Flower On The River

Flower On The River
Vol 47



Alyena baru saja keluar dari mobilnya setelah mengantar Jafier ke tempat supirnya yang menunggu. Dia hendak berjalan menuju pintu masuk dan melihat pria tua yang sedang menyiram-nyiram bunga dari kejauhan, pria itu mengenakan topi jerami dan menyiram bunga Rose berwarna pink yang terlihat mengilingi air mancur kecil di sana.


"Siang Sir," Ucap Alyena sopan. Pria itu tersenyum dan menghentikan kegiatannya. Nona Adams, selamat siang." Ucapnya sambil melepaskan topi jeraminya.


"Hanya anda yang memanggilku Adams, itu nama belakang ayahku." Senyumnya.


"Ya Nona. Tuan Nick Adams adalah tuan muda yang terakhir dari keturunan keluarga Adams, keluarga mereka tidak tahu bahwa anda ada, mereka tidak tahu bahwa putranya telah menikah dan memiliki anda, seandainya saja mereka tahu, akan terjadi perebutan hak asuh diantara keluarga Collagher dan Keluarga besar Adams di inggris."


"Aku sudah bahagia dengan keluargaku yang sekarang." Ucap Alyena sambil menatap bunga Rose yang cantik dan terlihat basah karena di siram.


"Oh ya, Apakah kau tahu bahwa ayahku memiliki nama yang lain?" Ucap Alyena tiba-tiba.


"K-kenapa anda bertanya seperti itu Nona?" Ucap pria itu dengan mata melotot menakutkan, sikapnya menjadi aneh dan terlihat ketakutan.


"Hanya kepada anda, Sir. Saya menceritakan ini, karena anda satu-satunya yang pernah mengenal dengan baik ayahku. Ayah sering kali memanggil dirinya dengan sebutan aneh, kadang, ketika Dad mengajakku berburu, dia mengatakan kalau Nick sedang tidur dan sekarang yang berburu dengannya bernama Juan, waktu itu aku masih sangat kecil, dan aku pun memanggilnya juan dan dia sangat senang, dia melarangku memberitahu Mommy, jadi aku diam saja, tetapi kadang Dad memarahiku kalau aku pergi ke hutan dengannya yang bernama Juan, dia bahkan pergi untuk beberapa hari ketika dia memanggil dirinya Juan." Ucap Alyena.


Pria tua itu hanya melotot dan terdiam, dia kemudian duduk karena tidak sanggup menahan kakinya yang gemetar. Dia menghembuskan napasnya.


"Boleh aku bertanya? Apa kau mengenal siapa juan Tevez?" Ucap Alyena.


Pria itu menggeleng dengan kuat. "Tidak, tidak Nona, saya tidak tahu. Permisi saya harus kembali bekerja." Ucapnya. Tetapi sebelum dia berbalik dia kembali menatap Alyena.


"Nona, maafkan jika aku bertanya mengenai ini. Apakah ... apakah anda melihat dengan mata kepala anda sendiri jika ayah anda telah meninggal? Maafkan dengan pertanyaan anehku."


Alyena berpikir sejenak. "Ketika ayah pergi mengambil kayu di hutan, batuknya bertambah parah, dan dia meninggal ketika dia berada di hutan." Ucap Alyena.


"Nona, maksudku apakah anda melihat tubuh ayah anda sendiri, ketika beliau di makamkan?"


"Kenapa?"


"Ah, maafkan aku telah berkata tidak sopan, saya permisi."


"Tidak, aku tidak melihatnya, usiaku waktu itu 10 tahun, dan aku terlalu sibuk menangis waktu itu, sampai ayah di makamkan.


Wajah pria itu mendadak berubah menjadi pucat, wajah horor terlihat jelas di wajahnya.


"A-anda baik-baik saja?"


"I-iya Nona, saya permisi."


Alyena menatapnya dari kejauhan. "Ada apa dengannya? kenapa dia terlihat ketakukan seperti itu?"


***


Alyena segera masuk ke dalam penthouse, di sana Willy sedang duduk bersama seorang pria yang tidak lain adalah Kilian Regan. Mereka berdua berbalik ketika melihat Alyena baru saja masuk ke dalam.


"Kau baru pulang? Kenapa lama sekali?" Ucap Willy dengan alis berkerut tidak suka.


"Aku sedikit berbincang di taman."


"Dengan siapa?" Ucap Willy, alisnya semakin berkerut.


"Bersama tukang kebun, dia merawat bunga-bunga indah yang ada di taman." Jawab Alyena, matanya melirik kepada Kilian yang sedang menyesap minumannya.


"Dia seorang pria?"


Alyena memutar kedua matanya, hal itu membuat Willy menaikkan satu alisnya, "Dia pria berusian 70 atau lebih kak Willy, kami hanya berbincang sebentar karena semua tanaman itu dia yang merawatnya."


"Hmm, Oh ya."


"segeralah bersiap-siap kita akan makan siang bersama dengan Kilian." Willy mengambil cangkir kopinya dan menatap Alyena yang mematung.


Dia memanggilnya dengan nama depannya, apa dia seakrab itu dengan Kilian?


"Siang." Alyena segera pergi, dan naik ke lantai atas.


"Ugh malas sekali, kak Audry juga sedang pergi, apa urusannya sampai dia harus datang ke sini." Gumam Alyena.


***


Alyena sedang menyisir rambutnya yang panjang di depan cermin, setelah mandi, dia segera bersiap-siap untuk makan siang di bawah. Dengan mengenakan dress berwarna kuning yang sangat cantik bila dipadukan dengan warna kulitnya, membuat Alyena tampak mempesona.


Alyena membuka pintu kamarnya dan segera turun ke lantai bawah, di sana Willy telah duduk sambil berbincang penting dengan Kilian. Ketika Alyena baru saja tiba, Kilian tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Alyena, dan perhatiannya itu membuat Willy menyadarinya.


"Ehhm, kita makan sekarang. Aku tidak menyadari kita sudah terlalu lama mengobrol."


"Kau sangat cantik hari ini Alyena." Wajah Alyena terlihat bengong di puji seperti itu tepat di depan Willy.


"Ah, Ehm trims," Ucap Alyena, tetapi matanya beralih kepada Willy.


Alyena merasa canggung seketika, begitupun dengan Willy, dia tidak bisa menegur atau menyipitkan matanya kepada Kilian, beda halnya ketika itu Jafier. Dia pasti dengan mudah menyindirnya atau menyuruhnya tutup mulut, semudah itu mengucapkannya, akan tetapi berbeda halnya dengan Kilian Regan, tutur katanya sopan dan tenang tetapi ucapannya membuat Willy ingin menggeram atau menggertakkan giginya.


Mereka makan dengan tenang, tanpa pembicaraan yang penting. Alyena pun hanya makan sedikit saja, lalu menyimpan alat makannya di atas piring, kemudian dia ingin segera pergi, tetapi sesuatu yang diucapkan Kilian membuatnya kembali duduk.


"Bagaimana jika Nona Alyena menemaniku melihat-lihat taman?"


"A-apa?" Matanya melirik kepada William, apakah dia menyetujuinya atau tidak, tetapi nampak di wajahnya wajah yang tidak mempermasalahkan sama sekali, bahkan dia mengangguk kepada Alyena, membuat Alyena menjadi jengkel.


Senyum kemenangan terlihat di wajahnya, Alyena kemudian menemainya berjalan-jalan di taman. Mereka mengobrol sepanjang jalan.


"Kau menyukai bunga?"


"Ya, tentu. Aku sangat menyukainya."


"Kalau begitu mulai sekarang, aku akan menanam banyak bunga di Mansionku, agar kau tertarik datang berkunjung ke sana." Dia tersenyum sambil berjalan santai di samping Alyena.


Mereka tiba di taman bunga Rose, taman itu sangat di sukai oleh Alyena, dia memegang salah satu bunganya. Tanpa dia ketahui Kilian memotretnya.


"Cantik, bunga-bunga di sini sangat indah." Ucap Kilian.


"Emm ya, kakek itu yang merawatnya dengan baik."


Kilian menatap Alyena. Tiba-tiba saja dia memegang tangannya, membuat Alyena terkejut. Dia tersenyum tipis memperlihatkan senyum tampan menawannya tetapi bagi Alyena hanya ada Jafier di hatinya. Alyena berusaha menarik tangannya, tetapi Kilian mempertahankannya, hingga dia menggenggam erat jemarinya. Alyena menatap dari kejauhan.


Tidak ada cctv, pengawal, apalagi pantauan kak Willy, bagaimana jika pria ini menyakitiku? Tidak ada seorangpun yang ada di sana.


"L-lepaskan tanganku."


"Tidak. Aku sudah katakan padamu, aku yang pertama kali bertemu denganmu, bukan Jafier. Aku yang pertama kali menciummu, bukan pula Jafier. Kau pikir aku akan semudah itu melepaskanmu? berbagai cara aku lakukan untuk dekat denganmu, tapi kau lebih memilih pria itu." Ucapnya, senyumnya yang indah telah berubah menjadi seringai tajam dan tidak bisa di tentang, seperti halnya ketika mereka pertama kali bertemu di perkebunannya.


Pria itu menghentak Alyena dengan kasar hingga dia menabrak tubuhnya, kedua tangannya ada di pinggangnya, dia menariknya lebih dekat kearahnya, seakan mengunci pergerakan tubuhnya, Kilian mendekatkan wajahnya hendak menyatukan bibirnya dengan Alyena, tetapi Alyena memalingkan wajahnya ke samping, tiba-tiba suara terdengar dari belakang mereka.


"Nona Alyena? Aku menemukan jenis tanaman terbaru dari bunga mawar yang ... Ah, saya pikir saya mendengar suara Nona Alyena di taman, maafkan kelancangan saya telah mengganggu." Alyena melepaskan diri dari Kilian Regan dengan mendorong tubuhnya. Pria itu mengusap wajahnya, lalu tersenyum tenang. Tetapi pancaran matanya begitu tajam menatap pria tua yang telah mengganggunya.


"Benarkah? Nanti anda bisa tunjukkan kepadaku."


"Baik Nona." Ucapnya sambil undur diri. Alyena menatapnya sampai dia pergi dan segera berjalan cepat meninggalkan pria itu. Dia kemudian menyusul Alyena dan berjalan di sampingnya.


"Jangan dekat denganku, aku tidak tahu kau mengenakan topeng kebaikanmu dan sikap tidak pedulimu di depan kakakku, dan berubah ketika hanya kita berdua, kau pria pemaksa." Ucap Alyena.


Kilian terkekeh. "Jadi bagaimana dengan Jafier, aku dengar kau hampir saja di paksa olehnya, tetapi kau lebih memilihnya."


"Ya, aku lebih memilihnya karena aku mencintainya." Ucap Alyena. Dia berlari dan meniggalkan Kilian yang berjalan dengan rahang terkatup rapat, matanya tajam seakan ingin membawa Alyena dari tempat ini sekarang juga.