
Sudut matanya berkedut, menatapnya dari kejauhan, dia tidak bisa bergerak lebih leluasa di tempat terbuka seperti ini, hal itu membuatnya begitu gelisah, meremas rokok yang ada di tangannya, menatap mereka dari kejauhan.
"Sial, mengapa dia mendahuluiku lagi? dan Sekarang apa? dia memiliki seorang anak? persetan dengan kisah cintamu alex, Ruzy milikku...dia merekatkan mantel ditubuhnya menatap kembali penthouse milik ruzy, kali ini tidak ada menunggu lagi, aku sudah begitu lama tertidur panjang, sebelum kalian bersatu aku harus mendapatkanmu, Pria itu berlalu menutupi tubuh tingginya lalu masuk kedalam mobilnya, sedikit memicingkan matanya menatap seorang penjaga yang memandangnya dari kejauhan.
~
Alex menarik tangan ruzy menatap kembali anak yang ada di gendongannya.
"Dia anakku ruzy, kenapa kau menyembunyikanya dariku?" geram alex, matanya bersinar karena amarah, ruzy berdiri masih terdiam.
"Mengapa kau menyembunyikan anakku ruzy, kau bahkan tidak menyebut tentang anak kita ketika kita bercinta semalam." Kata Alex dengan suara yang meninggi. Wajah ruzy memerah, dia lalu tertawa tidak percaya padanya.
"Apakah aku harus menceritakan Willy? bukankah hanya tubuhku yang kau inginkan? kau bahkan tidak menanyakan kabarku, apa yang terjadi padaku selama ini ! kau hanya menyerang tubuhku." Teriak ruzy padanya.
"Kau bahkan tidak tahu bagaimana aku pergi dari rumahmu dan ibumu yang memperlakukan kami? kau ada dimana saat aku membutuhkanmu kau tidak bisa melindungiku alex!" teriak ruzy sambil terisak.
Alex memandangnya tajam, dia lalu maju selangkah lebih mendekat ke ruzy, kemarahannya sedikit mereda.
"Ruzy...aku, maafkan aku sayang..", ruzy menangis masih menggendong Willy di pelukannya. Alex memeluknya mencium keningnya.
"Maafkan aku ruzy, aku bersalah...".bisik Alex yang memeluk erat ruzy dan Willy yang menggapai gapai wajah Alex.
Bibi Emy terisak di dekat pintu, melihat mereka hatinya begitu gembira, dia sangat menginginkan Willy melihat ayahnya. Sekarang Willy bisa memanggil 'dad' bukan hanya 'mom'. Alex menggendong Willy mereka berada dikamar ruzy, terlihat jelas wajah Alex dan Willy mereka begitu mirip kecuali matanya, dia mewarisi mata hazel milik ibunya, alex sedang bermain-main bersama dengan willy.
"Katakan 'dad' seru alex menggendong Willy yang menatapnya penasaran, "Dad", sekali lagi Alex mengajarkan ke willy.
"dia hanya bisa menyebut kata mom". Kata ruzy yang menyiapkan makanan willy. Alex mengernyitkan alisnya.
"Dia akan menyebut kata dad dengan mudah, dia anakku dia mewarisi otakku, ingat !" Ruzy menggeleng padanya tidak ingin berdebat.
Beberapa lama Alex bermain-main dengan Willy sampai dia tertidur di sampingnya. ruzy menyelimuti alex bersama Willy, tetapi alex terbangun, dengan sigap menangkap tubuh ruzy dan bersandar di perutnya.
"Jangan tinggalkan aku Ruzy". Matanya memandang lekat-lekat wajah Ruzy,
"Aku mencintaimu". Dia lalu berdiri dihadapannya, mencium bibir ruzy, merasakannya lebih dalam, "Aku menginginkanmu ruzy, sekarang". bisik Alex menjelajahi rahang ruzy hingga kelehernya membuat ruzy merasakan gelenyar panas di tubuhnya.
"Tidak dihadapan Willy, dia nanti akan terbangun." bisik ruzy, mata Alex menyala dengan senang.
Alex mengangkat ruzy menuju kamar mandi, mereka menghabiskan waktu bersama entah berapa lama. "Alex hentikan, tanganku sudah mengkerut dan Willy sepertinya sebentar lagi akan bangun." kata ruzy yang berada di pelukan Alex di dalam bathtub. Cipratan air sudah merembes kemana-mana. "Sebentar lagi, aku masih merindukanmu". bisik Alex.
Mereka akhirnya berhenti dari percintaan panas mereka, Alex memakai jubah mandi dan menggendong Willy di tangannya sambil menatap kearah bawah jendela sementara ruzy mengeringkan tubuhnya.
"Ruzy? sepertinya seseorang datang." Kata alex melihat mobil hitam yang memasuki penthouse milik ruzy. Dia berlari-lari kecil menatap kebawah jendela bersama alex.
"Sial ! itu kakek." seru ruzy menatap Alex.
Bibi Emy berlari-lari kecil dan mengetuk pintu. Ruzy membuka pintu kamarnya,
"Tuan Chandelier telah tiba ruzy". Alex masih menggendong Willy yang menggapai-gapai wajahnya.
"Kenapa kau begitu panik? aku juga ingin memperkenalkan diriku di depan kakekmu ruzy."
Dengan cepat Ruzy mengenakan bajunya, "Kau tidak mengenal kakekku alex, dia sepertinya marah dengan keluargamu, dan kau tahu, begitu banyak peristiwa yang terjadi setelah aku keluar dari rumahmu alex, sampai aku hamil dan kau tidak ada disana untukku, menurutmu apakah kakek akan menyambutmu?" kata ruzy sambil menyisir rambutnya.
Rahang Alex mengeras, "Karena kau pergi begitu saja dariku ruzy, kau pikir aku tidak mencari-carimu? aku menyusuri Pittsburgh dan pergi ke Swiss tapi kau menghilang begitu saja dan tiba-tiba muncul dengan nama chandelier."
"Tidak ada yang bisa memisahkanku dengan anakku." kata Alex tajam, ruzy menatap Alex dan berdiri di hadapannya.
"Alex kumohon, sembunyilah sebentar, please..aku akan menjelaskan perlahan tentangmu ke kakek." Kata ruzy memohon. Mulut alex menipis dia begitu marah.
"Baik !" tapi tidak dalam waktu yang lama ruzy, aku tidak ingin sembunyi seperti ini".
Ruzy tersenyum lalu mengecup beberapa kali bibir alex sambil berjinjit. "Sekarang kau begitu pandai menggoda ruzy, dan aku menyukainya." Suaranya serak lalu membalas ciuman ruzy menahan dengan satu tangannya.
Ruzy melepaskan bibirnya dari Alex, "Aku akan segera kembali." bisiknya dan tersenyum.
"Pelayan sedang memandikannya, sebentar lagi Willy akan selesai kakek, ngomong-ngomong kenapa kakek di California? kupikir kakek menunggu kami di pitthsburg."
"Ada sesuatu yang kukerjakan di California Ruzy, aku tidak sabar ingin menemui Willy, aku akan beristirahat sebentar, setelah itu kakek akan ke LN enterprise, Roger siapkan berkas-berkasnya aku ingin semuanya siap." kata tuan Chandelier berdiri dan menuju keruangannya.
" Baik tuan". kata Roger lalu menunduk kearah ruzy dan pergi ruzy menghela napasnya, dia menatap lantai atas, mencoba menenangkan dirinya, berjalan pelan menuju kamarnya, ruzy menatap Alex yang masih bermain-main dengan Willy.
"Bagaimana? apakah kakekmu sudah pergi?" tanyanya, ruzy menggeleng.
"Dia berada di ruangannya, sebaiknya kau segera pergi Alex, aku takut jika kakek menemukanmu." Kata ruzy resah, rahangnya terkatup.
"Ikut denganku di penthouseku, bagaimanapun Willy anakku, siapapun tidak bisa memisahkanku, termasuk dirimu rumah." Matanya tajam menatap ruzy.
"Kau tahu aku tidak bisa alex, kakek akan membawaku ke Pittsburgh, setelah urusannya selesai di sini, kumohon dengarkan aku sekali saja."
Alex mencium Willy dan memberikan Willy pada Ruzy, Tangannya menarik pinggang ruzy dan menciumnya keras, berlama-lama di bibirnya, ruzy mengerjap menatapnya menemukan keseimbangannya.
"Aku bukan pendengar yang baik ruzy, dan aku tidak suka menunggu, jangan pergi jauh dariku, atau aku akan menculikmu didepan hidung tuan Chandelier." Bisiknya tajam, mengecup pipi ruzy dan Willy lalu Alex dengan cepat pergi tanpa terlihat.
~
Nick membawa berkas yang diminta Alex di kantornya tepat di pusat kota central valley, menunggunya di sana sambil memandang kota LA dari bangunan kaca yang terbentang luas. Dia bersenandung sambil bersedekap, matanya jauh memandang dan memikirkan sesuatu.
"Elvis Presley? can't help falling love?? sejak kapan kau bersenandung Nick?" kau terdengar sentimentil." Alex membuka pintu dan mendapati nick bersenandung tanpa menyadari kedatangannya.
Alex tertawa lalu menggeleng, Nick menatapnya, "Aku tidak tahu, sejak kapan aku bersenandung seperti orang bodoh."
Alex menatap nick terheran dengan suaranya yang berbeda.
"Kau baik-baik saja?" tanya Alex melepas jaketnya dan mengambil berkas diatas mejanya.
"Aku tidak tahu, akhir-akhir ini aku sedikit pusing, dan tiba-tiba saja aku bersenandung." Alex mengernyitkan alisnya menatap Nick yang seumur hidupnya tidak pernah mendengar suaranya yang begitu khawatir seperti ini.
"Kau perlu istirahat Nick, atau pergilah berlibur." Saran alex yang masih memperhatikan nick yang menekan-nekan pelipisnya.
"Saran yang bagus, aku pergi Alex." Dia memegang gagang pintu lalu berbalik ke Alex.
"Katanya kau menemukan ruzy?" tanyanya.
"Kau sudah mendengarnya? bukan hanya ruzy, kami juga memiliki Willy." Alex tersenyum mengingat-ingat wajah lucu anaknya.
Nick tersenyum singkat, "Jaga baik-baik Ruzy dan jangan biarkan dia menghilang dari pandanganmu." Alex mengangguk.
"tentu Nick", dia memandang nick dengan mengernyit. Ada apa dengan Nick? Alex membuka dokumen yang diberikan Nick padanya. Membaca file-file tentang tuan Chandelier, wajahnya kembali mengeras, rupanya dia.....dia kakek ruzy yang membeli semua resort dan beberapa perusahaan terkemuka di Pittsburgh atas nama William Rojes Chandelier, "William?" bukankah diambil dari nama Willy? mata Alex berkilat 'Rojes?' diambil dari nama tuan Rojes Chandelier. Dia menutup mata menahan kemarahannya.
"Harusnya namaku di sematkan di nama willyku, bukan nama tuan Chandelier."
Rupanya dia betul-betul marah pada keluarga Collagher, dia mengacak rambutnya memikirkan cara merebut Ruzy dan anaknya, menghadapi tuan Chandelier tidaklah mudah, separuh perusahaan di pitthsburg telah diambil alih olehnya begitupun perusahaan milik ibu sampai-sampai ibu histeris dan keluar masuk rumah sakit karena kehilangan beberapa perusahaan miliknya.
Alex mengembuskan napasnya, menatap langit senja di kota LA, memikirkan cara mengambil hal yang paling berarti dalam hidupnya.
~
Mobil hitamnya berada tidak jauh dari kediaman Chandelier, matanya kembali menatap penthouse itu, angin malam yang dingin tidak mempengaruhinya sama sekali meskipun terasa menusuk-nusuk di tubuhnya yang hanya memakai mantel hitam tipis.
Tangannya bergerak membuka pintu mobilnya, tetapi sakit dikepalanya datang lagi, dia meronta-ronta menenggelamkan dirinya yang bengis, sejak usia 10 tahun dia mengalami Dissociative identitiy disorder DID atau memiliki kepribadian yang lain...menatap dirinya yang asli di cermin, "Kau tidak boleh keluar, tidak !cintamu tidak ada gunanya, brengsek". Suara di cermin tertawa bengis memandangnya.
'Klak', "Kau pria lemah, menutupi kelemahanmu dengan berteman dengan mereka, kau pikir siapa yang melindungimu jika kau disakiti? Aku ! aku membalas mereka berkali-kali lipat."
Dia memukul-mukul kepalanya, "Jangan menyakitinya..."Teriaknya.
'Cant help falling love', perasaanku tidak bisa kubendung lagi, jadi turuti kata-kataku aku hanya ingin menatapnya dan pergi atau.....aku akan mencari mangsa lagi dan menyembunyikannya di villa rahasiamu." dia terkekeh. Dia menunduk menahan sakit kepalanya didalam mobilnya, beberapa saat yang hening dia kembali duduk tegak, dia tersenyum melengkungkan bibirnya menatap penthouse ruzy, 'tunggu aku sayang, 'klak' tidak lama lagi kita akan bersama'.