
Ruzy terkejut, pria bermata biru itu mengulurkan tangannya kehadapan Ruzy, wajah Jessy dan Joan tampak senang mereka tidak terkejut sama sekali karena Ruzy memang tampak mempesona. Wajah pelayan bernama Lona betul-betul merah, dia tersenyum tidak percaya, dengan pandangan merendahkan.
Nyonya Collagher tersenyum lalu menatap Ruzy, "Ya, sangat cantik, dia memang mempesona max, pilihan yang tepat."
Dia mengulurkan tangannya ke dokter max dengan setengah tersenyum, Joan dan Jessy berbisik menyemangati sambil terkikik. "Kami berangkat nyonya Collagher." kata dokter max padanya.
"Tentu dokter max, semoga pestanya nanti menyenangkan."
Dokter itu berbalik ke Ruzy dan tersenyum padanya. "Apakah kau gugup nona Ruzy?" dia menggandeng tangannya sambil turun ke arah tangga.
"Panggil aku Ruzy saja, eh ya sedikit dokter max."
"Panggil aku max, Ruzy." senyumnya.
Dengan sopan dia menggandeng Ruzy, "Bagaimana keadaan bibimu Ruzy?", mereka berjalan di ruang tengah menuju pintu keluar sambil berbincang. "Bibi Emy baik-baik saja, meskipun begitu dia tidak boleh terlihat letih."
"Ya, kau benar lututnya akan kembali bermasalah kalau dia bekerja terlalu keras."
Di ruang tamu mereka melihat Alex dan kedua temannya tengah berbincang. Lalu mata Alex menangkap keduanya, dokter max dan Ruzy yang tengah berbincang. Matanya menyala dengan kemarahan, tampak garis keras di wajahnya tapi Alex berusaha menahan emosinya dan menjaga sikapnya.
"Halo dokter max?", Alex berjalan menghalangi keduanya yang sebentar lagi akan berjalan menuju mobil dokter max.
"Halo tuan Alex, senang berjumpa denganmu." Alex melirik Ruzy dengan pandangan tajam padanya. Ruzy hanya menunduk tanpa sadar dia memegang erat lengan dokter max, dan dia tentu saja menyadarinya.
"Kalian akan pergi ke suatu tempat?", tanyanya . Dokter max memandang ruzy lalu menatap Alex, "Ya tuan Alex, nyonya Collagher mencarikan partner pestaku untuk malam ini dan dia memperkenalkanku pada nona Ruzy."
"Oh ya, aku tidak tahu itu, tepatnya pesta itu dimana?" Dengan suara sopan dan menahan emosinya.
"Di gedung Versailles di jalan Welch 45 street, maaf tuan Alex kami sudah terlambat." Max menggenggam tangan Ruzy lalu membawanya ke mobilnya, dia membukakan pintu mobilnya setelah Ruzy naik ke atas mobil dengan cepat dokter max berputar dan mengendarai mobilnya. Rahang Alex terkatup rapat, gelas yang di pegangnya dia hempaskan begitu saja di lantai, kemudian dia melangkah pergi tanpa memperdulikan kedua temannya yang berada di sana.
~
Mereka berada di pesta yang begitu mewah, Ruzy terlihat sangat antusias, baru pertama kali dia datang ke pesta seperti ini, terdengar musik mengalun sementara orang-orang berdansa, aku berdiri bersama dokter max yang sedang mengobrol dengan beberapa temannya.
"Maaf aku sangat tidak sopan Ruzy, seharusnya aku mengajakmu berdansa", dia lalu mengulurkan tangannya dan sedikit menunduk sambil setengah tersenyum. Ruzy dengan ragu mengulurkan jemarinya, lalu berbisik padanya, "Aku tidak tahu berdansa dokter max." sambil tertunduk malu.
"Jangan khawatir Ruzy ikuti saja langkah kakiku." Dia membawaku ke lantai dansa. Dokter max begitu lembut padaku, beda sekali dengan si brengsek itu. Ukh lupakan dia, hari ini aku nikmati saja dansa pertamaku dengan seseorang di tempat mewah seperti ini. Kami berbincang sambil berdansa, dokter max memiliki selera humor, sehingga aku selalu tertawa dibuatnya.
"Tunggu di sini Ruzy, aku akan mengambil minuman." Aku mengangguk padanya sambil tersenyum.
Lampu tiba-tiba meredup, samar-samar terlihat banyak yang berdansa diiringi musik slow yang mengalun membuat suasana begitu romantis. Aku berdiri di sudut jendela menunggu dokter max yang mengambil minuman tapi tidak kunjung datang.
Aku merasakan tangan besar dan panjang menyentuh punggungku, dan berhenti di pinggangku, dia menyandarkan wajahnya di pundakku, membuatku tertegun, suaranya yang serak dan dalam berbisik di telingaku membuat jantungku berdetak.
"Kelihatannya kau bersenang-senang Ruzy Hem?"
"Ap...apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku sambil mencengkram meja yang ada di hadapanku.
"Kau bisa menebaknya sayang, menghentikanmu bersenang-senang dengan pria lain Ruzy."
"Le..lepaskan aku, kau memang brengsek." Suaraku berbisik nyaring.
Dia menarikku dengan kasar di tubuhnya, "Bersenang-senangnya sudah selesai Ruzy, ikut denganku sekarang!!" Dia menarik paksa Ruzy di tengah lampu-lampu yang meredup.
Ruzy kali ini meronta-ronta di tubuh Alex. "Kau tidak punya hak melakukan ini padaku, lepaskan aku."
Dia tertawa kasar sambil menarik tangan Ruzy. "Hak? ya..tentu saja aku punya hak Ruzy karena kau milikku sejak aku bertemu denganmu kau milikku. Ikut aku !!" Bentaknya, dia menarik paksa Ruzy masuk kedalam mobilnya.
Selama di perjalanan, dia tidak berbicara... jantungku berdegup kencang kemana dia akan membawaku? Tempat yang di tuju begitu gelap, hanya pepohonan yang dapat kulihat dari cahaya bulan yang menyinari sela-sela dedaunan.
Tidak berapa lama mobil itu berhenti, Alex membuka pintu mobilnya lalu membuka pintu mobil di tempatku duduk, dia menarikku yang tidak beranjak-beranjak dari kursiku.
Kami sampai di sebuah rumah kayu, bentuknya seperti kabin dengan beberapa pohon disekitarnya dengan sulur-sulur yang menutupi atap kabin itu, sulur-sulur itu merambat hingga di atas kanopi di kabin sehingga suasananya tampak lebih mengerikan.
Dia tidak melepasku dari tangannya, dia kemudian menyalakan lampu di kabin itu, suasana yang temaram di dalam kabin membuat suasana lebih mengerikan bagiku, apa yang akan dilakukannya padaku? Tanganku sedikit bergetar karena dinginnya malam.
Dia mengambil minuman lalu dipanaskanya di perapian, secangkir susu coklat yang mengepul diberikannya padaku lalu menutupiku dengan selimut kemudian dia duduk di sebelahku sambil memegang mugnya.
Dia berbalik menatapku, wajahnya seperti
tersenyum, "Hal tragis apa yang di pikirkan di kepala cantikmu Ruzy?"
"Apa..apa maksudmu? memang apa yang sedang kupikirkan?", aku menjawabnya tapi tanpa memandangnya. Alex hanya tersenyum mendengarku.
"Kau kedinginan?" tanyanya.
Aku menatap heran padanya, lalu mengangguk. "Habiskan minumanmu supaya tubuhmu hangat."
Aku bergeser sedikit menjauh padanya, tetapi tangannya menyambar pinggangku lebih mendekatkan diri padanya. "Berikan tanganmu padaku." Dengan ragu Ruzy mengulurkan tangannya, usapan di tangan Ruzy membuat jantungnya berdetak tidak menentu.
Dia mengambil mug yang ada di tangan Ruzy, kemudian memegang Wajahnya, lalu mengecup bibir Ruzy lembut. Dia kemudian menarik ruzy kepangkuanya, "Ap..apa yang kau....", Suara Ruzy teredam dengan ciuman Alex yang panas.
Napasnya tiba-tiba memburu, Ruzy mendorongnya karena tidak bisa bernapas. Alex melepaskan bibirnya, Agar ruzy mengambil napas panjang-panjang. "Aku menginginkanmu Ruzy." bisiknya, Mata Ruzy terbelalak, lalu dengan spontan dia menjauh darinya. Matanya yang gelap dan suaranya yang serak membuat ruzy ingin lari darinya.