Flower On The River

Flower On The River
Vol 42



Alyena mengintip kepada Willy, mencoba membaca reaksinya, tetapi dia terlihat biasa saja, dia bersikap normal, tanpa curiga sedikitpun. Willy tiba-tiba menatapnya.


"Kau ingin mengatakan sesuatu?" Tanyanya.


"Ha? T-tidak, aku hanya ingin kak Willy mengantarku ke kampus hari ini." Ucap Alyena.


Willy mengernyitkan alisnya, "Tumben, kau ingin di antar, biasanya kau lebih suka menyetir sendiri." Alyena berpikir dengan cepat, "Aku biasanya kesulitan mencari tempat parkir di kampus, jadi aku ingin di antar hari ini dan Clara akan mengantarku pulang sebentar." Ucap Alyena sambil menggigit sandwichnya, matanya menatap tangga atas di belakang Willy.


"Kau kesulitan mendapatkan tempat parkir? Bukankah mereka mempunyai tempat parkir yang cukup besar dan luas di kampus itu? bagaimana jika aku membuatkan tempat parkirmu sendiri, jadi kau tidak akan kesulitan untuk memarkir mobilmu."


"Tidak ! tidak usah kak Willy, aku...aku hanya ingin di antar olehmu hari ini, jadi sebaiknya kita bergegas sebelum aku terlambat.


"Mm, oke." Ucap Willy, dia masih memikirkan ucapan Alyena mengenai tempat parkir. Alyena sedikit berbalik ketika mereka sudah berada di luar pintu, dia lalu bergegas masuk ke dalam mobil Willy dan duduk dengan jantung berdebar, dia memikirkan bagaimana Jafier dapat keluar dari sana dengan penjagaan yang ketat dan cctv berada di mana-mana.


***


Pintu kamar terbuka, dengan cepat Jafier keluar dari sana, seorang pria membantunya keluar dari sana dengan mengenakan seragam pelayan, dia dengan mudah mengakses tempat keluar masuknya penthouse milik Collagher.


"Tuan, saya sarankan jangan dulu datang kemari untuk beberapa saat, anda terekam di cctv semalam dan pagi ini, saya akan berusaha menghapusnya, apalagi sistem keamanan tuan Willy begitu ketat."


"Ok, aku tunggu kabar berikutnya kapan aku bisa kemari lagi."


"Baik tuan."


Jafier akhirnya dapat keluar dengan bantuan pelayan itu, dia adalah pelayan yang bekerja di bagian informasi, sewaktu di Seattle pria itu bekerja sebagai pengawal Jafier, tetapi dia menyuruhnya untuk bekerja sebagai pengawal di keluarga Collagher dengan menyembunyikan data-datanya yang asli.


***


Alyena mendaratkan bokongnya di rerumputan setelah selesai perkuliahan, dia menghembuskan napasnya lalu bersandar di bahu Clara.


"Ada apa Al, sepertinya kau membawa beban yang berat."


"Mm tidak juga, hanya saja jantungku tidak bisa berhenti berdetak, seakan-akan aku akan kena serangan jantung kapan saja." Alyena mengambil minuman botol dan meneguknya.


"Apa kau melakukan sesuatu yang akan membuat kak Willy akan meledak?" Tebak Clara. Alyena hanya mengangguk.


"Binggo, tadi malam aku membawa Jafier masuk ke dalam kamarku dan kami...


"Dan kami...??" Ucap Clara tiba-tiba memegang bahu Alyena menatapnya sambil melotot.


"Kami hanya bercerita dan tidur, apa yang kau pikirkan Clara? apa otakmu sudah di racuni oleh Nick? Oh ya, jangan beritahu Nick cerita ini, bisa-bisa dia nanti keceplosan kalau berbicara dengan kak Willy." Ucap Alyena.


"Tentu saja tidak. Aku tidak akan menceritakan rahasia penting kepadanya, dia kan si pengacau." Clara lebih penasaran dengan cerita Alyena di bandingkan dengan bercerita mengenai Nick, yang sampai saat ini dia belum selesai juga.


"Bagaimana bisa kalian bertahan hanya berbicara berdua saja di dalam kamar? bukan hanya itu saja kan, tentu saja kalian pasti berciuman." Ucap Clara lugas.


"Terus, bagaimana dengan kak Willy, apa dia tidak curiga sedikitpun?"


"Menurutku tidak, aku harus memeriksa semua cctv, mungkin saja dia terekam dan tidak menyadarinya.


"Kapan rencana Jafier untuk berbaikan dengan kak Willy? Apakah dia akan mendapatkan kesempatan untuk memaafkannya?" tanyanya.


"Jika kak Willy masih keras kepala, aku yang akan bicara kepadanya, aku akan jujur kepadanya dan dia harus merestui hubungan kami." Ucap Alyena dengan mantap.


***


"Kau tidak membawa mobilmu Al?" tanya Clara ketika mereka akhirnya akan pulang. Alyena menggelengkan kepalanya.


"Tentu saja tidak, pagi itu aku sangat panik dan aku ingin kak Willy segera pergi dari penthouse agar Jafier bisa keluar dari sana dengan cepat."


"Jadi sekarang kau ingin pulang?"


"Sedikit bosan kalau pulang secepat ini, apalagi Kak Audry sepertinya belum kembali dan kak Willy akan tiba malam nanti." Mereka berjalan menuju ke mobil Clara dan mereka berdua akan masuk ketika seseorang memanggilnya.


"Hello girls, perkenalkan namaku Wanny, kalian tidak mengenalku? Aku bersama dengan kalian di ruangan yang sama pagi tadi, kalian tidak ingat?" Ucap gadis berkacamata itu.


"Maaf jika kau tidak terlihat oleh kami, ada apa?" Tanya Clara.


"Kalian mau datang ke party yang di adakan sebentar malam di salah satu Club tidak jauh dari kampus kita. Aku mengundang kalian, bagaimana?" Ucap wanita itu antusias.


"Memangnya party apa? soalnya kami tidak akan pergi jika itu hanya prank konyol, meskipun kami ini mahasiswa baru tahun ini, tapi jika ini sebuah cara membodohi kami, kau harus bersiap angkat kaki dari kampus ini."


Alyena dan gadis bernama Wanny menatap ke arah Clara dengan tidak mengerti. "Kenapa dia harus angkat kaki, Clara? aku tidak mengerti." Ucap Alyena.


"Tentu saja, karena Universitas ini milik Grandpaku, jadi aku paling benci mereka yang melakukan prank gila atau sesuatu yang konyol untuk mengerjai mahasiswa baru dengan mengandalkan kata senior dan junior." Ucap Clara sambil memutar bola matanya.


Tiba-tiba saja wanita itu mundur pelan-pelan, dia lalu berjalan dan meninggalkan mereka berdua dan mengurungkan niatnya untuk memanggil mereka ikut berpesta.


Alyena menatapnya dengan kagum sambil menautkan kedua tangannya. "Cool, Clara. Aku tidak tahu kalau Universitas terkenal ini milik kakekmu." Ucap Alyena masih terpaku menatapnya.


"Kau bercanda ya? tentu saja bukan, kakekku hanya seorang pengusaha barang elektronik, aku tidak segila itu untuk membeberkan kepada orang-orang jika aku cucu dari pemilik Universitas ini." Mereka lalu masuk ke dalam mobil. Alyena masih menatapnya bingung.


"Itu hanya lelucon Alyena, agar mereka bisa pergi dan meninggalkan kita, aku sudah melihat korban-korban mereka yang datang ke party gila itu, aku tidak segila itu menuruti kemauan mereka."


"Meskipun begitu kau hebat, wanita tadi ketakutan, meskipun kau berbohong." Ucap Alyena lalu tertawa sambil menggelengkan kepalanya.


"Jadi, bagaimana jika kita pergi ke pesta yang sebenarnya." Ucap Clara sambil menaikkan alisnya.


"Kedengarannya menyenangkan, bagaimana jika kita menelepon Nick?"


"Sebenarnya ide bagus jika kita memanggilnya, tapi dia selalu berbuat rusuh, pengacau di berbagai acara pesta, tapi cukup menarik mengundangnya, pestanya akan semakin meriah." Ucap Clara menyetujui.


Malam itu mereka memutuskan pergi ke sebuah Club, Alyena telah menelepon Nick, dan jam 7 tepat mereka akan berangkat. Alyena berdandan di rumah Clara tentu saja. Alyena mengenakan dress Clara berwarna hitam tanpa lengan dengan rok mini kecil yang memperlihatkan segala lekukan tubuhnya.


"Nick sudah datang saatnya kita berangkat, berhenti memandangi dirimu di cermin kau terlihat wow, jadi ayo kita berangkat." Clara menarik tangan Alyena dan segera menuju ke mobil Nick.


Nick memutar musik dengan super keras dan bernyanyi gila-gilaan di dalam mobil. "Stop bertindak gila Nick, ini belum saatnya." tegur Clara.


Sekitar 15 menit perjalanan, mereka akhirnya tiba di Club night, mereka memarkirkan mobilnya dan segera keluar.


"Lihat, tidak begitu banyak orang bukan?" Ucap Nick, mereka semua menatap Club super mewah yang ada di kota York, hanya orang-orang penting saja yang memiliki akses masuk dan tentu saja uang yang banyak, karena untuk menjadi member di club ini mereka harus mendaftar dulu sebelum memasukinya.


"Kau bercanda kan Nick, hanya orang tertentu saja yang di bolehkan memasuki Club ini, bagaimana kita bisa masuk?" Ucap Clara. Apalagi di seberang sana di penuhi antrian.


"Easy, ikuti saja aku, dan kalian akan masuk dengan mudah." Nick berjalan santai menuju ruang masuk Club melewati antrian panjang, dan mereka yang mengantri tampak protes.


"Apakah Nick sadar apa yang dilakukannya?"


"Ikuti saja dia, kalau mereka melarangnya masuk, kita akan meninggalkannya dan kembali ke mobil." Ucap Clara.


Sesampainya Nick di depan dua pria berbadan besar, dia mengatakan sesuatu dan tidak di sangka mereka menunduk kepada Nick dan akhirnya membiarkan mereka bertiga masuk.


"Siapa kau Nick? Apa yang kau katakan kepada mereka sampai mereka membiarkan kita masuk." Ucap Clara sambil menyilangkan kedua tangannya dan menatap punggung Nick yang berjalan di depannya.


"Aku hanya menanyakan kabar mereka, lalu dia membiarkan kita masuk."


"Kau pikir aku akan percaya?" Ucap Clara. Alyena hanya diam mendengar pertengkaran mereka, yang mana sering mereka lakukan jika bertemu.


"Ayahku pemilik Club ini." Ucapnya.


"Wow, benarkah itu Nick?" Ucap Alyena.


"Sudahlah jangan membahasnya lagi, kita masuk dan aku akan lihat bagaiamana kalian bersenang-senang." Mereka memasuki ruangan luas, suara musik terdengar memekakkan telinga dengan musik yang mengundang orang untuk berdansa.


"Ayo, kita berdansa." Teriak Nick menarik Alyena dan Clara, dia kemudian berdansa dengan lincah. Alyena hanya menertawakan kekonyolannya, dia terlihat aneh dengan aksinya di atas lantai dansa. Sementara Alyena dengan kikuk berdiri di sana hanya bertepuk tangan dan menatap Nick.


Clara tidak mau kalah, dia berdansa dengan menggoyangkan tubuhya dan meliukkannya, dia tampak seksi dan menawan. Melihat Alyena hanya bertepuk tangan, keduanya menarik tangannya memaksanya untuk bergoyang. Alyena mengikuti irama musiknya dan menggoyangkan tubuhnya bersama teman-temannya. Mereka bertiga tertawa bersama-sama sambil melompat-lompat menguasai lantai dansa.


~


"Apa berbincang di sini mengganggu anda tuan William." Ucap salah seorang pria yang duduk di sebelahnya, setelah rapat, Mr Wedny mengajak mereka semua ke Club miliknya malam itu, Mr, Wedny adalah ayah dari Nick, dia juga salah satu rekan bisnis William dan Jafier.


"Silahkan lewat sini, saya akan membawa anda ke privat room supaya kita bisa berbincang dengan nyaman disana tanpa mendengarkan musik yang keras di luar sini, tuan William, anda baik-baik saja?"


Willy berdiri di sana sambil memandang seseorang yang menari dengan liar di lantai dansa, semua rekan bisnisnya mengikuti arah pandang William.


Melihat wajah pucat William, ayah Nick membelalakkan matanya ketika melihat putranya sedang berdansa berputar-putar dengan dua orang gadis.


Kilian Regan juga ada di sana memperhatikan Alyena yang berdansa dengan teman-temannya, dia terlihat liar, cantik dan mempesona, dia tersenyum melihatnya, matanya tajam memperhatikan setiap gerakannya dan gaunnya yang sengaja mempertunjukkan lekukan tubuhnya.


William berjalan ke lantai dansa dengan langkah besar-besar, dia memegang pundak Alyena dari belakang, tiba-tiba saja Clara dan Nick berhenti bergoyang, keduanya memperlihatkan wajah horor ketika melihat siapa yang berada di belakang Alyena.


"K-kabur." Ucap Nick.


"Sudah terlambat bodoh, sekarang kita tidak bisa kemana-mana." Ucap Clara telah siap dengan vonis dari kakak Alyena.


~


Alyena tidak menyangka jika William akan datang ke tempat seperti ini juga, harusnya dia tahu tempat VIP seperti ini biasanya di datangi dan di peruntukkan oleh para pengusaha-pengusaha untuk menghabiskan waktu mereka.


*Sial, harusnya aku mengabaikan ajakan Clara dan segera kembali ke penthouse dan menunggu Jafier di sana dan kami bisa bermesraan saja*. Gumam Alyena.


Willy mengambil napas dengan tajam, mereka memasuki ruang Club khusus yang di sediakan oleh ayah Nick untuk mereka semua, meskipun Nick tidak mau masuk dan memaksa untuk keluar dari ruangan itu, tetapi ayahnya mendorong putranya masuk ke dalam, agar dia juga mendapat omelan dari Willy.