
Alyena sangat terharu dan sangat bahagia bertemu dengan kedua kakak-kakaknya, segala sesuatu yang menjadi beban yang selama ini dia rasakan menjadi sirna dalam sekejap. Alyena memeluk Audrey dan Willy ketika mereka masih berada di restaurant itu. Suasana canggung nampak kental terasa di antara Kilian dan Jafier. Dia sedikit terkejut mengetahui bahwa Alyena ternyata adik dari William Collagher, semua orang di dunia bisnis tahu siapa William.
Matanya berpindah ke wajah Alyena yang terus berada di pelukan Willy. Dia menyembunyikan wajahnya di sana karena tangisnya tidak mau berhenti.
"Sebaiknya saya permisi." Ucap Regan, Willy mengangguk sambil menepuk-nepuk punggung adiknya yang kecil.
"Kenapa Regan ada di sini?" Tanya Willy.
"Entahlah, mungkin dia mengikuti kami sejak dari penthouseku." Jawab Jafier.
"Sepertinya dia terlihat menyukai Alyena." Ucap Audrey, ketika memperhatikan mata pria itu sejak tadi tidak berpindah dari Alyena.
"Ah, sial, aku ingat malam itu, Tch aku ingin memukulnya sekali saja." Gumam Willy. Alyena merasa malu karena sejak tadi dia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Willy, entah mengapa dia begitu cengeng dan lemah.
"Kau sudah tidak apa-apa?" Tanya Willy sedikit menunduk menatap wajah Alyena. Dia kemudian menatapnya lekat-lekat. "Kau betul-betul mengcopy wajah mommy, hanya matamu saja yang sedikit berbeda." Ucap Willy.
Setelah pertemuan mengharukan itu, mereka semua duduk di meja restaurant, tampak wajah Audrey menyipitkan matanya terarah kepada Jafier.
"Kau ingin mengatakan sesuatu Audrey?" Tanya Jafier.
"Tidak, aku hanya berpikir, apa Alyena adalah tipe wanitamu Jafier?" Tanya Audrey tanpa basa basi. Mereka berdua terbatuk dan hampir menumpahkan minuman yang ada di mulutnya.
"Apa sih yang kau katakan, Audrey." Ucap Willy.
Alyena menatap Jafier setelah mendengar ucapan kakaknya itu.
"Tebakanku selalu tepat, kau tahu?" Senyum Audrey, dia menatap Jafier dengan pandangan menuduh.
"Sudahlah bukan waktunya membicarakan tentangku, makanan yang kami pesan mungkin sudah dingin, dan Alyena belum makan sejak tadi." Ucapnya.
Mereka akhirnya makan siang, terlihat perhatian Willy yang mencolok kepada Alyena, sikap protektif Willy telah muncul begitu saja sejak melihat Alyena.
"Kau harus makan banyak, kau terlihat sangat kurus, makan ini." Willy memberikan makanannya yang telah di potong-potongnya menjadi potongan kecil lalu mengganti piring Alyena dengan piringnya. "Apa aku harus pesan lagi, sepertinya makanan itu sedikit sekali." Alyena menggelengkan kepalanya, makanan yang ada di piringnya saja sudah cukup banyak dan sekarang ini dia sudah berusaha menghabiskannya.
"Hentikan sikap panikmu itu Willy, kau nanti menakuti Alyena, dia tidak bisa menelan makananya jika dia terus di teror olehmu dengan memesan makanan lagi." Ucap Audrey.
Jafier tertawa, sejak tadi Willy hanya mengaduk makanannya, pandangannya selalu mengarah ke Alyena.
"Oh ya, saya telah mengirimkan pengawal untuk mengambil barang-barangmu yang ada di penthouse Jafier, jadi kita bisa langsung pulang ke Mansion." Willy menatap Jafier melihat reaksinya, tetapi jafier terlihat santai dia kemudian menganggukkan kepalanya.
Setelah makan siang, mereka berbincang-bincang sambil menyantap makanan penutup, Alyena kemudian beranjak ke kamar mandi, dia mencuci tangannya di depan Westafel lalu menatap wajahnya di cermin, "Ugh dasar cengeng, kau sangat cengeng Alyena." Alyena membasahi wajahnya dengan air, agar matanya yang kemerahan segera hilang. Alyena menutup pintu kamar mandi dan memperbaiki gaun yang di pakainya, dia terkejut ketika melihat seseorang berdiri di sana.
"Paman, kau membuatku terkejut." Ucap Alyena.
"Maaf, aku hanya ingin berbicara sebentar denganmu, tanpa ada Willy di dekatmu, kau tahu bagaimana proteknya dia kepadamu." Ucap Jafier. Dia menatap wajah Alyena dan tanpa Alyena sangka pria itu menarik bahunya mendekat kepadanya lalu memeluknya erat.
"Anggap ini salam perpisahanku, aku tidak bisa melakukan ini di depan Willy."
"Memangnya paman mau kemana?" Tanya Alyena.
"Tidak kemana-mana, hanya ingin saja." Dia kemudian melepaskan pelukan eratnya lalu menepuk kepala Alyena dengan lembut.
"Jangan ragu menghubungiku jika sesuatu terjadi."
Alyena menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, melihat senyuman di wajah Alyena, sesuatu terasa nyeri di rongga dadanya, dia kemudian memegang dadanya tanpa di sadarinya.
"Kembalilah, Willy dan Audrey pasti mencarimu." Ucap Jafier.
Alyena mengangguk, dia lalu beranjak dan meninggalkan Jafier, "Ukh, sial apa yang terjadi padaku, kenapa terasa nyeri." gumam Jafier.
~
Hari itu mereka membawa Alyena ke mansion, terlihat mulut Alyena membulat membentuk huruf O ketika menatap mansion di depan matanya.
"A-apa ini mansion milik kak Willy?" Tanya Alyena sambil memegang kaca jendela mobil ketika melihat keindahan mansion dari jarak jauh. "Mulai sekarang mansion itu akan menjadi rumahmu."
"Besar sekali." gumam Alyena.
Segala ekspresi yang di tampakkan Alyena membuat Willy dan Audrey bertambah sayang kepadanya, mereka tahu bahwa adiknya itu hidup dengan keadaan seadanya, bukan hanya itu saja, sejak kepergian ayah dan ibunya, dia sudah mandiri dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, parahya lagi, sekolah Alyena harus terputus karena harus bekerja setiap hari di perkebunan untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, membanting tulang dari pagi hingga petang.
Willy dan Audrey akan memberikan yang terbaik untuk Alyena, mulai sekarang, Alyena akan menjadi tanggung jawab kakak-kakaknya, jiwa Protektif dan posesif Willy telah muncul di permukaan, membuat Audrey sedikit bergidik, meskipun begitu, Alyena dengan patuh mendengarkan ucapan Willy, dia melakukan apa yang dikatakan kakaknya dengan senang hati, berbanding terbalik dengan Audrey dia merasa semua ucapan dengan nada posesif itu adalah horor baginya.
"Mana ponselmu Alyena?" Tanya Willy ketika mereka masih berada di dalam mobil. Alyena memperlihatkan ponselnya. Willy mengambilnya dan melihat satu-satunya nomor yang telah di simpan Alyena.
"Jafier? Hanya nomor jafier yang ada di ponselmu." Ucap Willy sambil mengerutkan alisnya, wajah tidak senang tampak di wajahnya.
"Ah, paman Jafier membelikan ponsel ini, karena dia ingin mengganti ponselku yang di ambilnya, katanya ponsel ini keluaran terbaru dan sama dengan ponsel miliknya."
"Dia mengambil ponselmu?" Ucap Willy dengan memperlihatkan wajah tidak suka.
"Jadi, ini ponsel baru ya? Kau ingin ponsel yang lain? Aku bisa membelikanmu yang lebih baru dan masih belum di pasarkan di beberapa kota di Amerika, edisi terbatas yang dua minggu lagi akan di luncurkan."
"T-tidak perlu, ini sudah sangat bagus kak, aku menyukainya." Ucap Alyena menolaknya.
Willy mengangkat alisnya sambil memandang Alyena lekat-lekat. "Ponselnya yang kau suka kan Alyena, hanya ponselnya kan." Ucap Willy.
Sontak Alyena menahan senyum sambil mengangguk patuh. "Aku hanya menyukai ponselnya." Audrey yang berada di sampingnya menatap horor kepada Willy.
"Jangan terlalu over kepada Alyena, nanti dia lari darimu." Tegur Audrey.
~
Seluruh pelayan dan pengawal di kumpulkan di ruangan khusus tempat mereka semua berkumpul. Willy dan Audrey berdiri di hadapan mereka dan Alyena yang berdiri di samping Willy.
Beberapa pelayan terpesona ketika melihat kemunculan tuan mudanya itu, nampak mereka saling mendorong dan berbisik ketika melihat kedatangannya yang sangat jarang ke mansion karena kesibukannya.
"Saya mengumpulkan kalian semua, untuk memberitahukan kepada kalian bahwa Adikku Nona Alyena Adams Collagher, mulai sekarang akan tinggal di Mansion ini, kalian akan melayaninya seperti kalian melayani keluarga Collagher, kalian mengerti."
"Ya, tuan." Mereka semua menjawab serempak, mereka menatap Alyena
sembunyi-sembunyi.
Mr. Walt dan Mr Sharp pun menunduk ketika mendengarkan titah dari William.
"Saya harap semua berjalan sesuai dengan yang saya inginkan, jika saja ada kecerobohan dari kalian ketika melayani Nona Alyena, saya tidak segan-segan akan memecatnya dan menendangnya keluar dari tempat ini, kalian paham?" Ucap Willy.
"Baik tuan."
~
"Lihat, dia adik dari tuan Collagher, wajahnya sangat mirip dengan foto yang ada di ruang keluarga, foto itu adalah mendiang Ruzyana Collager, dia adalah ibu tuan muda William."
"Pantas saja, wajahnya sangat cantik." Ucap pelayan satunya yang menautkan jari-jarinya.
Apalagi wajah tuan William, aku saja baru beberapa kali melihatnya, dia begitu sibuk dan jarang berada di mansion.
Bisik-bisik di antara pelayan pun terdengar, setelah Alyena di perkenalkan kepada seluruh isi penghuni mansion, wajah Alyena memerah, setiap dia berjalan, pelayan atau pengawal yang berpapasan dengannya menunduk, tanpa sadar dia juga ikut menunduk, pengalaman ini baru pertama kali baginya, apalagi selama ini dialah yang menunduk dan memberikan penghormatan ketika berada di perkebunan.
"Jangan canggung dan tegakkan punggungmu Alyena, kau harus terbiasa dengan ini semua sayang, kau adalah anggota keluarga Collagher, apalagi darah yang mengalir di tubuhmu bukan hanya satu saja, tetapi keluarga Chandellier dan keluarga Adams." Ucap Audrey mengelus rambut adiknya.
Audrey membawanya ke kamar milik Alyena, Kamar itu sangat indah dan tentu saja elegan dan mewah di lengkapi dengan balkon yang juga luas, Alyena sangat menyukainya, tempat tidur berukuran king size serta koleksi busana setiap musim yang sudah di pesan oleh Audrey di dalam lemari pakaiannya di lengkapi dengan tas bermerk, serta aksesoris bernilai tinggi.
"Bagaimana, kau suka?" Tanya Audrey. Alyena mengangguk senang, dia merasa seperti sedang bermimpi atau menonton film yang akan merubahnya menjadi seorang putri, dia tidak pernah membayangkan akan mendapatkan semua ini, sewaktu di desa dia hanya berharap bertemu dengan kakak-kakaknya dan setelah itu dia akan kembali pulang ke Gimmelwald.
Willy terlihat masih belum puas dengan semua pengaturan ini, dia merasa masih banyak yang kurang, dia kemudian memanggil desainer khusus keluarga Collagher untuk membuatkan pakaian yang nyaman untuk Alyena.
Mr. Walt menghampiri Willy untuk memberitahukan sesuatu. "Tuan, Nona Belinda Haven menunggu anda di ruang tamu." Ucapnya.
"Dia datang? kenapa dia tahu aku ada di Mansion?" Gumamnya malas.
"Jika kau tidak menyukainya katakan dengan tegas, jangan hanya mengeluh saja, singkirkan ular itu, aku pun tidak menyukainya, dia terlihat aneh, siapapun wanita yang berada di dekatmu di cemburuinya, aku kan adikmu, apa dia masih waras, sepertinya dia perlu memeriksakan otaknya yang terlalu kering itu." Ucap Audrey sambil memeriksa aksesoris milik Alyena dan merasa masih banyak yang kurang, dan dia segera memesan barang-barang sesuai dengan seleranya.
"Tch, sebentar, aku akan menemuinya, aku tidak tahu apa yang diinginkan wanita itu." Gumam Willy jengkel.
Dia menatap Alyena sebentar, seakan adiknya itu akan menghilang, dia lalu turun ke lantai satu menemui wanita itu. Langkah sepatu Willy, membuat wanita itu berbalik, rambutnya yang bergelombang tertata indah, senyum mempesona dengan deretan gigi yang putih rapi dan tentu saja wajah cantik dengan kulit eksotik, serta di lengkapi dengan pakaian minim membuat tubuhnya yang ingin dia tonjolkan di bagian tertentu nampak memikat dan seksi.
"William, Akh aku bahagia sekali ketika mendengarmu datang ke Seattle, kau sangat tampan seperti biasanya, aku sangat merindukanmu, darling." Ucap Wanita itu dengan suara manja yang membuat bulu kuduk berdiri.
Willy menatapnya dengan pandangan tajam, dia lalu duduk di sofa dengan santai. "Duduklah." perintahnya.
"Ugh, seperti biasanya dear, kau selau bossy, tetapi aku menyukainya."
"Dari mana kau mendengar kalau aku ada di Seattle?" tanyanya datar.
"Siapa lagi kalau bukan dari Jafier."
Sialan kau jafier.
"Hari ini aku sibuk, banyak yang harus aku kerjakan." Ucap Willy dingin. Dia tidak bisa berlama-lama bersama wanita ini, dia terlalu terobsesi dengannya.
"Tapi willy, aku baru saja datang, dan kita baru saja bertemu, setidaknya kau menciumku atau kau bisa membawaku ke kamarmu, aku sangat menantikannya." Ucap Wanita itu dengan senyuman menggoda.
Willy menghembuskan napasnya. "Tidak, sekarang pergilah, aku sibuk." Ucap Willy.
Dia kemudian berdiri dan segera meninggalkan Wanita itu, tetapi siapa yang sangka dia mengikuti Willy kemanapun dia pergi.
"Willy tunggu, kita harus bicara, sayang." Ucap wanita itu sambil memegang tangan willy menghentikannya berjalan. Audrey mendengar suara ribut-ribut apalagi melihat pelayan sedang mengintip dari balik tembok dan dia yakin sumpah serapah dan kutukan mengalir deras dari mulut mereka.
"Ada apa ribut-ribut, kenapa berisik sekali?" Audrey keluar dari ruangan Alyena sambil bersedekap dan mencari si biang ribut, dan tentu saja wanita itu lagi, sekali dia bertemu dengan Willy, wanita itu akan meneror Willy dengan rayuan manisnya dan kemolekan tubuhnya.
"Akh, Aku tidak tahu kalau kau juga ada di Seattle, Audrey." Ucapnya sambil bergelayut di lengan Willy.
"Bukan urusanmu aku ada dimana, dan kenapa kau membuat keributan di rumah orang? aku tidak tahu kalau sopan santun telah hilang dari kepalamu." Ucap Audrey tajam.
Tiba-tiba saja Alyena keluar dari kamarnya ketika sudah selesai mengagumi setiap sudut kamarnya, matanya bersibobrok dengan seorang wanita yang memegang dengan paksa lengan kakaknya. Sontak Willy, menghentak kuat tangan wanita itu, dia lalu menghampiri Alyena dan melingkarkan tangan di bahunya.
"S-siapa dia William?" Ucapnya dengan mata melotot.
"Kenapa kau ingin tahu." Audrey menyelanya.
"Dia adikkku, aku tidak perlu memperkenalkanmu dengannya, kau bisa pulang, Walt akan menunjukkan jalan keluarnya." Wanita itu mendelik kepada Alyena dengan tatapan tajam penuh amarah.
Mr, Walt sudah berada di sana, menunjukkan arah kepada wanita itu.
"Apa wajah itu wajah seorang perempuan? dia mengerikan sekali Will, kau betul-betul serius harus menyingkirkannya, sebelum wanita itu melakukan aksi nekat lainnya." Ucap Audrey.