Flower On The River

Flower On The River
Vol 33



Bunyi pintu yang dipukul membuat Alyena tersentak kaget karena suara keras yang terdengar di sampingnya. Tatapan matanya seakan menikamnya.


"Kenapa Alyena, kau semudah itu ikut dengan pria itu, kenapa kau mau saja di antar olehnya." Ucapnya. Saat itu Alyena tidak tahu kalau Jafier bersandar di samping pintu kamarnya, menunggunya untuk keluar. Wajahnya terlihat menakutkan, dekapannya apa lagi, selalu membuat Alyena menggelinjang karena sentuhannya. Dia menatap tajam Alyena dan mengurungnya di kedua tangannya.


"Kenapa paman Jafier selalu bersikap begini kepadaku? aku ikut dengannya karena aku mengenalnya, apalagi kedua temanku ikut denganku."


"Jadi karena kau mengenalnya, kau ikut dengannya?" Dia tertawa, seperti menertawai kebodohan Alyena dan itu membuatnya marah.


"Aku tidak tahu kau sebodoh ini Alyena, bagaimana jika aku mengajakmu ke kamarku, kau juga mau? karena kau mengenalku bukan?" Ucapnya.


"Lepaskan aku, aku akan memanggil kak William." Ancam Alyena, dia menatapnya dengan pandangan benci dan melawan, perlawanan Alyena membuat Jafier tersenyum senang, senyum menginginkan dan senyum penuh rencana.


"Apa teman-temanmu yang mengajarkanmu melawanku? apa saja yang di ajarkan oleh mereka, hem?" Ucapnya mengejek.


"Teman-temanku tidak ada hubungannya dengan semua yang kulakukan." Alyena melangkah ke samping tapi pria ini melebarkan kakinya dan kedua tangannya, dia betul-betul memerangkap Alyena, dan tidak membiarkan Alyena meloloskan dirinya.


Apa aku harus menendangnya seperti waktu pertama kali bertemu dengannya di cafe? tapi tendanganku sama sekali tidak ada artinya, dia malah menertawakanku


"Apa yang kau pikirkan, sayang?" Ucap Jafier sambil memiringkan kepalanya, matanya tidak kuasa melihat bibir merah yang ranum itu, apalagi ketika Alyena menggigitnya, membuat Jafier ingin langsung menerkamnya.


"Jangan menggigit bibirmu." Perintahnya.


Sontak Alyena melepaskan bibirnya dari gigitannya sendiri yang tidak di sadarinya. "Aku mau makan malam, lepaskan tangan paman." Ucap Alyena.


"Kau belum makan?"


Alyena lalu mengangguk, perutnya sejak tadi terus berbunyi, dia menahannya agar suaranya tidak kedengaran oleh pria ini.


"Baiklah kalau begitu kita akan makan, tetapi sepertinya William sibuk, dia tidak akan bisa menemanimu, kemarilah. Aku akan menemanimu makan malam, aku sedikit lapar." Ucapnya. Dia memegang tangan Alyena dan membawanya turun ke lantai satu.


Makanan telah tersedia, Alyena dan Jafier hanya makan malam berdua saja, William sibuk di ruangannya, sedangkan Audry, dia kembali ke Detroit.


Alyena menatapnya dengan sembunyi-sembunyi, pria di hadapannya ini makan dengan pelan dan menunjukkan bagaimana elegannya cara dia mengunyah makanannya, Alyena menatap bibir itu, dia lalu menelan ludahnya dan memalingkan wajahnya, terlihat rona merah di kedua pipinya yang putih.


Alyena bodoh, apa yang kau pikirkan?!


Dia menggelengkan kepalanya dan menyuap makanannya. "Kau sedang memikirkanku?" tiba-tiba saja Jafier mengucapkannya, membuat Alyena tersedak dengan makanannya, dengan cepat Jafier menuangkan air minum ke gelas dan meminumkannya ke Alyena sambil menepuk-nepuk punggungnya.


Setelah Alyena merasa baikan, senyum terpancar dari wajah Jafier. "Jadi benar, kau memikirkanku?"


"T-tidak, siapa yang memikirkan paman." Ucap Alyena memalingkan wajahnya, tidak kuasa beradu tatap dengan pria di hadapannya. Setelah makan malam, Jafier kini menarik Alyena ke ruang nonton, Alyena bisa menonton, sedangkan dia akan mengerjakan pekerjaannya sambil di temani oleh Alyena, meskipun Jafier tahu bahwa Alyena menolak menemaninya tetapi Jafier yang benci akan penolakan tetap membawanya.


"Kenapa sih aku harus menemani paman di sini, aku tidak mau nonton tv." Alyena mengerucutkan bibirnya merasa jengkel karena Jafier membawanya kemanapun yang diinginkannya.


"Temani aku sebentar saja, setelah itu kau boleh masuk ke kamarmu." Ucapnya, matanya masih terfokus pada layar laptop yang ada di hadapannya.


Alyena menonton acara apa saja yang membuatnya menarik, tetapi ketika adegan mesra pelukan ataupun ciuman, dia dengan cepat menggantinya, sebelum pria di sampingnya menonton acara itu dan mencontohkannya kepada Alyena.


"Kenapa kau masih malu dengan adegan ciuman itu, kau pasti sudah tahu bagaimana rasanya ketika aku menciummu." Kekehnya.


"Stop, apa sih yang paman katakan." jemari Alyena menutup mulut Jafier agar dia menghentikan ucapannya, tetapi Jafier mengambil kesempatan itu mengecup jemari Alyena yang menutup mulutnya.


Dengan cepat Alyena menarik tangannya yang telah di kecup Jafier. "Jika kau takut sentuhanku, jangan membuatnya lebih sulit sayang, kau yang memulainya jadi jangan coba menghentikanku." Bisik Jafier. Dia menarik Alyena hingga kepalanya jatuh kepangkuan Jafier, kepalanya di tahan agar tidak bergerak, dengan sekali dorongan, Jafier menguasai bibir Alyena, membuat tubuh Alyena bergoyang kesana kemari melakukan perlawanan.


Alyena mendorong sekuat tenaga tetapi pria itu masih memenjara Alyena dan melakukan apa yang diinginkannya, setelah ciuman yang cukup lama, dia akhirnya menarik bibirnya dari Alyena dan membiarkannya bernapas, senyuman terlihat di wajahnya ketika rona merah nampak hingga ke lehernya, napasnya memburu, badannya terasa panas membakar, Jafier membantunya untuk duduk, karena tubuh Alyena terasa lemas dan tidak memiliki kekuatan untuk bergerak.


"Mau kuantar ke kamar? Apa kau bisa berdiri?" tanya Jafier.


"Aku bisa berdiri sendiri." Ucap Alyena, tetapi dia terhuyung ke samping ketika dia mulai berdiri, Jafier lalu menangkap tubuhnya, dan kembali mendudukkannya di kursi. Pandangan itu tajam menatap mereka berdua.


"Ada apa dengan Alyena?" William berdiri di antara mereka, bahkan Jafier tidak menyadari kedatangannya karena sibuk memegang Alyena agar tidak terjatuh.


"A-aku mengantuk, tapi aku tidak mau paman mengantarku jadi aku terhuyung."


"Oh ya, matanya mengawasi mereka berdua dan memperhatikan jika ada perbedaan sedikit saja dari pakaian Alyena. "Biar kakak yang mengantarmu." Ucap Willy memegang lengan Alyena dan membawanya ke kamarnya.


Jafier mengedikkan bahunya kepada Willy dan segera duduk sambil membayangkan ciuman yang tidak bisa di kontrolnya jika bibir gadis itu telah di kuasainya.


~


Sekolah


Bunyi bel sejak tadi berdering tetapi Alyena masih sibuk melamun dan menempelkan pipinya di atas meja. Clara dan Nick sejak tadi memperhatikannya. Melihat tingkah Alyena seperti itu, Nick lalu menelepon seseorang.


"Paman, Alyena bertingkah aneh di sekolah, sepertinya dia sedang sakit." Alyena lalu menatap Nick sambil membelalakkan matanya.


"Kau menelepon dia?" Ucapnya dengan isyarat mulut.


"Sudah ya paman, sepertinya dia baik-baik saja."


"Nick kau tega sekali, pengkhianat." Ucap Alyena sambil menatapnya marah.


"Memangnya ada apa?" tanya Clara yang mengambil tempat duduk di samping Alyena.


Dengan ragu Alyena menatap mereka berdua. "Apa kau pernah berciuman?" ucap Alyena kepada Clara. Dengan tenang clara menjawabnya.


"Pernah, kadang aku duluan menciumnya." Ucap Clara dengan wajah datar.


"B-benarkah? apakah selalu? apakah ciuman kalian begitu intens."


Clara berpikir sebentar lalu menganggukkan kepalanya.


"Hemm ya, tentu."


Nick memandang Clara dengan tatapan bertanya-tanya. "Apa yang kau maksudkan teddy bearmu atau boneka kelincimu?"


"Kadang keduanya." Jawab Clara. Nick lalu tergelak mendengarnya.


"Tch, percuma berbicara dengan kalian." Ucap Alyena, lalu kembali memejamkan matanya sambil menatap pemandangan di halaman sekolah.


Mereka bertiga akhirnya pulang sekolah, Clara dan Alyena telah di jemput, dengan supir masing-masing. Sementara Nick seperti biasa dia mengendarai motornya. Setelah melambai kepada kedua temannya, ponsel Alyena berdering, dia menatapnya.


"Paman Jafier?" gumamnya.


Jantung Alyena lalu berdebar ketika mendengar nama Jafier, jantungnya berderu tiada henti, tubunnya menjadi tegang menanti apa lagi yang akan dilakukan pria itu kepadanya, dia seakan dapat mengendalikan tubuh Alyena semaunya. Alyena berdehem, untuk memperbaiki suaranya yang serak.


"Halo, paman Jafier."


"Kau ada di mana?" tanyanya.


"Aku ada di mobil, aku dalam perjalanan pulang ke Mansion." Ucap Alyena. Jantungnya berdetak kencang, membuat dirinya takut jika pria itu dapat mendengarkan debaran jantungnya.


"Aku akan menjemputmu di mansion, kita bertemu siang ini." Ucap Jafier.


"Em Ok."


Alyena lalu menutup ponselnya dan menatap ponselnya.


"Apa kami akan pergi makan siang lagi?"


Mobilnya tiba di mansion, para pengawal seperti biasanya berdiri di setiap sudut tembok mansion mengawasi aktivitas di sekelilingnya, mobil mewah itu telah masuk di pelataran parkir mansion, setelah mobil berhenti, Alyena segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam mansion.


"Ada apa? kenapa para pelayan berkumpul di sana? apa ada orang yang datang?" Ucap Alyena, dia berjalan menuju pintu masuk mansion, tatapannya masih kepada para pelayan yang mengintip dari pintu nelakang dan saling bergosip, meskipun teguran selalu datang dari Mr Walt, tetapi mereka tidak semudah itu meninggalkan kebiasaannya.


Alyena masuk dan melihat Willy sedang berbicara dengan seorang wanita, dia duduk di sana dengan mata nyalang, dan mulut tipis, ketika mendengar Willy dan seorang pria di sampingnya sedang berbicara.


Mereka bertiga menyadari kedatangan Alyena. "Kau sudah pulang Alyena, Jafier belum datang?" Tanya William.


"Sebentar lagi paman akan datang." Jawabnya. Kedua mata mereka saling bertemu, tiba-tiba wanita cantik yang sejak tadi melipat tangan di depan dadanya dan dagunya terangkat tinggi-tinggi itu berbicara.


"Adikmu ya, caramu berbicara kepadanya sangat berbeda ketika kau berbicara denganku, William." Ucapnya sinis.


"Jaga bicaramu Kathrina, aku mengajakmu ke mansionku bukan untuk membujukmu tetapi membuat kesepakatan, jadi jika kau bertindak melewati batas, aku akan menghancurkan kesepakatan ini begitu saja, dan aku tidak perduli kau hancur atau tidak, itu urusanmu." Ucap Willy, gayanya seperti biasa, dia masih duduk dengan santai, tetapi ucapannya tajam menusuk wanita itu, sehingga dia merapatkan kembali bibirnya.


Alyena, masuk ke dalam mansion, masih mendengarkan penuturan pria yang sepertinya seorang pengacara. "Mereka sedang membahas apa ya?" Gumamnya. Alyena naik ke lantai atas dan segera masuk ke dalam kamarnya, pesan masuk terdengar dari ponselnya.


"Sebentar lagi aku akan tiba."


"Tch, kenapa sih harus makan setiap hari dengannya?" Gumam Alyena, dia duduk di sofanya sambil bersandar, dia menatap foto-fotonya bersama pria pemaksa itu. Meskipun setiap kali wajah pria itu mendesak masuk dengan paksa di ingatannya. Pipinya merona ketika melihat kedekatannya. Bibirnya tertarik membentuk senyuman.


"Apa yang membuatmu tersenyum begitu cantik seperti itu, sayang?" Suara itu berhasil membuat Alyena terkejut, di simpannya ponsel itu ke dalam sakunya ketika pria itu membuka pintu kamarnya dan langsung menghampiri Alyena, dia memberikan kecupan sekilas di pipinya.


"Ukh lelah sekali, sejak tadi aku ingin bertemu denganmu, aku merindukanmu." Ucapnya santai sambil menyandarkan kepalanya di bahu Alyena.


"Emm, aku suka wangimu Alyena, selalu menenangkanku." Gumamnya, dia mendesak-desakkan wajahnya dan menelusuri hingga ke leher Alyena.


"Paman, berhenti mengendusku, aku baru saja pulang sekolah." Ucap Alyena menjauhkan tubuhnya.


"Aku suka wangi yang keluar dari tubuhmu." Bisiknya.


"Euh, jangan mengatakannya paman, menjauh. Aku sangat gerah." Tolak Alyena, tetapi semakin Alyena menolak semakin gencar Jafier menyerang Alyena. Tubuhnya telah bergeser hingga ke sudut sofa dan terhimpit oleh Jafier. "Sekarang kau akan kemana? Jangan membuang waktu, kemarilah aku ingin menciummu." Ucapan Jafier membuat Alyena mengambil boneka yang berada dekat darinya dan menempelkannya di wajahnya.


"Tch Paman mesum." Gumamnya.


Jafier tergelak, dia tertawa mendengarnya, langkah kakinya di tahan oleh Jafier, dia seakan seperti seekor singa yang bermain-main dengan kelinci yang akan menjadi santapannya. Kedua tangan Alyena di pegangnya, lalu menariknya dan memerangkapnya di sofa membuat Alyena terperangkap di kedua tangan pria itu.


"Sekarang saatnya....


"Sekarang, apa yang kalian sedang lakukan, apa kalian ingin membuatku meledak marah?" Suara itu terdengar datar dan dingin, Willy berdiri di sana sambil melipat kedua tangannya dan menatap marah kepada Jafier.