Flower On The River

Flower On The River
Vol 29



"Bagus, sekarang dengarkan keinginanku, aku ingin menikah dengan Alyena setelah kembali dari eropa."


William terdiam di tempatnya duduk, dia seperti sebuah patung yang di pahat, matanya membelalak ke arah Jafier, seperti dia telah mengatakan sesuatu yang omong kosong dan tidak masuk akal.


"Kau bercanda kan Jafier? aku tahu kau ingin menjalin hubungan dengan Alyena, tetapi menikah, setelah kepulanganmu ke london, itu berarti tinggal seminggu lagi, apa kau gila?" Ucap Willy tampak marah dan terkejut.


"Aku tidak bercanda dan aku tentu saja tidak gila, aku serius ingin menikahi Alyena, kau harus mengabulkan permintaanku."


"Tunggu ! tunggu dulu jafier, kita bicarakan ini baik-baik, aku bisa mengabulkan permintaanmu yang lain, tapi permintaanmu untuk menikahi Alyena, aku masih tidak bisa...


"Kau harus menepati janjimu Willy, sekarang permintaanku adalah menikahi Alyena, aku ingin dia menjadi ibu dari anak-anakku nanti."


Alyena terkesiap, "A-apa, ibu?" gumam Alyena dengan suara kecil.


"Tunggu dulu, aku sudah pernah mengatakan kepadamu, kalau kau mau menjalin hubungan dengan Alyena, apa kau sudah menyingkirkan wanita itu? kau lihat saja, wanita itu sanggup melakukan apapun agar kau kembali ke sisinya.


"Dia telah kembali ke perancis, katanya dia akan mencari pria yang mirip denganku dan dia akan menemukannya di perancis, dia sedikit gila." Ucap Jafier, matanya kini beralih kepada Alyena yang masih mengacuhkannya, meskipun dia terlihat terkejut dan matanya membulat cantik setelah mendengarkan permintaan Jafier.


"Jafier, sepertinya kita harus membicarakan ini dengan baik-baik, kau tidak bisa mengatakan ingin menikah begitu saja, Alyena masih sekolah, dan dia masih belum menyesaikan studinya."


"Bukan masalah, setelah menikah denganku pun, Alyena masih bisa melanjutkan sekolahnya, bahkan dia bisa melanjutkan kuliahnya di universitas manapun."


"Tch, kau keras kepala sekali Jafier, bukan cuma itu saja, apa kau tidak mempertimbangkan perasaan Alyena, aku tidak mungkin dengan seenaknya mengatur hidupnya, dia harus menetapkan pilihannya sendiri." Ucapnya.


Jafier memandang Alyena, "kalau begitu biarkan aku bicara dengan Alyena, kau bisa pulang lebih dulu." Ucap Jafier.


"Tidak mau, aku mau pulang bersama kak Willy." Ucap Alyena membuat Willy sedikit terkejut mendengar permintaan Alyena, biasanya dia akan bersorak dan berharap menghabiskan waktunya bersama Jafier. Apa sesuatu terjadi di antara mereka?"


"Kau dengar? dia bahkan tidak ingin bicara denganmu, bagaimana mungkin kau akan menikah dengannya, sudahlah, nanti kita bahas permintaanmu setelah Alyena tenang, sepertinya dia membencimu Jafier." Selidik William.77


"Kami pulang duluan, kita masih harus bicara, Jafier." Ucap William tajam, dia sepertinya paham dengan situasi yang terjadi antara Alyena dan Jafier.


~


"Kau baik-baik saja?" Ucap William.


"Ya, aku baik-baik saja." Jawabnya.


Sebentar lagi aku akan berangkat, mungkin sekarang Alyena telah berada di mansion." Ucap William.


Alyena hanya mengangguk dan memperhatikan jalanan kota yang lengang, udara hangat terasa di musim itu. Alyena masih mengingat segala perkataan Jafier, bahwa pria itu ingin menikah dengannya dan akan menjadikannya ibu dari anak-anaknya? meskipun Alyena masih menyimpan rasa suka kepada Jafier tetapi ingatan mengenai tindakan kasar Jafier kepadanya, membuat Alyena ingin menjauh darinya.


Mereka telah tiba di mansion, Audry telah berada di mansion, dia memeluk Alyena ketika mereka berdua masuk ke dalam, Audry lalu memberikan hadiah-hadiahnya kepada Alyena, termasuk ponsel yang diinginkan oleh Alyena.


"Kau menyukainya?" Tanya Audry.


"Tentu, aku sangat menyukainya." Ucap Alyena sambil memeluknya. Audry berbalik dan melihat kepada William.


"Apa sesuatu terjadi? Wajahmu terlihat jelek kak Willy, apa ada yang ingin merebut Alyenamu?"


Willy menghembuskan napasnya dan mengangguk. "Kau benar, Jafier ingin menikahi Alyena."


"What ! Kau serius?" Ucap Audry, dia lalu menutup mulutnya ketika melihat Alyena masih berada di ruang tamu sedang membuka-buka kadonya sambil bersenandung, sementara Willy dan Audry berada di dekat pantry sedang berbicara.


"Dan pria itu serius, kau tahu jafier kan, pria keras kepala yang semaunya sendiri dan memutuskan apa yang diinginkannya, jika dia sudah memutuskan bahkan akupun akan kesulitan menghadapi sikapnya, aku hanya berharap dia kembali berpikir ulang, menikahkan Alyena dengannya? ide itu sangat konyol, apalagi Alyena masih sekolah.


Audry duduk di hadapan Willy sambil mengambil minuman dari dalam kulkas. "Bagaimana dengan Alyena? Apa dia masih bersikap manja dan lovey dovey dengan Jafier?" Ucapnya sambil meneguk minumannya.


"Lovey dovey? Siapa yang seperti itu?" Tanyanya.


"Mereka berdua kan? apa kakak tidak tahu?" Audry lalu mencubit bibirnya sendiri, karena telah mengungkapkan ketika mereka berdua sedang bermesraan di penthouse Jafier.


"Jadi, mereka betul-betul bertengkar, Alyena terlihat menghindari Jafier sejauh mungkin, dia bahkan tidak mau menatap matanya, apa yang terjadi di antara mereka?"


Audrey terlihat berpikir, dia kemudian menatap Alyena dari luar ruang tamu. Dia terlihat berbicara dengan dua orang pelayan.


"Jika Alyena bersikap seperti itu berarti Jafier melakukan sesuatu yang membuat Alyena ketakutan, Alyena bukan tipe anak yang menghidari seseorang hanya karena satu kesalahan dan dia terlihat ketakutan, artinya jafier telah melakukan sesuatu kepada Alyena.


~


Pagi hari menyambut, di mansion ini hanya Audry dan Alyena, karena Willy tadi malam telah berangkat ke eropa.


Alyena turun ke bawah, untuk sarapan pagi, tetapi di meja makan tidak ada seorangpun yang ada di sana karena dia tahu, bahwa kakaknya itu sangat sibuk sehingga dia tidur larut malam dan akan bangun entah siang hari atau sore hari.


Ponselnya berdering, dia melihat nama paman Jafier terlihat di layar ponsel. Sontak Alyena membalikkan ponselnya karena begitu terkejut, ponselnya terus berdering di atas meja makan, sampai-sampai pelayan menatapnya karena dia mengabaikan panggilan teleponnya.


Tiba-tiba satu pesan masuk, membuat Alyena ragu untuk membacanya.


"Angkat."


Sekali lagi satu pesan masuk, Alyena kembali mengintipnya. "Kalau kau tidak mengangkatnya aku akan tetap melanjutkan menikahimu dan tidak akan memperdulikan ceramah Willy sejak tadi malam kepadaku." Alyena tidak bisa lepas dari jerat pria pemaksa ini. Kembali ponselnya berdering dan kali ini Alyena mengangkatnya.


"H-halo." Ucap Alyena dengan suara cukup keras, dia tidak mau selalu terdengar takut kepadanya.


"Apa aku harus memberikan ancaman dan kau akan mengangkatnya Alyena sayang? Kau di mana?"


"Aku di mansion, aku sekarang sedang sarapan." Jawab Alyena mencoba bersuara datar tanpa di pengaruhi emosi.


"Aku merindukanmu, aku menyesal berangkat ke eropa, aku sangat merindukanmu Alyena." Bisiknya.


"A-pa yang...


Pipi Alyena merona, dia tidak tahu mesti menjawab bagaimana pernyataannya.


"Kau di sana?"


"Hem, ya."


"Mungkin sebentar lagi aku akan kembali, aku tidak perduli lagi jika kau menghindariku, tetapi aku akan memelukmu begitu aku tiba di Seattle.


"Paman gila."


Setelah mengatakan itu, Alyena menutup ponselnya, jantungnya masih berdegub kencang, kenapa pria itu meneleponnya hanya ingin mengatakan hal itu saja?" Dengan cepat Alyena sarapan dan segera berangkat ke sekolah.


Pagi itu di sekolah di adakan pekan olah raga, jadi tidak ada pelajaran hari ini dan akan di gantikan dengan olah raga untuk seluruh siswa di sekolah itu setiap musim hangat seperti ini.


Alyena telah mengenakan baju olah raganya, dia lalu kebagian tugas lari estafet, untungnya saja dia menyukai lari, jadi hal itu tidak menjadi masalah baginya.


Alyena terlihat ceria saat itu, beberapa fotonya di ambil oleh salah seorang pengawal dan mengirimkannya kepada tuan Willy.


~


Willy tersenyum melihatnya, Alyena terlihat berlari dengan sekuat tenaganya.


"Kenapa kau tersenyum seperti itu?"


"Jangan ganggu, aku sedang melihat foto Alyena ketika dia lomba lari estafet bersama teman-temannya."


Jafier lalu merebut foto itu dan menatapnya, "Tch, pengawal yang bertugas mengawasi Alyena betul-betul tahu cara mengambil foto yang tepat, dia terlihat cantik ketika dia tertawa seperti ini." Ucap William sambil tersenyum melihat foto adiknya.


"Tch berikan kepadaku, aku ingin melihatnya juga." Jafier menatapnya dan ikut tersenyum melihat kecantikan alami wajah Alyena bahkan dalam keadaan apapun dia terlihat sangat cantik.


~


Hari itu Alyena sangat senang, juga bersemangat melakukan pekan olah raga yang diadakan sekali setahun itu, dia berpisah dari teman-teman kelasnya dan duduk di salah satu bangku di taman sekolah.n


Tiga orang gadis dengan warna rambut yang sama menghampiri Alyena, mereka tampak bossy dan Alyena tahu jenis siswa seperti mereka yang suka membully orang-orang yang menurutnya lemah.


"Hei, bukankah kau putri keluarga Collgher ?" Ucap salah seorang dari mereka."


"Benar, ada apa?" tanya Alyena.


"Berikan kami beberapa dollar dan aku akan membiarkan kamu pergi kali ini." Ucap salah satu dari mereka, gadis itu menggoyangkan tangannya ke depan menunggu uang dari Alyena.


"Aku sama sekali tidak membawa uang ke sekolah." Salah satu gadis itu melayangkan tangannya hampir mengenai wajah Alyena, tetapi Alyena sekuat tenaga menangkisnya. "Meskipun aku membawanya aku juga tidak akan memberikannya kepada kalian."


Mereka menyerangnya tetapi Alyena sekuat tenaga menyerang balik, dia lalu mendorong mereka hingga jatuh, sebelum mereka mengejar kembali, pengawal telah berdatangan dan menyergap dan menangkap mereka.


"Ada apa dengan mereka semua, aku bahkan tidak mengenal siapa mereka."


~


Foto kembali terkirim ke ponsel William, dia tiba-tiba berdiri dan marah menatap foto itu. "Apa sih yang dilakukan pengawal itu, kenapa mereka lambat sekali bergerak. Dia lalu menelepon Alyena.


"Halo kak William." Ucap Alyena kepada kakaknya, dia terdengar panik .


"Apa kau baik-baik saja, kau tidak terluka?" tanyanya.


"Aku baik-baik saja kak, kenapa kakak tahu, kalau tadi tanganku lecet sedikit."


"Pokoknya aku tahu, Ukh kenapa banyak sekali anak-anak nakal." gumamnya. Dia menatap Jafier yang sedang berdiri dan menyaksikan pemandangan kota di negara ini. Dia mengeluarkan cerutunya dan menghembuskannya dengan perlahan.


"Ck, kau kembali merokok?"


"Apa maksudmu kembali, sudah lama aku merokok seperti ini." William menggelengkan kepalanya, sebaiknya kau menyerah dulu untuk saat ini, jika Alyena tidak lagi takut kepadamu, dia pasti akan menerimamu, jadi bersabarlah, tetapi aku sih tidak menjaminnya."