
Ruzy berlari diantara pepohonan mengambil kain-kain yang hampir kering itu, tetapi kini telah basah karena tiba-tiba saja hujan turun begitu deras. Bibi Emy tidak bisa bersama dengan Ruzy mengangkat cucian-cucian itu karena penyakit punggungnya kambuh lagi.
"Ugh harusnya aku mengambilnya selagi mendung tadi." Ruzy mengangkat kain besar itu lalu menaruhnya di keranjang besar,
Bajunya sudah basah karena tidak bisa mengangkat kain-kain dengan cepat, gemuruh terdengar dari arah hutan, meskipun masih siang tetapi cuaca begitu mendung sehingga terasa gelap, di tambah pepohonan di dekat hutan.
Suara gemericik dari arah hutan, membuat Ruzy berbalik, suara itu semakin mendekat di sela-sela rimbunnya tanaman berry dan pohon Pinus.
"Halo?" teriak ruzy di sekitar hutan.
'Klak....klak...klak....'.
Suara aneh itu berasal dari dalam hutan, Ruzy masih terdiam kehujanan sambil melihat kearah hutan.
"Apa kau gila ruzy, mengapa kau terdiam di tengah hujan deras ini?"
Suara serak dan berat menyadarkannya, dia memandang Alex yang membantu ruzy mengambil cucian-cucian yang sudah basah dan melemparkannya di keranjang.
"Ayo cepat, sebelum kau terkena demam." Teriak Alex sambil mengangkat cucian berat yang dipegangnya sambil berlari.
'He..he.. Klak..klak..Suara itu membuat ruzy berbalik sebentar, lalu dengan cepat mengikuti Alex.
Ruzy membuka kamarnya mencari handuk dan matanya membelalak menatap Alex yang mengeringkan tubuhnya di kamarnya. Mengapa dia ada di sini?
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya ruzy dengan nada jengkel.
"Apa kau tidak tahu, kalau nanti aku akan mendapat kesulitan jika seseorang memergokimu di sini?" Dengan cepat Ruzy mengambil handuk dan menutupi bagian depan bajunya yang basah.
Alex hanya tersenyum miring lalu tetap mengeringkan tubuhnya.
"Tenanglah sayang, orang-orang sedang sibuk di ruang tengah, sepertinya ellena membuat keributan, kau tidak perlu khawatir ruzy." Dia menundukkan sedikit kepalanya lalu mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Bisakah kau sedikit menolongku, mengingat bantuanku tadi?" dia menatap ruzy yang masih berdiri membeku di depan pintu kamar.
Dengan ragu ruzy berjalan mendekati Alex lalu mengambil handuk dari tangannya, dengan lembut dia mengeringkan rambut Alex yang sedikit menunduk padanya.
"Tidak bisakah kau memakai bajumu? em...tu tubuhmu sudah cukup kering Alex."
"Kenapa Ruzy? apakah kau merasa terganggu jika aku tidak memakai pakaianku?" dia sedikit tersenyum menatap Ruzy yang sedikit berjengit.
"Em bukan..kau akan masuk angin kalau kau tidak memakai bajumu." Alex kini berdiri menghadapi Ruzy yang masih basah, lantai kamarnya sudah lembab dan basah karena rintisan dari bajunya. Alex menatapnya, rambutnya yang basah tidak teratur kulit putihnya memerah karena air hujan, dan Bibirnya yang merah karena seringnya di gigit oleh Ruzy.
"Ehm..gantilah bajumu Ruzy sebelum aku tanpa sadar menyerangmu." Sontak Ruzy terkejut melangkah mundur dan berlari ke lemari mengambil pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi. Alex terkekeh melihatnya, dia sangat senang jika menggodanya seperti itu membuatnya merona.
Suara ketukan dan teriakan dari luar kamar ruzy membuat alex tanpa ragu masuk kedalam kamar mandi untuk bersembunyi, untung saja ruzy masih berlama-lama di kamar mandi sehingga belum sempat membuka seluruh bajunya. Mata ruzy terbelalak.
"Apa yang kau lakukan di sini...." Alex menutup mulut Ruzy dengan tangannya, "Jangan berisik Ruzy sepertinya bibimu masuk ke dalam kamarmu."
Terdengar engsel kamar mandi bergoyang, mata ruzy membulat, tangan Alex tetap di mulut ruzy, dia memeluk ruzy dari arah belakang dan bersandar di tembok.
"Ruzy apa kau di kamar mandi? Suara bibi Emy bergema, alex melepaskan tangannya, lalu ruzy dengan sedikit teriak dan menyalakan keran air di kamar mandi.
"Aku di kamar mandi bibi sebentar lagi aku akan ke dapur."
"Baik bibi."
Lalu terdengar suara pintu yang menutup, napas ruzy menjadi lega, tetapi tidak untuk alex, napasnya menjadi berat, tubuhnya terasa keras, ruzy berbalik dan mencoba melepaskan pelukan alex terhadapnya. Tanpa disadarinya ruzy lupa menutupi tubuhnya bagian depan sehingga lekuk tubuhnya dengan jelas dapat terlihat.
"Berhenti bernapas seperti itu alex, kau membuatku takut, em...aku akan mencarikanmu baju mungkin ada cucian yang kering yang bisa kau gunakan."
Ruzy berbalik membelakangi alex tetapi dengan cepat alex menarik tubuhnya dan menariknya kedalam pelukannya, dia mengangkatnya ke tembok yang dingin dan dengan cepat menyerang bibir ruzy. Alex mendorong keras ruzy ke tembok.
"Alex...lepaskan aku, bibi menungguku." Tangannya mencengkram tangan Ruzy menghimpitnya diantara tembok di tangan besarnya.
Suara decakan dan ciuman alex menggema di kamar mandi membuat ruzy mengeluarkan suara mengeluh kesakitan, bibirnya masih sakit.
"Alex....Alex ber.. berhentilah". Alex menghentikan kecupannya lalu memandang ruzy, bibirnya kini membengkak. "Damn ruzy kenapa kau begitu menyiksaku"?
Ruzy mendelik menatapnya, "Bukankah kau yang menyiksaku, kau terus memaksaku dengan ciuman brutalmu itu, bodoh". Alex tertawa kecil.
"Bodoh? kau mengatakan aku bodoh, sayang? Jangan salahkan aku kalau begitu". Tanpa sadar Ruzy menerima serangan dari Alex ke tubuhnya, membuatnya meremang dan napasnya menjadi cepat.
"Lepaskan aku Alex, please....". Ruzy tidak bisa lagi menerima ciuman Alex yang membuatnya mendesah.
"Jadi...kau masih mengatakan aku bodoh"?bisiknya di tengkuk Ruzy.
"Ti...tidak..tidak lagi, berhentilah kumohon."
Alex menghentikan ciumannya lalu menatap ruzy yang tidak bisa lagi berdiri dan akan terjatuh jika Alex tidak memegangnya, baju ruzy sudah tidak berbentuk dan robek di sana sini.
"Cepatlah berpakaian ruzy, sebelum aku mengubah keputusanku menyerangmu kembali."
Alex lalu berbalik dan keluar dari kamar mandi, napas ruzy masih memburu, tubuhnya terasa hampa setelah dilepaskan oleh Alex. Tubuhnya meluncur ke bawah dia terduduk di kamar mandi lalu menutup wajahnya.
~
"Damn,...sial! Aku hampir saja melakukannya."
Alex memandang kaca besar dari kamarnya, menatap hujan deras dari jendela kamarnya, memikirkan wajah polos ruzy ketika ciumannya mendarat di tubuhnya, membuat alex mengumpat beberapa kali kemudian dia mandi air dingin untuk menghilangkan wajah ruzy yang mendesah padanya.
~
Wanita bernama Cendy melihat semuanya dari arah hutan pemandangan yang membuatnya betul-betul marah dan terkejut. Dia berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya di tanah.
"Dasar pelayan rendahan berani sekali dia menggoda Alex, jalang itu tidak tahu tempatnya."
Dia mengomel sepanjang jalan, tanpa memperdulikan derasnya air hujan yang membasahinya.
"Lihat saja apa yang akan di katakan nyonya Collagher jika dia mengetahui hal ini, dasar wanita jalang."
'Klak....klak.....klak....., Suara itu berasal dari dalam hutan, Cendy menghentikan langkahnya menatap semak belukar yang bergoyang, 'Klak....klakk...suara itu semakin mendekat padanya.
"Siapa di sana, halo...?" 'he..he..klak klak..'.
Cendy berjalan mendekat, matanya terbelalak menatap seseorang dengan mantel hitam, suara jeritannya membuat orang itu tertawa bengis, 'he..he..klak klak....seketika jeritan Cendy menghilang di kegelapan hutan dan derasnya hujan serta gemuruh...