How To Marry You ?

How To Marry You ?
delapan puluh empat



Ponsel Alex berdering, terlihat dilayar user name my love dengan emoticon hati berwarna hijau, sedari semalam, nomor itu menelpon dan mengiriminya pesan, ia memilih mendiamkannya, ia masih butuh waktu untuk mencari jawaban sekali lagi, apa yang harus dilakukannya.


Lelaki itu sedang dalam perjalanan menuju asrama dimana Kakak kandungnya mengabdi sebagai biarawati.


Meskipun ini bukan saatnya dirinya diperbolehkan berkunjung, tapi karena pikirannya sedang kusut, ia butuh pencerahan.


Sesampainya ditempat tujuannya, sudah ada Maria dengan penampilan khasnya menunggu di depan tempatnya mengabdi.


Wanita yang lebih mirip mendiang papanya, langsung membuka pintu mobil begitu Alex mengentikan kemudinya.


Rasanya sudah lama sekali kedua saudara kandung itu tak bertemu secara langsung, hanya berkomunikasi via telepon atau pesan, itu juga hanya sekedar menanyakan kabar atau konfirmasi donasi yang diberikan Alex pada pihak asrama juga uang bulanan untuk menunjang keperluan saudara perempuannya itu.


Biasanya jika mereka bertemu selain di rumah, keduanya makan bersama di restoran yang menyediakan menu makanan sehat.


"Ada apa Lex? tumben, lalu apa kabar Alexander dan ibunya?"tanya Maria setelah pesanan mereka tersaji.


Alex pernah memberitahukan pada kakaknya tentang keberadaan putra kandungnya juga wanita yang dicintainya.


"Mereka baik,"jawabnya singkat.


"Kenapa? Wajah kamu kayak suram gitu? Apa ada masalah?"tanya wanita berkacamata itu.


Alex menceritakan secara jujur tentang hubungan rumitnya dengan Sandra, tentang status wanita itu, tentang saran Tante Terry, juga orang terdekatnya, dan terakhir tentang kekhawatirannya jika harus kehilangan wanita itu lagi.


Dulu Maria sempat terkejut saat Alex menceritakan tentang wanita yang membuatnya depresi sewaktu dirinya lulus SMA, yang tak lain adalah Sandra, wanita yang berprofesi sebagai sekretarisnya.


"Memang betul apa yang dikatakan Tante Terry, salah satu dari kalian harus mengalah, meskipun pihak kami ada yang mengijinkan pernikahan beda agama, tapi secara ritual dia harus mengikuti kami, apa mungkin Sandra mau mengikutinya? Dan kamu sebagai orang yang mengerti hukum, seharusnya tau jika disini pernikahan berbeda agama tidak diakui negara,y"jelas Maria.


Alex menghela nafas, ternyata semuanya menyarankan hal yang sama, salah satu harus mengalah,


Alex teringat kejadian yang membuatnya nyaris kehilangan wanita yang dicintainya, ia ingat belum bercerita soal itu pada perempuan yang ada dihadapannya, "Belum lama, Sandra terpaksa harus kuret, karena janin itu tak bisa berkembang, penyebabnya karena dia stres, saat itu kami bertengkar tentang masalah ini, bodohnya aku tidak menyadarinya, yang membuat aku semakin merasa bersalah, Sandra sempat pendarahan cukup banyak, aku takut sekali, aku takut kehilangan dia selamanya, aku menyesal telah menyakitinya,"


Maria terkejut mengetahui fakta itu, ia tau hubungan adik kandungnya sedekat apa dengan sekretarisnya, ia juga tau jika mereka tinggal bersama tanpa ikatan sah, tapi ia tak menyangka jika kekasih adiknya sampai mengandung lagi.


"Lalu setelah kejadian itu bagaimana dengan hubungan kalian?"tanyanya.


"hubungan kami baik-baik saja, hanya saja sejak kedatangan lelaki brengsek itu, aku merasa terancam, apalagi mereka belum resmi bercerai,"


Maria menghela nafas, ia tau watak keras kepala adik satu-satunya itu, sedari kecil jika Alex sudah menyukai satu benda, adiknya itu akan menjaganya dengan sebaik-baiknya, itu hanya benda tapi ini wanita yang dicintai, dan karena wanita itu pula adiknya depresi cukup parah,


Maria tak mungkin menyarankan adiknya untuk berpisah dengan perempuan itu, dulu saat ditinggalkan saja sampai separah itu, apalagi jika ia memaksa Alex untuk memutuskan hubungan dengan Sandra, bisa-bisa lelaki itu membenci dirinya.


"Semua keputusan ada ditangan kalian, sebagai kakak tentu aku mau jika kamu masih tetap pada keyakinan yang keluarga kita anut, dan seandainya kamu mengikuti keyakinan Sandra, maka aku akan menghargainya,"ungkap Maria bijak.


Pembahasan soal hubungan Alex dan Sandra cukup sampai disitu, selanjutnya mereka membahas tentang tumbuh kembang Alexander,


Alex menceritakan betapa kritisnya bocah itu, juga tentang watak keras kepala yang diturunkan darinya, hanya saja Xander lebih bisa diarahkan dibandingkan dirinya dulu, yang tak akan mendengarkan sama sekali pendapat orang lain, termasuk kedua orang tuanya.


Xander juga mandiri dan dewasa, mungkin Karena keadaan yang memaksanya.


Alex tau dari cerita bocah itu bagaimana penolakan keluarga besar Sandra dengan keberadaan putranya saat kecil dulu.


Belum lagi gunjingan teman sepermainan sekaligus tetangganya saat di lingkungan rumah Mbah buyutnya.


Xander menceritakan semuanya pada Alex, saat keduanya bersama, entah saat mengantar atau menjemput putranya disekolah, tentu tanpa sepengetahuan Sandra.


Usai pertemuan dengan Maria selesai, ia mengantarkan kakak kandungnya itu ke asrama, ia juga sempat menyempatkan diri menyapa pengurus asrama yang lain.


Mengenai putranya, tadi ia sempat mengirimi Choki pesan untuk menjemput Xander di sekolah lalu membawanya pulang ke rumah, ia tak ingin lelaki brengsek itu akrab dengan putranya.


Alex baru sampai kantor usai jam makan siang, ia keluar dari lift berwarna gold, dan berjalan dengan santainya menuju ruangannya, ia juga melewati dua sekretarisnya tanpa menyapa.


Baru saja Alex melepaskan jasnya, salah satu sekretarisnya masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu,


"kenapa dari semalam, aku telpon kamu nggak diangkat? aku kirim pesan juga nggak dibalas, kamu kemana sih? Aku nunggu kamu semalaman,"tanya Sandra kesal.


Alex membelakangi wanita itu, sembari melepas kancing di kedua lengan kemejanya, sedari semalam, ia belum mandi.


Merasa tak ditanggapi, Sandra semakin kesal, wanita dengan setelan formal berwarna hitam itu menghampiri Alex, lalu memegang salah satu lengan lelaki itu.


"Alex, aku tau kamu marah, aku mau jujur sama kamu tentang kedatangan mas Ferdi, tapi kamu selalu sibuk dan tak punya waktu, aku bingung harus apa, kamu nggak pulang-pulang, sementara jika di kantor, kamu nggak bisa diganggu, jadi aku harus apa?"


Alex menghadap ke arah Sandra, lelaki itu menunduk, "apa dia meminta kamu kembali dan membatalkan perceraian kalian?"tanyanya.


Sandra terkejut dengan pertanyaan lelaki itu, "dari mana kamu tau?"tanyanya balik.


Alex mulai membuka kancing kemejanya sambil berjalan menuju kamar pribadinya, "feeling aku kuat,"jawabnya.


Sandra mengikuti masuk ke ruangan itu, ia bisa melihat Alex tengah bertelanjang dada, sepertinya lelaki itu akan mandi,


"Lalu apa jawaban kamu ke dia?"tanya Alex tanpa melihat kekasihnya.


Tak menjawab pertanyaan lelaki itu Sandra hanya terdiam menunduk.


Melihat hal itu, Alex tersenyum miris, sepertinya ia harus mengingatkan siapa sebenarnya yang berkuasa disini, "Silahkan kamu kembali sama dia, tapi tinggalkan Alexander Soejono, dia putra kandungku,"


Sandra menggeleng, "tapi aku ibu kandungannya, aku yang melahirkannya, aku yang membesarkannya,"


Rahang Alex mengeras, tak usah diingatkan ia juga tau hal itu, namun Sandra sepertinya tak paham maksud ucapannya, kepalang tanggung, sekalian saja, tak peduli ucapannya akan menyakiti wanita itu.


Alex menatap tajam kekasihnya, "kamu bisa memiliki anak lagi dengan lelaki brengsek itu, sementara aku hanya memiliki Xander, dan mengenai ganti rugi kamu telah mengandung, melahirkan serta membesarkan benihku, aku akan memberikan kompensasi untuk kamu, saham rumah sakit sudah atas nama kamu, dan soal uang tunai, kamu tinggal sebut berapa, aku kasih, cukup kan, jadi silahkan kamu keluar dan urus surat pengunduran diri kamu, silahkan kembali sama suami tercinta kamu,"


Plak.... Sebuah tamparan cukup keras dilayangkan oleh Sandra pada pipi papa dari putranya, "jangan kamu pikir aku silau dengan apa yang kamu punya, ingat Alex sebanyak apapun kekayaan kamu, itu tak akan bisa mengganti pengorbanan seorang ibu, selamanya Xander akan sama aku, dia putraku, aku tidak peduli jika kamu membawa hal ini ke pengadilan, aku hadapi kamu, sampai matipun aku tidak akan menyerahkan putraku, jika kamu memaksa, lebih baik kamu bunuh aku,"


Sandra memegang kedua tangan Alex, lalu meletakkannya dilehernya, "ayo cekik aku, bunuh aku, dengan aku mati, kamu bisa memiliki Xander seutuhnya,"tantangnya.


Alex mematung, untuk pertama kalinya ia melihat bagaimana Sandra marah besar padanya,


Lelaki itu sadar, ucapannya telah menyakiti ibu dari putranya, tapi ia hanya menggertak, ia hanya ingin menegaskan, jika wanita itu tak boleh kembali pada Ferdiansyah, karena ada Xander sebagai penguat hubungan mereka juga rasa cinta yang mendalam, tetapi sepertinya Sandra salah menangkap maksudnya.


Kedua tangannya masih berada di leher kekasihnya, wanita itu menekannya cukup kuat, tapi Alex menahannya, tak mungkin ia tega melakukan kekerasan fisik pada wanita yang dicintainya.


Sandra mulai menangis, air matanya mengalir terus menerus, rasanya ia tak bisa membayangkan jika ia harus berpisah dengan putranya, Alexander adalah nyawanya.


Alex memeluk kekasihnya, ia membisikan permintaan maaf,


Sayangnya Sandra terlanjur sakit hati, dalam rengkuhan lelaki itu, ia memukuli dada bidang yang seharusnya menjadi sandarannya, tapi kata-kata Alex terlanjur menyakitinya.


Alex melepas pelukan itu, ia memegang kedua sisi wajah kekasihnya, tatapan yang tadi tajam berubah melembut, ia menghapus air mata di pipi, lalu mencium lembut kedua mata itu.


"Maaf, ucapan aku menyakiti kamu, bukan maksud aku merendahkan kamu, aku hanya ingin kamu tetap bersama aku dan putra kita, kamu tau bukan, aku begitu mencintai kamu, aku takut kehilangan kamu, aku takut kamu kembali sama dia, aku harap kamu mengerti,"


Sandra memeluk tubuh hangat lelaki yang dicintainya, tanpa mengucapkan sepatah katapun, sejujurnya ia masih sakit hati, tapi ia berusaha memaafkan kekasihnya.