
Alyena sedang tidur di bahu Jafier di dalam mobil, mereka duduk di belakang, sementara Willy sedang menyetir. Dia ngantuk sehabis mendengarkan perbincangan membosankan Kakaknya dan Jafier hingga matanya terkantuk-kantuk.
"Tampaknya Alyena lelah sekali."
"Apa pengaruh obatnya masih bekerja? Sekarang baru jam 9 lewat dan dia terkantuk-kantuk saat kita ngobrol. Tetapi itu wajar saja, siapa yang tidak akan ngantuk mendengarkan pembicaraan bisnis yang membosankan, apalagi Alyena. Dia pasti sangat bosan tadi." Ucap Jafier.
"Aku menyuruhnya membawa obatnya, jadi setelah makan malam, aku menyuruhnya minum obat." Ucap Willy.
Willy terus memperhatikan mereka berdua. Sedangkan Jafier terkekeh dengan sikap Willy.
"Aku tidak melakukan apa-apa di belakang sini, Will. Aku menyayangi Alyena. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang akan menyakitinya." Ucap Jafier.
***
Bunyi musik menghentak keras di Club itu, tiga orang wanita melepaskan frustasinya ke lantai dansa sambil meliukkan tubuhnya mencari mangsa. Melepaskan stres dari kesibukan pekerjaan adalah hal rutin yang mereka lakukan. Mereka minum sambil tertawa-tawa dan bersenang-senang, seakan tidak memikirkan hari esok.
"Hei, kau dengar aku?"
"Apa?" Teriaknya, karena musik itu menghentak keras.
"Bagaimana kalau kita beri pelajaran kepada gadis kecil itu? Kalian tahu apa julukanku ketika sekolah dulu?"
"Siapa yang tahu? Apa penggoda suami orang? Atau gadis impian pria?" Jawab temannya dengan berteriak keras.
"Aku ketua Cheerleaders, kami memiliki kelompok yang di takuti, bagaimana kalau kita menakuti sedikit saja gadis itu?"
"Haha Cheerleaders, konyol." Teriaknya.
"Oh ya, bagaimana caranya? Tetapi satu hal, jangan sampai melibatkan polisi, aku tidak mau karirku hancur hanya karena gadis kecil itu." Mereka semua menyetujuinya.
***
Jafier mengangkat Alyena lalu membawanya ke kamarnya, sedangkan Willy membuka pintu kamar Alyena agar Jafier bisa membaringkan Alyena ke tempat tidurnya. Setelah memberikan kecupan di kening, Jafier segera meninggalkan kamar Alyena. Dia berhenti sejenak ketika melihat ekspresi Willy yang melipat kedua tangannya di depan dada dan menatapnya tajam.
"Hubungan yang harmonis sekali, aku suka melihat pemandangan ini, semoga bertahan lama saja, aku ingin lihat kalian akur seperti ini. Kalian seperti merawat bayi saja." Ucap Audry tertawa melihat mereka keluar dari kamar Alyena.
"Kau dari mana saja? Sejak tadi aku menghubungimu tetapi ponselmu selalu sibuk, kami baru saja selesai makan malam."
"Jangan mengkhawatirkan aku, aku sedang mengurus sesuatu yang penting. Oh ya. Jafier, kapan kau akan melamar Alyena? Aku sudah merestui hubungan kalian, lagi pula untuk apa menunggu lama-lama."
"Jangan bercanda Audry, apa kau tidak melihatku ada di sini? Aku masih belum merestui hubungan mereka berdua."
Jafier menatap jengkel kepada Willy. "Sampai kapan kau akan seperti ini, Willy. Kau harus betul-betul menemui seorang wanita, dan meninggalkan Alyena sendirian."
"Berisik, sebaiknya kau pulang, hari sudah malam." Ucap Willy. Jafier menggelengkan kepalanya dan segera keluar dari penthouse mereka.
"Ya, kau memang menyebalkan Willy." Audry memutar bola matanya dan segera menutup pintu kamarnya.
***
Ponsel itu berdering sejak tadi di ruangan kerja Willy. Dia berada di kamar mandi, ponselnya terus-terusan bergetar. Dia keluar dari kamar mandi kemudian mengangkatnya.
"Halo, kau tidak perlu mencarinya lagi. Menurut informasi yang kudapatkan dia telah wafat ...."
"Halo? Kau mendengarku? Halo ...." Willy kemudian memeriksa kembali nomor teleponnya dan memastikan itu adalah nomor pengawal yang ia perintahkan sedang mencari tahu bukti kematian Nick Adams di Gimmelwald.
Hening. Suara napas terdengar sesak dan geraman terdengar dari telepon yang belum tertutup.
"H-halo, kau mendengarku? Halo, hei halo...."
Kembali hening, hanya suara napas dan kekehan kecil yang terdengar dari kejauhan.
William lalu menutupnya, jantungnya berdetak kencang, perasaan takut tiba-tiba menghinggapinya. Matanya menatap pada jendela yang terbuka, dia lalu cepat-cepat menutupnya.
"Ini nomor teleponnya. Nomor salah satu pengawal yang aku perintahkan mencari bukti mengenai kematian Nick Adams." Dia menatap nomor telepon itu, kemudian dia menutupnya kembali. Baru kali ini perasaan takut muncul begitu saja. Dia lalu keluar dari ruangannya dan segera masuk ke kamarnya.
***
Alyena telah sembuh dan lukanya pun sudah tidak tampak lagi. Mulai hari ini dia akan masuk kuliah. Dia akan di jemput oleh Nick dan pulang akan di antar oleh Clara, mereka bersikeras ingin menjemput dan mengantarnya pulang, dari pada Willy yang mengantarnya dan menceramahi mereka dengan ceramah harian selama 10 menit, agar mereka langsung pulang dan tidak mampir ke sembarang tempat, atau mampir di cafe hanya sekedar membunuh waktu.
"Pagi Nick, terima kasih karena kalian akan menjemputku dan Clara akan mengantarku pulang, padahal semua itu tidak perlu, aku bisa membawa mobilku sendiri, nanti mereka pikir kalian memperlakukan aku seperti seorang tuan putri." Ucap Alyena.
Nick mendengus. "Sejak kapan kau memikirkan apa yang di pikirkan oleh orang lain? Apa peduli mereka, semua itu tidak akan ada habisnya kalau mau mendengarkan omongan mereka."
"Kau benar, baru kali ini perkataanmu terdengar berguna, Nick." Kekeh Alyena. 20 menit perjalanan dan mereka tiba. Clara sudah menunggu di tempat biasa sambil menyiapkan snack pagi dan minuman penyegar di pagi hari."
"Wuah, semua sudah siap, aku beruntung sekali." Alyena mengambil satu cake dan memakannya. Mereka bertiga tertawa-tawa tanpa mengetahui ada tiga wanita sedang mengawasinya. Mereka betul-betul ingin memberi pelajaran kepada Alyena, sampai-sampai mereka izin sakit dari pekerjaannya hanya untuk mengawasi Alyena.
"Lihat. Dia gadis manja itu kan, apanya yang cantik, wajahnya terlihat membosankan. Apa yang akan kakak tersayangnya lakukan kalau adiknya sedikit kita ganggu?" Ucap wanita yang sedang mengenakan kacamata hitam sambil bersandar dan menghembuskan asap rokok dari mulutnya.
"Aku dengar-dengar adiknya itu baru saja keluar dari rumah sakit karena seseorang menyerangnya."
"Dia sungguh beruntung karena dia terlihat baik-baik saja."
"Jangan khawatir kita hanya mengganggunya sedikit, gadis manja seperti itu sekali-sekali harus di beri pelajaran, hal in tidak akan membawa kita kepada masalah apapun, biar aku yang urus semuanya." Wanita bertubuh seksi itu mengikat rambut merahnya tinggi-tinggi, lalu meninggalkan universitas tempat Alyena kuliah.
****
"Clara, hanya kali ini saja, besok aku akan membawa mobilku sendiri, aku sungguh akan merepotkanmu jika kau mengantarku setiap hari, astaga lama-lama kalian semua mirip kak Willy." Ucap Alyena ketika mereka telah tiba di depan penthousenya.
Clara menggeleng tidak setuju, "Jangan menolak Alyena, aku akan mengantar pulang sampai kau pulih dengan benar. Jangan sungkan, aku tidak mau mendengar kata penolakan, oke." Ucap Clara.
"Oke, baiklah. Sampai aku sembuh." Dia melambaikan tangannya dan segera pergi. Alyena masuk ke penthouse, sebelum masuk, dia berbalik dan menatap seseorang dari jarak cukup jauh, dia memakai topi tua, meskipun tidak terlalu jelas, tapi Alyena tahu dia seorang pria tua dan sedang memperhatikannya. Alyena masuk, dia kembali menatap pria tua itu, tetapi dia sudah tidak ada di sana.
***
Willy mondar mandir sejak tadi di ruang tamu, dia sangat gelisah, pagi tadi ketika tiba di kantor, pengawal itu kembali menghubunginya lagi, tetapi setelah Willy mengangkatnya, tidak ada suara apapun yang di dengarnya. Sama seperti sebelumnya hanya suara napas tertahan dan kekehan kecil dari seberang telepon.
Dia berusaha menghilangkan keraguan itu, dia tidak mau mengakuinya bahwa suara itu adalah dia, pria menakutkan yang menjadi ayah Alyena.
Suara ketukan terdengar dari ruang tamu, pria tua itu masuk dan sedikit menunduk kepada Willy.
"Tuan mencari saya?" Ucap Tom yang bertugas menjadi perawat kebun dan tanaman di penthousenya.
"Ya, aku mencarimu." Ucap Willy gelisah. Dia mempersilahkan pria itu untuk duduk. Mereka hendak memulai pembicaraan ketika suara Jafier terdengar dari luar.
"Aku berada di ruang tamu, Alyena. Kemarilah setelah kau sudah siap."
"Oke." jawab Alyena.
Jafier membuka pintu ruang tamu, dia kemudian menyapa Willy dan melihat pria tua yang telah menolong Alyena waktu itu. Jafier duduk di depan Willy, turut mendengarkan pembicaraan mereka.
"Katakan kepadaku, Tom. Apa kau yakin Ayah kandung Alyena telah wafat?" Tanyanya. Wajah terkejut terlihat dari pancaran matanya, bukan itu saja, Jafier juga terkejut mendengarkan pertanyaan Willy.
"Saya yakin tuan. Menurut kabar yang beredar, tuan Nick menderita penyakit parah, ketika usia Nona Alyena 10 tahun, tuan Nick meninggal tidak lama ketika Nyonya Ruzy wafat."
"Ada apa Willy, kenapa pertanyaanmu seakan-akan ayah Alyena masih hidup? Wajahmu pucat." Ucap Jafier.
"T-tidak ada apa-apa. Emm, apa ada bukti bahwa dia terlihat di makamkan waktu itu?"
"S-saya tidak tahu tuan, tidak ada yang membicarakannya, sebenarnya ada apa tuan? Ucap Tom menampilkan wajah horor, dia tahu benar bagaimana ketakutannya selama bekerja di kediaman tuan Adams, rasa takutnya ketika bekerja di rumah itu membuatnya bergetar setiap hari.
"Ada seseorang yang meneleponku. Aku pikir dia ... Juan Tevez, dan aku yakin pria itu masih hidup."