Flower On The River

Flower On The River
Vol 61



Tiga wanita dengan mengendarai mobil Audi berwarna merah terlihat menepikan mobilnya di dekat gedung tempat kuliah Alyena. Pukul 15.20 Alyena keluar dari kampusnya dan berjalan bersama Clara menuju tempat parkiran. Mereka berdua masuk ke dalam mobil porsche milik Clara. Tidak tanggung-tanggung mereka menghalangi mobil Clara ketika dia sudah berada di jalan raya. Mobil Clara berdecit keras, hingga tubuh mereka berdua terhentak ke depan.


Ketiga wanita dewasa itu segera keluar dari mobilnya dengan bergaya. Masing-masing dengan gaya bad girls yang membuat orang akan geleng-geleng kepala ketika melihat pakaian yang mereka kenakan.


Dia memukul jendela mobil Clara dengan keras. "Hey you, keluar sekarang. Kami tidak akan bicara dua kali, keluar."


Clara memegang tangan Alyena. "Jangan keluar Alyena. Lihat saja apa yang akan aku lakukan kepada mereka. Aku sudah bosan dengan wanita-wanita j4lang yang sering sekali mengganggu ketentraman kita." Clara menginjak pedal gas mobilnya hingga wanita yang menghalanginya jatuh di aspal terbentur keras dan menyingkir dari mobil Clara, mereka tidak memperkirakan hal ini.


"Rasakan." Ucap Clara. Mereka bertiga masuk ke dalam mobilnya. Alyena memegang handle hand dengan kuat agar dia bisa bertahan dari mobil yang kecepatannya begitu tinggi.


"Hati-hati Clara. Kita bisa mati terbunuh." Ucap Alyena dengan sangat tegang.


Mobil Audi berwarna merah itu tidak menyerah sama sekali, dia bahkan melajukan mobilnya lebih kencang. Sore itu tampak lebih cepat dari biasanya, matahari kini mulai tenggelam memancarkan warna orange dan kemerahan menuju gelap, lampu-lampu mulai di nyalakan, sementara itu mobil mereka masih kejar-kejaran. Clara dengan kemampuannya mencari jalan pintas dan meliukkan mobilnya dengan lincah.


"Clara sengaja memasuki daerah yang ramai, akan tetapi dia sepertinya salah jalur, sehingga tempat yang di lewatinya itu sangat sepi hanya gedung-gedung toko yang tertutup.


"Sial, kita tidak bisa balik arah, Alyena. Apa yang harus kita lakukan?" Bunyi telepon berdering. Sebelum Willy bicara, Alyena lalu teriak kepadanya.


"WILLY ADA MOBIL YANG MENGEJAR KAMI, TIGA ORANG WANITA, DIA MEMBURU KAMI SEJAK TADI."


Terdengar umpatan keras dari seberang telepon.


"Aku akan melacak ponselmu, aku akan segera datang." Willy segera mengubungi Jafier dan beberapa orang pengawalnya. Menuju ke tempat Alyena.


"Ck sial! Kita kehabisan bensin." Ucap Clara.


"Bagaimana kalau kita mengulur waktu sampai kak Willy datang, kita akan berkeiling disekitar daerah sini saja."


"Apakah masih bisa bertahan?"


"Kita akan mencobanya."


Mobil Clara berhenti, mereka pun turut berhenti dan keluar dari mobilnya. Mereka tertawa-tawa ketika mobil itu tidak bisa melaju lagi.


"Ck ck, sekarang kedua kelinci kecil itu telah terperangkap, saatnya pertunjukan guys." Ucap wanita itu. Dia memukul jendela kaca mobil dengan tangannya, mereka tertawa seperti orang tidak waras.


"Berapa lama lagi kak Willy akan tiba?" Ucap Clara.


"Entah, mungkin masih 20 menit lagi, jalanan ini cukup jauh dari Penthouse.


"Hei pengecut, cepat keluar. Jangan selalu bersembunyi di belakang kakakmu, apa sekarang kau sedang meneleponnya, apa dia selalu akan hadir untukmu?" Ucapnya sambil memukul kembali kaca mobil clara.


Salah satu dari mereka cukup nekat, dia mengambil batu dan melemparkan ke jendela kaca mobilnya beberapa kali.


"Jangan keluar, mereka memegang besi pemukul kaca dan itu berbahaya, jangan terprovokasi oleh j4lang itu, mereka terus akan mengatakan itu agar kau terpancing untuk keluar." Ucap Clara.


Tetapi kali ini mereka menjadi nekat, dia memecahkan kaca jendela mobil itu dengan besi hingga jendela mobilnya retak. Alyena sangat geram, dia tahu siapa ketiga wanita jahat ini, meskipun mereka memakai make-up yang full dan terkesan gothic tetapi Alyena tahu persis siapa ketiga wanita itu. Wanita aneh itu adalah karyawan di tempat Willy kerja, apa motivasinya sehingga melakukan semua ini? Apa hanya karena kebenciannya kepada Alyena?


Karena serpihan pecahan kaca mobilnya terlihat sedikit demi sedikit beterbangan ke segala arah, maka Clara dan Alyena memutuskan untuk keluar dari mobil.


Sementara itu Clara menghadapi wanita lainnya yang mencoba menamparnya tetapi Clara lebih cepat. Dia memegang tangannya dan memelintirnya hingga dia teriak kesakitan.


Tiba-tiba rambut Alyena ditarik kuat, hingga tubuhnya tertarik ke belakang. Wanita itu berteriak ketika Alyena menyerang balik, mereka saling tarik menarik rambut sekuat tenaga, sementara itu Clara sedang duduk di atas tubuh wanita yang menyerangnya dan menghajarnya.


Rasa sakit yang di alami Alyena membuat kepalanya berdenyut, dia benci menjadi lemah, tanpa menghiraukan siapa yang di lawannya dia terus melawan dan membalas balik setiap pukulan, tidak peduli dengan rasa sakit yang amat sangat di sekujur tubuhnya.


Alyena menendang perut salah satu wanita itu hingga dia teriak kesakitan, tinggal wanita berambut merah. Melihat temannya teriak kesakitan, dia memegang leher Alyena dan mendorongnya hingga mereka terguling di rerumputan di samping trotoar.


"Kali ini kau mati, aku akan menjadi kekasih kakakmu, dan aku akan membuatnya melupakanmu, adik tidak berguna sepertimu. Tangan Alyena menggapai apa saja di sampingnya tetapi, dia tidak punya kekuatan apapun. Cekikan itu menyiksa paru-paru Alyena, wajahnya berubah merah kebiruan hingga matanyapun berubah merah.


Seketika rambut wanita itu di tarik keras oleh seseorang, dia terlihat terseret hingga menjauh ke dalam gelapnya malam. Alyena masih terbatuk-batuk karena cekikan wanita itu, dia memegang lehernya dan menghirup udara dalam-dalam.


Matanya menatap di dalam kegelapan, wanita itu menghilang entah kemana, sepintas Alyena hanya mendengar teriakan samar mengerikan dari dalam kegelapan itu.


"S-siapa di sana?" Ucap Alyena menatap dalam kegelapan.


"Pergi."


"Siapa?"


"Pergi dari sini."


"S-suara itu. Daddy?"


Alyena berdiri dan segera meninggalkan rerumputan dari bawah bukit. Suara-suara cemas terdengar dari atas.


"DIMANA ALYENA, DIMANA?"


Teriakan Willy dan Jafier terdengar di jalanan panjang itu. Kedua wanita itu di ringkus, wajahnya penuh dengan luka-luka sehabis perkelahian. Bukan hanya itu saja, Clara masih menyerang dua wanita itu tetapi dua pengawal memegangnya.


"J4lang sialan, kali ini mati kalian, kau tidak tahu berhadapan dengan siapa, jangan menyebutku Clara jika kalian tidak membusuk di penjara." Teriak Clara.


Alyena berusaha memanjat ke atas bukit kecil agar ia sampai ke trotoar. Sebelum dia naik, dia berbalik sekali lagi lalu menatap di dalam kegelapan.


"Kak Willy." Teriak Alyena. Mereka berdua berbalik. Willy dan Jafier lalu berlari dan memeluk Alyena. Dia memperhatikan wajah Alyena yang terluka di mana-mana, bibirnya berdarah. Lehernya kembali merah bekas cekikan kuat. Tubuhnya penuh luka-luka. William sangat marah.


Mereka dengan cepat membawa Alyena dan Clara kedalam mobil Ambulance, meskipun wajah dan tubuhnya di penuhi luka, Alyena merasa puas. Dia bisa membalas wanita itu dengan kekuatannya sendiri.


"Dimana Eryn, aku yakin telah melihatmu jatuh di bawah bukit itu bersama-sama dengannya, dimana dia." Teriaknya.


"Cari saja sendiri bodoh," Ucap Alyena. Mereka terlihat geram, dia tetap mengumpat kepada Alyena dengan sumpah serapah bahkan tidak mempedulikan keberadaan Willy dan Jafier.


Terdengar tamparan kuat. Wajah wanita itu mengeluarkan banyak darah dari hidungnya.


"Aku akan pastikan kalian berdua akan hancur." Ucap Jafier dengan suara dingin dan tenang. Mereka kali ini tidak bersuara lagi. Kedua wanita itu di bawa ke kepolisian, sesuai dengan bukti yang kuat atas penyerangan yang terencana, mereka akan langsung di jebloskan ke penjara.


Alyena menatap dari kejauhan, kegelapan pekat di tempat itu, Alyena yakin, pria yang menolongnya tadi adalah ayahnya Nick atau Juan. Tetapi kali ini tidak ada suara aneh yang terdengar dari mulutnya, ck wanita itu masih hidup, beruntung Ayahnya Nick yang mendapatinya, jika dia adalah Juan maka wanita itu tidak akan selamat. Pikir Alyena.