
Penthouse itu berdiri kokoh, tampak menyala dengan terang, penghuni di dalam penthouse itu belum tidur juga karena mereka bertiga kena omelan Willy.
"Sudah pukul 10, paman Willy belum berhenti berbicara, aku tidak tahan lagi duduk berlama-lama." bisik Nick kepada mereka berdua.
"Diam bodoh, kau menyebalkan Nick, ini semua idemu dan selalu berakhir seperti ini." Gumam Clara.
"Bukannya kau senang, Clara? Aku mendengarmu bersenandung sejak sore tadi." bisik Alyena sambil terkikik.
"Awas kau Alyena." Ucap Clara dengan pipi bersemu merah.
"Kalian tidak mendengarkan aku?" Ucap Willy sambil memghembuskan napasnya.
"Dengar kok." Ucap mereka bertiga. Willy duduk dan menatap mereka satu persatu. "Sebaiknya malam ini kalian menginap di sini, sekarang sudah larut, kalian lebih baik menelepon orang tua kalian dulu." Ucap Willy. Dia berdiri dan meninggalkan mereka bertiga di ruang keluarga.
"Ukhh, kakiku sakit, telingaku berdenyut-denyut, paman Willy sangat kuat berbicara, dia sama sekal tidak lelah, aku jadi penasaran siapa wanita beruntung yang akan menjadi istrinya kelak dan akan mendengarkan omelan paman Willy sepanjang hidupnya." Ucap Nick sambil bersandar di sofa.
"Bagaimana kalau malam ini kita mengendap-endap ke taman? Apa kalian tidak penasaran? Suara apa itu? sangat mengerikan, bagaimana bisa seseorang masuk ke dalam penthouse ini dengan keamanan 24 jam dan cctv ada di mana-mana." Ucap Nick.
Clara mengambil bantalan kecil dari sofa dan melemparkan kepada Nick. "Berhenti membuat ide konyolmu Nick. Suara itu bukan main-main, untung saja kita berlari cepat, bagaimana jika orang aneh itu menangkap kita? itu sangat mengerikan."
"AKU TAHU !" Teriak Nick tiba-tiba. Pelakunya tinggal di penthouse ini, bagaimana? Aku hebat bukan?"
"Sst, kecilkan suaramu, nanti kak Willy mendengar kita." Ucap Alyena.
***
Willy masuk ke dalam ruangannya, dia lalu menelepon. "Awasi ketiga anak-anak bandel itu, jangan biarkan dia keluar ke taman dan berkeliaran, kita masih belum menangkap siapa pelaku yang membunyikan suara aneh itu."
Dia meletakkan gagang teleponnya. Dia kemudian berjalan menuju ke lemari dan membukanya, Willy mengambil beberapa dokument penting dan membacanya. Dokument itu menjelaskan mengenai perilaku Nick Adams ketika dia beralih kepada Juan Tivez, menurut saksi mata, bahwa juan mengeluarkan suara aneh yang keluar dari mulutnya untuk menakut-nakuti mangsanya, suara aneh yang terdengar itu karena ada kawat yang di sisipkan di bagian geraham bawah dan atas giginya sehingga saling beradu dan menimbulkan suara aneh.
"Itu tidak mungkin, jika dia masih hidup maka akan sangat berbahaya bagi Alyena, dan orang-orang di sekitar penthouse ini." Willy menghubungi seseorang untuk memastikan informasi yang dimintanya terkait kematian Nick Adams.
***
Pukul 09.00 pagi hari terjadi pembersihan besar-besaran dikediaman Collagher, William sendiri yang mengelilingj seluruh area bersama dengan seluruh pengawalnya. Mereka memeriksa semuanya, hingga mencapai tembok tinggi pembatas, tidak ada siapapun atau hal aneh yang mencurigakan.
Semua pengawal berkumpul, dan kepala pelayan memeriksa semua orang yang bekerja di sana, baik pengawal dan para pelayan, semua data-data mereka bersih. Alyena menatap pria tua yang bekerja sebagai tukang kebun, dan terlihat tidak ada yang mencurigakan dari data pribadinya.
Alyena menatap Willy, dia mengikutinya dari belakang. "Kak Willy, kenapa kakak tahu siapa pelaku suara itu? kami memang mendengarnya tapi tidak ada seorangpun yang kami lihat ada di sana, mungkin hanya suara binatang atau burung hantu yang hinggap di pohon."
Suara itu aku pernah mendengarnya sewaktu kecil dulu. piki Alyena
Willy menggelengkan kepalanya. "Suara itu bukan suara sembarangan Alyena." Ucap Willy, dia tidak mau menceritakan kepada Alyena bahwa suara itu digunakan ayahnya ketika dia berubah menjadi Juan Tevez.
"Kakak tahu? Suara itu mirip sekali dengan suara yang dikeluarkan dari mulut ayah, itu sering kudengar ketika aku pergi berburu dengan ayah di hutan."
Willy menatap Alyena dengan terkejut, dia membelalakkan matanya. "Kau pernah mendengar suara itu ketika kau sedang bersama ayahmu?"
"Mm ya, sewaktu usiaku 10 tahun setelah mom wafat, ayah menjadi kacau, sangat kacau. Dia kadang berbicara dengan dirinya sendiri di dalam kamar, sebelum dia berubah aneh, dia menyuruhku bermalam di rumah Nalia, aku kadang menginap di rumahnya berhari-hari, setelah itu ayah datang menjemputku lagi kalau dia sudah baikan."
Willy berjalan ke Alyena dan memeluknya erat. "Harusnya sejak dulu kami membawamu, setiap hari kau pasti ketakutan." Ucapnya.
Alyena menggeleng, "Ayah juan baik kepadaku, meskipun suaranya kasar, tetapi dia hebat dalam menembak hewan buruannya, dia selalu tepat sasaran, kadang hasil buruannya aku berikan ke rumah Nalia."
"A-apa? kau berbicara dengannya?"
Alyena mengangguk, jika malam tiba, dia menyuruhku menginap di rumah Nalia, Ayah bilang. Dia tidak mempercayai dirinya sendiri, dia takut nanti melukaiku." Ucap Alyena.
"A-apa kau pernah mendengar suara itu?"
"Ya, sesekali waktu masih kecil, Kenapa?"
"Apa kak Willy pikir itu suara ayah Juan?" Ucapnya, kata-kata Alyena membuatnya merinding. Dia sangat mudah menyebut ayah pada pria pembunuh itu.
"Suaranya tidak seperti itu, aku sangat mengenal bagaimana suara ayah."
***
Malam itu hujan turun sangat deras, tepat tengah malam, gadis itu masih belum tidur juga di dalam kamarnya, sejak pertemuannya dengan Alyena, dia sadar. Alyena sangat berubah, dia tidak seperti dulu, dia lebih berani, percaya diri, tanpa takut sedikitpun bahkan Rudith di dalam otak paling dalamnya meskipun mulutnya sangat menentangnya, bahwa dia mengakui jika anak itu semakin cantik, dan terlihat dewasa.
Karena kecemburuan dan kegilaannya, dia keluar dari kamarnya, setelah mengenakan sweaternya, dia berjalan larut malam, tidak ada yang mendengar langkah kakinya, karena hujan yang turun cukup deras membantunya untuk bisa berkeliaran semaunya.
Dia membuka pintu kamar itu dengan berani. Dia mengintip ke dalam kamar yang gelap, tetapi di kamar itu kosong, tidak ada tuan Regan di sana.
"Kemana tuan Kilian?" bisiknya.
Lampu ruang kerjanya menyala, dia lalu tersenyum, dia berjalan pelan dan membuka pintu itu dengan sangat perlahan. Matanya menemukan sosok yang di carinya. Dengan nekat Rudith berjalan masuk ke ruangannya, ketika melihat tuan Kilian tidur di kursinya karena kelamaan membaca buku, dia mendekatinya.
Senyum kerinduan terpancar di wajahnya, dia menundukkan tubuhnya, lalu memperhatikan seluruh wajahnya, "Tampan." bisiknya. Dengan berani dia memberikan kecupan singkat di bibirnya, dia tersenyum dan mengambil foto mereka berdua. Rudith menutup pintu ruangannya dan berlari-lari kecil, dia berhasil mengambil foto mereka berdua.
***
Pagi menyambut di mansion megah milik Kilian Regan. Pukul 08.00 dia telah sarapan seperti biasanya, setelah sarapan seorang pengawal mendatanginya.
"Tuan, saya ingin melaporkan sesuatu kepada anda."
"Ada apa?" tanyanya.
"Tuan, kami menemukan rekaman cctv semalam, silahkan lihat hasil rekam video yang kami dapatkan semalam." Pengawal itu mengeluarkan ponselnya, dan memperlihatkan apa yang terjadi, dia melihat dirinya yang berada di dalam ruangan, tertidur karena lelah, seorang wanita berjalan mendekat ke arahnya, seketika matanya membulat dan terkejut.
"Apa ini? Siapa wanita itu?"
"Sepertinya dia seorang pelayan, tuan."
Wanita itu mengenakan gaun tidur dan sweater, dia menundukkan tubuhnya dan Kilian terkejut, wanita itu mengecupnya. Dengan sangat marah, dia memukul meja makan hingga benda-benda di atasnya bergoyang.
"Cari wanita itu, dan bawa ke hadapanku." Perintahnya.
"Baik tuan."
Kilian berada di ruangannya, dia mendengar suara ribut-ribut dari luar, suara seorang wanita yang berteriak-teriak agar di lepaskan. Terdengar suara ketukan dari luar ruangannya.
"Masuk."
Dua orang pengawal memegang Rudith di kanan kirinya layaknya seperti seorang kriminal. Wajah Rudith seketika pucat dan tidak mengerti dengan situasinya. Kilian menatapnya dengan ekspresi sangat dingin dan mengerikan.
"T-tuan, tolong saya, saya tidak tahu kesalahan saya." Ucap Rudith dengan suara keras memohon.
"Kau, siapa wanita ini?" Tanya Kilian kepada kepala pelayan yang berdiri di belakang mereka, dia pun tidak menyangka Rudith di bawa oleh dua pengawal secara paksa.
"Dia seorang pelayan yang tidak begitu lama bekerja di mansion ini, tuan. Atas rekomendasi Nona Susan, jadi kami menerimanya, dia berasal dari Swiss desa Gimmelwald." Jelasnya.
Seketika wajah Kilian terkejut. "Desa Gimmelwald?"
"Ya tuan, gadis ini berkata, bahwa dia dulunya bekerja sebagai pelayan anda di mansion anda di Gimmelwald."
"Kenapa kau menerima pelayan mengerikan ini bekerja di sini, usir dia. Aku tidak mau wanita tidak tahu tempatnya ini bekerja di mansionku dan berbuat kurang ajar. Aku tidak mau melihat wajahnya, usir dia."
"Baik tuan."
Seketika Rudith berteriak-teriak, tanpa rasa malu memohon pengampunannya, dia terduduk di lantai dan memohon kepadanya agar dia di beri kesempatan dan dibiarkan bekerja kembali.
"Lekas bawa dia."
Dua pengawal memegang kedua tangan Rudith, tetapi bukan Rudith namanya ketika dia tidak menggunakan segala cara agar dia bisa di lepaskan. "S-saya bekerja di perkebunan anda bersama dengan Alyena, tuan. S-saya sahabat baik Alyena, dia memberiku semangat ketika dia tahu aku bekerja di mansion anda."
Kilian mengangkat tangannya, sehingga dua pengawalnya berhenti menyeretnya. Dengan wajah penuh harapan, Rudith memohon kembali. "Saya bersalah tuan, ampuni saya." Ucapnya.
"Sangat di sayangkan, Alyena memiliki teman tidak tahu diri sepertimu, kau wanita mengerikan, usir dia dari mansionku." Ucap Kilian dengan wajah jijik menatapnya.
Hari itu juga Rudith di keluarkan dari mansion Kilian Regan, dia berdiri di depan gerbang dan berteriak-teriak di sana. Kepala pelayan di dapur telah memerintahkan pelayan untuk mengumpulkan barang-barangnya.
"Ambil ini dan segera pergi, sejak awal aku sudah memperingatimu, sekarang kau terima akibat perbuatanmu sendiri." Ucapnya.
Dia menangis tertahan, orang-orang melihatnya ketika dia menangis di dalam bus, apa dia akan pulang dengan keadaan menyedihkan seperti ini? pikirnya. Dia ingin bertemu Alyena tetapi egonya yang tinggi tidak memperbolehkannya, meskipun dia berada di dalam lumpur mengerikan sekalipun, dia tidak akan meminta bantuan gadis tengik itu.