Flower On The River

Flower On The River
Alex vs Max



Terdengar kicauan burung di jendela kabin yang bersampingan dengan pohon-pohon yang merambat. Cahaya matahari menerangi kabin di sela-sela kayunya, Sosok mereka berdua tertidur saling berpelukan di bawah selimut, ruzy merasa hangat di seluruh tubuhnya, pelukan Alex yang melingkari tubuhnya membuatnya sulit bergerak, mata ruzy sedikit demi sedikit terbuka, lalu mendapati wajah tampan tengah tertidur di hadapannya.


Hembusan napasnya yang hangat menerpa wajahnya, Mata ruzy membelalak lalu matanya menatap tangannya yang memegang dada telanjang Alex sambil menyembunyikan wajahnya di sana.


Kulit Ruzy yang putih memucat, dengan perlahan dia menepiskan tangan Alex yang memeluknya, lalu menatap dirinya, apa yang terjadi semalam?? Ruzy lalu mengingat-ingat kejadian semalam.


~Flashback


Ciuman Alex yang begitu panas membuat ruzy menjauh darinya, apalagi setelah Alex mengatakan bahwa dia menginginkan ruzy, perlahan ruzy menjauhkan tubuhnya dari Alex tapi dengan cekatan alex menarik tangan Ruzy lalu kembali menciuminya.


Tidak tahu berapa lama Ruzy berada di dekapan Alex yang menyerangnya membabi buta, lalu tidak lama kemudian Alex tersadar, ia mendengar isakan Ruzy yang berada di bawahnya.


Dengan terkejut dia melihat Ruzy yang menangis melindungi tubuhnya yang tidak tertutupi, bajunya sudah tidak berbentuk lagi akibat serangan Alex, dengan cepat Alex mengambil selimut dan menutupi tubuh Ruzy.


Dia kemudian melepaskan bajunya sendiri dan menyuruh Ruzy untuk memakainya. Dengan terisak Ruzy membentak Alex menyuruhnya pergi dan berbalik.


"Jangan berbalik brengsek." Bentaknya, setelah memakai kemeja Alex yang kebesaran, Ruzy menutupi dirinya dengan selimut lalu menjauh dari alex.


Alex mengacak rambutnya, dia sama sekali tidak menyadarinya. "Berhenti menangis Ruzy, aku....aku begitu menginginkanmu jadi aku..."


"Berhenti bicara, aku tidak ingin mendengarnya, aku membencimu !!" teriak Ruzy.


Alex menutup matanya, Rahangnya terkatup rapat, "Benci? kau membenciku atau tidak, kau tetaplah milikku Ruzy, hal itu tidak akan berubah!"


"Kau pria brengsek Alex." sambil terisak di selimut yang menutupi tubuhnya.


Ruzy yang mengantuk di sela-sela isakannya masih terduduk di dekat perapian, Alex memandanginya, dengan menggertakkan giginya dia menarik ruzy berbaring di pelukannya, ruzy yang sudah tertidur lalu bernapas tenang dan dalam di pelukan alex, beberapa lama alex menatap wajah ruzy yang tertidur dia mengecup keningnya dan diapun tertidur sambil memeluk ruzy.


•••


Ruzy menatap kemeja yang kebesaran yang dikenakannya, dia sedikit bergerak ingin mencari baju atau apapun yang bisa dikenakannya di kabin itu. Kemeja alex tidak bisa menutupi seluruh tubuh ruzy, jadi dia memakai selimut mengelilingi ruangan itu.


"Kau mencari sesuatu sayang?" Alex yang terbangun dari tadi menatap gerak gerik Ruzy yang mencari sesuatu.


Ruzy terkejut, dan membelalak menatap Alex yang bertelanjang dada sudah berdiri di hadapannya dengan celana hitam panjang yang menggantung di pinggulnya.


"Carilah di lemari itu, Ellena biasa menyimpan pakaian musim panasnya ketika berlibur kemari". Ruzy melotot menatapnya, "Ellena?" bisiknya.


"Dia adikku Ruzy, kau tidak perlu khawatir aku tidak tertarik pada wanita lain selain dirimu."


Wajah Ruzy yang merah berpaling mendengar ucapan Alex. Ruzy menemukan t-shirt biru laut bergambar pantai Miami dan jeans hitam yang kelihatan pas di tubuhnya.


Dia kemudian menggantinya di kamar mandi dan terheran-heran menatap tubuhnya yang dipenuhi warna kemerahan seperti luka, pria brengsek itu, apa yang dia lakukan padaku semalam? apakah dia....? tetapi aku tidak merasakan sakit apapun di bagian tubuhku. Ya, tidak terjadi apapun saat itu aku menangis dan alex menghentikannya.


Alex membuka kabin itu dan menghirup udara segar, kemudian dia mengingat kejadian semalam, dia mengacak rambutnya, jika saja Ruzy tidak terisak malam itu, aku akan melakukannya dan memilikinya.


Suara pintu yang dibuka membuat Alex berbalik menatap Ruzy dengan pakaian Ellena di tubuhnya yang sangat pas dan cocok, dia sangat cantik, apapun pakaian yang dikenakannya.


Ruzy tidak mau memandang Alex, dia malu dan marah mengingat kejadian semalam. Alex berjalan dan berdiri dihadapan ratusan. "Kau baik-baik saja?" Alex lalu menatap di sekitar leher Ruzy yang berwarna merah, dia kemudian mengacak rambut hitamnya.


"Kau ingin pulang sekarang?" tanyanya.


~


Dokter max berada di dalam mobilnya di depan kediaman keluarga Collagher, lalu matanya menatap mobil hitam mewah milik Alex, dia keluar dari mobilnya dan menghalangi mobil Alex. Mobil itu berhenti, Alex dan Ruzy keluar dari mobil.


"Halo tuan Alex", mata birunya menatap Ruzy yang menunduk. "Kalau boleh aku tahu mengapa nona Ruzy bersamamu?"


Alex tersenyum miring, "Ruzy bersamaku semalam, ada apa dokter max." Dokter max menatap Ruzy dan menatap sekeliling lehernya yang merah kebiruan, Dia melangkah lalu mengambil tangan ruzy dari alex.


"Dia datang bersamaku dan sebaiknya dia juga pulang bersamaku aku tidak ingin bibinya khawatir." Suara dokter terdengar dingin.


Wajahnya terlihat marah, dengan spontan Alex memegang tangan dokter max. "Menurutmu apa yang kau lakukan sekarang?" kata Alex dengan mata melotot.


"Ruzy tanggung jawabku, aku yang membawanya ke pesta, dan sebenarnya apa yang kau lakukan padanya?" dia lalu menatap sekitar leher Ruzy yang memerah. Ruzy hanya tertunduk karena merasa malu dihadapan dokter max.


Dia menarik paksa tangan ruzy dari Alex dan segera membawa ruzy ke mobilnya. Alex tidak tinggal diam begitu saja, wajahnya yang memerah seketika menarik dengan keras tangan ruzy.


"Lepaskan aku Alex." Teriak Ruzy padanya.


"Lepaskan dia tuan Alex, kau menyakitinya." Kau seharusnya memikirkan posisi Ruzy ketika tiba di kediamanmu, dan posisimu sendiri, kau pasti mengerti maksudku tuan Alex"!


Alex masih melotot mendengar kata-kata dokter max, dia sadar posisi ruzy ketika dia tiba di rumahnya nanti. Dengan terpaksa dia melepas tangan ruzy dan membiarkan dokter max membawanya. Ruzy naik ke dalam mobil dokter max tanpa mau memandang alex.


"Kita pergi ruzy." kata dokter max masih menatap Ruzy yang tertunduk.


"Tidak apa-apa kan, jika kita ke rumahku? kau harus menghilangkan, er.. sesuatu di lehermu itu." Dengan gelagapan ruzy memegang lehernya dan menutupi dengan tshirtnya yang ditariknya dengan paksa ke leher.


Mereka tiba di rumah dokter max, rumah berwarna putih di penuhi dengan berbagai macam tumbuhan yang tertata rapi, tumbuhan yang bersulur-sulur melekat erat diatas kanopi sehingga sulurnya jatuh menjuntai dengan cantik.


"Masuklah Ruzy aku akan mencarikanmu pakaian yang lebih pantas dari baju itu." Ruzy hanya mengangguk menurut, dia duduk di ruang tamu yang sangat rapi dan asri dengan banyak foto keluarga dokter max yang tergantung di dinding. Beberapa foto yang sudah tua memperlihatkan keluarga dokter max sewaktu kecil.


Dia membawa dress panjang berwarna putih dan biru yang sangat indah, "Pakailah ini."


Ruzy mengambilnya dengan canggung. "Em..gunakan saja kamarku yang di sebelah kiri, di sini kamar hanya dua, tetapi kamar yang satunya sudah aku gunakan menjadi gudang."


Dengan ragu Ruzy berjalan dan membuka kamar dokter max. Melihat sekelilingnya, kamar itu didekorasi sangat rapi dan sederhana, dengan cepat aku melangkah ke kamar mandi lalu membersihkan tubuhku, wangi parfum Alex masih melekat di tubuhku, aku membenci memikirkannya. Aku sudah berganti pakaian dan merapikan diriku dan menatap diriku di cermin. "Kau sudah selesai?"


Suara dokter max membuatku sangat terkejut, sejak kapan dia ada di kamarnya?


"A..Aku sudah selesai dokter, maaf aku tidak melihatmu masuk dokter max." kataku gugup.


Dia setengah tersenyum, "Apa aku mengejutkanmu?", Aku minta maaf ada sesuatu yang kucari di lemariku." Ruzy menghembuskan napasnya, untung saja dia berganti pakaian di kamar mandi. "Duduklah Ruzy aku akan menghilangkan er..warna kemerahan di sekitar lehermu."


Ruzy lalu duduk di depan cermin, menatap dokter max yang mengambil beberapa bubuk berwarna agak kecoklatan, dia menunduk sedikit di sekitar leherku, lalu tangannya memegang leherku, aku begitu terkejut tangan dokter max begitu dingin, dia lalu tersenyum.


"Jangan takut Ruzy, aku bukan Alex yang seenaknya melakukan hal ini padamu, walaupun begitu siapa saja akan tertarik melihat kulit seputih ini." Ruzy terkejut mendengar suara dokter max yang berbeda.


"Jangan khawatir, aku tipe pria yang tidak suka memaksa seorang wanita." Dia lalu mengoleskannya, aku mencoba untuk tidak khawatir, tetapi aku melihatnya dari pantulan kaca, mata biru itu menatapku dengan tersenyum miring serta pandangan kelaparan di wajahnya.