
Aku tertidur sambil terisak di kamarku, mengapa mereka dengan seenaknya saja memperlakukanku seperti ini? Di tempatku, meskipun aku tinggal di desa yang begitu terpencil dan sangat jauh dari perkotaan, tetapi mereka begitu sopan tidak memperlakukan wanita seperti ini, aku merindukan teman-temanku yang ada di sana.
Ruzy tidak bekerja hari itu, tubuhnya terasa panas dia terkena demam sehingga bibi Emy melarangnya untuk bekerja, disuruhnya Ruzy beristirahat di kamarnya.
Wajah ruzy menerawang mengingat kembali peristiwa itu yang ingin sekali dihapus dari ingatannya. Butiran keringat membasahi kening ruzy, pakaiannya menjadi basah karena keringatnya. Bibi terlihat khawatir padanya.
"Ruzy kau sangat panas, aku akan menelepon dokter untuk segera memeriksamu." Wajah Ruzy melotot mendengarnya.
"Aku baik-baik saja koq bibi, aku hanya perlu meminum obat ini", dengan gerakan pelan Ruzy mengambil obat di atas nakas berwarna putih.
"Kau yakin Ruzy, sepertinya demammu sangat tinggi?" kata bibi Emy khawatir.
"Aku sungguh tidak apa-apa bibi, kumohon jangan memanggil siapapun, aku hanya perlu beristirahat". Ruzy menatap bibinya dengan suara lemahnya.
Bibi Emy menghembuskan napasnya, "Baiklah Ruzy, istirahatlah dan jangan lupa minum obatmu dengan teratur." ruzy mengangguk lemah dan tersenyum.
~
Suara pohon beradu di terpa angin malam, kabut yang menyelimuti hutan itu memberikan nuansa mencekam bagi siapa saja berani mengadu keberaniannya melewati hutan gelap yang di sebut hutan pemangsa. Tetapi ada seseorang di sana, bermantel hitam sedang berjalan dengan menyeret kaki seorang wanita lalu menghempaskannya di dalam tanah yang dingin, sekujur tubuh wanita itu terluka dan sobek di sana sini, matanya terbuka, wajah kaku cantiknya terbungkus plastik.
'Menderitalah ! kau yang memintaku melakukannya, kau suka dengan cara kasar dan tidak biasa bukan?' Mantel hitamnya yang panjang menjuntai terseret tanah meninggalkan wanita itu. Tidak ada rasa penyesalan ataupun rasa kasihan di wajah bengis itu.
~
Sudah seminggu aku tidak bertemu tuan Alex, dia sedang pergi ke Kanada bersama ibunya, untung benar bagiku, setelah menghadapi kepura-puraan dokter max padaku, aku sekarang begitu waspada jika berbicara dengan seorang pria. Aku melebarkan kain putih panjang lalu menepuk-nepuknya, sedikit senandung mengalun dari bibirku.
"Sepertinya kau sudah sehat Ruzy." Aku berbalik dengan terkejut.
Pria itu tertawa pelan, kau selalu terkejut ya apakah itu kebiasaanmu Ruzy?" Ruzy memandang dokter max, setelah perbuatan kejinya padaku dia datang dan tersenyum seperti tidak terjadi apapun.
"Jangan mendekatiku, pergilah!" Mataku mengelilingi hutan itu, mencari jalan meloloskan diri darinya.
"Aku bukan tipe pria yang memaksa wanita ruzy, tapi aku juga bukan tipe yang mudah menyerah sebelum aku mendapatkannya."
Ruzy mundur beberapa langkah dengan memegang keranjang baju di hadapannya.
"Aku ingin melihat wajah Alex jika aku yang pertama kali memilikimu ruzy, apa yang akan dilakukannya Hem?" Mata birunya bersinar jahat menatapku dari ujung kaki hingga ke kepalaku.
"Aku akan teriak jika kau lebih mendekat." Ruzy membesarkan suaranya. Dia terkekeh meremehkan ancamanku.
"Dan kau tahu, Aku suka wanita yang keras kepala tapi lemah sepertimu, membuatku semakin menginginkanmu."
Dia berjalan mendekatiku, matanya memandangku dengan seringai miring, aku bisa melihat tangannya menegang ingin segera menangkapku, aku berjalan mundur, suara gemuruh dari hutan membuatku berbalik, begitupun dokter max lalu dengan cepat aku berlari meninggalkannya. Aku menabrak seseorang di dekat taman, dia memegangku yang hampir terjatuh ke tanah.
"Hei kau baik-baik saja? mengapa kau berlari?" Suaranya yang terdengar bersahabat itu membuatku berbalik memandangnya, dia Nick yang pernah menolongku.
"Aku..aku...", suara Ruzy menghilang mendengar langkah seseorang di belakang mereka. Wajah Nick tersenyum tidak percaya.
"Kau tidak mengindahkan peringatanku dokter max, kau sudah mendapatkan permainan yang menyenangkan rupanya? Apa kau bosan dengan bau rumah sakit?" Nick dengan santai berdiri di antara Ruzy dan dokter max.
"Tidak ada yang lebih menyenangkan mengejar seorang wanita yang berlari darimu dan menolakmu apalagi dia hanyalah seorang pelayan, ya aku memang menginginkan pelayan itu."Dengan melengkungkan mulutnya.
Nick tertawa lebar, "Kalau kau menginginkan wanita, kau bisa bertanya padaku, aku bisa mengenalkan separuh wanita cantik di Pittsburgh."
Dokter max menggeleng, "Sebelum kudapatkan Ruzy, aku tidak tertarik pada siapapun Nick."
Nick berdecak, "Rupanya kau menginginkan permainan menjadi lebih menarik? ok, aku sudah memperingatkanmu."
"Ruzy ! pergilah, bawakan kami minuman aku ingin berbincang lebih dalam dengan dokter max." kata Nick tanpa menatap Ruzy.
"Baik tuan Nick." Dengan cepat Ruzy pergi ke dapur.
Ruzy memberitahu Joan kalau dokter max dan tuan Nick datang, dengan segera Joan membuat kopi dan hidangan lainnya, tanpa Ruzy suruhpun dia akan segera membuatnya, katanya itu adalah anugerah buatnya menyaksikan wajah-wajah tampan ketika membawa nampan.
Mimik mukanya tidak senang ketika yang membawa nampan itu bukan Ruzy, dia melipat tangannya, lalu menatap Nick yang tertawa mengejek, "Kau rupanya brengsek juga dokter max."
Dia tersenyum, "ya tapi tidak sebrengsek jika dibandingkan dengan Alex."
~
Terdengar ketukan pelan dari pintu kamarnya, ruzy membuka pintu kamarnya dan tidak menyangka seseorang berdiri dihadapannya.
"Halo Ruzy, Sudah lama kita tidak bertemu."
Wajah terkejut ruzy menatap pria yang sudah seminggu lebih tidak di lihatnya, dia melangkah mendekati Ruzy.
"Kau baru saja mandi?" Dengan memegang rambut basah ruzy lalu menghirupnya.
"Aku merindukan wangi dirimu Ruzy." Dia menutup matanya menikmati sensasi yang di rasakannya, dia kemudian melangkah mendekati Ruzy.
"Jangan..jangan mendekat, bi...bibi emy berbaring di sebelah kamar ini." kata Ruzy yang tergagap.
Alex tersenyum, "Kalau begitu kita jangan ribut kan?!" Lalu dengan tangannya yang cepat dia mengecup bibir Ruzy, lalu menggeram di bibirnya, tanpa membiarkan Ruzy bernapas dia terus-menerus menciumnya.
"Aku sangat merindukanmu Ruzy, aku tak tahu apa yang akan aku lakukan padamu."
Ciumannya tak berhenti sampai mereka sampai di ujung tempat tidur.
Ruzy meringis ketika tanpa sengaja kakinya menabrak kayu tempat tidurnya. Alex menghentikan ciumannya dan menatapnya.
"Ada apa dengan kakimu?" Ruzy hanya menatap dan tidak mau menjawabnya. "Ada apa dengan kakimu?", tanyanya tajam.
"Aku hanya terjatuh." Lalu memalingkan wajahnya dari Alex.
"Bibir cantikmu kini pandai berbohong Ruzy!"
dengan kasar dia mendudukkan Ruzy di tempat tidur, lalu menarik kakinya ke atas pangkuannya, "Luka-lukamu ini seperti kau terseret aspal! Apa yang sebenarnya terjadi selama aku pergi?"
Ruzy memalingkan wajahnya, tidak menjawab pertanyaan alex, Apa gunanya aku memberitahunya, dia tidak ada bedanya dengan dokter max, pikir ruzy jengkel.
Wajah Alex mengeras, dengan menahan emosinya dia memalingkan wajah Ruzy agar menatapnya. "Jawab aku ruzy!" bentaknya.
Dengan keras kepala Ruzy masih terdiam, Alex tidak menunggu lama, dia lalu mengecup bibir Ruzy dan menahan ciumannya untuk beberapa lama.
"Kau betul-betul keras kepala Ruzy." Alex berbisik di bibirnya, melihat Ruzy yang kehabisan napas. air mata ruzy jatuh di pipinya, dia benci di perlakukan seenaknya, oleh pria-pria tampan itu.
Alex menghentikan ciumannya, dia terduduk lalu meremas rambutnya sendiri, ia lalu berdiri menatap Ruzy yang terbaring tidak mau menatapnya, "Aku akan menemuimu besok". katanya, lalu keluar dari kamar Ruzy.
~
"Kau sudah datang dokter max?" seru nyonya Collagher menyambutnya, dokter max rutin datang ke kediaman keluarga ini, dia adalah dokter pribadi keluarga Collagher, meskipun masih sangat muda, dengan usia 27 tahun dia sangatlah profesional dan berpengalaman di bidangnya.
Mata birunya menerawang menatap pelayan yang menyediakan hidangan untuknya, tetapi dia tidak menemukan ruzy di sana.
"Mencari sesuatu dokter max?" Dia memandang Alex yang duduk di hadapannya.
Dokter max hanya tersenyum miring lalu menatap alex. "Aku tidak mencari siapapun tuan Alex."
Nyonya Collagher mengangkat gelas di tangannya, " Terima kasih telah datang untuk makan malam di kediamanku", dia menunduk sedikit pada para tamunya.
"Aku ingin menyambut kedatangan putriku yang baru saja pulang dari Perancis."
Dia lalu menatap seorang gadis berusia 20an dengan wajah cantik dengan mata coklat yang dalam, wajahnya tersenyum mendengar ibunya menyambutnya dengan istimewa.
"Sudahlah ibu, kau membuatku malu."
Dia kemudian duduk dihadapan para tamu-tamu ibunya. "Bagaimana bisa putri kecilku bisa berubah secantik ini?"
"Oh ibu, kau betul-betul membuatku malu." dia tersenyum dan para tamu menyetujui nyonya Collagher.
Mata coklatnya memandang Nick dan Ricky yang tersenyum padanya, tetapi pandangan matanya yang dalam seakan pernah ada luka di sana yang tersimpan, menatap manik mata Nick dengan perasaan hangat tapi kecewa.