lantai tujuh.
Sandra berusaha sebisa mungkin bersikap profesional, ia harus menyadarkan diri, jika memang harus seperti ini, ada batasan antara bos dan sekertaris.
Sudah tiga hari juga, keduanya tak makan siang bersama, bahkan Jonas yang disebelahnya mempertanyakan hal itu.
"Lo ada apaan mbak sama bos? Kenapa jadi kaku sih?"tanya lelaki yang lebih muda tiga tahun darinya.
Sandra mengangkat bahunya, malas menjawab juga, karena ia juga tak tau menahu tentang perubahan sikap Alex padanya.
Selama tiga hari ini, ia makan siang bersama Gita dan Arumi di Kantin,
Sempat timbul pertanyaan dari Gita, namun Sandra beralasan jika tak ada masalah apapun dengan dirinya dan bosnya.
Sore itu Sandra memberikan berkas untuk diperiksa oleh bosnya,
Ia mengetuk pintu dengan sopan dan meminta ijin masuk, Alex yang fokus pada pekerjaannya hanya berdehem.
"Pak mohon periksa berkas milik pak Edi, sebelum saya kirimkan ke beliau,"
Tanpa melihat sekretarisnya, Alex menyodorkan tangannya meminta berkas yang dimaksud.
Sandra berdiri tepat didepan meja kerja bosnya, ia melihat lelaki itu sedang menunduk dan membaca setiap detail tulisan yang ada diberkas tersebut.
Hingga beberapa menit, Sandra masih berdiri, ia mulai pegal, tapi tetap bertahan.
Selama itu pula, Alex seolah tak memperdulikan keberadaan dirinya, benar-benar jauh dari kebiasaan lelaki itu.
"Kamu ngapain berdiri disitu?"tanya Alex sambil menutup berkasnya.
Sandra tersadar dari lamunannya, tadi sesaat pikirannya melayang, "Saya nungguin berkas punya pak Edi, saya harus segera mengirimnya,"jawabnya.
"Sandra bisakah kamu tidak muncul dihadapan saya dulu,"pinta Alex.
Sandra melongo mendengar ucapan bosnya, dirinya tak habis pikir dengan lelaki itu, bukankah Alex sendiri yang minta dirinya menjadi sekertaris sekaligus asisten pribadinya.
"Apa anda akan memecat saya pak?"tanya Sandra khawatir.
"apa kamu tuli, saya hanya meminta kamu tidak muncul dihadapan saya, bukan memecat kamu?"
jawab Alex dengan tatapan tajamnya.
"Itu sama aja pak, tolong jangan pecat saya pak, kalau memang harus kembali menjadi staf administrasi, juga nggak masalah, yang penting saya masih bisa bekerja,"
Alex menghembuskan nafasnya kasar, "Sandra dengar ucapan saya, kamu tidak dipecat dan tidak dipindahkan, saya hanya minta kamu untuk tidak muncul didepan saya, ngerti nggak sih kamu?"sahutnya mulai kesal.
"Tapi kenapa? Apa bapak marah sama saya? Apa saya berbuat salah sama bapak?"tanya Sandra.
"Tak ada alasan, silahkan kamu keluar, biar Jonas yang mulai sekarang mengurus keperluan saya,"
Sandra yang biasa tenang mendadak gusar, ia kesal dengan bosnya, "Oke kalau memang itu mau kamu, aku nggak akan muncul dihadapan kamu lagi, aku akan minta Mega untuk menukar aku menjadi staf sama seperti dulu, terima kasih,"
Setelah mengatakan hal itu, Sandra beranjak keluar dari ruangan bosnya.