How To Marry You ?

How To Marry You ?
tujuh puluh tiga



Sejak kejadian dimana Sandra terpaksa harus merelakan janin di rahimnya, wanita itu lebih banyak diam.


Alex kembali tinggal di rumah, menjalani rutinitas harian, sarapan bersama, mengantar putranya bersekolah, ke kantor, jika sempat menjemput putranya di sekolah, namun jika sedang sibuk, maka Choki yang akan menjemput bocah itu dan mengantarkan pulang, sore hari menjelang Maghrib Alex sudah tiba di rumah, makan malam bersama yang ia sebut sebagai keluarga kecilnya.


Sejak itu Alex tak lagi menginap di kantor, sesibuk apapun dirinya, lebih baik membawa pekerjaannya ke rumah, dari pada tak bertemu dengan ibu dari putra semata wayangnya, kecuali jika keluar kota, itupun ia akan mengajak kekasihnya turut serta mendampinginya.


Malam itu saat Sandra menemani Alex memeriksa beberapa berkas yang harus diperiksanya, di ruang tengah, wanita itu mengajaknya bicara.


"Lex, aku kerja lagi ya,"ucapnya tiba-tiba.


Alex yang sedang mengetik pada laptopnya menghentikan kegiatannya, ia menoleh, "apa ada sesuatu yang ingin kamu beli?"tanyanya sambil mengambil dompet hitam miliknya lalu memberikannya pada wanita disebelahnya.


Sandra mendorong kembali dompet itu, "bukan masalah uang atau barang yang ingin aku beli, dengan bekerja, setidaknya pikiranku tak terlalu memikirkan bayi kita, aku masih merasa bersalah, karena tak menjaganya dengan baik,"


Alex memiringkan tubuhnya menghadap kekasihnya, lelaki itu memeluk Sandra, "aku yang salah karena buat kamu stres, dan itu bukan salah kamu,"ucapnya, lalu melepaskan pelukan itu, Alex mengecup dahi wanita itu, "bukankah harusnya kamu masih beristirahat?"


"tapi ini sudah lewat sebulan, masa nifas aku juga sudah selesai, aku udah sehat kok, jadi gini kemarin aku sempat telpon Asha menanyakan soal lowongan sebagai admin di rumah sakit, dia sempat ngetawain aku, katanya emang boleh sama kamu, aku bilang aja pasti boleh, dari pada bengong di rumah kan, lalu Asha bilang kalau kamu izinin dia bakal kasih kerjaan sama aku,"jelas Sandra antusias.


Alex tertawa, "Sasa sayang, kalau kamu ingin kerja di rumah sakit, kamu bisa jadi salah satu petinggi di sana, ngapain admin sih,"


Sandra heran, "maksudnya apa sih?"


Alex mencium punggung tangan kekasihnya, dan menatapnya lembut, "Sa, jadi gini, Ben, Nando, aku dan Oscar adalah pemilik rumah sakit itu, Ben yang terbesar memiliki sahamnya, sementara sisanya kami bertiga, sesuai urutan yang aku sebutkan tadi, memang kami sepakat menyerahkan kepemimpinan rumah sakit pada Oscar, tapi jika kamu ingin ikut andil dalam management, nggak masalah sih, aku bisa ajukan kamu kok,"jelasnya panjang lebar.


Sandra menggeleng, "itu terlalu berlebihan, aku nggak mau,"tolaknya.


"ya nggak berlebihan lah, apa gini aja, aku alihkan ke kamu aja ya, bagian punya aku di sana, jadi kamu bisa mengelola,"


"Lex aku bukan siapa-siapa kamu yang bisa kamu berikan sebesar itu,"


"kamu Adalah wanita yang paling aku cintai, kamu ibu dari putraku, apalagi coba? Itu lebih dari cukup, aku minta jangan ungkit sesuatu yang membuat kita berdebat lagi,"


"Tanggung jawabnya besar Alex, mana bisa aku mengatasinya,"


"Sa, aku tau cara kerja kamu yang kompeten, aku menawari kamu, karena aku yakin kamu mampu,"


Sandra menggeleng lagi, "dari pada menangani management rumah sakit mendingan aku jadi sekertaris kamu lagi,"cetusnya asal.


"kalau itu aku tidak keberatan, aku malah senang, jadi aku bisa setiap saat sama-sama kamu,"


"Tapi ada Jonas, nggak jadi ah, pasti bakal canggung nantinya,"


"Ya udah Jonas aku turunin ke lantai dua aja kalau gitu,"


"eh jangan, kamu lebih butuh Jonas dibanding aku dalam hal perkejaan,"


"jadi gimana maunya?"


"entar aku pikirin deh,"


Setelah berfikir beberapa hari dan meminta pendapat putranya, akhirnya Sandra meminta kembali bekerja sebagai sekertaris kekasihnya lagi, tapi ia minta tak satu ruangan dengan Jonas, tentu saja Alex menuruti.


Kantor masih sepi, Alex mengajaknya untuk naik ke lantai delapan, tempat dimana lelaki itu biasa berolahraga, di sana ada tempat gym yang biasa dipakai karyawan terutama bagian keamanan atau bodyguard.


Sandra memilih bersantai sambil menikmati sarapan yang dibawanya dari rumah.


Sekitar satu jam, Alex menghabiskan waktu untuk berolahraga, sesibuk apapun ia selalu menyempatkan diri, ia ingin tetap bugar dan kekar.


Sama seperti sahabatnya yang lain, Alex juga memiliki dada bidang dan beberapa kotak diperutnya.


Setelah menghilangkan keringat ditubuhnya, Alex turun ke lantai tujuh untuk mandi dan sarapan, baru setelahnya ia mulai bekerja.


Tepat pukul sembilan pagi, kedua sejoli itu turun menuju lantai enam,


Sudah ada Jonas yang duduk di tempatnya, lelaki itu terlihat tak terkejut dengan kedatangan Sandra, ini kali kedua mereka bertemu lagi,


Jonas menyapanya tapi Sandra tak menanggapinya, malah membuang mukanya, wanita itu masih kesal.


"Terus Lex meja aku mana?"tanya Sandra heran, karena kekasihnya malah membawanya masuk ke ruangannya.


Alex menunjuk meja di sebelah mejanya, "tuh di samping aku,"


Sandra menggeleng, "mana bisa begitu, masa iya aku satu ruangan sama kamu, yang ada bukannya kerja malah aneh-aneh,"


"aku profesional sasa sayang,"


"Profesional dari mana sih pak Alex, tau gini aku balik lagi ke lantai dua ya,"


"nggak bisa, entar aku nggak bisa setiap saat lihat kamu,"


"Tapi Lex, masa ia aku disebelah kamu, yang bener aja,"


"coba dulu Sasa sayang aku profesional kok,"


Malas berdebat, Sandra akhirnya mengalah, ia duduk di tempat barunya.


Tak lama bunyi ketukan pintu, itu Jonas, lelaki itu memberikan berkas lalu membacakan jadwal yang harus dipenuhi oleh atasannya itu.


Hari pertama Sandra bekerja, wanita itu hanya mengerjakan pekerjaan ringan, kekasihnya seharian ini lebih banyak diluar kantor, ada beberapa sidang dan temu janji dengan klien.


Begitu juga hari berikutnya, hingga tak terasa Sandra sudah dua pekan bekerja satu ruangan dengan kekasihnya.


Tak ada kejadian yang sempat dirinya takutkan, hubungannya dengan Jonas juga perlahan membaik, lelaki itu selalu menyapanya, meski awalnya ketus tapi lama kelamaan Sandra mulai kembali seperti semula sebelum kejadian di club' tempo hari.


Karena sudah merasa keadaan kembali ke sediakala, Sandra meminta dipindahkan ke ruangan lamanya berdampingan dengan Jonas, hubungan mereka benar-benar membaik setelah tiga pekan bekerja.


Sebenarnya Sandra tak enak, pada bawahan Alex selain penghuni lantai enam, beberapa kali ia mendengar gunjingan tentang dirinya, yang seenaknya keluar masuk kantor dan satu ruangan dengan bos, apalagi setau mereka, Sandra adalah wanita bersuami.


Padahal sudah beberapa bulan ini, ia resmi menyandang status janda, hanya saja belum ia publikasikan, bahkan Alex saja tidak tau tentang statusnya.


Yang tau hanya pak Hermawan, Jonas dan Choki saja, ketiganya masih menyimpan rahasianya dengan baik.