
Alyena berusaha memisahkan dua pria dewasa yang seperti ingin saling menerkam. Kali ini mereka sudah menunjukkan permusuhan di antara mereka berdua. "Kita tidak mau membuat keributan konyol di tempat umum seperti ini bukan?" Ucap Jafeir tangannya terkepal kuat mencoba mendinginkan kepalanya, sementara itu Kilian menatapnya dengan wajah membunuh, tidak ada kepura-puraan lagi di wajahnya.
"Aku hanya ingin membawa Alyena, dia milikku sejak pertama kali aku melihatnya di perkebunan Gimmelwald."
Jafier mengencangkan rahangnya, "Kau gila Kilian, bicaramu itu sangat tidak masuk akal." Suasana di sekitar mereka memanas, Alyena bingung bagaimana menghentikan mereka berdua. Dia ingin sekali berteriak kepada Kilian bahwa dia mencintai Jafier, tetapi dua dua pria dewasa itu seakan tidak bisa di ganggu.
William baru saja keluar dari mobilnya, dia berjalan perlahan mendekati mereka yang berdiri di taman.
"Alyena kemarilah." Suara Willy membuat keduanya berbalik, dan mundur beberapa langkah.
Alyena dengan patuh berjalan menuju ke kakaknya, dia lalu menggenggam tangan Alyena. "Sebaiknya dinginkan kepala kalian dan jangan menemui Alyena. Aku tidak akan membiarkannya." William membawa Alyena pergi dari taman itu meninggalkan mereka berdua.
Mobil melaju di jalan raya, Alyena sesekali mengintip kakaknya yang sedang mengemudi di sampingnya. "Erm, kak Willy aku hanya ingin mengatakan bukan salah Jafier, tuan Regan ... maksudku si Regan itu tiba-tiba datang mengganggu kami saat sedang makan, dia lalu berteriak di depan Jafier." Ucap Alyena.
"Tsk, berhentilah membela Jafier, aku tahu apa yang terjadi. Ngomong-ngomong, kenapa kalian makan di taman? mengapa Jafier tidak membawamu makan di restaurant?"
"Ah, itu karena aku ingin makan Street Food jadi kami membelinya dan makan di sana." Willy menggeleng tidak setuju, dia lalu berdecak.
"Jafier terlalu mengikuti kemauanmu, lain kali jangan makan makanan itu, kau tidak tahu makanan itu higienis atau tidak, kalau begitu kita makan siang di restaurant tempatku makan dengan Audry, kau akan suka menu makanan mereka."
"Mm, oky kak Willy."
***
Keduanya meninggalkan taman setelah Willy membawa Alyena pergi, Jafier belum puas memukul pria itu, dia datang seakan-akan Alyena miliknya, Jafier menggeleng tidak percaya. "Tsk, pria itu tidak masuk akal, bagaimana kau bisa menyebut Alyena milikmu hanya karena kau yang pertama kali melihatnya, sangat konyol." Ucap Jafier.
Pintu mobil itu terbanting cukup keras, dia melajukan mobilnya dengan garis keras di wajahnya, emosinya kali ini tidak bisa di kontrolnya, dia ingin melenyapkan Jafier dari sisi Alyena. Setelah memikirkan perbuatannya, dia menghembuskan napasnya.
"Mengapa aku seperti ini, semua ini karenamu Alyena, ini salahmu, aku tidak akan membiarkanmu berakhir bersama pria itu." Ucap Kilian menancap gas mobilnya.
***
Dia baru saja keluar dari mobilnya, dia terlihat tenang dengan wajah terlihat marah. Rudith yang mengetahui kedatangan tuan Regan, lalu mengikutinya dan memperhatikannya. "Dia kenapa? Apa yang membuatnya marah seperti itu? Apa sesuatu terjadi, Ugh sampai kapan aku menjadi pelayan seperti ini tanpa mengetahui bagaimana perasaan tuan Kilian."
Dia berlari-lari kecil mengikuti Kilian sampai ke kamarnya, tiba-tiba sesuatu menghentikannya ketika melihat dari kejauhan Susan Richard baru saja tiba dan keluar dari mobilnya.
"Sial, kenapa wanita itu datang. Tch, dia mengganggu di saat aku sedang berusaha mendekati tuan Kilianku." Rudith sembunyi di balik tembok ketika wanita itu mendekati ruangan Kilian. Dia berjongkok dan mengintip dengan mata tajam memperhatikannya dengan seksama.
"Blush hitam di padu dengan rok pendek sangat ketat, bokongnya hampir saja terlihat, rambutnya di gerai dan aksesoris yang terlihat elegan. Aku bisa melakukannya. Aku bisa seperti dirinya." Gumam Rudith. Setelah wanita itu masuk ke ruangan Kilian, dengan cepat Rudith ke dapur dan mengatakan kepada pelayan agar dia saja yang membawakan minuman ke ruangan tuan Kilian.
Rudith membawa nampan di kedua tangannya, dan pelayan lainnya mengetuk ruangannya. "Tuan, kami membawakan minuman." Tidak ada suara percakapan yang terdengar dari dalam ruangan itu. Rudith sangat penasaran, dengan berani dia memegang gagang pintu itu, tetapi pelayan di sebelahnya menghentikannya.
"Apa sebaiknya kita menunggu saja, mungkin saja tuan Regan sedang sibuk." Ucapnya.
"Tidak apa-apa, tuan Regan akan mengerti jika kita masuk. Kita hanya membawa minuman ini sebelum dingin, kita akan menyimpannya dan segera keluar." Ucap Rudith dengan berani. Dia sangat penasaran. Amat sangat. Dengan berani Rudith membuka pintu itu dan mereka berdua terkejut ketika menyaksikan pemandangan itu, Rudith terlihat shock menatap Kilian Regan yang sedang menguasai bibir Susan dengan membaringkannya di atas meja kerjanya, tubuhnya menjulang di atas wanita itu.
"R-Rudith tutup pintunya, sebelum tuan menyadari kedatangan kita, ayo cepat !" Tanpa mereka ketahui, dua pelayan itu menutup pintu ruang kerja tuannya. Rudith terlihat sangat shock, sekarang kebenciannya bukan hanya kepada Alyena saja, emosi menguasainya. Mereka berdua kembali ke dapur.
Rudith berlari ke dekat danau, dia berdiri di sana sambil mengepalkan tangannya. Dia tidak kuasa menahan air matanya. "Wanita itu penghalangku, dia harus di lenyapkan." Ucap Rudith dengan mata tajam menghadap ke danau di belakang mansion, dia menghapus air matanya dengan kasar dan segera kembali ke mansion.
~
Wanita itu menurunkan kakinya dan mencoba berdiri, dia tidak menyangka kedatangannya ke mansion akan seperti ini, meskipun ciumannya kasar tetapi setidaknya Kilian mulai melihatnya sebagai seorang wanita. Dia tersenyum sambil mengusap punggung Kilian hingga ke bahunya.
"Apa sekarang kau sudah baikan?" Ucap Susan sambil menyandarkan kepalanya. Sementara kilian memperbaiki kemeja dan jasnya yang kusut.
"Kenapa kau datang?"
"Aku hanya ingin mengunjungimu, tampaknya kedatanganku adalah hal terbaik yang pernah kulakukan, akhirnya kau menciumku, meskipun aku sudah mengharapkannya bertahun-tahun yang lalu."
"Sudahlah, aku harus berangkat kerja." Ucap Kilian mengambil tas kerjanya dan segera pergi meninggalkan ruangannya.
"Aku akan menunggumu malam ini, kilian." Ucap susan.
"Terserah kau saja." Dia berlalu pergi dan menutup pintunya. Dia tersenyum penuh kepuasan, meskipun hanya sebuah ciuman tetapi itu adalah langkah besar agar menjadi milik Kilian. Ketukan terdengar dari luar pintu.
Rudith masuk dengan membawa nampan lalu menaruhnya di atas meja, dia melihat wajah bersinar wanita itu, dia menggertakkan giginya ketika melihat wanita itu menutup matanya mencoba mengenang kembali ciumannya dengan Regan.
"Nona silahkan di minum." Ucap Rudith.
"Hmm, kau boleh pergi."
Dia segera keluar dan menatapnya dengan kejam, seringai mengerikan terlintas di wajahnya.
***
"Kakak, kau tidak bisa duduk di sini, apa kau tidak sibuk? Aku tidak bisa konsentrasi jika kau mengikutiku kemana saja aku pergi."
"Abaikan aku, lakukan apa yang mau kau lakukan. Aku hanya mengerjakan pekerjaan kantorku di sini." Alyena menatapnya dengan wajah cemberut. Dia menyipitkan matanya lalu tanpa ragu dia menelepon Jafier.
"Halo Jafier." Ucap Alyena, sementara itu Willy berhenti mengerjakan pekerjaannya dan menatapnya dengan tajam.
"Kau sudah sampai di rumah."
"Mm, kami makan siang lalu kembali ke penthouse." Ucap Alyena, matanya melirik ke arah Willy yang mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja.
"Kenapa kau harus melaporkan segalanya kepadanya?" Ucap Willy.
Alyena tidak mempedulikan perkataan Willy. Dia membalikkan punggungnya sambil mengobrol kembali.
"Apa itu suara Willy? Dia ada di sampingmu?"
"Ya, dia mengikutiku kemanapun aku pergi, padahal kak Willy banyak kerjaan." Ucap Alyena dengan cemberut.
"Tsk, sini teleponnya aku ingin bicara dengannya." Alyena menyerahkan telepon itu kepada Willy dan menunggunya di sana sambil memperhatikan apa yang akan di katakannya.
"Alyena sedang bersamaku, kenapa kau meneleponnya."
"Alyena yang meneleponku, katanya dia merindukanku karena tadi pertemuan kami sangat singkat." Ucap Jafier sambil terkekeh.
"Tsk, kalau begitu aku tutup, kami sedang sibuk."
"Hei ... hei, William aku ingin berbicara dengan ...."
"Sayang sekali Jafier menutupnya, jadi sebaiknya jangan meneleponnya Alyena, dia itu sedang di kantornya, dia sedang rapat penting."
"T-tapi Jafier tidak pernah mengatakan kalau dia sedang bekerja atau sedang rapat, dia selalu menjawab teleponku kapan saja." Ucap Alyena dengan pipi merona.
"Karena dia gila, dia seharusnya tidak memanjakanmu dan mengikuti semua keinginanmu." Ucap Willy sambil mengerjakan pekerjaannya. Alyena lalu tertawa sembunyi-sembunyi. Kak Willy sama seperti Jafier, dalam keadaan bagaimanapun dia selalu mendahulukan keinginan Alyena.
"Bukankah kau yang seperti itu, kau memanjakan Alyena dan mengikuti semua kemauannya." Audry masuk ke dalam kamar Alyena yang terbuka, dia baru saja kembali dari london. Dia lalu duduk di samping Willy.
"Kenapa kau ada di kamar Alyena? posesifmu itu bertambah parah Willy, bagaimana Alyena akan melindungi dirinya kelak? kau tidak akan bisa berada di sampingnya terus terusan, dia harus belajar melindungi dirinya sendiri tanpa kau selalu ada di sampingnya."
"Selama aku ada, aku yang akan melindungi Alyena, jadi berhenti berceramah Audry, oh ya bagaimana dengan kerjaanmu?"
"Seperti biasa berjalan lancar, jadi aku kembali lebih cepat dari biasanya. Tenang saja, kali ini aku datang ingin mentraktir kalian, kita makan di luar." Ucap Audry lalu menepuk punggung Willy.
"Segeralah bersiap-siap kita berangkat sekarang."
***
Gadis itu berlari-lari sambil menengok ke kiri dan kanan, dia menatap setiap orang yang lewat, ketika di sekitarnya sudah kosong dia kembali berlari setelah itu dengan cepat dia masuk ke dalam mobil milik susan. Dia mencuri kunci mobilnya ketika dia membawakan minuman untuk wanita itu.
Dia sama sekali tidak memiliki rencana ini, dia juga tidak tahu bagaimana merusak kendaraan ini, "Tch sial, bagaimana merusak kendaraan ini? aku sama sekali tidak mengetahuinya." Dia hanya mengobrak abrik mesin mobilnya dan menarik apa saja yang ada di bawah kemudi mobilnya. Dia tidak yakin rencananya berhasil tetapi setidaknya dia telah mengeluarkan sebagian frustasinya.
"Kupikir ini cukup, aku tidak tahu mobil ini rusak atau tidak." Dia kembali menatap kiri dan kanannya dan segera keluar dari mobil itu, kemudian dia menyimpan kembali kuncinya setelah itu dia pergi.
"Kita akan lihat rencanaku berhasil atau tidak." Ucapnya sambil memandang mobil itu dari kejauhan. "Setelah giliranmu selesai, tunggu saja giliran Alyena. Ucap gadis itu sambil tersenyum.