
William duduk sambil menatap ketiga tersangka yang menundukkan kepalanya, nampak wajahnya terlihat bersalah, Alyena menatap Willy sembunyi-sembunyi.
"Psst. Telepon kak Audry, mungkin dia bisa menolong kita." Bisik Nick.
"Audry belum kembali, dia tidak ada waktu mengurusi kalian bertiga." Ucap Willy.
"Jadi, siapa yang memiliki ide datang ke Club ini?" Tanyanya. Alyena dan Clara sama-sama menunjuk ke arah Nick.
"Hei, kalian berdua yang mengajakku, aku di sini hanyalah korban dari mereka berdua." Ucap Nick di hadapan Willy.
"Tapi dia yang mengusulkan untuk datang ke Club ini." Ucap Clara.
"Pokoknya kalian bertiga bersalah, kalian tidak tahu bagaimana berbahayanya datang ke Club dengan pengetahuan yang minim seperti kalian? banyak orang jahat yang mengambil keuntungan, apalagi jika kalian minum dan mabuk, bisa-bisa besok pagi kalian tidak sadar berada di mana, apa kalian tidak tahu dampaknya? semuanya akan mempengaruhi masa depan kalian, terutama untuk kalian berdua, bagaimana jika lelaki hidung belang membawa kalian yang mabuk ke sebuah hotel, kejadian seperti ini sudah banyak terjadi, apa kalian mau masa depan kalian rusak hanya karena kesenangan sesaat dan tidak berarti."
Hampir dua jam mereka di ceramahi oleh William, dan Nick baru pertama kali dalam hidupnya mendengar omelan sepanjang itu, karena ayah dan ibunya sangat sibuk, jadi dia jarang mendapatkan omelan.
Mereka berdua bersyukur karena akhirnya ceramah Willy berakhir juga dan mereka bersyukur karena setidaknya dia bisa pulang tanpa semobil dengan William yang pastinya akan membuat canggung, keduanya telah berencana berlari dan segera masuk ke dalam mobil Nick, beda halnya dengan Alyena, dia harus semobil dengan William sepanjang jalan, apalagi pakaiannya itu membuat Willy berdesis dan segera melepaskan Jasnya dan menyuruh Alyena mengenakannya.
~
"Ah, jadi putra tuan Wedny berteman dengan adik tuan William, kenapa tuan Wedny tidak masuk ke dalam dan mencoba menasehati mereka juga?" Ucap salah satu pria berjas yang berada di samping Kilian.
"Lebih baik jika tuan William saja yang menasehatinya, mungkin putraku yang bandel itu bisa mendengarnya." Ucapnya.
Pintu itu terbuka, Willy, Alyena dan dua temannya keluar dari ruangan itu. Sementara Nick dan Clara sudah berlari duluan menuju mobil mereka, takut di ajak pulang bersama oleh Willy.
William berjalan dan menyampaikan sesuatu kepada teman-teman bisnisnya, dia seperti menjelaskan sesuatu sementara Alyena bersandar di dekat pintu dan menunggunya di sana.
"Sepertinya kau kurang beruntung malam ini, Alyena." Suara itu membuat Alyena berbalik dan menatap Kilian berdiri tidak jauh darinya.
"Tidak juga, aku bersenang-senang bersama temanku malam ini." Ucap Alyena tanpa menatap wajahnya.
"Kau menjadi semakin liar, tetapi itu membuatmu semakin cantik, aku menyukainya." Ucap Kilian sambil tersenyum memperhatikan gaun yang di kenakan Alyena.
"Maaf, tapi aku tidak peduli pendapatmu." Ucap Alyena, dia kemudian mendengus, dia jengkel dengan Willy karena sangat lama mengobrol dengan temannya.
"Apa William tahu kalau akhir-akhir ini kau terlihat bersama dengan Jafier?"
Mata Alyena melotot, "D-dari mana anda tahu?"
Dia terkekeh. "Siapa saja dapat melihatmu keluar dari mobilnya hari itu, aku ada di sana ketika kau baru saja keluar dari mobil Jafier ketika aku datang di kampusmu."
"B-bukan urusan anda, apa yang kulakukan dan siapa yang kutemui." Ucap Alyena marah.
"Kalau begitu bagaimana jika makan malam denganku dan rahasiamu aman bersamaku." Ucap Kilian sambil bersedekap.
"Tidak, terima kasih. Kau boleh mengatakan semaumu kepada kak Willy, itu hakmu untuk mengatakan apapun, itu membuatku lebih mudah mengungkapkan hubunganku dengan Jafier."
"Kau yakin? kau pikir William akan semudah itu menerima kembali Jafier? kurasa tidak, dia bahkan tidak mau menyinggung nama perusahaannya saat kami berbincang, bagaimana kau berharap dia akan berbaikan dengan Jafier."
Alyena menutup matanya, dan menghembuskan napasnya. "Itu akan menjadi urusanku, jadi jangan ikut campur."
"Aku harus ikut campur, karena dari awal aku yang menemukanmu, aku telah memilihmu, dan aku yang melihatmu pertama kali, dan dari awal pula aku yang menciummu, bukan Jafier." Ucapnya.
Alyena sontak terbelalak mendengar ucapan Kilian Regan yang berdiri di depannya, tidak ada kata yang terurai dari bibirnya, mereka hanya saling tatap, ketika melihat Willy telah selesai berbicara dengan mereka, Alyena mengalihkan tatapannya.
"Anda di sini?" Ucap William menatap Kilian yang terlihat sedang mengobrol dengan Alyena.
"Kami hanya sedikit mengobrol." Ucap Kilian.
"Oh ya." Dia lalu menatap Alyena dan menatap Kilian, kemudian dia menaikkan alisnya. "Kami harus pergi, sepertinya aku tidak bisa menghadiri bincang-bincang kali ini, mungkin lain kali."
"Itu bukan masalah, masih banyak waktu."
"Kalau begitu kami permisi."
Kilian mengantar mereka hingga sampai pelataran parkir, William berjalan di depan, sementara Alyena berjalan di belakangnya. William membukakan pintu mobil Lamborgini berwarna hitamnya kepada Alyena. Setelah itu dia masuk ke dalam mobilnya.
***
Suasana yang paling canggung dan paling tidak mengenakkan di dalam hidupku, William sejak tadi diam, apa dia masih marah padaku?
"Alyena?"
"Hmm, ya kak Willy."
"Oke kak Willy, aku mengaku salah." Ucap Alyena, menunduk dan menarik-narik roknya yang super pendek milik Clara.
Willy menghembuskan napasnya, dia kemudian tidak berkata apa-apa lagi sampai mereka tiba di penthouse. Para pengawal membuka gerbang dan membiarkan mobil mewah itu masuk, mereka berdua keluar dari mobil dan segera masuk ke pintu. Audry baru saja keluar menyambut kedatangan mereka, dan langsung memuntahkan minuman dari mulutnya ketika melihat pakaian yang di kenakan Alyena.
"Kau Alyena bukan? Apa yang terjadi?"
"N-nanti aku ceritakan, aku masuk kamar dulu." Ucap Alyena sambil berlari dan melepaskan jas milik William dan meletakkannya ke atas kursi, dengan cepat Alyena masuk ke kamarnya dan menguncinya, terdengar percakapan antara William dan Audry di bawah sana.
Alyena menghembuskan napasnya, dia kemudian segera melepaskan dress ketatnya dan mengenakan bathrobenya, lalu berbaring dan melihat ponselnya.
"Tch, kemana dia? tidak ada teleponnya sama sekali, aku kan ingin mendengar kabar tentangnya." Ucap Alyena.
"Benarkah? Jadi kau bisa jelaskan pakaian apa yang kau kenakan tadi sewaktu masuk ke dalam kamar?"
"P-paman ! Sejak kapan kau ada di sini?"
"Aku menunggumu sejak tadi sore tapi kau belum kembali, aku tidak meneleponmu karena kupikir kau sedang kuliah, rupanya pemikiranku salah seharian ini, kau baru saja selesai bersenang-senang." Dia menyipitkan matanya lalu melipat kedua tangan di depan dadanya. Tampak kemeja putih dan lengannya yang digulung sempurna serta jeans yang sangat cocok di kenakannya.
"Tunggu dulu, jadi kau melihatku sejak tadi ketika aku membuka dressku?" Ucap Alyena sambil melotot.
"Aku ingin keluar, tapi tiba-tiba saja kau membuka semuanya." Ucapnya tersenyum sambil mendekati Alyena.
"Aku tidak membuka semuanya, aku hanya mengenakan pakaian dalam saja."
"Sama saja, lagi pula aku sudah melihatnya."
Alyena melemparkan bantal ke wajah Jafier, dia lalu terkekeh dan menarik Alyena kemudian memeluknya erat.
"Aku merindukanmu, dan kau pergi bersenang-senang bersama teman-temanmu, tapi aku masih bisa mengerti jika kau ingin bermain bersama temanmu, yang penting tidak ada lelaki lain di sana." Bisiknya di tengkuk Alyena.
"Ada, kau lupa dengan Nick? dia kan pria." Ucap Alyena.
"Dia pengecualian kau sudah menganggapnya teman dekat, tetapi jika dia berani menyentuh milikku tentu saja aku tidak akan tinggal diam." Bisiknya.
Mereka berpelukan dalam gelap, setelah selesai mengungkapkan rasa rindu mereka, Jafier akhirnya melepaskan bibir Alyena yang sekarang terlihat bengkak dengan cara yang seksi. Tubuh mereka terlihat saling menempel satu sama lain, hanya suara napas mereka berdua terdengar mengalun normal.
Jafier tidak bisa tidur, tentu saja dia tidak akan bisa tidur nyenyak dengan kondisi saling menempel seperti itu, apalagi jika Alyena bergerak membuatnya berdesis, dia berusaha membuat setidaknya jarak antara dirinya dan Alyena, agar dia terus berpikiran normal dan tidak terbuai dengan hasratnya yang dalam.
Dia membelai wajah cantik yang telah tertidur itu, dia tersenyum dan memberikan kecupan di keningnya. Dia kemudian menarik tubuh kecil Alyena dan memeluknya hingga matanya mulai memberat.
***
"Kau tidak tidur?" Suara itu membuat Willy berbalik, dia kemudian menatap Audry yang keluar dari kamarnya dan membawa secangkir susu hangat.
"Sebentar lagi." Ucap Willy sambil meneguk minumannya.
"Apa yang kau pikirkan? Apakah tentang Alyena?" Tanyanya.
"Ya, apa aku terlalu mengekang dia? atau aku terlalu posesif sebagai kakaknya dan berusaha mengikat kebebasannya?" Tanyanya.
"Memang terlihat seperti itu, tapi semua itu untuk kebaikan Alyena kan, selama posesifmu masih kategori normal aku akan membiarkannya."
"Tch, tentu saja aku harus melindunginya, apalagi dari ucapan rekan bisnisku tadi bahwa Jafier Alvaro terlihat di inggris, dan itu membuatku khawatir, bagaimana jika dia bertemu dengan Alyena dan menyakitinya dan aku tidak di sana."
"Ck, kau berlebihan Willy, lalu bagaimana jika Alyena dan Jafier saling mencintai? apa yang akan kau lakukan, kau tidak akan seperti orang tua di zaman dahulu kala yang akan memisahkan hubungan cinta mereka bukan? Jangan selalu memandang dari sisimu saja Willy, kau harus menanyakan bagaimana perasaan Alyena."
Mata Willy tajam menatap Audry. "Apa kau membela pria itu? dia yang telah menyakiti Alyena? Aku tahu apa yang terbaik untuk Alyena, jadi aku tentu saja tidak akan menyetujui hubungan mereka."
"Bagaimana jika Alyena mencintainya, apa yang akan kau lakukan? Alyena suka menyembunyikan perasaannya, dia tidak mau mengecewakanmu, jadi dia selalu diam saja dan tidak mengatakan isi hatinya yang sebenarnya, apa kau mau dia terluka karena mengikuti kemauanmu." Ucap Audry sambil menghabiskan minuman hangat yang di pegangnya.
"Kau bicara seolah-olah mereka telah bertemu dan menjalin hubungan?" Ucap Willy, tatapannya kini tajam menatap Audry, menyuruhnya bicara dengan jujur.
"Apakah ada sesuatu yang tidak aku ketahui diantara kau dan Alyena?" Tanyanya dengan suara mencekam.
"Tidak ada, tidak ada rahasia sama sekali, kau mungkin bisa bertanya kepada Alyena jika kau begitu penasaran, aku hanya menginginkan agar Alyena bahagia bersama dengan orang yang di cintainya." Ucap Audry. Setelah menghabiskan susu hangatnya, dia kemudian berdiri dan beranjak dari tempat duduknya.
Willy mengingat semua ucapan Audry dan merasakan bahwa mereka berdua menyembunyikan sesuatu darinya dan itu ada kaitannya dengan Jafier. Willy menghabiskan minumannya dan segera masuk ke dalam kamarnya.
Saat itu mata Alyena terbuka, dia dapat merasakan hembusan napas hangat Jafier di wajahnya. Dia mengusapnya dan tersenyum.
"Aku mencintaimu." Bisik Alyena.