Flower On The River

Flower On The River
Vol 18



Mereka tiba di kantor milik Audrey, Alyena sangat kagum dengan perusahaan tempat kakaknya bekerja, dia masuk ke dalam dan para pegawai memberikan sapaan hormat kepadanya, Alyena menatap kakaknya dengan kagum, orang-orang menyapa Audrey dan dibalasnya dengan ramah.


Mereka tiba di ruangan Audrey, sebelum masuk ke kantornya, terdapat ruang tunggu, di sana Alyena duduk sebentar sambil menunggu Audrey, karena dia memiliki tamu penting, mata Alyena tidak berhenti menatap seluruh isi ruangan itu.


Suara ketukan sepatu terdengar mendekat, seorang wanita membawakan minuman kepada Alyena dan meletakkannya di atas meja.


Selagi Alyena melihat sekelilingnya, dia tidak menyangka melihat seorang wanita yang pernah di temuinya di mansion, wanita yang sangat cantik dengan wajah kulit Eksotik memikat, setiap dia berjalan semua orang memandangnya apalagi para pria, tidak heran karena kemolekan tubuhnya, mampu membuat siapa saja berbalik dan menatapnya.


Langkah sepatunya terhenti ketika pandangannya jatuh pada sosok Alyena yang duduk di sana seorang diri, dia kemudian tersenyum miring, dia melepaskan kacamata yang menggantung, sudut bibirnya terangkat.


"Bukankah kau adik yang diperkenalkan oleh William?"


Alyena yang lugu mengangguk dan tersenyum, dia tidak menampakkan wajah permusuhan sama sekali, dia hanya menjawabnya sesopan mungkin, seperti orang lain pada umumnya.


"Iya, aku adik kak William dan kak Audrey."


"Heh, Kau yakin? Apa mereka berdua telah menelusuri dengan benar latar belakangmu? tapi wajahmu memang mirip dengan wanita itu."


"Wanita itu?" Ucap Alyena tidak mengerti.


"Ya, wanita itu, bukankah dia yang pergi meninggalkan anak-anaknya dan menjalin cinta dengan seorang pria buronan mengerikan, jangan kira aku tidak tahu kisah perjalanan menjijikkannya, seandainya putranya bukanlah William, aku tidak akan meliriknya sedikitpun."


"Apa maksudmu dengan menjalin cinta dengan seorang buronan? Dan apa katamu? Menjijikkan?"


"Ups sepertinya ini rahasia ya, mulutku kadang seperti ini, suka berbicara sesuai dengan kenyataan yang ada, jadi jangan terlalu sakit hati."


Alyena berdiri dari tempat duduknya, matanya tajam menatap wanita tinggi itu, garis tipis terlihat di bibirnya, kemarahannya tanpa sadar telah menguasainya. Dia berjalan sepelan mungkin ke arah wanita itu.


Apa dia bilang? Seorang buronan dan kisah cinta menjijikkan? apa yang diketahui wanita ini? dia tidak tahu apapun mengenai mereka, selama aku hidup tidak ada yang boleh menghina ibu dan ayahku.


Tanpa Alyena sadari, dia menyerang wanita itu dengan segala kekuatannya, dia menarik rambutnya dan mencakar wajahnya sekuat dia bisa, dia seakan tidak terkendali, wanita itu berteriak histeris dengan serangan Alyena, matanya terbelalak, ingin melenyapkan segera wanita bertubuh kecil ini, dia terus menariknya hingga dia berteriak-teriak histeris karena baik rambutnya telah Alyena tarik dan wajahnya yang tercakar hebat hingga darahnya menempel di pipi Alyena.


"Tidak ada yang boleh menghina orang tuaku seperti itu, aku akan membuatmu menyesal." Teriak Alyena.


Beberapa orang berdatangan dan berusaha memisahkannya, mereka menarik Alyena menjauh, Audrey yang melihat pemandangan itu menatap ngeri wajah Wanita itu, dia menangis meraung merasakan kesakitan di wajahnya.


Orang-orang berdatangan panik dengan keributan yang terjadi. Segera saja Ambulance datang dan membawanya, wanita itu berteriak histeris, Alyena menahan kemarahannya, dia tidak merasa bersalah sama sekali, wanita itu pantas mendapatkannya.


Audrey menghampiri Aylena dan mengguncang kedua bahunya. "Alyena, apa yang kau lakukan? Mengapa kau menyerangnya?" Ucap Audrey khawatir.


"Dia mengatakan hal buruk tentang ayah dan ibu, aku tidak bisa membiarkannya." Ucap Alyena jengkel.


Audrey menghela napasnya, "sepertinya kita akan berurusan dengan polisi sebentar lagi," Ucap Audrey.


"T-tapi dia juga menyerangku kak Audrey." Ucap Alyena.


"Apa sakit?"


Alyena menggelengkan kepalanya, "Tidak juga, tetapi tadi aku mencakarnya cukup kuat, aku tidak akan membiarkan siapapun menghina ayah dan ibu." gumamnya.


~


Setibanya di apartemen, Willy datang terburu-buru ke apartemen Audry.


"Alyena kau baik-baik saja? Kau tidak terluka kan?" Ucap Willy khawatir. Alyena menggelengkan kepalanya.


"Aku baik-baik saja, kak Willy." Ucapnya, dia mengintip kepada Willy, apa dia mengalami kesusahan karena ulahnya?


Dia menarik napasnya terlihat lega, "Aku khawatir terjadi hal buruk kepadamu Alyena," ucapnya.


"Maafkan aku kak Willy, aku selalu membuat masalah." Willy menarik tangan adiknya kemudian membawa tubuh Alyena ke pelukannya.


"Siapa yang bilang kau menyusahkanku? Tidak ada yang perlu di khawatirkan, kakak akan mengurus semuanya." Ucap willy sambil menepuk punggungnya.


"Oh ya, apa yang dikatakan Jafier? Dia pasti terkejut dengan kedatangan Audrey."


"Paman Jafier tidak menghubungi kak Willy?"


"Hm, mungkin dia lupa, dia itu sangat sibuk, dia sama sepertiku kadang dia keluar kota atau kadang harus keluar negeri untuk menyelesaikan pekerjaannya."


"Oh ya." Ucap Alyena heran, padahal sewaktu dia masih tinggal di tempat paman Jafier, dia terlihat tidak sibuk sama sekali, dia bahkan menemaninya sepanjang hari.


Setelah mereka makan malam bertiga, dan sedikit berbincang, Alyena lalu masuk ke kamar yang telah di siapkan oleh Audrey, Willy pun menginap bersama di apartemen milik Audrey, dia tidak mau sendirian di mansion yang luas itu.


Alyena menatap langit malam dari jendelanya, dia duduk di sisi tempat tidur dan membayangkan wajah Jafier dan ciumannya yang lembut, membuat Alyena merindukannya.


"Apa yang di lakukan paman Jafier, sekarang?" Ucap Alyena sambil menopang dagu memikirkannya.


~


Mobil mewah Mercedez berwarna hitam terparkir di salah satu galeri terkenal di Seattle, pria itu keluar dari mobilnya, dia tampak lebih tampan dengan setelan jasnya, meskipun kesehariannya yang selalu berpenampilan Casual juga tampak membuatnya lebih tampan dan muda, kali ini dia harus datang ke galeri ini untuk menemui seseorang.


Para pengusaha dan pebisnis serta mereka yang tertarik dengan lukisan telah hadir di museum galeri terkenal, Jafier Alvaro tidak begitu suka untuk datang ke tempat itu, tetapi dia tahu ada seseorang yang dicarinya, dia pasti datang malam ini. Pria itu cukup tertarik dengan seni lukisan.


Jafier menatap dari kejauhan Kilian Regan, dia sedang berbincang dengan rekan bisnisnya, matanya mengarah kepada Jafier yang lagi berdiri tidak jauh darinya sambil berjalan dan memegang Wine di tangannya.


Dia tersenyum kepada Jafier, tepatnya seringai, Jafier mendekat kepadanya.


"Selamat malam tuan Regan." Ucapnya.


"Aku tidak menyangka anda menyukai lukisan sampai-sampai malam ini anda datang ke tempat ini." Ucap Kilian.


"Selain di tempat seperti ini, aku juga suka datang ke perpustakaan, meskipun perpustakaan itu tempat terlarang untukku." Ucap Jafier sambil tersenyum.


Kilian regan hanya mengangkat alisnya, dia tidak begitu terkejut jika Jafier akhirnya tahu dialah yang menyusup ke Mansion Collagher dan masuk ke perpustakaan dan menemui Alyena.


"Tujuanku cukup jelas datang ketempat ini, bukan seperti anda yang suka dengan lukisan, tapi ada hal yang ingin kukatakan kepada anda, tuan Regan." Ucap Jafier tajam.


"Aku tidak akan membiarkan Alyena bertemu denganmu lagi, dia itu milikku, jangan pernah menyentuh apa yang menjadi milikku." Ucap Jafier dengan pandangan tajam kepadanya.


Dia tersenyum tipis kepadanya, "Jika anda sudah mendengarnya, saya yakin anda pasti mengerti apa yang saya maksudkan, jauhi Alyenaku."


Bibirnya setipis pisau, rahangnya tiba-tiba saja menegang, "Milik? Jangan bercanda tuan Alvaro, siapa yang kau maksud dengan milikmu?"


Jafier tersenyum tenang "Anda akan mengerti suatu hari nanti." Ucap Jafier, dia segera meninggalkan Kilian Regan dengan kemarahan yang di tahan-tahannya.


~


"Kita akan makan siang bersama Jafier siang ini."


Ucapan Willy membuat Alyena hampir saja bersorak senang, dia menahannya sekuat tenaga untuk tidak melompat. Dia cuma tersenyum menanggapinya, sementara Audrey memperhatikan sikap Alyena yang menahan kegembiraan di wajahnya.


"Kenapa kita harus makan siang dengannya? Bukannya dia sedang sibuk?" Ucap Audrey.


"Dia meneleponku semalam, katanya dia ingin makan siang bersama, entah kenapa, tetapi tiba-tiba saja dia meneleponku." Ucapnya.


"Terserah kakak saja, bagaimana dengan Alyena?" Tanya Audry sambil menaikkan alisnya melihat binar terang benderang ketika mendengar nama Jafier.


"A-aku mau, aku juga ingin berbincang dengan paman." Ucapnya.


Kepala Willy tertarik menatap Alyena. "Berbincang? Apa yang kau ingin bincangkan dengannya?"


"Uh? Banyak hal." Ucap Alyena mencoba bersikap biasa saja. Matanya menyipit menatap Alyena.


~


Alyena tidak sabar menunggu makan siang bersama, dia mencari pakaian yang indah yang cocok untuk dikenakannya untuk makan siang di sebuah restaurant, dia memilih dress panjang selutut, berwarna krem lembut, rambutnya dia biarkan terurai hingga jatuh sampai ke pundaknya. Dia menatap wajahnya yang tidak terpoles make up sama sekali, dia duduk di depan meja riasnya dan memberikan sedikit sentuhan di wajahnya agar terlihat lebih cerah.


"Yup, kupikir ini sudah cukup." Ucapnya.


Willy mengetuk kamar Alyena, kamar itu membuka dan Alyena tersenyum kepada kakak-kakaknya.


"Kau tampak cantik sekali, Alyena?" Ucap Willy.


"Apa ini pengaruh bertemu dengan Jafier?" Tanyanya lagi dengan pandangan curiga.


"Apa kita perlu membatalkan makan siang kita? Alyena tidak pernah berdandan cantik seperti ini untukku." Ucap willy cemburu.


"Tenanglah, aku akan berdandan untukmu kak Will." Audrey memberikan senyuman manisnya, membuat Willy segera meninggalkannya dan segera membuka pintu dan keluar dari apartemennya


"Tch tidak sopan, sikapnya sangat berbeda jika itu untuk Alyena." Ucapnya sambil mendengus.


Siang itu mereka segera meluncur ke salah satu restaurant mewah yang di reservasi oleh Jafier, 20 menit kemudian mereka tiba. Alyena tidak sabar menunggu untuk bertemu dengan Jafier. Hanya membayangkan akan bertemu dengannya saja membuat Alyena berdebar tidak menentu.


Mereka masuk dengan dua orang pelayan telah menjemput mereka dan mengantar mereka ke tempat VIP yang telah di sediakan oleh Jafier.


Senyuman terpancar di wajah Alyena, ketika dia melihat Jafier menunggu di sana seorang diri, dia tampak sangat tampan dengan jas yang melekat sempurna di tubuhnya, rambutnya rapi tersisir ke belakang, tangannya masih memainkan ponselnya, ketika mendengar langkah sepatu menuju ke arahnya dia pun mengangkat kepalanya, kedua mata itu mencari-cari keberadaan Alyena, dan wajah tampannya tersenyum ketika melihatnya berjalan di hadapan Willy.


"Cantik." gumamnya.


"Apa yang kau katakan Jafier?" tanya Willy.


"Hem? aku tidak mengatakan apapun." Ucapnya.


"Bagaimana kabarmu Alyena? kau baik-baik saja?" Tanyanya, matanya tidak bisa berpindah dari wajah Alyena.


Audrey terlihat mendengus mendengar pertanyaan itu.


"Aku baik, paman." Ucap Alyena dengan rona merah di pipinya, terlihat wajah Jafier seakan terhipnotis dengan senyuman Alyena.


"Sebaiknya kita pesan makanannya sekarang." Audrey segera mengambil menu untuk menyadarkan dua sejoli yang sangat terlihat jelas ini, mereka tidak melepaskan pandangan matanya satu sama lain, membuat Audrey khawatir, jika saja willy menyadari ada sesuatu di antara mereka berdua.


Mereka makan sambil berbincang, Alyena hanya mendengarkan pembicaraan mereka bertiga, tentu saja dia tidak tertarik mendengar masalah bisnis dan pekerjaan di perusahaan yang tidak di mengertinya, Alyena lalu berdiri, dia ingin ke kamar mandi untuk mencuci tangan.


Alyena masuk ke kamar mandi dan menatap wajahnya di depan cermin. "Huh? apa aku terlalu jelas? tersenyum seperti ini, ugh aku harus hati-hati, kak Willy bisa saja menyadarinya?" Ucap Alyena. Sambil mencontohkan dirinya yang tersenyum.


"Psst, Alyena kau di dalam?" Suara itu membuat Alyena berbalik ke arah pintu kamar mandi, "Paman Jafier?" ucapnya. Pintu tiba-tiba membuka dan Jafier masuk lalu menutup pintunya.


"B-bagaimana kalau ada yang masuk dan melihat paman ada di toilet wanita?" Ucap Alyena terlihat panik melihatnya. Jafier menarik tubuh Alyena dan memeluknya erat, menyusupkan wajahnya ke leher jenjangnya dan menghirupnya.


"Tidak akan ada yang datang, aku sangat merindukanmu Alyena, apa kau tahu? Aku hampir saja pergi ke apartemen Audrey dan menyelinap ke dalam tetapi kedatanganku nanti menyulitkanmu jadi aku mencoba sekuat tenaga menahannya." Ucap Jafier.


Dia mengangkat kepalanya dan memandang wajah cantik Alyena, "Kau merindukanku?" tanyanya.


Alyena menganggukkan kepalanya, "Aku merindukanmu paman Jafier." Ucapnya. Jafier tersenyum, dia kemudian menundukkan wajahnya lalu mengangkat tubuh Alyena dan menciumnya, seakan dengan mencium Alyena membuatnya hidup kembali, tubuh mereka terdorong ke dinding kamar mandi, memerangkap Alyena dan mencecapnya, dia tidak bisa menahan-nahan dirinya lagi, dia mengangkat tubuh Alyena hingga kedua kakinya melingkar di pinggangnya, Ciumannya semakin intens hingga Alyena akhirnya mengeluh dan mendorong tubuh Jafier.


"K-kakak akan mencariku, aku harus segera pergi paman." Ucap Alyena dengan napas cepat, bibirnya terasa bengkak dan terasa panas.


"Aku tidak bisa seperti ini terus, aku akan bicara dengan Willy, mengenai hubungan kita," Ucap Jafier mencuri-curi ciuman di bibir Alyena.


"J-jangan, jangan dulu paman, bagaimana kalau kak Willy mengamuk, atau dia akan menjauhkanku darimu, aku tidak mau itu terjadi." Ucap Alyena berbicara sambil memegang kemeja Jafier, dia merapikannya karena ketika mereka berciuman, Alyena menarik dan meremas kerah kemeja Jafier.


"Baiklah sayang, segeralah kembali." Ucap Jafier. Alyena merapikan dirinya di depan cermin dan segera keluar dari kamar mandi, tangannya tiba-tiba di tarik oleh jafier, dia memberikan ciuman terakhir sebelum Alyena pergi.


"Aku akan meneleponmu malam ini." Alyena menganggukkan kepalanya dan segera berjalan meninggalkan kamar mandi. Alyena berdehem dia lalu berjalan menuju ke tempat kakaknya menunggu.


"Alyena?" Suara berat itu membuat Alyena berbalik, dia lalu menatap seorang pria yang berjalan ke arahnya. "Lama tidak berjumpa Alyena?" Ucap pria itu.


"T-tuan Regan?"


"Sepertinya kau telah bersenang-senang dengan tuan Jafier." Ucap kilian sambil memicingkan matanya menatap bibir Alyena.