
Alex tiba di mansion nick, beberapa pelayan menyambutnya, alex tanpa ragu menuju kamar nick dan ke ruang kerja nick tapi tidak ada apapun disana. Dia kemudian berlari menuruni tangga menuju mansion nick berikutnya, ingin mencari apa saja yang membuatnya dapat menunjukkan keberadaan Ruzy.
Kepala pelayan sedikit mondar mandir dengan sedikit ragu dia memanggil Alex.
"Tuan Alex, er....co..cobalah ke mansion tuan nick di dekat jembatan pitthsburg, mungkin anda dapat menemukan sesuatu."
Alex memandangnya aneh, tanpa menanyakan lebih lanjut, Alex lalu berlari menuju ke mobilnya dengan terburu-buru mencoba menemukan rahasia apa yang disembunyikan Nick.
~
Pria itu melangkah dengan berat, di tangannya terdapat benda tajam melengkung masih dipegangnya erat, dari tangannya menetes-netes darah segar. Ruzy menatapnya dengan ketakutan.
"Siapa kau? apa yang kau lakukan di villaku?!" teriaknya, max mengambil pemukul golf dibelakang lemari tua di sampingnya.
"Pergi dari sini ! teriak max , matanya sontak ketakutan. Pria dihadapannya itu memiringkan kepalanya, wajahnya belum terlihat jelas karena tertutupi mantel hitam panjangnya.
"Klak....jauhi gadis itu....klak."
Max berbalik menatap ruzy yang terisak ketakutan.
"Pergi kau orang aneh, menjauh dari villaku atau....
'Atau apa?...klak... menelepon polisi? dan apa yang sekarang ini kau lakukan? menculik ruzy."
Ruzy terbelalak, pria ini tahu namanya, tetapi dari postur tubuhnya sepertinya ruzy mengenalnya. Dengan serangannya yang tiba-tiba Juan menendang max, mendaratkan celurit melengkung di tubuhnya, darah segar mengalir dari lengan max, Juan terkekeh....tetapi max tidak tinggal diam, tangannya yang menggapai-gapai menemukan kursi kecil lalu didaratkannya di tubuh Juan yang menindihnya.
Max mundur memegang lukanya yang panjang dan banyak mengeluarkan darah. Tetapi Juan begitu kuat dia berdiri dan menendang wajah max berulang kali hingga dia jatuh terperosok di lantai, tangannya yang memegang celurit melengkung ingin di hempaskannya di tubuh max, seketika ruzy berteriak.
"Jangan, hentikan!"
Tiba-tiba pria bernama Juan menghentikan aksinya kini dia menatap ruzy dengan dirinya yang terikat mengenaskan.
Dia berdiri, melangkah dengan berat mendekati ruzy yang terikat, tangannya terulur ke wajah ruzy. mengusapnya sambil bersenandung, wajah gadis yang begitu dirindukannya.
Ruzy menggigil ketakutan, napasnya seakan berhenti hingga dia jatuh pingsan tidak sadarkan diri. Pria itu melepaskan ikatan ruzy, dengan bersenandung dia merangkul ruzy di pinggangnya, lalu memeluknya posesif, dia mendaratkan bibirnya di bibir ruzy yang pucat, kemudian sekali hentakan dia menggendong ruzy dibahunya membawanya pergi ketempat yang sudah di sediakan untuknya selama ini.
~
Tatapannya begitu buram, dahan-dahan pohon dapat dilihatnya meskipun masih samar-samar, dinding kamar itu sudah mengelupas dan satu lemari tua berdiri disamping jendela, ruzy mencoba kembali sadar dan menjernihkan kepalanya yang masih sakit. Dia ada dimana?
Tempat itu sedikit rapi meskipun kamarnya kelihatan tua. Di samping tempat tidur ruzy ada segelas air diatas nakas, dengan ragu ruzy ingin meminumnya karena dia haus sekali. Dia mencoba mengingat-ingat peristiwa kemarin, dan matanya sontak terbelalak ketika kesadaran penuh menghantamnya.
Pria bermantel itu membawanya entah kemana, ruzy mencoba berdiri memegang sudut tempat tidur, pandangannya masih kabur.
"mengapa kepalaku pusing sekali?" gumam ruzy, dia memegang gagang pintu dan ingin membukanya tetapi pintu itu terkunci dia menggedor-gedor pintu berwarna putih mengelupas itu, tetapi sepertinya tidak ada seorangpun di sana, jantungnya berpacu siapa pria itu? siapa pria yang menculiknya? suara aneh yang di dengar ruzy sudah lama dia lupakan, tetapi ruzy tahu dia pria yang sama ketika dia masih bekerja di kediaman Collagher sewaktu dia menjadi pelayan.
~
"Kau menculiknya Juan?"
Teriakannya menggema kembali, pria itu berlutut di dalam ruangannya, memegang kepalanya yang berdenyut-denyut, dia ingin mengambil dirinya, kesadarannya. Juan tidak bisa di kontrol lagi, dia mengambil tubuh nick beberapa hari ini, sementara jiwanya terkurung dan tertidur untuk beberapa lama .
"Hehehehe, kau seharusnya tidur saja nick, biar aku membereskan apa yang telah kuperbuat." Matanya menatap bayangannya dari balik lantai itu.
Tubuhnya menekuk di lantai yang dingin.
"Tidak ! kali ini tidak akan kubiarkan kau melakukan semaumu Juan." Teriaknya lagi.
"Jangan berani kau membebaskannya nick, kau akan melihat kemarahanku, wanita itu sangat penting untukku", teriak Juan lagi.
Suaranya yang keras membuat salah satu pelayan nick menempelkan telinganya di kamar tuannya, tuan nick yang sejak kecil memang sudah aneh, dia selalu mendengar seperti tuan nick berbicara dengan seseorang, tetapi dikamarnya tidak ada seorangpun di sana.
Suara keributan dari dalam kamar nick, membuat tom salah satu kepala pelayannya terkejut, dengan tergesa-gesa berlari agar dia tidak kepergok menguping dari kamar tuannya, tom bersembunyi di salah satu kamar dan menutupnya dengan cepat. Dia menutup matanya ketakutan dikamar yang gelap itu.
Dia menempelkan telinganya di pintu, suara seseorang melangkah melewati sepanjang koridor di lantai dua itu membuatnya menutup mulutnya.
Dia sudah lama bekerja di keluarga Adams dan melayani tuan nick Adams sejak dia di adopsi oleh tuan dan nyonya Adams, tetapi dia menyadari ada yang aneh dari anak kecil itu semenjak pertama kali dia masuk di keluarga Adams.
'Klak....,klak...., suara itu menggema di sepanjang koridor, tom yang sudah tua hanya menutup rapat mulutnya mencoba menghilangkan rasa takutnya, tetapi setiap kali tuan nick datang di mansionnya, rasa takutnya melewati ambang batas seperti kematiannya akan datang kapan saja.
Suara aneh itu menghilang, tom menurunkan tangannya mencoba mendekatkan telinganya di balik pintu. Tidak ada apapun yang didengarnya. Perlahan dia membuka kunci kamar dan dengan perlahan dia membukanya.
"Tom....'Klak' aku mencarimu."
Begitu terkejutnya tom sampai dia terduduk di lantai sambil memegang jantungnya. Juan menunduk mensejajarkan dirinya dengan tom.
"Kau sudah lama bekerja di sini tom, jangan mencoba mencari-cari rahasia tuanmu, 'klak', Kau mengerti !"
Tom menutup matanya dan mengangguk cepat, dia sama sekali tidak bergeming dari tempatnya. "I..iya tuan."
Juan berdiri dan beranjak pergi meninggalkan tom yang bersimbah keringat.
~
Alex kini berada di mansion nick yang berada di dekat jembatan dekat pusat kota pitthsburg.
Alex berlari di setiap sudut berteriak-teriak mencari nick. tetapi lagi-lagi tidak ada apapun yang dia temukan di sana, dia lalu berlari ke ruangan nick yang tertutup, alex memeriksa apa saja yang kelihatan ganjil, matanya menatap sesuatu yang aneh, sebuah tempat yang begitu familiar baginya.
"Pine street?" gumamnya.. matanya menangkap tulisan begitu kecil di buku kecil berwarna coklat, 'Middle of the pine?' gumamnya lagi.
Suara mesin mobil membuatnya terkejut, dia mengintip dari jendela atas, "Nick?" dengan cepat alex turun ke lantai satu dan mencoba duduk dengan santai di ruang tamunya.
"Hai nick, sudah lama kita tidak bertemu", Seru alex dengan santai seperti biasanya. Pria itu berdiri lama di pintu, sedikit melengkungkan bibirnya, langkahnya yang seperti terseret tidak lepas dari pandangan Alex.
"Ada apa Alex, sungguh aneh kau mencariku, Sepertinya kau lupa bagaimana terakhir kali kita bertemu." Kata Nick dengan serak.
Alex menatapnya dengan pandangan aneh, seakan-akan dia bukan nick, aksen Inggrisnya tiba-tiba saja menghilang, ketika nick berbicara padanya aksen Britishnya sangat kental.
"Oh ya, tentu aku ingat, tapi kau tahu sudah lama kita tidak berjumpa nick, cuma mencari teman ngobrol, kau tahu." Senyum alex, dengan masih menatap kaki nick yang berjalan sedikit terpincang-pincang.
"Apa kau ingat kita bertiga pernah ke Portland untuk berkuda? sepertinya akan diadakan perlombaan di sana?" kata Alex tenang.
Nick menaikkan bahunya, "Ya, aku ingat tempat itu, portland selalu menjadi tempat yang bagus untuk perlombaan berpacu kuda." Katanya sambil menerawang.
Rahang alex mengeras, dia tiba-tiba berdiri menatap lekat-lekat nick. Dia ingin sekali berteriak padanya dimana ruzy, alex tahu orang yang berdiri dihadapannya bukanlah nick sahabatnya.
"Siapa kau?" kata Alex pelan menatap Juan penuh amarah.
Juan sedikit terkejut, "Apa maksudmu Alex." Senyumnya mengembang menjadi seringai jahat.
"Texas adalah tempat kita bertiga menghabiskan liburan, dan mengikuti perlombaan, bukan di Portland. Siapa kau?"
Juan tertawa keras, "You got me Alex."