Flower On The River

Flower On The River
Vol 49



Alyena baru saja keluar dari mobilnya dan segera menuju ke lantai atas di kamarnya, tidak seorangpun di penthouse saat itu, karena Willy dan Audry belum kembali. Dengan tidak sabar Alyena mengambil buku dari dalam tasnya. Dia segera duduk dan membaca mengenai kisah terkelam Nick Adams. Jantungnya berdegub ketika membacanya.


Nick Adams seorang bangsawan dari eropa yang merupakan anak adopsi dari keluarga Adams, dia di besarkan dengan segala kemewahan dan juga kasih sayang. Tetapi sungguh malang, karena kejadian yang menimpanya sejak kecil tidak bisa mengubahnya menjadi lebih baik. Sejak di asuh oleh keluarga Adams dia memiliki kebiasaan yang aneh, Nick kadang memanggil dirinya Juan Tevez, menurut pemeriksaan dokter pribadinya. Tuan Nick mengalami penyakit DID ( dissociative identity disorder) Dimana seseorang memiliki kepribadian lain atau kepribadian ganda. Dan buruknya kepribadian itu adalah seorang Juan Tevez yang mengerikan, kepribadian yang mengincar nyawa wanita dan membunuh mereka dengan cara yang mengerikan. Sejak kepindahannya dari inggris dia menutupi semuanya. Nick kembali menguasai tubuhnya dan berteman baik dengan Alex Collagher seorang bangsawan dari Kota Pitsshburg Penssylavenia, persahabatan mereka terjalin begitu erat. Tetapi sayangnya kali ini Nick tidak bisa mengekang Juan Teves, hingga dia kembali melakukan pembunuhan mengerikan kepada sejumlah wanita. Suatu hari keburukannya terekspos karena dia menculik seorang wanita bernama Ruzy Chandelier. Hingga sekarang dia masih menjadi seorang buron kelas berat yang di cari oleh seluruh kepolisian di Amerika.


Alyena terdiam. Dia sangat shock ketika membacanya apa semua ini kenyataan? Ayah yang terbaik yang selalu tersenyum lembut dan sangat sayang padanya ternyata seorang buronan kelas berat seorang pembunuh berantai? Alyena memeluk buku itu. Dia lalu berpikir keras bagaimana ibunya bisa berakhir dengan ayahnya.


"Apakah Mom di culik?" Gumamnya.


"Tapi itu tidak mungkin Mom mencintai Dad, dia tulus mencintainya dan menghabiakan waktu dengannya. Juan Tevez, kepribadian dad yang lain, sekarang aku mengerti mengapa Dad begitu marah ketika dia pergi kehutan dengan namanya yang lain Juan Tevez, karena kepribadiannya itu berbahaya. Tetapi meskipun ucapannya sedikit kasar dan keras. Kepribadian dad itu tidak pernah menyakitiku, dia juga sangat menyayangiku seperti halnya dad menyayangiku. Perubahan ayah menjadi Juan Tevez terjadi ketika Mommy sakit-sakitan, dan semakin menjadi-jadi ketika ibu telah wafat."


Alyena menghembuskan napas. "Apapun kata orang, Dad di mataku ayah yang terbaik di dunia, aku sangat menyayangi mereka berdua. Nick atau Juan, Aku mencintai dan menyayangi keduanya." Ucap Alyena tanpa ragu sedikitpun.


***


"Alyena? Kau sudah tidur?" Ketukan itu terdengar dari luar kamar Alyena. Sekarang pukul 11.15 malam dan Willy baru saja kembali dari kantornya.


"Apa dia sudah tidur?"


Willy membuka pintu kamarnya dan melihat Alyena tidur di sofa panjang sambil memeluk sebuah buku, beberapa buku jatuh tergeletak di lantai.


"Kenapa dia begitu sembrono tidur di atas sofa? Apa dia sedang belajar?" Ucap Willy. Dia mematikan TV yang sejak tadi menyala. Lalu mengangkat Alyena ke atas tempat tidur dan menyelimutinya. Setelah itu dia membungkuk mengumpulkan semua buku-bukunya, matanya terpaku pada satu buku yang tergeletak di sana dan membuat Willy mematung. "A-apa ini? dimana dia menemukan buku ini?" Ucap Willy menjadi marah. Dia mengambilnya dan membacanya.


"Jadi Alyena sekarang tahu mengenai ayahnya? Besok aku akan bicara dengannya, dia tidak boleh mempercayai buku ini." Ucap Willy, dia membawa buku itu dan keluar dari kamar Alyena.


Willy masuk ke dalam ruangannya dan mulai membaca semua buku itu. "Dimana Alyena mendapatkan buku ini?" Ucap Willy membolak balik buku yang tertulis dengan angka dan judul buku di depannya. "Siapa yang membuat hal semacam ini?" Ucap Willy. Dia kemudian menelepon seseorang.


"Aku ingin kau menyelidiki sesuatu, kematian Nick Adams, cari tahu tentangnya, telusuri mengenai pria itu, cari informasi sampai hal kecil apapun dan bawa bukti bahwa pria itu betul-betul telah wafat." Willy menyimpan kembali ponselnya.


"Kenapa menyebut nama pria itu membuatku tidak tenang?" Gumamnya.


***


Alyena baru saja tiba di kampusnya dan menghembuskan napasnya. "Ada apa? kenapa wajahmu murung.


"Gara-gara buku Nick, aku sampai di ceramahi oleh kak Willy."


"Buku Nick?"


"Iya aku mengambil salah satu bukunya dan kak Willy memberikan nasehat terpanjang yang pernah aku dengar." Ucap Alyena.


"Kenapa kau tidak berhati-hati Alyena, bagaimana jika kak Willy mencari tahu mengenai siapa yang membuatnya, keluarga Wedny akan kena masalah, dia mengoleksi segala cerita kelam para bangsawan dan pengusaha terkenal di negara ini."


"Jangan khawatir, kak willy terlihat lebih khawatir mengenai diriku di bandingkan mencari tahu siapa yang membuat buku itu, Oh ya, bagaimana dengan pertunangan kalian?" Ucap Alyena mengangkat Alisnya.


"J-jangan membicarakannya, aku juga tidak tahu apa yang direncanakan oleh Ayahku." Ucap Clara dengan wajah merona.


Telepon berdering, Alyena lalu mengangkatnya.


"Halo Alyena kau dimana?"


"Aku sekarang di kampus bersama Clara, kau lagi di kantor?"


"Aku sekarang sedang rapat yang membosankan, sebentar lagi kita makan siang, aku tunggu di tempat biasa."


"Okey." Ucap Alyena.


"Apakah paman Jafier?" Tanyanya.


***


Gadis itu mengintip lagi, bahkan kali ini dengan berani dia masuk ke kamar majikannya dan membaui pakaian pria yang sedang mandi di dalam kamar mandi, dia mengambil kemeja yang tergantung dan memeluknya lalu mengambil foto bersamanya. Setelah itu dia berjinjit dan kembali keluar dari kamar Kilian Regan.


Dia menunduk, lalu lari terbirit-birit ketika melihat seorang pelayan menuju ke tempatnya. "Ugh, sial hampir saja, kali ini aku berhasil, waktu berikutnya aku akan mengambil fotonya bersamaku." Ucap Rudith. Dia ingin sekali mengambil langkah cepat agar hidupnya berubah, dan tidak tersaingi oleh Alyena. Bagaimanapun dia sudah memantapkan dirinya akan melakukan apapun agar Kilian Regan menjadi miliknya bagaimanapun caranya.


Kilian baru saja keluar dari kamar mandi, dia kemudian menatap heran kemeja yang di gantungnya ada di atas tempat tidurnya. Dia berpikir sejenak. Apa dia yang salah menempatkannya? Dia menggeleng dan segera mengenakan pakaiannnya.


Rudith berlari-lari kecil dan membuka-buka ponselnya di dekat danau buatan yang berada di mansion itu. Dia lalu tersenyum, karena dirinya selangkah lebih maju dari biasanya.


"Rudith apa yang kau lakukan di sini?" Ucap Salah seorang pelayan. "Kita harus ke dapur sekarang untuk menyiapkan sarapan tuan Regan.


"Ah, baik tentu saja." Rudith berlari kecil dan segera mengikuti gadis di depannya.


***


"Kau sejak tadi diam saja, ada apa?" Ucap Jafier.


Mereka berada di sebuah taman, Alyena tidak ingin makan di restaurant, dia ingin menikmati kebersamaannya bersama Jafier, dan lebih memilih menu Street Food yang berada di pinggir jalan, meskipun Jafier kurang setuju dengan pilihan Alyena yang suka jajan dengan makanan siap saji.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya memikirkan tentang sesuatu." Ucap Alyena mengangkat bahunya.


"Willy meneleponku tadi, dan itu membuatku cukup terkejut, dia meneleponku untuk mengawasimu, katanya kau sudah membaca sebuah buku terlarang." Ucap Jafier sambil menaikkan alisnya. "Willy sangat khawatir padamu sampai mengesampingkan egonya, dia meneleponku agar mengawasimu, apa kau akan melakukan perbuatan terlarang?" Ucap Jafier sambil terkekeh, dia menarik Alyena dan mengecup puncak kepalanya.


"Katakan, buku apa yang membuat Willy sampai sangat mengkhawatirkanmu."


Mata Alyena menatap kiri dan kanan, dia tidak sanggup untuk menceritakan mengenai ayahnya yang memiliki kepribadian ganda.


"B-bukan buku yang seperti kau fikirkan."


"Lalu, buku apa itu, aku juga ingin tahu."


Alyena menarik napas, lalu menatap Jafier. "Mm, buku itu mengenai ayahku, kau kan tahu aku dan kak Willy memiliki ayah yang berbeda."


"Iya aku tentu tahu." Ucap Jafeir. "Lalu apa yang menjadi masalah, Alyena?"


Aluyena tertunduk, "Mm ayahku adalah sahabat baik dari ayah Kak Willy." Jawabnya. Sontak Jafier sedikit terkejut dengan cerita Alyena. Melihatnya terkejut Alyena lalu tertawa.


"Itu bukan bagian penting cerita itu, tetapi cerita ini mungkin akan membuatmu shock. Aku akan menceritakannya, aku juga tidak ingin menyembunyikannya darimu." Ucap Alyena.


Setelah mendengarkan segala penuturan Alyena, Jafier bukannya ngeri atau takut, tetapi dia malah memeluk Alyena dengan erat. "Kau pikir aku akan berubah setelah mendengar kisah keluargamu?" Alyena mengagguk kepadanya.


Dia tersenyum. "Tentu saja tidak, aku akan tetap bersamamu." Ucap Jafier sambil memeluknya.


Sebuah mobil hitam, sedang menatap mereka dari kejauhan, tampak Kilian Regan keluar dari mobilnya tanpa ragu berjalan menuju ke tempat mereka, dia tidak bisa lagi menerima apa yang terjadi di depan matanya.


"Singkirkan tanganmu darinya." Ucap Kilian membuat Jafier dan Alyena sangat terkejut, dia menarik tangan Alyena begitu saja, membuat Jafier melepaskan pukulannya di wajah Kilian tanpa ragu.


"Apa kau gila? Apa yang kau lakukan?!" Ucap Jafier sangat marah, dia kembali menarik Alyena dan menyuruhnya berdiri di belakangnya.


Seorang pria tengah berdiri tidak jauh dari taman. Dia segera melaporkan apa saja yang baru di lihatnya. "Sir, sepertinya ada keributan antara tuan Jafier dan tuan Kilian di taman. Bagaimana jika anda datang ke tempat ini, sebelum orang-orang berdatangan karena mereka berada di tempat umum."


Willy menipiskan bibirnya dan segera mengenakan jaketnya setelah menerima telepon itu. Dia lalu keluar dari perusahaannya dan naik ke atas mobilnya. "Apa yang Alyena lakukan sampai-sampai pria-pria itu jadi gila karenanya."