Flower On The River

Flower On The River
Kunjungan 2



"Apa ini? kau mau meracuniku dengan tehmu ini?" madam Janet menatap bibi Emy dengan pandangan merendahkan.


"Seharusnya kau sudah memecat pelayanmu jika mereka sudah tua Susan?". Sambil memasang wajah merendahkan. "Kau! dia menjentikkan jarinya ke Jessy yang berdiri di belakang bibi Emy, "ambilkan teh yang lain, aku tidak mau meminum teh aneh ini bisa-bisa aku mati keracunan." Dengan cepat Jessy bergegas ke dapur.


Alex berdiri, menggebrak meja lalu pergi. "Ugh sopan sekali anakmu Susan, berapa umurnya sekarang? bukannya dia harusnya sudah menikah di umur seperti itu." Madam janet berceloteh sambil memotong telur dadarnya menaburkan merica lalu menatap Susan dengan menggeleng.


Nyonya Collagher yang merupakan menantu dikeluarga ini tidak bisa berbuat banyak, semenjak suaminya meninggal, madam Janet selalu menyalahkan nyonya Collagher, katanya Susan merupakan malapetaka sejak ayah Alex membawanya di keluarga Collagher.


"Nenek jangan menyalahkan bibi Susan, bukan salah bibi Susan kalau teh itu rasanya aneh." Grace duduk hanya memakai baju tidur satinnya sehingga lekuk tubuhnya dapat terlihat dengan jelas. Ellena memandangnya dengan tidak perduli.


"Ellena antarkan aku berkeliling pitsburgh? Aku sangat ingin berjalan-jalan."


Ellena menjawabnya tanpa menatap wajah gracie. "Hari ini aku tidak bisa, aku sibuk dengan kuliahku." Grace memutar matanya, tahu kalau Ellena tidak menyukainya. "Kan bisa dikerjakan besok, lagi pula kami tidak akan lama di sini, benarkan nek?" Sambil memasang wajah permohonan kepada neneknya.


"Pergilah dengan grace hari ini ellena, kupikir kau sudah menyelesaikan studimu di Perancis, kau kuliah lagi? apa kau tidak bosan? Kau sudah menghasilkan uang dari kuliahmu itu?" Celetuknya.


Ellena menutup matanya sangat jengkel, "Tetap saja aku tidak bisa, hari ini aku harus mengerjakan tugas perkuliahanku di perpustakaan kampus." Dia berusaha keras untuk menjaga suaranya agar terdengar tenang dan sopan.


"Cih, kau itu tidak pernah mendengarku ellena, apa yang kukatakan padamu tidak pernah sedikitpun kau menurutinya, ibumu betul-betul tidak berguna, semua tingkah laku anak-anaknya mengecewakan saja." Dia membuang serbetnya di atas meja.


"Seharusnya dari awal aku menentang pernikahan mereka, sehingga aku tidak melihat anak-anak pembangkang ini." Gumamnya.


Terdengar suara gelas pecah, sehingga tampak berserakan di lantai, nyonya Collagher menatap sangat marah pada mertuanya, Madam Janet berbalik menantang.


"Tarik kata-katamu itu pada anak-anakku."


Napas nyonya Collagher memburu dengan kemarahan, "Aku memang menikahi anakmu dan masuk di keluarga Collagher, tapi saat itu perusahaannya sudah hancur, aku yang mengembangkan bisnis keluarga ini sehingga tidak bangkrut dan kau bisa menikmatinya, rumah ini sudah aku beli sejak kami menikah, kalau tidak rumah ini sudah di sita oleh bank akibat anakmu yang suka berjudi, hanya nama Collagher yang anakmu berikan padaku, harta??? aku tidak pernah bermimpi menerima harta sepeserpun dari anakmu."


Napas nyonya Collagher memburu, dia memaksakan diri berdiri dengan sikap tenang, mereka saling menatap dengan penuh kebencian, "Be..beraninya kau !!! napasnya terputus-putus , dia hampir terjatuh sambil memegang dadanya, gracie berlari memegang neneknya.


"Bibi Susan mengapa kau begitu kejam? nenek punya penyakit jantung, kalau terjadi sesuatu dengan nenek aku tidak akan memaafkan kalian semua."


"Kejam?? jaga mulutmu grace kau pikir dengan apa kau menggunakan uang untuk kebutuhan sehari-harimu? kalau bukan rasa kasihan dari ibuku kau sudah lama berada di jalanan, dan kami tidak butuh maafmu." Ellena sudah lama menyimpan kata-kata ini untuk grace yang tidak tahu malu itu.


"Kenapa berisik sekali? Alex baru saja keluar dari kamarnya, mendengar teriakan-teriakan dari ruang makan. Grace berlari memeluk Alex membiarkan neneknya duduk sambil memegang dadanya. "Alex, mereka semua membenciku mereka jahat padaku." Dia menunjuk ellena dan mendekap Alex memeluknya erat.


Ellena menutup matanya sangat marah melihat tingkah grace yang tidak tahu malu.


"Pakai bajumu grace, apa kau tidak malu tubuhmu di lihat banyak orang? dan kau tidak sopan memanggil elena hanya dengan namanya, panggil ellena dengan kakak begitupun aku, usiamu berbeda jauh dengan ellena, kau harusnya belajar sopan santun dengan benar apalagi usiamu masih kecil, bertingkah lakulah selayaknya keluarga Collagher."


Grace melepas pelukannya, menatap tajam pada Alex dan menggeleng tidak percaya. Dia menghentakkan kakinya di lantai dan berlari masuk ke dalam kamarnya.


"Tuan Ollie bawa madam Janet ke kamarnya, Sepertinya dia butuh istirahat." Tegas nyonya Collagher.


~


Keributan di pagi hari membuat mereka yang ada di dapur keluar menyaksikan pertengkaran antara nyonya Collagher dan madam Janet, baru kali ini nyonya Collagher betul-betul bersuara, selama ini dia menurut saja sama nenek sihir itu.


"Berhenti menangis Ruzy, kau cengeng sekali." Kata Jessy sambil berkacak pinggang.


"aku tidak bisa menahan air mataku melihat bibi Emy di perlakukan seperti itu jessy." Emosiku sangat berpengaruh dengan air mataku.


"Aku baik-baik saja sayang, berhentilah menangis." Dia memeluk ruzy dan menepuk-nepuk punggungnya.


"Ada apa dengannya?" Suara berat dan serak membuat mereka semua terperanjat. Alex berdiri di antara mereka melihat ruzy menangis di pelukan bibi Emy.


"Tu..tuan alex, dia... baik-baik saja", jawab Joan terbata-bata.


"Apa maksudnya baik-baik saja? mengapa dia menangis?" mata tajamnya menatap mereka semua.


"Dia sedikit demam tuan Alex", jelas bibi Emy, "Aku akan menyuruhnya untuk beristirahat, permisi." Alex tidak melepaskan pandangannya kepada ruzy yang masih menyandarkan dirinya kepada bibi Emy.


Mereka semua kembali ke dapur, "Ugh, anak itu membuatku jantungan saja, cengeng sekali sih si Ruzy!" kata Joan sambil merapikan piring-piring yang sudah di cuci.


"Wajar saja kan, dia sangat menyayangi bibi Emy lagi pula bibi Emy satu-satunya keluarga bagi Ruzy, aku juga akan menangis jika bibiku diperlakukan seperti itu." kata Jessy membela Ruzy.


"Tapi tuan Alex sangat perhatian ya, baru kali ini aku melihatnya sedekat itu, wajahnya begitu tampan, suaranya seksi dan....". Jessy menghentikan kicauannya karena tanpa mereka sadari nona Grace berada di belakangnya mendengarkan setiap kata dari Joan dan Jessy.


Grace berjalan dengan angkuh, melihat mereka dengan tatapan merendahkan, dia berdiri di depan Jessy, dia tersenyum miring lalu seketika tangannya menampar wajah Jessy begitu keras.


Mereka semua yang ada di dapur terkejut. Jessy memegang pipinya yang memerah.


"Kalian manusia rendahan, membicarakan majikan kalian saja kalian tidak pantas apalagi membayangkan di kepala kotor kalian." Dia jalan memunggungi mereka dengan tersenyum puas.


"Buatkan aku sesuatu yang hangat, aku lapar!" Bentaknya.


"Buat saja sendiri makananmu Grace, kalau kau tidak makan tepat waktu itu kesalahanmu sendiri, dan satu lagi." Elena berjalan dihadapan Grace yang mulai emosi, "Jangan memperlakukan orang-orang yang ada di rumah ini dengan seenaknya, apalagi memukulnya seperti tadi, apakah kau yang menggaji mereka?? tentu saja tidak ! jadi berhenti bersikap seperti kau tuan dirumah ini, sangat kekanak-kanakan, kau mengerti!"


Grace menggigit bibirnya matanya penuh dendam terhadap ellena, tangannya melayang ke arah ellena, tetapi dengan sigap ellena menangkap tangannya dan tersenyum mengejek padanya.


"Kau betul-betul tidak mendengarkan ya? jaga tingkah lakumu sebelum aku mengusirmu dari rumahku."


Grace berlari masuk kedalam kamarnya, napasnya begitu berat, "tunggu saja kau ellena, akan kubalas kau." Dia menghapus air matanya dengan kasar di pipinya, lalu dia mengingat seseorang bernama ruzy yang dibicarakan pelayan tadi.


"Klak....


Grace terkejut, lamunannya terhenti, rambut pirangnya melambai di tiup angin malam, dia membuka begitu saja jendelanya, tanpa mengetahui peristiwa pembunuhan terjadi di rumah itu...


"Klak.....klak...


Grace berjalan menuju jendela melihat sekelilingnya, dia sangat terperanjat, matanya menangkap sosok bermantel di kegelapan malam berdiri tegap langsung menatap ke arah jendelanya yang terbuka.