Flower On The River

Flower On The River
Vol 54



Meefrusche Restaurant Pukul 1 siang.


Saat itu Alyena sedang makan siang dengan Nick dan Clara di sebuah restauran ketika perkuliahannya telah selesai, tanpa sengaja dia bertemu dengan Kilian Regan yang baru saja masuk ke dalam restaurant bersama rekan-rekan bisnisnya.


"Hai Alyena kita bertemu lagi, apa kabar." Ucapnya sambil tersenyum.


Alyena mengangkat kepalanya, begitupun dengan Nick dan Clara. "Aku baik, terima kasih." Ucap Alyena, Clara dan Nick saling bertatapan memberikan isyarat. Tangan Nick tiba-tiba bergerak terlihat sedang mengetik sesuatu, dia bermaksud mengirimkan pesan kepada Jafier.


"berhenti bodoh, kau akan membuat masalah kepada Alyena." Bisik Clara lalu merampas ponselnya.


"Boleh kita bicara sebentar." Ucap Kilian. Alyena menatap dua temannya, dan dia mengangguk kepada mereka. Kilian Regan berjalan ke meja yang ada di sudut, mereka duduk bersama.


"Apa yang ingin anda bicarakan."


Dia tersenyum. "Aku ingin bertanya sesuatu kepadamu, apa kau mengenal gadis bernama Rudith?" Tanyanya.


Alyena mengernyit, "Ya, aku mengenalnya, kami dulu bekerja di perkebunan anda, tetapi saat ini hubunganku dengannya kurang begitu baik." Alyena tahu sejak awal rudith berbohong kepadanya, dia mengatakan memiliki hubungan dengan Kilian, sedangkan pria ini tidak mengenal Rudith sama sekali.


"Apa sesuatu terjadi?"


"Aku mengusirnya dari mansion, dia bekerja sebagai seorang pelayan di mansionku, tetapi dia melakukan hal-hal aneh kepadaku, jadi aku memecatnya."


Alyena terkejut. Dia melakukan hal aneh? Apa yang dilakukannya."


Kilian berbicara tetapi wajahnya terlihat jijik ketika mengucapkannya. "Temanmu itu menciumku saat aku tertidur, dia juga mengendap-endap masuk ke dalam kamarku dan melakukan perbuatan aneh, aku tidak bisa mentolerir kelancangannya, jadi saat itu juga aku memecatnya."


Alyena terkejut, dia tidak menyangka Rudith senekat dan segila itu, Alyena duduk dengan tidak nyaman, "Sudah begitu lama kami tidak saling komunikasi, sejak kepergianku dari Gimmelwald, tetapi baru-baru ini Rudith mendatangiku langsung ke penthouse, saat itu kami bertengkar, dan setelah itu dia kabur." Ucap Alyena.


"Semoga saja dia kembali ke Swiss, dia tidak memiliki sanak saudara di kota ini."


"Jangan mengkhawatirkannya, dia sudah dewasa, dia tahu apa yang akan dia lakukan."


"Tch, aku sama sekali tidak mengkhawatirkan gadis itu, dia pantas menerima akibat perbuatannya sendiri.


Alyena tersenyum tipis. "Ehm, sebaiknya aku pergi, Nick dan Clara sudah menungguku." Ucap Alyena.


Kilian ikut berdiri, sebelum Alyena pergi, dia memegang tangannya. "Alyena, aku masih belum menyerah, kita akan lihat, siapa yang akan memilikimu pada akhirnya." Ucapnya, sambil tersenyum menampilkan wajah tampannya.


Alyena kembali, dia melihat Nick dan Clara sedang menatapnya sambil menyilangkan kedua tangannya.


"Apa yang kalian bicarakan, kalian terlihat serius sekali, jangan sampai paman Jafier mengetahuinya, jika dia tahu, dia mungkin akan melamarmu saat ini juga agar kau dengan cepat menjadi miliknya." Ucap Nick.


"Atau paman Jafier akan mengamuk dan mendatangi Kilian dan mereka akan bertarung." Ucap Clara.


"Mereka orang dewasa bukan anak kecil, kenapa mereka harus bertarung hanya demi untukku, konyol sekali. Oh ya, kami membicarkan mengenai Rudith, dia bertanya kepadaku apa aku mengenal gadis jahat itu atau tidak."


"Lantas?" tanyanya.


"Yaa, aku menjawabnya aku memang mengenalnya, karena dulu kami bekerja bersama di perkebunan anggur, tetapi sekarang hubunganku dengannya sudah tidak baik, dia menuduhku yang tidak-tidak, katanya aku berusaha merebut Kilian Regan, dia terlalu terobsesi kepada Kilian, sampai-sampai dia terlihat tidak normal, tentu saja Kilian memecatnya." Ucap Alyena.


Mereka tidak mendengar langkah kaki yang berjalan perlahan di belakang Alyena.


"Itu semua karena kau memang j4lang mengerikan, kau mencurinya dariku, kau mencuri tuan Kilian dariku," Suara itu membuat ketiganya terkejut. Dia tiba-tiba muncul dengan mata melotot menunjuk-nunjuk Alyena.


"INI SEMUA GARA-GARA KAU ALYENA, KEMBALIKAN KILIAN KEPADAKU ! KEMBALIKAN." Rudith menarik rambut Alyena kebelakang hingga dia terjatuh dari kursinya dengan keras, sementara itu Clara dengan cepat mendorong Rudith dan berusaha melepaskan tarikan tangannya di rambut Alyena.


Alyena tertidur di lantai dengan Rudith menggenggam rambutnya. Suara tamparan keras terdengar, sehingga Rudith terdorong ke belakang. Nick menamparnya dengan keras membuatnya terjatuh.


Clara buru-buru memegang Alyena dan menjauhkannya dari Rudith.


"Alyena, kau baik-baik saja? sepertinya pipimu lebam karena terbanting di lantai ketika wanita itu menjatuhkanmu dari kursi.


Mereka menyeret Rudith yang berteriak-teriak mengerikan dan menunjuk-nunjuk Alyena.


"AKU TIDAK AKAN MEMBIARKANMU BAHAGIA ALYENA, LIHAT SAJA BAGAIMANA KAU AKAN BERAKHIR SEPERTI IBUMU YANG MENYEDIHKAN."


Seluruh penghuni restaurant menatap mereka, keributan yang di timbulkan Rudith membuatnya di seret dari restaurant, di usir sejauh-jauhnya, dia betul-betul terlihat tidak normal.


"Dasar sinting, Ukh aku ingin sekali menamparnya. Bagus Nick, kau bekerja dengan baik."


Alyena menatap Rudith sampai dia keluar dari Restaurant itu, dia sangat heran, mengapa dia berubah seperti itu hanya karena seorang Kilian Regan, apa yang membuatnya gila karena sosok Kilian."


Alyena memegang pipinya dan merasakan kulit kepalanya sangat sakit akibat tarikan Rudith yang menggila.


"Kami menuju rumah sakit terdekat, paman. Jangan khawatir, Alyena akan kami jaga dengan baik." Ucap Nick. Clara dan Alyena memandangnya tidak percaya.


"Kau menelepon Willy, Ugh sial Nick, dia akan menjadi berlebihan, sebentar saja aku di obati, aku langsung bisa pulang, jika kakak tahu dia akan menyuruhku menginap di rumah sakit." Ucap Alyena.


"Kau tidak tahu bahaya apa yang kau hadapi Alyena, wanita tadi berbahaya dia bisa mencelakaimu, dia terlihat tidak waras, kau harus dirawat." Ucap Nick.


***


Alyena telah di obati dan sekarang sedang berisitirahat di kamar khusus, sedangkan Nick dan Clara yang mengurus semuanya. Suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari koridor rumah sakit, William berlari dan membuka pintu kamar Alyena.


"Kakak, kau sudah datang."


Wajahnya terlihat pucat, dia melangkah lebar-lebar dan memandang Alyena. Dia kemudian memeluknya. "Ketika bocah itu meneleponku, kakiku gemetar, aku sangat takut sesuatu terjadi denganmu, coba aku lihat." Dia memperhatikan dengan seksama wajah Alyena yang terlihat lebam karena terjatuh dan sudah di beri obat oleh dokter, juga lehernya yang sakit karena membentur lantai.


"Sekarang istirahatlah, kau pasti ngantuk karena obat dari dokter, aku akan berjaga sampai kau tidur." Alyena mengangguk dan segera berbaring. William menyelimutinya dan mengecup keningnya.


Dia berjalan sampai di depan jendela kaca di sudut ruangan dan menelepon seseorang.


"Cari gadis itu dan masukkan dia ke dalam penjara atau ke rumah sakit jiwa, buat bukti sebanyak-banyaknya agar wanita itu layak menerima hukumannya, dia harus menerima ganjarannya, laporkan padaku jika gadis itu telah kau temukan."


William menyimpan ponselnya, dia sangat geram, dia duduk di kursi dan menatap Alyena yang sudah tertidur. Ponsel William berdering dia menerima panggilan telepon di luar kamar Alyena.


"Apa maksudmu gadis itu menghilang, temukan dia, bagaimanapun caranya, dia berbahaya untuk Alyena, gadis gila itu harus dijauhkan dari adikku, kerahkan semua pengawal dan cari dia bagaimanapun caranya."


***


Malam telah larut Nick dan Clara telah pulang, tinggal William yang menemani Alyena yang masih tidur. William sangat sibuk, dia harus beberapa kali keluar kamar untuk menerima panggilan telepon yang penting. Sementara Audry akan kembali ke York esok hari, jadi tinggal Willy yang menemaninya.


Jafier berlari-lari di koridor rumah sakit, dia melihat William sedang menelepon dan membelakanginya, dengan cepat Jafier masuk ke dalam, dan menghembuskan napas, dia sangat khawatir. Dia melepaskan jaketnya dan menaruhnya di atas kursi, lalu mendekati Alyena yang masih tertidur.


"Aku khawatir sekali, Alyena. Ucapan Nick di telepon membuatku hampir gemetar, dia bilang ada wanita gila yang menyerangmu." Ucapnya sambil memegang tangan Alyena dari balik selimut.


"Kau datang." Suara itu membuat Jafier mengangkat kepalanya.


"Tentu saja, aku langsung mengambil penerbangan pertama agar segera tiba di York, siapa wanita gila yang menyerang Alyena." tanyanya.


"Dia teman Alyena sewaktu bekerja di perkebunan, gadis gila itu terobsesi dengan Kilian Regan, dia sangat menginginkannya dan wanita itu cemburu kepada Alyena karena perhatian Regan di curi darinya, dia di pecat dari mansion Regan, setelah itu dia menyalahkan Alyena dan menyerangnya, begitu informasi yang kudapatkan, aku harus menjauhkan gadis gila itu dari Alyena, dia berbahaya untuknya.


***


Alyena mengernyitkan alisnya ketika dia berbalik dan merasakan tubuhnya di dekap erat oleh seseorang, dia membuka kedua matanya dan mendapati Jafier tidur di sebelahnya.


"Hm, Jafier?"


Matanya terbuka, dia tersenyum lalu mengecup kening Alyena. "Kau sudah bangun?" bisiknya. Alyena lalu mengangguk.


"Kapan kau datang? Aku tidak mendengar kedatanganmu, oh ya. Dimana kak Willy." Tanya Alyena.


"Aku datang sejak tadi, sewaktu Willy masih di sini menjagamu, dia sepertinya sedang mengurus sesuatu yang penting, jadi dengan terpaksa dia menyerahkan tugasnya kepadaku, meskipun dia tadi tidak rela pergi. Jadi aku yang akan bertugas menjagamu, malam ini," Ucap Jafier mengusap rambut Alyena dengan lembut.


"Masih sakit?" tanyanya.


"Tidak begitu nyeri lagi, aku baik-baik saja." Ucap Alyena.


Mereka saling menatap, Jafier mendekatkan wajahnya dan mencium Alyena dengan lembut, dia harus berhati-hati melakukannya karena pipi Alyena masih nyeri. Alyena menarik tubuh Jafier dan membalas ciumannya dengan antusias. Saat itu jarum jam menunjukkan pukul 2 dini hari, mereka terhanyut dan tenggelam dalam dekapan masing-masing, Jafier tidak melepaskan Alyena begitupun sebaliknya, Alyena tidak melepaskan ciuman Jafier bahkan dia lebih gencar melakukannya.


Jafier mengentikan ciumannya dan menarik wajahnya. "Kita berhenti sampai di sini Alyena, sebelum aku kehilangan kesadaran dan menyerangmu." Bisik Jafier. Alyena cemberut tetapi tetap mengangguk, terdengar langkah kaki dari koridor menuju ke kamarnya. Alyena melotot dan bangun dari tidurnya.


"Kak Willy datang."


Dengan cepat Jafier bangun dari posisi tidurnya yang berada di sebelah Alyena, dia duduk dengan cepat di kursi. Pintu kamar terbuka, dia menyipitkan matanya menatap mereka berdua yang terlihat berbincang.


"Kakak kembali?"


"Tentu saja, aku tidak mungkin membiarkan pria itu menemanimu sepanjang malam." Ucap Willy sambil melepaskan jaketnya. Willy terlihat tidak tenang, dia mendapatkan informasi jika wanita itu masih menghilang dan bersembunyi, dia sangat takut jika sewaktu-waktu gadis gila itu menyerang Alyena kembali.