
"Kenapa kau begitu lama sayang, apa kau sedang demam?" tanya bibi Emy dengan wajah khawatir.
"Sepertinya aku sedikit demam, tapi aku tidak apa-apa koq", Ruzy tersenyum lemah menatap bibinya.
"Baiklah ruzy, bawa cake ini ke meja depan, lalu teh jahe ini kau bawa ke kamar tuan Alex."
Beberapa sendok dan garpu lepas dari tangannya.
"Ke..kemana bibi?" tanya Ruzy gugup. Bibi Emy membantu mengambil sendok dan garpu yang terjatuh di lantai.
"Kenapa kau begitu ceroboh ruzy sayang, kau betul-betul demam." Sambil memegang kening Ruzy. "Cepatlah sayang, kita kekurangan orang Joan dan Jessy belum kembali dari pasar, mungkin mereka berteduh di suatu tempat sampai hujannya reda."
Ruzy menelan ludahnya, kamar alex? kenapa aku begitu sial? Tapi tetap mengambil nampan berisi cake dan secangkir teh jahe untuk di bawanya ke kamar tuan alex. Jantungnya berdegup kencang, setelah menaruh sepiring cake di atas meja, Ruzy berdiri di depan pintu besar berwarna coklat, dia mengetuk beberapa kali, tapi tidak ada jawaban, beberapa kali diketuknya sama sekali tidak ada jawaban.
"Perlu bantuanku?" Suara itu mengagetkan ruzy, mata biru itu tersenyum senang. "Aku tak menyangka kita bertemu secepat ini Ruzy."
"Sepertinya tuan alex tidak bisa diganggu ruzy, aku tadi melihatnya begitu sibuk, tapi kalau kau ingin memberikan teh itu aku bisa membantumu."
Dokter Max membuka pintu lalu mata ruzy membelalak menatap tidak percaya pemandangan di depannya.
Alex sedang bercumbu dengan seorang wanita cantik di kursi kerjanya, wanita itu duduk diatas pangkuannya seperti memakan wajah Alex. Mata Alex tertuju ke pintu dan menatap wajah ruzy yang berdiri membeku, dengan cepat dia menyingkirkan wanita berambut merah itu.
"Maaf tuan Alex, sepertinya kami datang di saat yang tidak tepat." Suara dokter max terdengar tenang, ruzy dengan cepat menenangkan dirinya lalu masuk menaruh secangkir teh jahe di atas meja, dia menunduk sedikit lalu dengan cepat keluar dari kamar itu.
Max dengan cepat membungkuk lalu menutup kembali pintu kamar menyusul ruzy yang berjalan dengan cepat. "Sial !", Alex merapikan rambutnya yang acak-acakan karena sentuhan Merry.
"Ada apa Alex? kau sepertinya marah akan sesuatu?" Merry kembali ingin duduk di pangkuan alex tetapi dengan cepat alex berdiri, dan mendorong merry yang terjatuh di lantai.
"Kau kenapa sih Alex, tiba-tiba moodmu berubah?!"
Alex memegang keningnya lalu menatap Merry yang duduk di lantai.
"Sekali lagi kau menyerangku ketika aku tertidur aku akan menyeretmu keluar dari rumahku merry!!" Merry berdiri dengan cepat memperbaiki rok pensilnya yang begitu pendek. Dia mendengus pada Alex.
"Menyerang? jangan membodohiku alex, bukankah kau juga menyukainya Hem? Kau membuka matamu tapi kau tidak menghentikanku." Dia tersenyum dengan kemenangan di wajahnya.
Alex tadi tertidur dikursi kerjanya, pikirannya selalu tentang ruzy hingga ia bermimpi sedang bersama dengan ruzy, tetapi tanpa di sadarinya merry mengendap-endap masuk ke kamarnya dan mencium alex dan mengira orang yang dikecupnya itu Ruzy, sehingga Alex begitu marah melihat wajah Ruzy yang berdiri di pintu dengan wajah kecewa menatap padanya.
"KELUAR ! SEKARANG !!?" teriak Alex begitu marah, merry berjengit dan terlonjak dari pijakannya, dia tidak menyangka Alex membentaknya seperti itu, dengan menahan malu dan marah Merry berlari keluar dari kamar alex.
"SIAL!" Dia menggulung lengan bajunya dan keluar dari kamarnya hendak mencari ruzy. Langkahnya terhenti ketika melihat ruang keluarganya terdengar begitu banyak suara. Alex menghampiri ibunya dan menatap wajah kedua orang tua Cendy yang memucat.
"Hari itu dia bilang mau bertemu dengan ellena, tapi dia tidak pernah kembali, aku sudah menghubungi ponselnya tapi tidak tersambung sama sekali." kata ayahnya yang mencoba tenang tetapi, wajahnya sangat pucat.
"Hari itu kami memang janjian tapi aku tidak bertemu dengannya, kupikir dia lupa." Ellena berkata dengan wajah sedih.
"Apa yang harus aku lakukan jika sesuatu menimpa Cendy." Suara isak ibu Cendy yang teredam karena sangat ketakutan jika sesuatu menimpa putrinya.
"Tenanglah nyonya hudson, mungkin saja Cendy ke suatu tempat tapi dia lupa menghubungi anda." Nyonya Collagher menepuk bahu ibu cendy yang sesenggukan.
"Gadis itu tidak memiliki banyak teman nyonya Collagher, hanya ellena yang sering di sebutnya ketika kami berbincang."
"Apakah kalian sudah menghubungi polisi?" tanya Alex pada ayah Cendy. Wajah pucat dari ayah Cendy sedikit bergetar.
"E..ya kami sudah menghubungi polisi, semoga anak itu hanya pergi ke suatu tempat." Dia menghapus keringat yang menetes-netes dari wajahnya.
Dari balik dapur, mereka semua mengintip ingin mengetahui apa yang terjadi. "Apakah aku harus membuat teh, agar menghangatkan suasana." Tanya Jessy pada bibi Emy yang lehernya di julurkan untuk mendengar lebih jelas.
"Sepertinya tidak perlu Jessy, mereka akan segera pulang." kata bibi Emy, Keluarga Cendy berpamitan, meminta agar menghubungi mereka kalau-kalau Cendy datang ke keluarga Collagher.
"Alex hubungi ricky dan nick mungkin saja mereka mengetahui keberadaan Cendy." Kata ibunya pada Alex.
"Baik mom." Dengan memandang berkeliling akhirnya mata hitam pekat Alex menatap ruzy di balik pintu bersama pelayan yang lainnya.
Ruzy seketika membalik wajahnya tidak mau menatap alex, entah bagaimana perasaannya saat itu, hatinya terasa sakit menyaksikan seorang wanita mengecup bibir Alex, dia tidak sanggup menatap wajahnya.
Dokter max menghentikan langkah Ruzy sewaktu mereka keluar dari kamar alex, tetapi untung saja dia melihat beberapa pelayan dan dengan cepat mengikuti mereka kembali ke dapur.
~
Malam itu hujan tidak berhenti-henti, beberapa pohon tumbang dan angin kencang membuat malam terasa menakutkan, udara begitu lembab disertai dinginnya dinding kamar, membuat Ruzy memakai selimut berlapis-lapis. Dia mengingat wanita bernama Cendy yang dibicarakan Jessy, dia sangat ingin menjadi kekasih Alex tetapi tetap saja Alex selalu menolaknya.
'Klak....klak.....klak.....
Ruzy tiba-tiba terduduk mendengar suara aneh itu, kegelapan malam membuat Ruzy ketakutan, mata ruzy berputar mencari sumber suara.
'Klak....klak....klak....terdengar lebih dekat dari biasanya, seperti dia berada di sepanjang koridor kamar tidur pelayan.
'Klak....klak....ruzy berjengit suara itu berhenti tepat di depan pintu kamarnya. Keringat dingin membasahi wajahnya, ruzy tidak beranjak dari tempat tidurnya. Dia menutup dirinya dengan selimut, terdengar kekehan seseorang, suara seorang pria. 'Klak...klak...suara itu semakin menjauh menembus malam yang gelap.