
Mobil hitam Fortune sedang berhenti di dekat cafe mengamati mansion ruzy yang berada di tidak jauh dari cafe itu. Kali ini max seorang diri tanpa didampingi wanita itu, matanya tidak pernah lepas dari mansion itu, tiba-tiba pupil matanya membesar melihat ruzy keluar dari mansionnya seorang diri, dengan tergesa-gesa max turun dari mobilnya dan menghampiri ruzy yang sepertinya akan pergi ke suatu tempat.
"Hai ruzy", dia tersenyum cerah menatapnya. "Kebetulan sekali bukan?" kata max dengan mata yang bersinar.
Ruzy menatapnya, dia setengah tersenyum. "Dokter max? apa yang anda lakukan di sini?" tanyanya.
"Aku mengurus beberapa hal kebetulan saja aku lewat sini, sebentar lagi urusanku selesai, kau punya waktu? bagaimana dengan cafe itu, ada sesuatu yang ingin kubicarakan."
Ruzy menatapnya dengan pandangan aneh kepada max, melihat dirinya yang mengetuk-ngetukkan sepatunya, sepertinya dia terburu-buru.
"Aku tidak bisa, aku harus pergi ke suatu tempat." Jelas ruzy, Sudut mulut dokter max terangkat, seperti menunggu sesuatu, tiba-tiba mobil hitam dengan cepat berhenti dihadapan ruzy, Seseorang menariknya dengan paksa masuk kedalam mobilnya, beberapa tangan membekap ruzy. Saat itu tuan Chandelier turun dari mobilnya dan tepat didepan mansion ruzy dia menyaksikan didepan matanya sendiri ruzy diculik oleh beberapa orang.
Tuan Chandelier berteriak mencoba menghentikan mobil Fortune yang menancapkan gas mobilnya lalu dengan cepat menghilang, tuan Chandelier tidak kuasa menahan mobil itu, orang-orangnya tidak berada di sana, dia hanya berdua dengan Roger, ruzy sudah dibawa pergi oleh mobil hitam itu.
Mereka berdua begitu panik.
"Roger ! kerahkan semua orang-orangmu, kejar mereka... aku....aku..". Sakit pada jantungnya kambuh lagi, dengan cepat roger memegang tuan Chandelier memapahnya dan segera membawanya ke dalam mobil menuju ke rumah sakit.
"Andres, kerahkan seluruh orang-orang kita di setiap penjuru kota Pittsburgh, aku ingin kau melacak mobil hitam fortune yang ada di Pittsburgh, lakukan dengan cepat ! Mereka menculik cucu tuan Chandelier." teriak Roger di ponselnya.
Tuan Chandelier yang memegang dadanya yang kesakitan menyampaikan sesuatu sambil menahan rasa sakitnya. "Hubungi Alex, beritahu dia cepat!!" teriaknya.
Roger lalu menelepon alex yang berada di rumahnya bersama ellena yang mengurus beberapa barang milik ibunya di musium.
"Halo, ada apa roger", kata Alex yang tangannya terbungkus sarung tangan.
"Apa?? apa yang kau katakan?? Mobil Fortune hitam membawa ruzy??"
Dengan cepat Alex melepas sarung tangannya dan berlari meninggalkan ellena dan ricky yang terkejut menatapnya.
"Ada apa Alex, apa yang terjadi." Rahangnya menegang, dia tidak menjawab pertanyaan ellena, dia berlari keluar dari mansionnya menuju mobil di tempat parkiran lalu menancapkan gas mobilnya dan pergi mencari ruzy .
~
Ruangan itu tidak begitu besar dapat ruzy rasakan, tangannya diikat sempurna begitupun dengan kedua kakinya, sepertinya ruzy berada di sebuah villa di tengah hutan, meskipun matanya ditutup kain sehingga hanya kegelapan yang dapat ruzy rasakan, tetapi suara pohon yang berdesir dan sahutan serangga dapat ruzy dengar dengan jelas.
Bau kopi yang menyeruak membuat ruzy sedikit mengendusnya, seseorang melangkah di ruangan yang sama dengan ruzy.
"Jadi, kau wanita yang membuat max tergila-gila padamu?" Senyum merekah dari bibir merah wanita yang bernama Sandra itu.
"Siapa kalian, mengapa kau menculikku? mengapa kau menyebut nama dokter max?" teriak ruzy mengguncang tubuhnya yang diikat.
Wanita itu tertawa, dia berjalan mendekati ruzy.
"Apa yang membuat max begitu tertarik dengan wanita sepertimu?" Dia memandang ruzy mulai dari ujung kaki hingga ujung kepalanya.
"Hem.. bagaimana jika sedikit goresan di pipi cantikmu kuhadiahkan kepadamu? apakah max masih menginginkanmu sayang?" kata wanita itu pelan seperti berbisik.
Ruzy memberontak dikursi, "Sstt, jangan membuatnya menjadi rumit ruzy, meskipun aku menginginkan max, tapi aku harus membantunya bukan? agar dia melihat betapa besar pengorbanan yang bisa kuberikan padanya."
Dia menarik rambut ruzy hingga kepalanya tertarik ke belakang membuatnya sedikit memekik.
"Apa yang kau lakukan Sandra?" Suara itu membuat ruzy begitu marah, Suara itu, suara dari dokter max.
"Lepaskan aku, brengsek!" teriak ruzy. Max hanya terkekeh dan menyuruh Sandra untuk pergi.
"Max, kau menyuruhku pergi begitu saja? aku sudah membantumu menculik gadis sialan ini!" teriak Sandra.
Max memicingkan matanya, dia lalu berjalan mengitari wanita bernama Sandra, ciuman kasar mendarat di bibir wanita itu.
"Tunggu aku di tempat biasa." Dengan kecupan kasar itu Sandra takluk kembali dan menuruti permintaannya. Dengan senyum menggoda dia berbisik pada max.
"Jangan terlalu lama bermain-main dengan wanita itu max."
Max tersenyum, "Jangan khawatir, aku akan memilikinya dengan cepat dan segera datang kepadamu sayang."
Wanita itu akhirnya pergi meninggalkan ruzy dan dokter max di villa yang sepi di tengah hutan. Suara dengusan keluar dari hidung dokter max dia memandang wanita itu dari kejauhan.
"Wanita sinting itu betul-betul merepotkan." gumamnya.
Keringat bercucuran di kening ruzy, rasa takut menjalar di tubuhnya apa yang akan dokter max lakukan padanya?
~
Wanita bernama Sandra tersenyum cerah, mengitari meja kayu lalu menuruni beberapa anak tangga yang terbuat dari kayu, mobilnya terparkir agak jauh dari villa itu, dia berjalan bersenandung sambil memainkan kunci mobil di tangannya.
"Klak...
"Sial ! Suara apa itu tadi?!" desisnya.
"Klak...klak...klak....."
Suara aneh itu membuat Sandra berlari-lari dengan cepat mencari kuncinya yang terlempar.
"Damn dimana kunci sialan itu pergi?" Napasnya memburu, dia merasakan seseorang sedang mengamatinya.
"Klak....klak.....klak...
"Siapa?! Keluar kau pengecut!" teriaknya ketakutan, dia berhenti di tengah pepohonan matanya bergerak kekiri dan ke kanan.
"Hehe....hehe...
Sandra berbalik dan menatap pria bermantel hitam memegang benda tajam melengkung, dia melangkah ke wanita itu. Wajahnya menjadi pucat, matanya membelalak menatap sosok itu.
"Si..siapa kau apa maumu?" Teriaknya.
"Kau!" Bisik Juan dari balik mantelnya, tanpa ragu satu tebasan dari pria bermantel itu membuat Sandra memegang lehernya yang berlumuran darah, dia jatuh terperosok di pohon. Matanya membulat menatap sosok di depannya.
~
"Apa yang kau lakukan Max, berani-beraninya kau menculikku, lepaskan aku brengsek." Teriak Ruzy.
Dia melepaskan tutup mata ruzy, tangannya bergerak sepanjang rahang ruzy, dengan lembut membelai leher jenjang ruzy, membuat ruzy berjengit tubuhnya bergetar ketakutan.
"Sudah sejak lama aku begitu menginginkanmu ruzy, sudah sangat lama sekali." Ruzy menggoyangkan tubuhnya pada ikatan di kursi.
"Jangan menyentuhku brengsek", Teriaknya.
Dia memberi senyum miring, menghapus jejak-jejak air mata ruzy. memandangnya lekat-lekat.
"Kau tahu begitu lama aku menginginkanmu ruzy, akhirnya hari ini pun tiba kau akan menjadi milikku." Sudut mulutnya muncul, dia ingin mengecup bibir ruzy tetapi ruzy menghindarinya, menatapnya dengan pandangan benci.
~
Hari sudah mulai gelap, alex sudah berada di mansion ruzy mengelilingi tempat itu seperti orang gila, dia tidak tahu kemana mencari ruzy, alex lalu teringat kepada nick yang bertingkah aneh beberapa hari ini, apakah dia yang menculiknya? pikir alex, dia tertarik kepada ruzy. Alex berangkat dengan tergesa-gesa ke mansion Nick, matanya melesat mencari ponselnya dan menghubungi Ricky.
"Ricky apa kau tahu dimana mansion nick yang ada di Pittsburgh?" Tanya alex pada Ricky.
"Nanti akan aku jelaskan, dan jangan menghubungi nick kalau aku mencarinya, katakan saja alamat mansionnya, ada berapa mansion milik Nick di Pittsburgh?"
"Oke berikan semua alamatnya." Teriak alex.
Dia menancapkan gas pada mobilnya, melihat alamat yang dikirimkan ricky padanya, ada tiga? gumam Alex, dia lalu pergi ke mansion Nick yang terdekat.
~
Tangan max berada di pundak ruzy, memainkan jarinya di rambutnya yang tergerai, ruzy gemetar ketakutan, ia menahan air matanya hanya alex yang ada di kepalanya berharap dia segera datang menolongnya.
Max memainkan jari-jarinya di sekitar pundak, leher sampai rahang ruzy, membelai dan mengusapnya, dia lalu mengecup puncak kepalanya. Ruzy berjengit, ketakutan terpancar dari wajah ruzy, max kini berdiri dihadapannya dia lalu berlutut hingga wajahnya sejajar langsung dengan wajah Ruzy.
"Kau sangat cantik ruzy, ketika pertama kali bertemu denganmu, aku ingin kau berada dipelukanku, aku ingin memilikimu dengan kasar dengan cara apapun", bisiknya.
Ruzy memalingkan wajahnya tidak mau menatapnya, tetapi tangan max menyentak wajah ruzy sehingga dia harus menatapnya.
"Sudah cukup untuk alex yang menguasai dirimu dan tubuhmu setiap harinya, kini tiba giliranku, aku akan membuat tubuhmu tidak akan melupakan hari ini, max menarik wajah Ruzy ingin mengecup bibirnya sebelum max mencium ruzy suara aneh terdengar dari luar villa....
"Klak....
Max berbalik, otot dirahangnya bergerak-gerak marah, dengan cepat dia mengintip dari balik jendela...
"Klak.....".
Suara itu lagi, pikir max kenapa suara itu ada di sini? Terdengar pintu dibuka dengan paksa lalu seseorang berdiri di sana.....
"Kau...mencari...kematianmu..dokter max..."
Ruzy membelalakkan matanya, menatap sosoknya yang gelap dan mengerikan.
Suara berat dan kasar dari seorang pria yang berdiri di pintu villa mengenakan mantel panjang hitamnya, darah menetes-netes dari tangannya yang memegang pisau panjang yang melengkung.