Flower On The River

Flower On The River
Vol 34



Alyena duduk di kursi di ruang tamu, dia menunduk dan menatap kakaknya sembunyi-sembunyi, sedangkan Jafier tetap duduk seperti biasa, seperti tidak pernah terjadi apapun. William duduk di hadapan mereka, pancaran matanya kepada keduanya menakutkan, dia menuntut jawaban kepada Jafier atas apa yang terjadi tadi.


"Jafier, sepertinya setiap ucapanku sewaktu di london tidak kau pedulikan sama sekali, apa yang kukatakan tidak kau anggap sama sekali, aku tahu apa yang tadi terjadi." Sorot matanya seakan ingin memukul Jafier sekarang juga.


"Alyena, masuk ke kamarmu." Tanpa dimintapun Alyena akan segera pergi dari suasana yang mencekam itu, dia sedikit menoleh ke arah Jafier, tetapi tidak di sangka pria itu memperhatikan Alyena ketika berjalan sampai naik ke atas tangga.


"Kau mencium Alyena?" Tanya Willy.


"Emm, ya aku menciumnya."


"Jafier, dia adikku, jangan memperlakukannya seenaknya, kau datang dan pergi memberi bekas kepadanya, bagaimana dia bisa menerima seranganmu tiap kali kau dekat dengannya, nanti adikku akan terbiasa dengan ciumanmu, sehingga nanti dia merasa aneh ketika tidak kau cium." Ucapnya.


Itulah yang menjadi tujuanku, dia harus terbiasa denganku.


"Oke baik, lain kali aku akan berhati-hati, atau perlu aku akan menjaga jarak dengannya sedikit."


William memicingkan matanya, tampak tidak percaya dengan perkataannya, "Ini peringatanku Jafier, sebaiknya kau mendengarnya, jika tidak, aku akan membawa Alyena ke tempat yang jauh darimu, dan tidak bisa kau raih."


"Apakah ini ancaman?" Ucapnya sambil bersedekap, kali ini wajahnya menjadi serius mendengar kata-kata yang terurai dari William.


"Aku serius, sangat serius."


Jafier mengambil napas berat, dia mengangkat kedua tangannya ke depan dadanya, seperti tanda seseorang yang menyerah. "Oke, aku berjanji tidak akan seperti itu lagi, aku akan mencoba menahan diriku, tetapi jangan pernah kau menjauhkanku dari Alyena."


Ucapan Jafier masih di ragukan oleh William, tatapan matanya seakan ingin membaca setiap pergerakannya, "Jangan menatapku seperti itu, aku memegang kata-kataku kali ini, aku tidak akan menyentuh Alyena seujung rambutpun, bahkan aku akan menjaganya dari siapapun yang mencoba medekati calon istriku."


"Calon istri?" Ucap William.


"Ya, Alyena akan menjadi istriku, aku sudah merencanakannya sejak lama, kenapa kau begitu terkejut kakak ipar?" Ucap Jafier sambil tersenyum menatap wajah William yang dahinya membentuk huruf V yang dalam.


"Tch sudahlah, sebaiknya kau pulang, pekerjaanmu masih banyak kan?"


"Oh ya, bagaimana wanita tadi bisa berakhir denganmu? Kau bahkan mengajaknya ke mansionmu."


"Aku hanya membuat beberapa kesepakatan sementara dengan wanita itu, jangan kau pedulikan, dan aku membawa mereka kemari karena di tempat lain terlalu berisik, mereka nanti dengan mudah mendapatkan informasi dan dijadikan lahan bergosip."


***


Alyena berendam di Bathub dengan menaruh aroma khas bunga serta lilin yang di taruh di atas meja kecil menjadi aroma terapi agar tubuhnya dapat rileks, setelah peringatan keras kakaknya kepada Jafier, pria itu tidak lagi menciumnya dengan seenaknya, dia mampu menahan dirinya, apalagi ketika dia ingin menjemputnya dari sekolah, dia hanya datang dan pergi, setelah itu makan bersama, dan diapun pergi, Alyena dapat melihat usahanya yang keras untuk menjaga ucapannya sendiri bahwa dia tidak akan menyentuh Alyena semaunya.


Alyena menutup matanya, tiba-tiba saja wajah pria itu menyusup ke kepalanya, dan bibirnya yang menguasainya. Alyena membuka matanya dan duduk, dia tidak percaya akan apa yang di pikirkannya.


"Aku pasti sudah gila."


Dia lalu melingkarkan handuk di sekeliling tubuhnya setelah mandi dan segera keluar dari kamar mandi, dengan cepat dia mengenakan pakaiannya ketika mendengar suara ketukan dari luar.


"Alyena keluarlah, ada yang akan kakak bicarakan."


Setelah selesai berpakaian dan berdandan sebentar, Alyena turun ke lantai bawah, dia sedikit terkejut ketika melihat seorang wanita telah duduk di meja makan mereka, wajahnya tentu saja cantik, dia adalah salah satu model terkenal yang mengungkapkan di televisi bahwa dia sedang mengandung anak Willy. Tetapi kenapa dia ada disini, di meja makan ini? apa semua yang dikatakannya itu benar?


"Kemarilah Alyena." Ucap Willy dengan suara pelan dam lembut.


Alyena duduk di hadapan wanita itu, wajahnya terlihat datar, dia tidak senyum, juga tidak menyambut kedatangan Alyena, wajahnya terlihat angkuh ketika melihat kedatangan Alyena.


"Alyena mulai saat ini, untuk sementara saja, dia akan tinggal dengan kita, kau tahu siapa dia kan?" tanya Willy.


Andaikan saja kak Audry ada di sini, diapun akan merasakan sikap permusuhan dan arogan dari wanita ini.


Wanita itu menoleh kepadanya, dia lalu menggeleng, seakan gadis itu mengucapkan candaan konyol yang tidak lucu.


"Halo?? kau betul-betul tidak tahu siapa aku? apa kau tinggal di sebuah pulau terpencil, atau desa kecil? bagaimana bisa kau tidak mengenalku." Ucapnya tidak percaya.


"Aku tidak mengenal anda." Ucap Alyena.


"Jaga sikapmu." Mata Willy menatap wanita itu dengan tajam.


"Ingat, kau di sini hanya karena kesepakatan, jika tidak, aku tidak akan mungkin menerima kesepakatan itu, jika saja kau berbohong padaku mengenai kehamilanmu, kau akan lihat bagaimana aku akan bertindak." Ancamnya.


Wanita itu tidak berkata-kata lagi, wajahnya hanya memberikan reaksi ketidaksukaannya, serta dengusan terlihat di wajahnya ketika melihat Alyena.


Wanita mengerikan ini akan tinggal bersama kami? Aku harus segera menghubungi kak Audry.


Mereka makan dengan tenang, tidak ada yang membuka pembicaraan, sampai wanita ini tersenyum ketika dia melihat seorang pria baru saja datang dan menuju ke meja makan tempat mereka berkumpul.


"Selamat malam." Ucap Jafier ceria. Dia lalu duduk di samping Alyena dan terheran-heran ketika melihat ada seorang wanita duduk bersama mereka.


"Selamat malam tuan Alvaro." Sapanya, tampak wajahnya yang terlihat masam dan angkuh seketika berubah, dia tersenyum ramah dan matanya selalu tertuju kepadanya.


"Willy? aku tidak menyangka, kau secepat ini." Ucap Jafier menaikkan alisnya. Tanpa Jafier bilangpun dia mengerti apa yang menjadi pertanyaannya.


"Dia di sini karena kesepakatan saja, aku tidak tahu sampai kapan." Ucapnya tanpa basa basi. Jafier lalu menatapnya dan tanpa ragu dia bertanya kepada wanita di hadapannya.


"Bukankah berita terakhirmu kau tidur dengan seorang produser untuk mendapatkan peran utama di film itu?" Ucapnya.


"Apa maksudmu Jafier."


"Tch, apa kau sudah mendengar gosip-gosip tentangnya? beritanya baru saja muncul, jangan khawatir, aku bukanlah orang yang menyukai gosip, apalagi dengan sesuatu yang tidak penting, tetapi kau harusnya berusaha keras menutup mulut salah satu stafmu jika ingin menjebak seseorang." Ucap Jafier lalu meletakkan tangan di bahu Alyena dan menempelkan erat di tubuhnya.


"Apa maksudmu?" Dia lalu berdiri dengan wajah merah padam, kemudian dia membuka-buka ponselnya dan beritanya sudah beredar di mana-mana.


"Kau ingin mengatakan sesuatu?" Ucap Jafier.


"A-aku....


"Pergi, sebelum aku melakukan sesuatu yang tidak akan pernah kau bayangkan." Geramnya.


"W-william dengarkan aku....


"Pergi sekarang juga !" Desisnya.


Wanita itu buru-buru mengambil tasnya dan segera pergi, dia berlari-lari kecil dengan sepatu tingginya, tampak tubuhnya terlihat tidak seimbang dan hampir saja jatuh karena begitu cepatnya dia ingin keluar dari mansion ini. Suasana menjadi tidak mengenakkan.


William masih duduk dengan tenang, dia mengambil ponselnya dan berjalan menuju ke ruangannya. Kata terakhir yang Alyena dengar adalah ucapan mengerikan yang keluar dari mulut William.


"Aku tidak perduli, hancurkan wanita itu, kau mengerti."


Suara William sangat menyeramkan, apalagi jika dia marah.