Flower On The River

Flower On The River
Penculikan 2



Suara madam Janet memekakkan telinga, dia teriak-teriak menyuruh orang-orang mencari Grace.


"Dimana Grace? mengapa di rumah ini tidak ada yang tahu keberadaannya?" teriak madam Janet kepada mereka semua, nyonya Collagher gugup dan segera memerintahkan semua pelayan untuk menemukan nona Grace.


"Kemana gadis itu? mungkin saja dia lagi bersenang-senang di suatu tempat." bisik Jessy yang menaruh dendam pada Grace karena tamparannya.


"Sstt, kau ingin di pecat? kecilkan suaramu Jess." Joan mendelikkan matanya kepada Jessy yang tidak perduli.


"Kalian tidak melihat Ruzy? kemana anak itu? bibi Emy berkeliling mencari ruzy, rumah itu begitu luas sangat sulit menemukan seseorang tanpa bantuan orang lain.


"Dia belum pulang? hari ini kami kepasar tapi kata Thomas, ruzy sudah pulang duluan bersamanya."


Wajah bibi Emy sangat cemas, "Dimana anak itu, mengapa dia pergi di tempat yang tidak terlihat? apalagi pembunuhan terjadi di kediaman ini!"


"Tenanglah bibi Emy, Bukankah dia suka beristirahat di belakang taman dekat hutan? tempat biasanya dia melepas lelah, ruzy suka sekali di sana biasanya dia tertidur di dekat sungai". Joan berkata menenangkan bibi Emy.


"Oh, baiklah bagaimana kalau kita kesana mencari ruzy, dan mencari nona kecil itu juga." Kata bibi Emy. Mereka berjalan sepanjang taman, meneliti dengan seksama di balik semak belukar serta tanaman berry yang tumbuh liar di dekat pohon-pohon Pinus yang rindang.


~


Ruzy mengendap-endap mencari jalan agar tidak seorangpun yang menemukannya, dia melihat bibi Emy Joan dan Jessy berjalan ke arahnya, setelah keluar dari mobil alex, ruzy berlari ke dekat sungai dan sembunyi di sana, lalu menyandarkan punggungnya di pohon Pinus tempat biasanya dia melepas lelah.


"Ck, lihat anak ini! semua orang sibuk mencari nona grace dan dia sibuk tidur di sini?" Joan memegang pinggangnya, membangunkan Ruzy yang pura-pura tertidur.


"Ruzy sayang kenapa kau tidur di sini? kau sungguh ceroboh bagaimana kalau ada orang yang menjahatimu ketika kamu tertidur?"


Ruzy mengucek matanya, dia berdiri dengan sempoyongan, dia tidak berpura-pura kali ini, kedua kakinya masih nyeri ketika dia berjalan.


"Maafkan aku bibi, aku ketiduran lagi." Jessy melihat di dalam hutan di seberang sungai, matanya menyipit seperti melihat seseorang berdiri di sana. "Lain kali Jangan diulangi Ruzy, kau tahu tempat ini berbahaya." Kata Joan memarahinya.


"Sudahlah, yang penting Ruzy tidak apa-apa, oh ya seharusnya kita mencari nona kecil itu." kata bibi Emy menepuk jidatnya.


"Mencari nona kecil? siapa? tanya Ruzy. Jessy mengenduskan hidungnya, "Siapa lagi kalau bukan Grace, dia menghilang sejak semalam."


Ruzy terkejut, "menghilang? apa yang terjadi?" tanyanya.


"Kami juga tidak tahu Ruzy ! sejak semalam tiba-tiba saja dia menghilang." Jelas Jessy menyibak tanaman berry yang tumbuh subur di depannya.


"Sepertinya dia tidak ada di sini, sebaiknya kita kembali, kita sudah jalan terlalu jauh." Kata bibi Emy yang menyeka keringatnya.


Jessy mengenduskan hidungnya pada tengkuk ruzy yang berjalan di sampingnya, "mengapa baumu tidak biasa ruzy? bukan wangi jasmine seperti biasanya, seperti....wangi rose dan mint?" kata Jessy yang masih mengendus.


Ruzy menjauhkan dirinya, menutupi lehernya dengan rambutnya yang panjang.


"Cepatlah kalian berjalan!" kata bibi Emy yang jalan di depan, bibi Emy sedikit mengerling ke leher ruzy yang ditutupinya dengan tiba-tiba, wajahnya seperti mengetahui jika ruzy menyembunyikan sesuatu darinya.


~


Grace berjalan tertatih-tatih tubuhnya penuh dengan lebam berwarna kebiruan, dia memegang jeruji besi dihadapannya, menggoyangkannya dengan kasar.


"Lepaskan aku...tolong, brengsek lepaskan aku!!! suara tangis beradu dengan teriakan kerasnya, membuat suaranya bergema, dia menangis sejadi-jadinya tapi, tidak ada gunanya...pria itu pergi ke kediaman Collagher menjadi dirinya yang lain dan berpura-pura berusaha mencari Grace.


~


"Alex ! Kau terlihat begitu senang." Selidik Ricky memicingkan matanya kepada Alex yang menyesap kopinya di ruang kerjanya. nick menatap Alex lalu duduk di atas meja Alex, "Apakah ini sesuatu tentang ruzy?" tebaknya.


Alex menatap nick dengan tidak suka, "mengapa kau memanggil ruzy dengan begitu akrab? kau pernah berbicara dengannya?"


tuduh Alex pada Nick. Dia tersenyum melihat kecemburuan alex padanya, tentu ruzy begitu penting baginya.


"Tentu, aku pernah berbicara beberapa kali dengannya, hanya berbicara Alex ! bukan sepertimu, setiap bertemu ruzy kau pasti menyerang gadis itu." Perkataan Nick membuat Alex menatapnya heran.


"Bagaimana kau tahu? tanya Alex dengan menyunggingkan senyumnya. "Tahu saja, apalagi sekarang ! apa kau sudah..., perkataannya terpotong menatap wajah Alex yang tersenyum puas. "Benarkah? kau sudah tidur dengan gadis itu?" kata Ricky tidak percaya.


"Kau kasar sekali rick!" Aku tidak sekedar tidur begitu saja dengannya, kami bercinta....aku menyukainya, menyayanginya, Puas!" Kata Alex jengkel melihat wajah Ricky yang memandang Alex tidak percaya.


~


Seseorang tengah berdiri di dekat pintu mendengar dengan sembunyi-sembunyi pembicaraan mereka. Dia menutup matanya, lalu dengan langkah besar-besar dia mencari ruzy ! Bibi Emy membuka kamar ruzy begitu saja tanpa mengetuknya.


"Bibi Emy? Ruzy sangat terkejut melihat bibi Emy dengan napas memburu, matanya merah dadanya naik turun menahan kemarahannya.


"Benarkah? benarkah kau sudah....," dia menutup matanya tidak mau mengucapkannya.


"Kau sudah melakukannya dengan tuan Alex?" suaranya mengecil seperti berbisik. Ruzy terkesiap, bagaimana bibi tahu? pikirnya, matanya membelalak menatap bibinya. Lalu tertunduk menatap lantai kamarnya. Bibi Emy memegang kepalanya, dia lalu terduduk di lantai sambil menangis.


"Ruzy ! kau tahu apa yang telah kau perbuat?? Kau membuat dirimu hancur ! kau pikir tuan Alex akan membawamu masuk ke keluarganya dan menyandangkan nama Collagher di namamu?"


"Apa yang harus aku lakukan? seharusnya sejak awal aku tidak membawamu ke rumah ini".


Bibi Emy menghapus air matanya. "Bi..bibi Emy aku.....aku mencintai Alex." Ruzy tertunduk terisak dihadapannya.


Bibi Emy membelalakkan matanya, "Kau begitu lugu ruzy, tidak ada akhir yang bahagia diantara kalian berdua, kau tahu ! mengapa kau mengikuti jejak orang tuamu sayang!" Bibi Emy menangis terisak.


Ruzy menatap bibi Emy terkejut dengan kata-katanya. "Mengikuti jejak ayah dan ibu? Apa maksud bibi? Ada apa dengan ayah dan ibuku!"


"Sudahlah ! yang penting jauhi tuan Alex, jika nyonya Collagher mengetahui ini kita berdua akan tamat!" Bibi Emy menyudahi pembicaraan lalu menghapus air matanya, dan keluar dari kamar Ruzy.