Flower On The River

Flower On The River
Vol 46



Gadis itu sejak tadi mondar mandir di dalam kamarnya sambil menggigit kukunya. "Apa yang harus aku lakukan, aku tidak boleh terlihat oleh Alyena, dia pasti akan mengejekku, dan mengataiku dan membalaskan dendam padaku, karena saat di perkebunan aku melakukan hal buruk kepadanya."


Ketukan terdengar dari kamar gadis itu. "Rudith kau masih belum bangun? segera ke dapur,"


"Tch, aku segera datang."


Gadis itu mengenakan celemek pelayan yang di bencinya dan segera keluar dari kamarnya.


***


Alyena bangun pagi, meskipun hari ini adalah hari liburnya. Tentu saja dia segera bangun, karena pagi ini dia telah janjian dengan jafier untuk jogging bersama, dia mengangkat sepatunya dan segera berlari, hingga dia keluar ke pintu penthousenya. Dengan cepat dia naik ke atas mobilnya, dan keluar dari gerbang.


Jafier telah menunggunya di ujung jalan, dia sengaja meminta supirnya diturunkan di ujung jalan dekat dari penthouse Alyena, agar mereka bisa pergi bersama.


"Pagi sayang." Ucap Jafier.


"pagi."


"Kita akan kemana?" Tanya Alyena.


"Mm, kita pergi ke pantai dan berlari di sana, bagaimana?"


"Oke."


Alyena meliriknya, dia sangat tampan, hanya memakai kaos berwarna hitam dan celana training hitam, wajah tampannya terlihat jelas. Jafier tersenyum, sejak tadi dia tahu kalau Alyena meliriknya.


"Kau ingin mengatakan sesuatu kepadaku?"


"A-apa? tidak, aku hanya ...


"Apa karena aku tampan." Ucap Jafier sambil menaikkan alisnya dan berbalik ke Alyena yang sedamg menyetir mobilnya.


"Jangan menggangguku, aku sedang menyetir," Ucap Alyena sambil menahan senyumnya, bersama dengan Jafier membuatnya bahagia, dia tidak berhenti tersenyum.


"Rencana kita hari ini, Joging sambil berpegangan tangan, sarapan dan bersantai sambil bermesraan." Ucap Jafier.


"Aku memilih opsi ketiga, bersantai sambil bermesraan."


"Kau sungguh tidak sabaran Nona Alyena."


Alyena lalu terkikik, dia heran dengan dirinya sendiri, akhir-akhir ini dia sungguh sangat berani, dia tidak tahan jika tidak menyentuh bibir Jafier, apa dia merasakan hal yang sama di rasakan oleh Alyena? Mengingat mereka akan bermesraan membuat jantung Alyena berdebar dan menjadi tidak sabar.


"Kau sejak tadi terus tersenyum aneh, kau sedang membayangkan sesuatu, sayang? Aku harap, akulah yang sekarang ini ada di dalam fantasimu, jika tidak, aku akan berusaha merubahnya meskipun itu di dalam pikiranmu sekalipun." Ucap Jafier.


"Mana mungkin pria lain yang berada di dalam fantasiku, tentu saja itu kamu." Ucap Alyena, meskipun terdengar memalukan, dia akan mengatakannya, agar pria dewasa di sebelahnya ini tidak salah paham, dia mengerikan jika sedang cemburu.


Mereka akhirnya tiba, dan Alyena sedang memarkirkan mobilnya dan mereka segera keluar. Jafier memegang tangannya dan mereka menuju ke salah satu tempat khusus untuk berlari, dan akan sampai ke tepi pantai.


"Kau siap?" Ucap Jafier.


"Kapan saja."


Mereka berlari bersama, berlari-lari perlahan sambil menikmati udara pagi, apalagi Alyena menikmati kebersamaannya bersama Jafier, itu sudah membuatnya bahagia.


Setelah berlari bersama selama 30 menit, mereka berjalan-jalan di pinggir pantai dan menikmati pemandangan indahnya.


"Banyak sekali yang datang kalau hari libur seperti ini?" Ucap Alyena menatap dari kejauhan orang-orang yang berdatangan bersama keluarga atau bersama kekasih mereka.


Mereka berdua duduk di atas pasir pantai, Jafier meluruskan kakinya sementara Alyena duduk dan menyandarkan kepalanya di bahu Jafier.


Jafier berbalik dan tersenyum miring menyiratkan sesuatu.


"Kau tidak ingin tempat ini ramai, karena ingin melakukan sesuatu kepadaku?" Bisiknya. Alyena duduk tegak sambil mengalihkan pandangannya.


Dia menarik dagunya dan memberikannya ciuman kilat. "Aku tahu, tapi ide itu tidak terlalu buruk, aku senang jika di pantai ini hanya kita berdua saja." Alyena mengambil tangan Jafier dan menautkan di jemarinya.


"Lapar." Ucapnya.


"Kau ingin sarapan sekarang?"


"Tidak juga, aku ingin seperti ini sebentar saja." Ucap Alyena. Jafier mengusap rambutnya dan mengecup keningnya.


***


"Dimana Alyena?" Ucap William ketika mereka sudah ada di meja sarapan. Willy segera menyuruh pelayan untuk membangunkan Alyena. Tidak lama pelayan itu segera turun.


"Tuan, Nona Alyena tidak ada di kamarnya dan mobilnya juga tidak ada, sepertinya Nona keluar pagi-pagi sekali." Jawab pelayan itu.


Audry memandang Willy sambil menggelengkan kepalanya, dia lelah melihat sikap protek Willy yang berlebihan.


"Saat ini dia pasti sedang bersama Jafier, tinggalkan dia Willy, biarkan mereka bersama, apa sih yang kau khawatirkan, Jafier akan menjaga Alyena dengan baik."


"Menjaganya dengan baik? bagaimana jika mereka berakhir di tempat tidur, dan bagaimana Alyena bisa mengimbangi jafier? Dia adalah pria dewasa yang penuh dengan pengalaman, apalagi mengenai Wanita, aku tahu kisah petualangan cintanya di masa lalu, bisa-bisa Alyena akan hamil jika dia selalu bersamanya." Ucap Willy, dia duduk tidak tenang.


Audry memukul jidatnya sendiri. "Kau sungguh berlebihan, Alyena sekarang wanita dewasa, Jafier tahu bagaimana memperlakukannya, dia tidak akan menyakitinya. Lagi pula aku sangat heran padamu, kau tidak seprotek ini ketika aku pertama kali kencan." Ucap Audry.


"Apa sekarang kau cemburu?" Ucap Willy mengangkat satu alisnya.


"Hell. Tentu saja tidak, tetapi aku bisa menebak mengapa kau bersikap seperti ini, Willy."


"Tentu saja karena dia adalah adikku." Ucap Willy marah.


"Bukan hanya itu saja, kau memperlakukannya seperti itu karena Alyena sangat mirip dengan Mom, Aku akui Alyena begitu mirip dengan Mommy, kecuali warna matanya, tetapi dia itu ....


"Cukup ! Aku tidak mau mendengarnya lagi." Willy beranjak dari kursinya dan segera pergi ke ruangannya.


"Ups, sepertinya aku sudah mengatakan kalimat yang sensitif."


Willy masuk ke ruang kerjanya dan duduk seorang diri di sana, dia mengambil liontin dengan ukiran di atasnya tertera nama Grigori dan Chandhelier, serta foto ibunya Ruzy ketika masih muda dulu. Wajahnya sangat cantik, kulitnya sangat putih, meskipun Alyena tidak seputih ibunya tetapi wajahnya begitu mirip, hanya sinar matanya yang sangat mirip dengan pria itu.


"Nick Adams, aku tidak tahu aku harus bersyukur atau tidak, ketika dia menikah dengan Mom, tetapi pria itu adalah buronan kelas berat, dia menghilang dan tidak pernah lagi di temukan, tentu saja karena kabar terakhir yang di dengarnya, dia telah wafat tidak lama setelah ibu meninggal, meninggalkan Alyena seorang diri dan hidup dengan kekuatannya sendiri."


Willy mengambil napas, dia kembali menatap liontin itu. "Tetapi kali ini aku sepertinya berubah pikiran, karena pria itu Mom bisa hidup bahagia bersama dengannya dan karena pria itulah Alyena ada di dunia ini." Ucap Willy.


***


Kilian Regan sedang sarapan pagi, dia sedang membaca koran sambil menyesap kopinya. Seorang pelayan membawakan makanan di atas nampan. Jantungnya berdetak kencang, lirikan matanya tidak terlepas dari wajah tampan yang sedang menikmati sarapannya dan sedang membaca majalah bisnis.


"S-silahkan tuan." Ucap Rudith dengan suara bergetar.


Kilian sama sekali tidak mengangkat wajahnya untuk mengucapkan sesuatu, dia hanya terus fokus pada majalah di depannya.


Wajah kecewa terlihat di wajah Rudith. dia mundur perlahan dan segera berjalan sambil berbalik, dia berdiri di balik pilar besar yang membatasi antara dia dengan Kilian. Dia mengintipnya sambil tersenyum.


Suatu hari kau akan menjadi milikku Kilian Regan.


"Apa yang kau lakukan berdiri di sana sambil menatap tuan Regan dengan mata mengerikan seperti itu, jika dia melihatmu melakukannya, sudah pasti tuan akan memecatmu, kenapa kau selalu membuat masalah, sekarang pergi ke dapur dan kupas wortel-wortel yang berada di dalam karung." Perintah wanita itu.


Dia berjalan sambil menahan amarahnya, dia tidak bisa mengontrol dirinya lagi, dia sudah rela datang jauh-jauh ke negara ini dan rela menjadi seorang pelayan demi pria yang telah mencuri hatinya. Dia tidak mungkin menyerah begitu saja hanya karena seorang pelayan rendahan.


Matanya berkilat tajam ketika menatap wanita tua yang selalu memarahinya itu, sudut bibirnya terangkat, seperti dia merencanakan sesuatu di kepalanya.


Suatu hari wanita itu akan kulenyapkan.