Flower On The River

Flower On The River
Vol 44



Entah bagaimana firasat dari William yang menyiratkan bahwa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Audry dan Alyena. Ucapannya terus terngiang-ngiang.


"Bagaimana jika Alyena mencintainya?"


"Audry berbicara seakan Alyena telah bersama dengannya." William tampak tidak tenang, dia kemudian memerintahkan dua pengawalnya dengan sembunyi-sembunyi akan mengawasi Alyena. Dia harus melakukannya, jika tidak, ucapan Audry akan terus ada di pikirannya.


William kembali ke lantai satu, sekarang tepat pukul 7 pagi. Dia bersedekap dan menunggu Alyena untuk sarapan. Jari-jarinya menghentak meja, berpikir mengenai keganjilan ucapan Audry. Dia berdiri, lalu memutuskan pergi ke kamar Alyena. Dia memegang gagang pintunya dan terkunci. William lalu mengetuknya beberapa kali ketukan.


"Alyena sudah pagi, bangunlah, kakak menunggumu di bawah."


Dia masih berdiri di depan pintu kamar Alyena, mendengarkan dengan seksama suara sekecil apapun yang tidak biasa, tetapi dia menggelengkan kepalanya, dan semua ucapan Audry tidak akan mungkin, bagaimana bisa Alyena menjalin cinta dengan Jafier sementara mereka berdua tidak pernah bertemu. Dia menggelengkan kepalanya dan segera kembali ke lantai bawah.


~


Napas keduanya terdengar mengalun normal, mereka berdua masih terbuai di alam mimpi, padahal pagi telah menyinari wajah mereka. Alyena membuka perlahan matanya, tubuhnya terasa panas karena pelukan erat Jafier. Dia tersenyum dan memperhatikan setiap garis di wajahnya. Alyena menelungkupkan wajahnya di bawah dagu Jafier dan bersembunyi di sana, Jafier memeluknya erat dan melanjutkan kembali tidurnya.


"Alyena, pergilah mandi, kau tidak boleh telat." Ucap Jafier sambil masih menutup matanya.


"Mm nanti."


"Sekarang, Alyena."


"Kalau begitu bawa aku ke kamar mandi."


"Jangan coba mengujiku, nanti kau akan menyesal."


"Aku sangat menantikannya, bagaimana kau bisa menahan ujianku?" Ucap Alyena sambil terkikik. Jafier kemudian membalik posisi mereka hingga dirinya berada di atas tubuh Alyena.


"Aku pernah berjanji padamu bahwa aku tidak akan menyentuhmu sebelum kita melangsungkan pernikahan."


Ehm ... ya, kau pernah mengatakannya."


"Jangan membuatku melanggar janjiku Alyena, aku memiliki batas kesabaran sayang, aku bisa saja meneggelamkan diriku sekarang juga di dalam dirimu, jadi jangan pernah bermain-main dengan pria dewasa." Ucap Jafier, sambil memberikan ciuman selamat pagi yang panjang kepadanya


"Sekarang bangunlah, dan segera bersiap-siap, Willy sedang menunggumu sejak tadi."


"Mm, Oke."


Setelah mandi dan bersiap-siap, Alyena akan segera keluar dari kamarnya, dia memberikan ciuman di pipi Jafier dan segera turun ke lantai bawah.


"Morning Kak Willy."


"Morning."


"Aku mendengarmu menggumam-gumam, kau sedang berbicara dengan siapa?" tanyanya.


"Ha? Aku tadi menelepon dengan salah satu teman kuliahku."


"Sepagi ini?" Ucap Willy curiga.


"Ya, hanya bertanya mengenai beberapa tugas kuliah." Ucap Alyena mencoba bersikap tenang.


"Mm, Alyena? Aku ingin menanyakan sesuatu, apa kau pernah bertemu dengan Jafier?" Ucap Willy. Ucapannya seakan menuduh, tetapi itu hanya sebuah pertanyaan, Alyena tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, mengapa Willy tiba-tiba menanyakan soal Jafier?


Alyena tiba-tiba berhenti makan, dia lalu menatap Willy dengan berani. "Kak Willy, kenapa kak Willy tidak mengizinkanku bersama dengan Jafier? Mengapa kakak sangat membencinya."


Wilyy tiba-tiba mengangkat wajahnya, pertanyaan Alyena yang tidak di sangkanya membuatnya semakin curiga.


"Kau bertemu dengannya, sejak kapan?" Tatapan mata Willy yang tajam begitu jarang dia perlihatkan apalagi untuk Alyena yang di sayanginya.


"Apa kau tidak ingat apa yang terjadi denganmu ketika kau bersama dengannya, dia telah memaksamu, apa kau masih tidak ingat bagaimana perbuatannya?"


"Saat itu aku masih begitu tidak mengerti dengan perasaanku sendiri, kak Willy. Aku ...


Alyena mengambil napas dan berusaha memberanikan dirinya.


"Aku mencintai paman Jafier, aku ingin bersama dengannya." Ucap Alyena, matanya seolah tidak mau berpindah dari mata tajam William.


Suara batuk terdengar dari tangga, Audry yang baru saja keluar dari kamarnya untuk sarapan bersama mendengar pengakuan Alyena kepada Willy tanpa takut sedikitpun. Ucapan jujur Alyena membuat Audry berdiri mematung.


Rahangnya mengencang, ucapan Alyena membuat dirinya di sulut api kemarahan yang besar.


"Tidak ! kau tidak bisa Alyena, aku tidak akan mengizinkannya, aku masih tidak bisa menerima kenyataan kalau harus memaafkannya."


"Tapi aku sudah lama memaafkannya, aku sendiri saat itu tidak menyadari perasaanku, aku menginginkan Jafier, kakak harus merestui hubungan kami." Ucap Alyena menentang.


"William."


Suara itu membuat Willy shock ketika mendengar suara seorang pria yang baru saja turun dari tangga, dan jika di lihat, dia baru saja berbelok dari arah kamar Alyena.


Willy berdiri, wajah yang shock dan marah membuatnya seakan-akan dapat meledak kapan saja. "Kau ! Apa yang kau lakukan di rumahku." Bentaknya.


Matanya menatap Alyena tajam, lalu berpindah kepada Jafier yang segera turun dan mendekat tanpa takut sedikitpun ke arah Willy.


"Aku mencintai Alyena, aku sungguh mencintainya." Ucap Jafier, menatap wajah marah Willy.


"Kalian, apa kalian bersama selama ini di belakangku, kau telah bersama Alyena tanpa sepengetahuanku, kau membodohiku, Jafier." Desis Willy dengan tangan terkepal kuat.


"Aku memang bersalah kepada Alyena, tetapi aku sungguh sangat menyesalinya, apa kau tidak tahu bagaimana aku mencari kalian seperti orang gila selama berbulan-bulan? dan apa kau pernah memikirkan perasaan Alyena?"


Willy menggertakkan giginya, dengan kemarahannya dia memberikan satu pukulan ke wajah Jafier saat itu juga. Audry dan Alyena memekik, napas Willy naik turun karena amarah yang menyelimutinya. Alyena lalu berlari ke arah Jafier yang terjatuh di lantai dengan sudut bibirnya mengeluarkan darah.


"Jafier !" Alyena memegangnya. Tetapi bukannya marah, malah sebaliknya dia terkekeh ketika menerima pukulan William.


"Tentu saja pukulanku masih kuat, semua itu kupersiapkan untuk menanti hari seperti ini." Ucap Willy dengan hidungnya berhembus kasar.


"Alyena kemarilah !" Ucap Willy.


"Tidak, aku mau mengobati Jafier. Dia terluka gara-gara kakak." Penentangan Alyena membuat Willy marah.


Alyena menarik Jafier ke ruangan lain dan mengobatinya. Dia mengambil kotak obat lalu membersihkan darah yang masih ada di sudut bibirnya.


"Sakit?" Ucap Alyena.


"Perih, tetapi tidak sesakit itu, aku masih bisa menahannya." Jawabnya.


"M-maafkan aku, kalau aku tidak mengakui perasaanku, semua ini tidak mungkin terjadi." Ucap Alyena merasa sangat menyesal.


"Sebaliknya aku sangat bersyukur." Ujar Jafier.


"Kenapa?"


"Aku bosan main sembunyi seperti ini di belakang William seperti seorang pencuri, aku ingin dia mengetahui hubungan kita, bagaimanapun besarnya penentangan William mengenai hubungan ini, dia harus tahu, dan aku akan memastikan dia harus terima." Alyena tersenyum, dia memeluk Jafier dan menyandarkan kepalanya di bahunya.


"Meskipun kau belum mandi, tapi aku suka parfum yang tertinggal di bajumu." Ucap Alyena.


"Senang mendengarnya, setidaknya aku masih wangi meskipun baru saja bangun tidur."


Alyena terkekeh, dia masih menyandarkan kepalanya tanpa memperdulikan langkah sepatu semakin mendekat ke ruangan mereka. Dia membuka pintu dan melipat kedua tangannya.


"Time's Up, luka seperti itu tidak akan membunuhnya, Alyena. Sekarang berangkatlah ke kampus kau sudah sangat terlambat." Tegur Willy, menatap melotot mereka berdua yang saling berpelukan.


"Aku sudah terlambat setengah jam, bagaimana aku bisa masuk kuliah." Ucap Alyena dengan alasannya, dia masih memiliki waktu 15 menit sebelum perkuliahan di mulai.


"Pergilah Alyena, kau tidak boleh membolos hanya karena aku."


"Tapi ... bagaimana kalau kak William kembali memukulmu? dan kau tidak pernah membalasnya." Ucap Alyena.


Willy menyipitkan matanya. "Kau ingin aku terluka, Alyena?" Ucap Willy dengan mata membulat tidak percaya.


"B-bukan begitu maksudku, aku tidak ingin kalian saling berkelahi lagi."


"Aku tidak akan memukulnya, jadi sekarang kau harus berangkat."


"Aku akan berangkat ke kampus tetapi Jafier yang akan mengantarku." Ucap Alyena sambil memeluk lengan Jafier, dia sengaja memperlihatkan kemesraannya di depan Willy.


"Racun apa yang kau tanamkan di kepala Alyena, Jafier?"


Jafier hanya tersenyum membelai sayang kepala Alyena.


"Berhenti menguji kesabaranku dan segera berangkat." Ucap William.


Alyena menarik tangan Jafier. "Dia akan mengantarku kak Willy, jangan marah, karena kami pastikan tidak akan melakukan hal-hal yang tidak kau sukai."


William berdecak, dia sebenarnya tidak menyetujuinya tetapi dia hanya diam dan menyaksikan Alyena bermanja-manja dan sangat memperotek Jafier di hadapannya. Dia sengaja merentangkan tangannya di depan kakaknya ketika Jafier melewatinya.


"Berhenti bermain-main Alyena, atau aku akan berubah pikiran.


"Oky, kami pergi." Ucap Alyena, dia segera berlari-lari kecil menarik Jafier dan masuk ke dalam mobil Sportnya.


~


Wanita itu membasuh keringat yang mengalir di keningnya, dia telah tiba di tempat yang di beritahukan olehnya, mulai hari ini dia akan menjadi pelayan di Mansion tuan Kilian Regan, bukan hanya itu saja yang membuatnya senang, Nona Susan Richard yang langsung menyuruhnya untuk datang ke inggris di kota York, gadis itu berusia 19 tahun, dia dulunya bekerja sebagai pekerja di perkebunan anggur. Namanya Rudith Cassle, dia adalah teman Alyena sewaktu sama-sama memetik anggur, tetapi karena dia mengetahui tuan Regan menaruh perhatian kepada Alyena, kebencian pun semakin menggerogotinya.


Hal pertama yang di lakukan gadis itu ketika Alyena pergi adalah bersorak senang, dia merayakan kepergiannya karena dengan begitu, setidaknya satu saingan telah berkurang, dan dia bisa mengambil keuntungan mendekati tuan regan, tetapi sayang sekali, karena pada saat itu Kilian Regan malah pergi waktu itu juga ke Amerika dan itu membuat Rudith sangat kesal.


Dia berharap dengan kepergiannya ke inggris akan merubah nasibnya dan sedikit lebih dekat dengan Tuan Regan.


Dia menyeret koper besarnya dan mengambil taksi dan langsung menuju alamat yang di maksudkan, dia berharap nona Susan yang juga menyukai Kilian Regan tidak akan datang dengan cepat ke Negara ini, dia tahu kalau tuan Regan hanya menganggap Susan Richard teman belaka, Rudith berharap kesempatan besar akan segera menghampirinya.


Dia berada di dalam bus, matanya berkeliling menatap kagum semua bagunan indah dan bersejarah di kota ini, takjub dan terlihat terpesona dengan bangunan tua indah itu. Ingatannya tiba-tiba kembali kepada Alyena.


"Tch, Nalia menyuruhku untuk mencari keberadaan gadis itu, bagaimana caranya, dulu dia selalu mengatakan akan ke Amerika untuk mencari seseorang, entah sekarang bagaimana hidupnya, aku tidak peduli, dia pikir mencari seseorang di berbagai negara itu mudah? mana aku tahu dia berada di mana. Nalia ada-ada saja, dia mengkhawatirkan sesuatu yang tidak perlu." Ucapnya sinis.


Dengan jantung berdebar, dia sebentar lagi sampai ke Mansion Kilian Regan dan akan bertemu dengannya setelah berbulan-bulan lamanya.


"Apa dia masih mengenalku? apa dia ingat bahwa aku pernah bekerja di perkebunannya? Semoga dia mengingatnya, mungkin saja aku akan menjadi Cinderella berikutnya di abad ini." Ucap gadis itu dengan bahasa Jerman yang fasih.


***


"Willy dan aku akan berbicara di kantornya setelah aku mengantarmu." Ucap Jafier.


Alyena terlihat khawatir, hal itu membuat Jafier tertawa melihat ekspresi ketakutannya.


"Kau pikir aku tidak akan melawan jika aku di pukul, tentu saja aku akan membalasnya."


"Dua kali paman di pukul dan kau sama sekali tidak pernah melawan balik kak Willy." Ucap Alyena sambil menatapnya dan menyandarkan kepalanya di bahu Jafier.


"Itu semua karena aku sangat mencintaimu, aku tidak mau hubunganku dengan Willy semakin memburuk, lagi pula aku pantas di pukul saat itu, karena aku terlalu brengsek, wajar saja jika Willy memukulku dan aku berterima kasih untuk itu, agar aku kembali sadar."


"Mm, tapi apa yang akan kak Willy bicarakan denganmu? Apa dia akan melakukan sesuatu agar kau meninggalkanku dan pergi dariku?" Ucap Alyena tiba-tiba duduk tegak dan kembali terlihat khawatir.


"Aku sudah mengatakan kepadamu Alyena, bahwa aku tidak akan pergi atau membiarkan siapa saja menjadi suamimu selain aku, apapun yang Willy katakan aku tidak akan pernah meninggalkanmu, aku akan berusaha keras agar Willy merubah pola pikirnya dan menerimaku kembali."