Flower On The River

Flower On The River
Penculikan 3



Alex berdiri dengan waspada menatap pria dihadapannya, dia bersenandung lalu berjalan terpincang-pincang dan mendaratkan tubuhnya di sofa empuk, seringai mewarnai wajahnya ketika menatap alex dengan tatapan membunuh.


"Aku adalah Juan, kau pasti sulit untuk mempercayainya Alex, aku Juan Tevez".


Alex mengernyit tidak mengerti, apa yang dikatakannya betul-betul tidak masuk akal, tetapi alex tahu dengan pasti pria berwajah nick ini bukanlah sahabatnya nick.


"Kau tidak bisa menemui nick, dia sedang tertidur, dan akan selamanya seperti itu." Dia lalu tertawa merasa lucu dengan perkataannya sendiri.


"Apa maksudmu, Nick tertidur?" Kata alex yang masih berdiri waspada menatap Juan yang tengah santai mengetuk-ngetukkan jarinya di sofa.


"Apakah Nick tidak memberitahukanmu? Dia memiliki penyakit, pria lemah yang membutuhkan pertolonganku, dia tidak akan bisa bertahan sampai sekarang ini jika bukan karena keberadaanku."


"Kau...maksudku nick memiliki pribadi yang lain?" kata Alex heran, meskipun penyakit mental seperti itu sering kali di dengarnya tetapi mendengar langsung seperti ini membuatnya tidak percaya, tetapi kenyataannya memang seperti itu. Juan tersenyum miring.


"Kau bisa menyebutnya seperti itu, satu tubuh dengan dua jiwa yang berbeda." Dia lalu bersenandung kecil sambil menatap alex.


Dia sangat menikmati kebingungan di wajah pria ini, "Kau terlihat bingung alex, apakah kau masih bisa menerima nick dengan keadaannya yang seperti itu?" dia mendengus menatapnya.


"Kau tahu, dia sangat takut jika kalian mengetahui siapa sebenarnya nick, pria lemah yang akan berkubang dengan ketakutannya sendiri tanpa bisa melawan."


Alex masih belum bergeming, masih mendengarkan setiap perkataan Juan.


"Aku tidak ingin berbicara dengan pria sinting sepertimu, kembalikan nick ***." Kata Alex tajam.


Juan tertawa keras, "Dia akan tertidur lebih lama kali ini, dia begitu lemah dan pengecut." Alex menggeleng dia lalu berbalik pergi.


'Klak'.....


Tiba-tiba Alex menghentikan langkahnya, dengan terkejut dia berbalik sebentar menatap pria yang balas menatapnya dengan tajam.


Rahangnya bergerak-gerak, "Kau....! Seru alex, dengan segera alex meninggalkan tempat itu, dan tujuannya sekarang adalah pine street, tempat itu tentu sangat dikenalnya, jalan Pinus merupakan daerah di sekitar kediaman Collagher, dan dia hanya perlu memasuki hutan itu lebih dalam, dengan catatan kecil dibuku yang di lihatnya, 'Middle of the pine', di 'tengah-tengah hutan Pinus.'


Alex mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh, berharap semoga ruzy baik-baik saja.


~


Ruzy masih mencari jalan untuk keluar, cahaya dari luar sudah tidak tampak, kegelapan menyelimuti tempat itu, pohon-pohon bergoyang ditiup angin sehingga dahan-dahannya mengetuk-ngetukkan pada jendela kaca dikamar tempatnya di sekap.


Suara serangga malam dan burung hantu yang bersahutan membuat tempat itu terasa lebih menyeramkan, ruzy berdiri di dalam kegelapan, dia meraba-raba dindingnya yang dingin ingin mencari sakelar untuk menyalakan lampu, mencari-cari tombolnya tetapi tidak di temukannya juga.


Ruzy tidak ingin menangis tetapi air matanya jatuh begitu saja di pipi cantiknya. Dia terisak sesekali masih meraba-raba dalam kegelapan. Dia berdoa agar siapa saja dapat menolongnya.


Suara yang aneh membuat ruzy terkejut, tangisan yang begitu lemah tapi ruzy dapat mendengarnya dengan jelas, "Su..suara apa itu?" gumamnya.


Ruzy menempelkan telinganya di balik pintu kamar, dan suara itu terdengar lagi, "Suara itu seperti tangisan seorang wanita." kata Ruzy.


Dalam gelap ruzy memutar-mutar gagang pintu, dan pintu itu seketika terbuka, tempatnya begitu tua dan lapuk, hingga dengan cepat ruzy mengambil kesempatan keluar dari tempat itu.


Bangunan tua itu memiliki koridor panjang dan sempit, beberapa kamar tertutup yang gelap dilewati oleh ruzy, meraba-raba dalam kegelapan. decitan kayu yang diinjaknya membuat ruzy melangkah pelan, melewati koridor lalu mendapati tangga yang terbuat dari kayu.


Suara tangisan itu semakin lemah tapi masih didengar oleh ruzy, beberapa anak tangga membuat ruzy berhati-hati melangkah, pandangannya tidak begitu jelas, suasana yang menyeramkan di tambah kegelapan yang begitu pekat hanya sinar bulan dari sela-sela pepohonan yang masuk dari kisi-kisi jendela.


Ruzy melihat satu meja bundar di tengah ruangan, dan dapur meskipun kecil tetapi rapi dan bersih, dan lemari es yang menempel di dinding. Ruzy mencari apapun untuk menerangi tempat itu, akhirnya dia menemukan korek api, dia menyalakan meskipun tidak bertahan lama dan padam seketika.


Tangisan itu terdengar lagi, ruzy mencoba mendengarkan lebih jelas dan suara itu terdengar dari basemen dibawah. Meskipun begitu takut tetapi ruzy tetap mencari suara isakan itu, dan dia menemukan pintu kayu yang tertutup barang-barang dia mencoba menyingkirkan barang-barang itu.


suara mesin mobil berhenti di depan villa membuat ruzy begitu terkejut dia kemudian mencari tempat persembunyian yang aman, dia sembunyi di belakang beberapa kardus yang menumpuk dan perkakas yang tergeletak menumpuk sembarangan.


Dia masih memakai mantel panjang hitamnya tanpa membukanya. Ruzy mengintip dari sela-sela kerdus melihatnya sedang sibuk mengerjakan sesuatu hanya punggung bagian belakangnya dapat terlihat.


Dia lalu bersenandung dan bernyanyi dengan pelan, 'Wise man say only fool rush in, but i can't help falling in love with you, shall i stay? would it be a sin, if i can't help falling in love with you?


"Bukankah begitu ruzy? bukanlah sebuah dosa jika aku jatuh cinta?"


Suaranya yang berat membuat ruzy terkejut, dia mengetahui jika ruzy bersembunyi di belakang kardus-kardus itu ! Ruzy sangat takut dia tidak beranjak dari tempatnya sembunyi, pria itu berbalik dan menurunkan mantelnya dan wajah yang ruzy lihat membuatnya sangat terkejut. "Nick?" gumam ruzy pelan.


Dengan bodohnya ruzy keluar dari tempat persembunyiannya, dia tersenyum miring pada ruzy, tetapi ada sesuatu yang aneh dari Nick, tatapan matanya pada ruzy sangat berbeda.


"Nick, apa yang....". Gumam ruzy menatapnya tidak percaya.


"Juan ! sudah kubilang panggil aku Juan, ruzy sayang." suara seraknya membuat ruzy merinding.


"Juan?? apa maksudmu? kau..kau nick ! na....namamu nick." Kata ruzy dengan tubuh gemetar ketakutan. Dia terkekeh, tidak usah kau pedulikan tentang Nick, yang berhadapan denganmu sekarang adalah aku, Juan Tevez."


~


Puluhan pria dengan berpakaian hitam sedang berkeliling di mansion itu, menunggu perintah dari Roger.


"Bagaimana hasilnya? sudah kau temukan?" tanyanya, seorang pria memperlihatkan rekaman CCTV dari depan mansion itu.


"Rekaman ini saya temukan setelah saya mengecek semua rekaman yang ada di CCTV sir". Ucap pria itu.


Roger melihat seorang pria dengan mobil Fortune sedang memperhatikan mansion itu sudah begitu lama. "Perbesar gambarnya", pinta roger. Dan wajah dokter max seketika terpampang jelas berikut dengan nomor kendaraannya.


Roger kemudian mencari tahu siapa pria itu, dan dengan cepat informasi dokter max dapat diketahuinya. Ia kemudian mendapatkan nomor ponselnya kemudian melacak keberadaannya.


Dengan segera Roger memerintahkan orang-orangnya melacak dimana dokter max dan mereka pergi dengan beberapa mobil yang berdecit dengan kecepatan penuh.


~


Dia melepas mantelnya, memiringkan kepalanya merekam sosok wanita yang berdiri dihadapannya. "Kau sangat cantik Ruzy." gumamnya.


"Kau tidak ingat? aku selalu berkunjung hanya untukmu ruzy ketika kau sedang terbaring di kediaman Collagher, meskipun aku hanya berada di depan pintu kamarmu, aku selalu memanggil namamu, kau tidak ingat? itu kenangan termanis kita sayang."


Ruzy menggigil ketakutan, pria ini gila..mengapa nick yang begitu baik padanya bisa seperti ini? dia bukan nick yang dikenalnya, dia seperti orang lain meskipun wajahnya sama.


"Ruzy? kau mendengarku sayang?"


Ruzy sontak mundur meskipun dibelakangnya hanya dinding yang dingin.


"Menjauh dariku ! teriak ruzy ketakutan, dia gemetar hebat. Dia melengkungkan mulutnya, tanpa sedikitpun jeda Juan menatap ruzy yang berdiri tidak jauh darinya, kakinya melangkah mendekati ruzy.


"Kini, tidak ada yang menghalangi kita untuk bersama sayang." kata juan dengan suara serak.


Ruzy ketakutan, Juan kini berdiri dihadapannya, dia memerangkap ruzy dengan kedua tangannya, ruzy mencoba mendorongnya tetapi Juan menyambar pergelangan tangan ruzy dan membawanya ke bibirnya.


Ruzy menarik kembali tangannya tapi dengan kuat Juan menahannya, lalu mengecup jari-jarinya satu persatu.


"Malam ini kau akan menjadi milikku ruzy." Bisiknya dengan gumaman kecil bernafsu.


"Dalam mimpimu Juan!"


Juan berbalik mendengar suara seorang pria, dan Alex sudah berdiri dibelakangnya lalu menghantamkan wajahnya dengan balok kayu.