Flower On The River

Flower On The River
Jangan menghindariku



Sudah tiga hari aku mencoba sembunyi darinya, ketika pria itu ada di kebun aku tidak akan lewat sama sekali, biarpun bibi Emy menyuruhku mengambil sesuatu di gudang aku berusaha keras mencari berbagai alasan agar aku tidak melewati kediaman Collagher saat mereka bersantai.


Hari ini aku mengupas kentang dan wortel sebanyak-banyaknya agar tidak ada seorangpun yang menyuruhku melakukan pekerjaan lainnya.


"Ruzy, tanganmu tidak apa-apa, kau tidak letih? bukankah sebaskom penuh kentang telah kau kupas, dan sekarang wortel-wortel itu"? kata Jona yang memperhatikanku sedari tadi berkutat dengan kentang dan wortel. Aku hanya tersenyum, dan tidak menjawabnya.


"Biarkan Jessie yang mengambil alih wortel itu, beristirahatlah dulu Ruzy, tanganmu sebentar lagi mengkerut jika kau terus melanjutkan".


Aku merasakan kaku di kedua tanganku. Terpaksa aku mendengarkannya kali ini dan beranjak dari dapur lalu menuju kamarku kemudian berendam di bathtub. Sangat segar terasa dengan aroma Jasmine yang menguar di bak mandi.


Setelah mandi, aku mencoba berbaring lalu suara ketukan terdengar dan dengan malas aku membukanya. Mataku melotot dan terkejut menatap orang yang berdiri di depanku, dia lalu masuk begitu saja di kamarku. Lalu menutupnya dengan pelan. Aku mundur beberapa langkah, apa yang diinginkan pria ini dan datang dikamar pelayan?


Dia menerawang memandang setiap sudut ruangan yang kecil itu. "Aku bertanya-tanya mengapa aku tidak melihatmu beberapa hari ini"? Alex berjalan sambil memandang ruzy yang masih terkejut karena kedatangannya.


"Jangan takut Ruzy aku tidak akan melakukan sesuatu padamu".


"Apa..apa yang anda inginkan tuan Alex"? jantungku berdegup cepat.


"Apa yang aku inginkan? kupikir kau sudah mengetahuinya..". Dia lalu terkekeh sambil memandang ruzy.


"Selesai mandi eh"? tanyanya, dia berjalan mendekatiku lalu memegang beberapa helai rambutku yang basah, aku menepisnya tapi dengan cepat dia menarik pinggangku ke tubuhnya.


"Ini salahmu, sehingga aku datang mencarimu, jangan menghindariku.."! bisiknya di telingaku membuatku menutup mata dengan napasnya yang berat.


Dia kemudian mengangkatku di pelukannya, membuatku terkejut dan mencoba turun darinya, dia lalu meletakkan tubuhku di atas tempat tidur.


"Aku akan teriak tuan Alex jika kau melakukan sesuatu padaku". Ancamku padanya.


Dia tersenyum, "Cobalah teriak aku juga ingin mendengarnya". bisiknya di antara telingaku, Dia kemudian menutup mulutku dengan bibirnya yang hangat, dia menciumku begitu dalam, aku mencoba mendorongnya dari tubuhku tapi dia kemudian memegang kedua tanganku dan meletakkannya diatas tempat tidurku.


Suara kecupan dan desahan napasnya terdengar keras di kamar itu, tubuhku menjadi panas oleh ciumannya, beberapa lama kemudian dia melepas bibirnya dariku, kemudian dia mengecup bibirku cepat, aku mengambil napas lalu merasakan bengkak di bibirku, dia tersenyum dan berbisik di telingaku.


"Jika kau menghindariku lagi, aku yang akan mencarimu Ruzy, bukan hanya sekedar ciuman yang akan kulakukan, kau mengerti".


Tanpa terasa air mataku jatuh dan dengan cepat aku memalingkan wajahku darinya. Baru kali ini aku diperlakukan seperti ini aku membencinya tapi aku tidak bisa melakukan apapun padanya.


dia kemudian menarikku duduk dan menghapus air mataku, "Entah sejak kapan aku begitu menginginkanmu Ruzy, jangan menangis Hem"! Dia lalu menghapus air mataku dan mengecup kedua mataku. dia menungguku sampai aku berhenti menangis.


Tiba-tiba ketukan terdengar dari kamarku, aku melotot dan mengira bibi emy yang mengetuk pintuku.


Aku turun dari tempat tidur dan mendengar suara seseorang yang memanggilku. Aku membukanya, dan Jessie membawa beberapa cake yang baru saja di buatnya. "Hai Ruzy, bibi Emy menyuruhku membawakan ini untukmu". Katanya yang setengah mengantuk.


"Terima kasih Jessie". Senyumku sambil mengambil kue itu, dia hanya melambaikan tangannya dan segera pergi. Malam itu begitu larut dan pria ini tidak beranjak-beranjak dari kamarku, aku duduk menjauh darinya, sementara dia duduk diatas tempat tidurku dan mengambil beberapa novelku kemudian membuka-bukanya.


Dia berdiri dan berjalan ketempatku duduk, rambutku yang setengah kering, menempel di wajahku, dia kemudian mengambilnya dan menyelipkannya di antara telingaku.


"Aku pergi, jangan menghindariku lagi Ruzy". bisiknya di telingaku. Dia kemudian memelukku, lalu menunduk dan menciumku dengan seenaknya, dia membuka mulutku, lalu menciumku begitu dalam, aku harus memegang lengannya agar tidak terjatuh. Suara napasnya yang keras membuatku semakin panas tanpa sadar tanganku berada di rambutnya, aku merasa dia tersenyum merasakan balasan ciumanku padanya. Dia melepas bibirnya, "Aku sangat menginginkanmu Ruzy, bolehkah"?


Aku memalingkan wajahku, tangannya yang panjang membelai bibirku, "Aku ingin memilikimu Ruzy". bisiknya di bibirku.


Ciuman panjang terakhirnya begitu lama, aku sampai menggapai-gapai udara yang kosong untuk menghentikannya, dia melepaskan ciumannya dengan kasar.


"Aku pergi Ruzy, ingat jangan menghindariku". dia kemudian membuka pintu dan pergi.


Aku terduduk di lantai, apa yang harus aku lakukan?