Flower On The River

Flower On The River
Dua wajah di balik hutan



Teriakan itu membuat seluruh penghuni rumah menghentikan semua aktivitasnya, sayup-sayup keributan dari luar rumah membuat penghuni di kediaman itu keluar di halaman, beberapa mobil polisi berada di luar rumah, tengah membawa sesuatu yang diangkat oleh beberapa polisi, yang tertutup dan dibungkus plastik berwarna oranye


Nyonya Collagher berlari kecil menatap mayat yang diangkat di atas mobil ambulance, dua mayat sekaligus telah di temukan di hutan kediaman keluarga itu, para polisi dan dua detektif sedang bertanya kepada nyonya Collagher.


"Selamat malam nyonya perkenalkan namaku James Brown aku detektif dari kota Pittsburgh, saya ingin memberikan beberapa pertanyaan kepada anda".


"apakah anda pemilik tanah di hutan itu?" tanya seorang detektif pada nyonya Collagher.


"Ada..ada apa ini? mengapa mayat ini ada di disini?" wajah terkejut nyonya Collagher yang menatap dua detektif dan beberapa polisi di hadapannya.


"Mayat ini di temukan oleh Hanks penduduk setempat, yang sedang ke hutan mencari kayu bakar, dan dia menemukan mayat yang membusuk di hutan dekat kediaman anda nyonya, apakah benar tanah itu milik kediaman keluarga Collagher?"


Dengan wajah pucat, nyonya Collagher mengangguk, "Benar, hutan di sebelah adalah tanah milik Collagher."


Alex maju, menemani ibunya yang gemetar menyaksikan dua mayat sekaligus. Mata Alex menatap wajah pria yang setengah tertutup itu. Lalu ia mengingat orang tua yang mabuk sambil berjalan terseok-seok dekat taman di samping hutan.


"Aku pernah melihat wajahnya." kata Alex menatap mayat dihadapannya, detektif itu langsung menatap Alex.


"Dimana anda melihatnya." Tanyanya.


"Waktu itu aku berada di taman, lalu melihatnya keluar dari hutan dan membawa minuman, tapi tidak lama dia kembali masuk kedalam hutan."


Nyonya Collagher menatap wajah itu, dan dia nampak lebih terkejut.


"Dia..dia Orgon Ben, dia pernah menjadi pelayan di keluarga kami, tetapi dia di pecat oleh ayahku karena menyelundupkan beberapa lukisan milik keluargaku, tetapi itu terjadi sudah sangat lama." Kata nyonya Collagher ketika memandangnya lekat-lekat.


Beberapa tamu berbisik, ricky beserta nick mengamati wajah mayat perempuan yang berada di samping mayat pria tua itu.


"Apa anda mengenalnya?" Tanya detektif itu kembali. Mata nyonya Collagher menatap wajah wanita yang wajahnya penuh dengan luka memar kebiruan.


"Tidak, aku tidak mengenal wanita ini." Dia sedikit berjengit ketika menatapnya.


"Kami ingin agar setiap orang yang berada di sini tanpa terkecuali berkumpul untuk memberikan keterangan, karena mayat itu di temukan di tanah anda, jadi kami akan menyelidikinya lebih lanjut nyonya."


Dengan cepat nyonya Collagher mengangguk. "Tentu detektif, anda boleh meminta keterangan kepada semua orang yang ada di kediamanku."


"Terima kasih nyonya atas kerja samanya."


Kedua mayat itu dibawa oleh mobil ambulans. Sementara para detektif menanyai orang-orang yang berada di kediaman Collagher.


"Ya Tuhan apa yang sebenarnya terjadi, kenapa hal tersebut terjadi di sini?" bibi Emy dan beberapa pelayan lainnya berada di teras menyaksikan kejadian itu, ruzy berjinjit ingin melihat kejadian itu, tetapi sorot matanya tertangkap oleh dokter max yang tersenyum miring terhadapnya.


Dengan wajah terkejut Ruzy membuang mukanya, dan melihat dia sedikit terkekeh ketika melihat wajah terkejut Ruzy.


"Dia kepala pelayan sewaktu tuan Collagher Joan masih hidup, tapi sikap buruknya dan tangan panjangnya membuat dirinya di pecat dari rumah ini, meskipun begitu si tua itu pernah membantuku beberapa kali, dia betul-betul pria bodoh yang malang tidak terlepas dari alkohol dan perjudiannya."


Sambil mengusap sedikit air matanya.


Karena kejadian mengenaskan itu, mereka semua harus menunggu dan dimintai beberapa keterangan, Ruzy bersama bibinya telah bicara kepada detektif itu, kini mereka menuju ke belakang rumah kembali untuk beristirahat setelah pertanyaan panjang tadi.


"Bagaimana dengan lututmu bibi Emy?" dokter max menghalangi perjalanan kami dengan mendadak berdiri di hadapanku.


Bibi Emy tersenyum kepadanya. "Terima kasih dokter max, lututku semakin membaik tiap harinya". Mata birunya bersinar menatap ruzy yang memegang lengan bibinya.


"Aku mendengar keponakan anda sakit?" dengan wajah serius dan prihatin sambil menatap Ruzy.


Bibi Emy menatap Ruzy, "Dia memang sakit beberapa waktu lalu tapi sekarang dia sudah sehat dokter max, terima kasih dengan perhatian anda."


"Jangan sungkan memanggilku jika sesuatu terjadi, aku akan segera datang." dengan tersenyum ramah kepada bibi Emy lalu menatap ruzy yang sambil melihatnya dan mendengus. Dengan tersenyum cerah bibi Emy mengiyakan segala permintaan dokter max. Dasar pria bermuka dua, dia pintar sekali berpura-pura di depan bibi, dia akhirnya pergi sambil berkedip cepat kepadaku.


~


Aku merebahkan tubuhku yang lelah setelah menyaksikan peristiwa tadi, wajah wanita didalam plastik itu masih lekat di ingatanku. Aku merinding memikirkannya. Aku tertidur beberapa jam, malam sangatlah larut, tetapi sesuatu membangunkanku, aku mendengar beberapa kali ketukan dari pintu kamarku.


Aku terduduk di keremangan kamarku yang meredup, aku memandang handle pintu kamarku yang bergoyang, napasku memburu jantungku berdetak kencang, siapa yang ingin masuk di kamarku di tengah malam seperti ini?


Wajah Alex tiba-tiba muncul di kepalaku. mungkinkah?? Terdengar handle pintu kamarku masih bergoyang. Aku berjinjit dan memegang sapu lalu sembunyi di belakang pintu. "Ruzy kau mendengarku"? Mataku melotot mendengar suara pria ini, dia Alex.


Pria brengsek itu mau apa datang di tengah malam begini? memaksaku dan merasakan ciuman-ciumannya yang kasar. Demi tuhan tentu saja aku tidak akan membukanya.


"Aku tahu kau mendengarku, bukalah sebelum aku mendobrak pintu sialan ini."


Kelihatannya dia mabuk, apa yang akan di katakan bibi Emy jika mengetahui kalau tuan muda ini mengetuk-ngetuk pintu kamar pelayan di tengah malam begini.


"Ada apa tuan Alex kemari?" suara teredam itu kudengar dari sebelah pintu kamarku, bibi Emy telah keluar dari kamarnya.


"Em..er aku mencari seseorang yang bisa membuatkan makanan tengah malam buatku." katanya dengan suara yang ragu.


"Oh tuan Alex anda seharusnya tinggal menghubungi tuan Ollie anda tidak perlu capek-capek datang ke sini tuan."


"Aku akan membuatkannya dengan segera tuan Alex."


Dia mundur membiarkan bibi Emy berjalan lalu menatap kamar ruzy yang masih tertutup. Suara umpatan teredam terdengar dari balik pintu kamarku. Ukh rasakan itu, dia betul-betul brengsek, pikirku dengan sedikit tersenyum.